Antara Malik Fadjar dan Jakob Oetama Print
Written by Mudjia Rahardjo   
Monday, 14 September 2020 01:22

Hanya berselang sehari dalam seminggu Indonesia kehilangan dua tokoh yang begitu besar jasa dan kontribusinya bagi bangsa dan negara. Malik Fadjar meninggal Senin, 7/9/2020 dan Jakob Oetama, Rabu, 9/9/2020.  Keduanya meninggal di Jakarta dalam usia lanjut, Malik Fadjar 81 tahun, (22/2/1939 - 7/9/2020) dan Jakob Oetama 88 tahun (27/9/1931- 9/9/2020).  Kendati berbeda profesi, keduanya adalah putra terbaik bangsa yang pengabdian dan dedikasinya pada profesi masing-masing sungguh luar biasa. Wajar jika keduanya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Keduanya juga pernah menerima  penghargaan Bintang Mahaputra dari pemerintah Indonesia. Malik Fadjar tokoh pendidikan, terutama pendidikan Islam, yang telah  malang melintang dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, pejabat negara sebagai menteri agama dan menteri pendidikan nasional  dan terakhir berkhidmat di Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Selain itu, Malik Fadjar juga aktif di PP. Muhammadiyah yang mengantarkannya ke jenjang karier puncak dalam jabatan publik.

 

Sebelum menjadi Menteri Agama, Malik Fadjar pernah menjabat sebagai Dirjen Bimbaga Islam di Kementerian Agama. Di masa itu, Malik Fadjar memerdekakan fakultas-fakultas cabang IAIN di seluruh Indoesia dan  berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN). Dalam perjalanannya hampir semua sekolah tinggi tersebut kini telah menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN), bahkan Universitas Islam Negeri (UIN). Kebijakan Malik Fadjar ternyata benar. Hampir semua perguruan tinggi agama Islam itu kini telah berkembang, bahkan yang berstatus UIN memperoleh kesempatan untuk membuka fakultas-fakultas umum, seperti ekonomi, hukum, sains dan teknologi, bahkan kedokteran dan ilmu-ilmu kesehatan, seperti UIN Jakarta, UIN Malang, dan UIN  Makassar. Kebijakan tersebut merupakan karya Malik Fadjar yang akan dikenang selamanya oleh masyarakat, terutama sivitas akademika perguruan tinggi Islam.

Malik Fadjar tidak hanya memberikan perhatian kepada perguruan tinggi negeri, tetapi juga perguruan tinggi swasta. Kebijakannya pada tahun 2001 menghapus Ujian Negara Cicilan (UNC) di PTS dan PTS diberi kewenangan melakukan ujian secara mandiri. Ini merupakan kebijakan sangat adil bagi PTS karena UNC dianggap sangat memberatkan mahasiswa PTS. Sebab, untuk  mengambil matakuliah yang diujikan mahasiswa harus membayar puluhan ribu rupiah yang belum tentu lulus. Jika persiapan kurang, mahasiswa bisa menempuh UNC lebih dari satu kali untuk lulus. UNC merupakan bentuk diskriminasi terhadap mahasiswa PTS. Mereka dianggap anak bangsa kelas dua atau anak tiri, setelah mahasiswa PTN. Tentu saja kebijakan ini disambut gembira oleh kalangan PTS karena pemerintah menghargai peran PTS dalam memajukan pendidikan. Kenyataannya, tidak sedikit PTS yang kualitasnya lebih baik daripada PTN.

Terobosan lain yang sangat mendasar ialah menyetarakan ijazah alumni pondok pesantren dengan sekolah/madrasah. Sebelumnya, lulusan pondok pesantren harus mengikuti ujian persamaan terlebih dahulu jika ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Dengan kebijakan penyetaraan, alumni pondok pesantren bisa langsung daftar ke perguruan tinggi. Selaku Mendiknas, Malik Fadjar juga memberi kesempatan kepada PTS untuk membuka fakultas kedokteran bagi yang benar-benar siap. Sebelumnya, hanya PTN yang bisa membuka fakultas kedokteran. Ini dilakukan untuk memenuhi kekurangan dokter di Indonesia. Sekarang sudah banyak PTS yang memiliki fakultas kedokteran sehingga jumlah dokter dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Itulah beberapa prestasi menonjol yang ditinggal Malik Fadjar selama menjabat sebagai Dirjen dan Menteri.

Secara pribadi saya mengenal dengan baik almarhum, karena saya pernah menjadi mahasiswa dan juga bawahannya. Beberapa kali almarhum kami undang untuk memberi pencerahan kepada warga kampus terkait isu-isu pengembangan kelembagaan perguruan tinggi. Warga kampus tidak akan lupa tiga kata kunci yang sering diucapkan beliau entah berapa kali, yaitu change, growth , and reform. Saya tidak tahu apa beliau lupa karena setiap kali berceramah tiga kata itu tidak pernah terlewatkan. Tetapi saya khusnudon saja bahwa betapa pentingnya bagi para pengelola perguruan tinggi untuk selalu melakukan perubahan untuk berpacu dengan perubahan dan dinamika masyarakat, sehingga kata-kata itu sering diulang . Pimpinan perguruan tinggi tidak boleh diam dan duduk manis di balik meja kerja. Dalam suatu sesi dialog beliau pernah mengatakan dengan nada keras “Jangan tidur pulas jika ingin perguruan tingginya maju”. Beliau memberi contoh bagaimana perguruan-perguruan tinggi di Barat yang maju itu dikelola. Apa yang dikatakan almarhum bukan omong kosong. Karena keseriusannya, perguruan tinggi yang beliau kelola memang maju pesat.

Hal lain yang menonjol dalam kepemimpinan Malik Fadjar ialah beliau tidak suka birokrasi yang berbelit-belit. Menurutnya birokrasi tetap diperlukan, tetapi tidak boleh membelenggu. “Buatlah birokrasi yang luwes dan jangan sulit-sulit”, pesannya di sebuah kesempatan. Sebagai anggota Wantimpres pada pemerintahan Jokowi jilid 1, almarhum beberapa kali menyambangi kampus kami dan sedikit pun luntur idealismenya untuk memberi semangat dan tip bagaimana memajukan perguruan tinggi Islam. Almarhum tampak senang jika kami undang untuk memberi pencerahan dan selalu hadir kecuali ada kegiatan tiba-tiba terkait dengan tugasnya di lembaga Wantimpres.

Almarhum bukan sosk yang angker, tetapi nyungkani. Tidak semua orang berani menghadap untuk sekadar menyampaikan surat undangan, apalagi berdialog. Mungkin karena kekayaan pengalaman dan  pengetahuan yang dimiliki membuatnya berwibawa. Jika sedang berceramah, beliau sangat serius, jarang bersenda gurau. Suaranya mantap sehingga meyakinkan pendengarnya. Sesekali mengucapkan ayat Al-Qur’an dan hadits untuk menjelaskan gagasannya. Ketika menghadap beliau, saya sangat berhati-hati mengucapkan kalimat dan memilih kata.

Lalu bagaimana dengan Jakob Oetama? Jakob Oetama adalah wartawan, tokoh pers, pendiri dan pemimpin harian Kompas dan grup Gramedia. Ada kemiripan di antara keduanya. Sama dengan Malik Fadjar, Jakob Oetama mengawali karier dengan bekerja sebagai guru SMP Mardi Yuwana, Cipanas dan SMP Van Lith, Jakarta, sebelum akhirnya menekuni bidang pers dengan menjadi redaktur Mingguan Penabur, mendirikan majalah Intisari dan akhirnya mendirikan Kompas hingga menjadi pemimpin umum hingga akhir hayatnya. Jiwa pendidik ternyata telah bersemai di darah kedua tokoh bangsa itu. Karena itu, tampak sekali bagaimana mereka bekerja, menyampaikan gagasan, pendekatan, dan menjalankan prinsip hidup sederhana, kendati jika mau bermewah pun bisa. Bekerja dengan hati dengan penuh keseriusan adalah kunci kesuksesan keduanya. Berbagai penghargaan di bidang pers telah ia peroleh, baik dari dalam dan luar negeri, tak terhitung jumlahnya. Begitu juga penghargaan di bidang akademik berupa Doktor Honoris Causa (HC) diberikan oleh berbagai perguruan tinggi. Semua itu merupakan  bukti bahwa almarhum bukan sembarang orang, melainkan manusia luar biasa dengan segudang prestasi yang akan dikenang masyarakat selamanya.

Sebagai tokoh nasional, kepergian keduanya untuk selamanya menjadikan duka mendalam bagi banyak kalangan masyarakat, mulai masyarakat bawah, sanak famili, teman, murid, hingga pejabat negara sampai presiden. Keduanya disebut tokoh karena karya dan pandangannya, dan penilaian masyarakat terhadapnya. Dilacak dari berbagai sumber diketahui bahwa Malik Fadjar memulai kariernya benar-benar dari bawah, sebagai guru agama Islam di Sekolah Rakyat Negeri (SRN) di Taliwang, daerah terpencil di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 1959. Dari Taliwang, ia berpindah mengajar sebagai Sekolah Guru Bantu (SBG) Negeri dan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Sumbawa Besar NTB pada 1960-1963, dan selanjutnya menjadi dosen Fakultas Tarbiyah Malang IAIN Sunan  Ampel pada 1972. Sebagai aktivis Muhammadiyah, selain mengajar di Fakultas Tarbiyah Malang IAIN Sunan Ampel. Malik Fadjar juga mengajar di Universitas Muhammadiyah Malang hingga menjadi Dekan FISIP hingga1983, dan menjadi Rektor UMM mulai 1983-2000. Pada kurun waktu  1994-1995, Malik Fadjar juga menjadi rektor di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ini luar biasa, karena menjadi rektor di dua kampus berbeda pada saat yang sama tentu tidak mudah. Menjadi rektor di sebuah universitas saja tidak mudah, apalagi di dua tempat.

Menurut mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Ahmad Syafii Maarif,  Malik Fadjar diberi tugas untuk merangkap menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta ketika di universitas itu  terjadi konflik internal yang cukup akut. Berkat sentuhan tangan dinginnya, konflik dapat diredam dan UMS kembali normal. Dua perguruan tinggi Muhammadiyah yang pernah dinahkodai Malik Fadjar kini berkembang pesat dan bahkan masuk menjadi perguruan tinggi swasta bergengsi di Indonesia. Publik pun mengakui bahwa nama Malik Fadjar seolah melekat pada lembaga Universitas Muhammadiyah Malang. Di bawah kepemimpinannya sebagai rektor sejak 1983-2000, Universitas Muhammadiyah Malang berkembang pesat sebelum akhirnya dilanjutkan penerusnya.

Jika Malik Fadjar sebagai pendidik dan pejabat negara hingga menjadi menteri dan dikenal sebagai tokoh inklusif dan melakukan terobosan-terobosan untuk mengangkat citra  pendidikan Islam agar sejajar dengan pendidikan bidang lain, maka Jakob Oetama berhasil menjadikan Kompas sebagai harian terbesar tidak saja di Tanah Air, tetapi juga di Asia Tenggara. Tak terlebihan jika Presiden Jokowi mengatakan bahwa Jakob Oetama bukan saja tokoh pers, pendiri dan pemimpin surat kabar harian Kompas atau kelompok Kompas Gramedia , melainkan juga sebagai tokoh bangsa. Cendekiawan muslim Azyumardi Azra menempatkan almarhum sebagai sosok humanis sejati yang mencintai kebangsaan-keindonesiaan yang melintasi batas-batas suku, tradisi sosiokultural dan agama. Tidak sulit mengenal Jakob Oetama. Setiap ketemu harian Kompas, kita tentu teringat sosok di baliknya. Bersama P.K. Ojong, yang lebih dahulu tiada, dia mendirikan  Kompas yang telah tumbuh menjadi harian penyuara hati nurani masyarakat yang objektif, independen, dan kritis. Kompas juga menjadi rujukan utama penggunaan bahasa Indonesia yang benar, sehingga setiap tahun terpilih sebagai harian pengguna bahasa Indonesia terbaik. Sebagai dosen, saya sering meminta mahasiswa untuk membaca  Kompas untuk mengecek penggunaan kata atau kalimat yang benar. Karena itu, Kompas adalah juga media tempat pembelajaran penggunaaan bahasa Indonesia yang benar, terutama bahasa tulis.

Kini keduanya telah tiada. Tetapi prestasi dan nama harumnya akan terus dikenang oleh masyarakat Indonesia. Jika Malik Fadjar akan tetap dikenang oleh masyarakat akademik sebagai tokoh pendidikan, maka Jakob Oetama adalah tokoh pers. Keduanya berperan penting dalam pembangunan  bangsa. Melalui pendidikan, Malik Fadjar memajukan pendidikan untuk menyiapkan generasi berkualitas  dalam rangka mengisi pembangunan di segala bidang. Sedangkan melalui pers, Jakob Oetama melakukan pencerahan kepada masyarakat melalui pemberian informasi objektif sekaligus menjadi alat kontrol pembangunan yang efektif. Selain itu, pers merupakan salah satu pilar demokrasi yang sangat penting.

Selain menjadi harian cetak terbesar di Indonesia, Jakob Oetama membuat Kompas hadir sebagai harian dengan gaya pemberitaan yang sejuk, edukatif, objektif, dan menghindarkan dari sikap provokatif dan bermusuhan dengan penguasa, kendati tetap kritis. Kompas seolah mengajari atau mendidik media lain bagaimana menyuarakan berita yang benar. Kompas tumbuh sebagai harian yang tidak hanya dengan oplah terbesar di Indonesia, tetapi juga menjadi bacaan berkualitas oleh anggota masyarakat kelas menengah ke atas. Ada kolom opini yang diisi oleh penulis-penulis berkualitas dan hadir setiap hari. Juga kolom bahasa, berita ekonomi, politik, olah raga, dan lain-lain untuk memenuhi kebutuhan pembaca. Semuanya tidak lepas dari visi Jakob Oetama sebagai pemimpin umumnya.

Kedua peraih penghargaan Bintang Mahaputra itu telah meninggalkan jejak-jejak indah, teladan, dedikasi, dan inspirasi kepada generasi penerus. Indonesia tentu kehilangan putra terbaiknya. Tetapi kuasa Tuhan tidak bisa ditolak. Di mata Tuhan pengabdian mereka berdua sudah cukup untuk dipersembahkan kepada Tanah Air tercinta. Beberapa bulan lalu saya mendengar Malik Fadjar memang sakit dan sempat dirawat di rumah sakit. Saya mendengar belakangan fisiknya menurun dan ujungnya Senin, 7 September 2020, Tuhan memanggil untuk menghadapNya. Insya Allah dengan amal sholeh yang dibuat selama masa pengabdian. Ucapan “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun” mengalir deras dari berbagai kalangan yang merasa sangat berduka karena kepergiannya. Selamat jalan Pak Malik Fadjar dan Jakob Oetama. Tuhan telah menantimu berdua untuk bersemayam di sampingNya!

_________

Malang, 14 September 2020

Comments (0)
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Last Updated on Monday, 14 September 2020 01:25