“Indonesia” itu Indah Print
Written by Mudjia Rahardjo   
Tuesday, 05 November 2019 06:26

Seorang kawan antropolog dari Amerika pernah berkomentar “negaramu sangat indah. Tidak saja secara fisik dengan ribuan pulau di dalamnya dan pantainya yang sangat menawan bagi siapapun yang melihatnya, tetapi juga nama “Indonesia” itu sendiri sangat indah diucapkan dan didengar. Dibanding negaraku yang kecil, Indonesia bukan tandingannya”. Sang antropolog yang sudah keluar masuk Indonesia untuk kegiatan penelitian dan seolah Indonesia bagaikan rumah keduanya sangat mencintai Indonesia. Bahkan sudah beberapa kali dia mengajak anak dan istrinya mengunjungi Indonesia dan tinggal cukup lama. Atas pujian  itu saya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Tetapi ketika ditanya asal mula dari mana kata “Indonesia” itu diperoleh, saya kelimpungan tidak bisa menjawab. Saya hanya bisa menjawab singkat “itu dari warisan Belanda dulu” . Kawan itu tidak puas dengan jawaban saya yang agak ngawur dan justru meminta saya mempelajari sejarah. Seketika itu  saya malu karena diingatkan oleh orang asing untuk belajar sejarah Indonesia.

 

Tetapi rasanya saya tidak sendirian, sebagian besar orang Indonesia tidak tahu dari mana asal mula kata “Indonesia” diperoleh. Paling-paling mereka mengira itu warisan kolonial Belanda. Atau jawaban yang lebih akademik, nama “Indonesia” diciptakan oleh para pemuda yang bergabung dalam ikrar Sumpah Pemuda, bersamaan dengan sebutan bangsa dan bahasanya, yakni bangsa Indonesia dan bahasa Indonesia.

Karena merasa penasaran, selang beberapa waktu saya sengaja mencari literatur sejarah mengenai asal mula nama “Indonesia”. Pertemuan singkat kawan dari Eropa itu memberikan pelajaran berharga kepada saya bahwa betapa pentingya belajar sejarah. Sejarah merekam rentetan peristiwa secara kronologis sehingga bisa menjadi guru untuk berpikir tentang masa lalu dan menjadikan pelajaran bagi siapapun di  masa depan. Di dalam sejarah terkandung banyak hal; mulai dari pasang surut atau kejayaan dan kejatuhan kekuasaan, kebiadaban, ketauladan, kekerasan, perjalanan budaya, pemikiran hingga peristiwa politik.

Tidak hanya itu, dari sejarah kita bisa belajar bagaimana Tuhan menciptakan bumi seisinya, ada gunung, laut, daratan, hutan, lembah dan sebagainya. Kandungan atau mineral yang ada di dalam bumi juga menjadi bagian penting mempelajari sejarah. Hal ini bisa ditilik dari kedatangan para penjajah ke Indonesia berabad-abad yang lalu. Mereka datang dan akhirnya menjajah karena melihat wilayah yang kemudian bernama Indonesia itu sangat kaya  sumberdaya alam semelimpah Indonesia.

Saya bukan seorang ahli sejarah sehingga buku tentang sejarah bisa dihitung dengan jari. Saya hanya seorang peminat bahasa yang suka mengutak-atik isu-isu kebahasaan. Di antara beberapa buku sejarah yang saya miliki ada satu yang secara khusus membahas  tentang sejarah Asia Tenggara. Buku berjudul “Sejarah Asia Tenggara” itu ditulis oleh D.G.E. Hall, Guru Besar Emiritus Sejarah Asia Tenggara dari Universitas London Inggris dan dialihbahasakan oleh M. Habib Mustopo (1988). Secara keseluruhan buku itu mengupas Asia Tenggara pra Eropa, Asia Tenggara selama masa awal ekspansi Eropa, Asia Tenggara selama ekspansi Eropa, dan nasionalisme dan tantangan terhadap domisasi Eropa. Ternyata di buku setebal 863 halaman itu walau kata “Indonesia” berkali-kali disebut sama sekali tidak membahas asal mula nama Indonesia diperoleh.

Dari Kompas.com saya menemukan penjelasan cukup rinci asal mula kata “Indonesia” dicipta, yakni pada pertengahan  1800-an. Ternyata ada beberapa orang yang berkontribusi pada penciptaan nama “Indonesia” dan menyebarkannya. Menurut sejarawan Universitas Oxford bernama Peter Carey, nama “Indonesia” pertama kali dikenalkan oleh seorang antropolog Inggris bernama James Richrdson Logan (1819-1869) pada tahun 1850 melalui tulisannya berjudul “The ethnoloy of the Indian Archipelago, embarcing enquires into the continental relations of the Indo- Pasific Islanders” yang dimuat di Journal of Indian Archipelago and Eastern Asia. Logan sendiri adalah orang Inggris asal Skotlandia yang menjadi editor majalah Penang Gazette, wilayah Straits Settlement (kini negara Bagian Penang Malaysia) dan bermukim di sana pada tahun 1842-1847. Kata “Indonesia” yang sudah dikenalkan Logan diteruskan oleh Adolf Bastian dari Jerman dalam karyanya berjudul Indonesien oder die Inseln des Malayschen Archipels (1884) untuk menyebut tempat di samudera Hindia dan Pasifik yang memiliki persamaan hukum adat.

Logan menyebutnya “Indonesia” untuk merujuk ke daerah kepulauan Hindia yang waktu itu menjadi jajahan Belanda sehingga disebut Hindia-Belanda. Bangsa Eropa mengenal dua wilayah Hindia, yaitu Hindia-Barat, yaitu wilayah Kepulauan Karibia yang ditemukan Columbus yang diyakini sebagai wilayah Hindia (India). Sesudah ekspedisi Vasco da Gama dan Magellan, ditemukanlah Hindia Timur, yakni Kepulauan Nusantara, yang merupakan pusat  rempah-rempah yang selama berabad-abad dicari oleh orang-orang Eropa. Mengapa Nusantara menjadi pusatnya rempah-rempah sehingga orang Eropa berbondong medatanginya? Karena wilayah Nusantara memperoleh sinar matahari melimpah (12 jam sehari) sehingga berbagai jenis tanaman dapat di tumbuh di dalmnya. Sedangkan di Eropa sinar matahari sangat terbatas, sehingga tidak semua tanaman tumbuh.

Kata “Nusantara” sendiri muncul di peta yang dibuat oleh pelaut Portugis bernama Manoel Godinho de Kredia, tertera nama Luca-antara atau Nusa-antara untuk menyebut kepulauan Malaya. Wilayah Nusantara merupakan persimpangan peradaban dan pengaruh budaya India dan Tiongkok sehingga ilmuwan bernama Dennis Lombard menyebutnya sebagai  wilayah “silang budaya”.

Versi lain tentang asal mula kata “Indonesia” disampaikan oleh Bung Karno dalam ‘Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (1966). Menurutnya,  “Indonesia” berasal dari seorang ahli purbakala berkebangsaan Jerman bernama Jordan yang belajar di Belanda. Karena kepulauan itu berdekatan dengan India, ia menyebutnya “Indusnesos”, akhirnya menjadi “Indonesia”.  Dengan demikian, nama “Indonesia” berasal dari dua kaya Yunani , yaitu  “Indus” artinya “India” dan “Nesos” yang berarti “kepulauan” atau “pulau-pulau” (Kompas, 4/10/2003). Berarti nama “Indonesia” berasal dari dua kosakata bahasa Yunani “Indus” dan “Nesos”. Maka, “Indo-nesia” berarti “kepulauan India”.

Sumber di Wikipedia menyebutkan nama “Indonesia” berasal dari berbagai rangkaian  sejarah yang puncaknya terjadi di pertengahan abad ke 19. Catatan sejarah menyebut kepulauan di antara Indocina dan Australia ini dengan aneka ragam istilah . Orang Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai “Nan-hai”, artinya Kepulauan Laut Selatan. Bangsa India menyebutnya “Dwipantara”, artinya “Kepulauan Tanah Seberang”, diambil dari kata dalam bahasa Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Bangsa Arab menyebut wilayah kepulauan ini dengan istilah “jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa).

Eduard Douwes Dekker  (1820-1887) yang dikenal dengan nama Multatuli pernah menyebut wilayah kepulauan ini dengan nama “Insulinde”, yang artinya “Kepulauan Hindia”. Tetapi nama ini kurang populer, sehingga tidak banyak orang menggunakannya alias tidak laku, walau pernah digunakan sebagai nama surat kabar di awal abad ke-20.

Wilayah kepulauan ini juga pernah bernama “Kepulauan Hindia” atau Hindia Timur. Sejarahnya ialah ketika bangsa-bangsa Eropa pertama kali datang, mereka beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka daerah yang terbentang luas dari Persia hingga Tiongkok semuanya adalah Hindia. Jazirah Asia Selatan mereka sebut sebagai “Hindia Muka”, dan wilayah Asia Tenggara disebut “Hindia Belakang”, sedangkan wilayah kepulauan ini mereka sebut sebagai “Kepulauan Hindia”. Nama lain yang pernah muncul untuk menamai wilayah ini ialah “Kepulauan Melayu”.

Dari berbagai sumber untuk melacak dari nama dan siapa yang menyebut nama “Indonesia” pertama kali sebagaimana diuraikan di muka tak satu pun nama “Indonesia” dibuat oleh orang Indonesia sendiri. Dari beberapa nama yang diusulkan, akhirnya nama “Indonesia” yang dipilih. Maka benar kata antropolog Amerika di awal tulisan ini bahwa nama “Indonesia” memang indah. Keindahannya tidak saja secara fonetis yang enak didengar dan diucapkan, tetapi lebih dari itu “Indonesia” menggambarkan sebuah wilayah kepulauan yang sangat luas, dengan ribuan pulau di dalamnya,  yang membentang dari London di Inggris hingga Kairo di Mesir, padat, beraneka ragam, dan kaya sumber alamnya. Itulah “Indonesia”. Akhirnya saya mesti berterima kasih kepada kawan antropolog tadi, karena dari pertanyaannya saya menjadi tahu dari mana dan oleh siapa nnama “Indonesia” dicipta!.

_________

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Last Updated on Tuesday, 05 November 2019 06:27