Tragedi Bahasa di Belgia

Para pakar bahasa mempercayai bahwa bahasa tidak saja berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan pesan dan berinteraksi sosial, tetapi lebih dari itu bahasa juga merupakan identitas sosial dan kultural. Sebagai identitas yang melekat pada seseorang, bahasa menandai kelas sosial penggunanya. Ada ragam bahasa tertentu pada pengguna bahasa dengan strata sosial tertentu. Semua atribut yang dimiliki seseorang, seperti pangkat, jabatan, kekayaan, status sosial, kepercayaan dan sejenisnya, bisa disembunyikan rapat-rapat, kecuali bahasa. Sebagai realitas simbolik, bahasa menggambarkan dunia batin penggunanya. Lihat saja bagaimana bahasa seseorang tatkala sedang bahagia, susah, kecewa, dan marah.

 

Selain sebagai identitas sosial dan kultural, bahasa juga mengandung ideologi. Artinya, berbahasa tertentu juga membawa ideologi tertentu. Memilih kata-kata tertentu artinya juga bermaksud memperjuangkan ideologi tertentu. Sebab, pada hakikatnya kata tidak pernah tidak bermakna. Pemilihan kata-kata tertentu mengandung makna tertentu pula. Ketika di era Orde Baru Pak Harto sering menggunakan ungkapan-ungkapan seperti ketertiban dan keamanan, maka Pak Harto bermaksud memperjuangkan stabilitas sebagai ideologi dalam menjalankan pembangunan. Di benak Pak harto pembangunan hanya bisa jalan jika stabilitas terjamin. Begitu juga ketika di banyak kesempatan SBY  mengucapkan kata-kata seperti good governance, tranparansi, dan akuntabilitas, maka bisa dipahami bahwa SBY sedang memperjuangkan tatanan pemerintahan yang bersih dari korupsi sebagai ideologi pemerintahannya. .

Sebagai pembawa ideologi dan identitas sosial, tidak jarang bahasa menjadi penyebab konflik sosial yang tidak begitu saja mudah diatasi. Para sosiolog menyimpulkan ada tiga akar masalah yang umumnya memicu konflik berkepanjangan, yakni ras atau suku, agama, dan bahasa. Banyak bangsa terutama yang multilingual, tak terkecuali bangsa maju, menghadapi masalah bahasa. Di Kanada bahasa Perancis dan bahasa Inggris saling berebut pengaruh untuk menjadi bahasa resmi negara. Sampai hari ini tidak ada yang kalah dan yang menang. Solusinya, bahasa Perancis dipakai sebagai bahasa resmi di wilayah Quebec, dan bahasa Inggris di wilayah lainnya. Di Singapura, terdapat beberapa: bahasa seperti bahsa Melayu, Mandarin, Inggris, India yang saling bersaing. Pemerintah Singapura memutuskan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional. Di India ada dua bahasa yang saling berebut dominasi: Inggris dan Urdu. Pemerintah memutuskan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi negara dan bahasa Urdu dipakai oleh masyarakat muslim.

Perjuangan menentukan bahasa nasional bukan pekerjaan mudah. Lihat saja  Amerika yang demikian maju dan satu-satunya super power dunia baru menentukan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi negara pada 18 Mei 2006. Di Kongres suara yang menyetujui bahasa Inggris sebagai bahasa nasional berjumlah 64 orang dibanding 34 yang tidak menyetujui. Urutan kedua adalah bahasa Spanyol karena memang banyak orang Spanyol tinggal di Amerika, dan urutan ketiga bahasa Jerman. Perjuangan menentukan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional dimulai sejak 1981. Banyak warga menginginkan kemajemukan bahasa diwadai, seperti hanya kemajemukan etnik dan budaya dan tidak ada sebuah bahasa  yang lebih dominan dari yang lain, sehingga tidak perlu bahasa nasional. .

Baru-baru ini kita dikejutkan oleh berita di Kompas (27/4/2010) tentang konflik politik yang berakar dari bahasa sampai menumbangkan sebuah pemerintahan koalisi seorang Perdana Menteri di Belgia. Sebuah negara kecil dengan penduduk 10, 6 juta jiwa, Belgia yang berdekatan dengan Belanda tergolong negara maju dengan perekonomian yang pesat. Negeri ini juga menjadi markas besar NATO, karena itu secara militer juga kuat. Di Belgia terdapat tiga bahasa dominan, yakni bahasa Belanda, Perancis, dan minoritas Jerman. Pengguna bahasa Belanda merupakan yang terbanyak, yakni mencapai angka 6 juta jiwa. Bahasa Perancis menduduki peringkat kedua dengan jumlah pengguna sebesar 3, 5 juta jiwa, dan sisanya 1 juta pengguna bahasa minoritas Jerman.

Kendati mayoritas, pengguna bahasa Belanda yang relatif lebih makmur secara ekonomi ketimbang pengguna bahasa Perancis dan bahasa campuran, selama bertahun-tahun merasa didominasi oleh masyarakat pengguna bahasa Perancis. Wujudnya, konstitusi Belgia ditulis dalam bahasa Perancis. Ini terjadi karena penduduk yang berbahasa Perancis lebih mendominasi pemerintahan sejak Revolusi 1803 sehingga konstitusi negara sebagai salah satu  simbol bangsa ditulis dalam bahasa Perancis. Setelah melalui perjuangan panjang hampir 100 tahun, konstitusi versi bahasa Belanda baru berhasil ditulis.

Bagi warga yang berbahasa Belanda, dominasi bahasa Perancis dalam kehidupan bernegara merupakan bentuk lain dari penjajahan. Sebab, penjajahan tidak saja dalam bentuk politik dan ekonomi, tetapi juga budaya yang di dalamnya ada bahasa. Karena menyangkut harga diri, maka tidak bisa dihindari bahwa pengguna bahasa Belanda melakukan perlawanan. Rebutan dominasi bahasa di Belgia tidak bisa diatasi oleh pemerintahan Perdana Menteri Yves Leterme hingga pemerintahan koalisi yang dipimpinnya jatuh.    .

Kita bisa membayangkan bagaimana repotnya mengelola sebuah negara yang memiliki konstitusi dengan dua versi bahasa. Akan menjadi lebih rumit jika penduduk yang berbahasa minoritas juga menuntut konstitusi dengan versi bahasa mereka. Padahal, konstitusi sebagai sumber hukum penyelenggaraan negara mesti jelas agar tidak melahirkan multitafsir.

Aroma dominasi bahasa Perancis di Belgia memang terasa sekali. Pada  kunjungan ke Belgia beberapa waktu lalu setelah selesai kunjungan ke Universitas Leiden di Belanda, saya menemui kesulitan berkomunikasi bahasa Inggris. Hanya beberapa orang saja yang bisa saya ajak berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Di tempat-tempat publik seperti stasiun, toko, dan restoran, banyak yang berbahasa Belanda. Untung saya dipandu anak saya yang sedang kuliah di Belanda dan cukup lancar berbahasa Belanda. Jadi saya tidak menemui kesulitan.

Bagi pengkaji sosiolinguistik, tragedi bahasa di Belgia bisa menambah referensi pengetahuan, khususnya terkait dengan tema dominasi bahasa (language domination). Sebagai sesuatu yang hidup, bahasa juga memiliki sifat ingin mendominasi yang lain. Makanya ada bahasa yang tumbuh pesat, yang tidak berkembang dan bahkan ada yang mati. Kekuatan dominasi sebuah bahasa atas yang lain ditentukan oleh kekuatan penuturnya baik secara politik, sosial, ekonomi maupun ilmu pengetahuan. Sebagai contoh bahasa Inggris bisa menjadi bahasa internasional yang demikian pesat salah satu sebabnya adalah bahasa Inggris merupakan bahasa ilmu pengetahuan. Bahasa Mandarin Jepang, dan Korea kini juga muncul sebagai bahasa-bahasa dominan di dunia karena kakuatan ekonomi ketiga negara itu.

Ada pelajaran penting yang bisa dipetik dari tragedi bahasa di Belgia. Dalam hal menentukan bahasa nasional, kita jauh lebih maju ketimbang bangsa Belgia dan Amerika sekalipun yang ternyata baru tahun 2006 memiliki bahasa nasional. Para pejuang kemerdekaan kita seperti Muhammad Yamin, Djamaludin Adinegoro, Mohammad Tabrani Suryowitjitro, dan Armijn Pane adalah nasionalis sejati dan sangat arif dalam memilih bahasa nasional, yakni bahasa Indonesia. Itu pun diproklamirkan melalui Sumpah Pemuda jauh sebelum Indonesia merdeka.

Mereka tidak memperjuangkan bahasa Jawa yang jumlah penggunanya terbesar, atau bahasa daerah masing-masing yang memiliki tokoh di pentas perjuangan. Mereka lebih mementingkan persatuan lewat bahasa nasional sebagai pintu perjuangan menuju Indonesia merdeka ketimbang mementingkan kelompok dan suku mereka masing-masing. Para pejuang itu berpikir sangat visioner.

Hasil perjuangan mereka kini telah kita nikmati. Di saat-saat negeri ini mengalami krisis multidimensi yang sangat hebat, termasuk krisis separatisme yang mengancam keutuhan NKRI, menyusul tumbangnya Orde Baru 1998,  dan ketika agama, suku, dan adat istiadat yang ada di negeri ini tidak sanggup merajut tali kebangsaan kita, bahasa Indonesia terbukti sebagai satu-satunya alat perekat yang kokoh. Dia tidak pernah dimasalahkan oleh siapapun, termasuk oleh yang sedang berkonflik. Buktinya, ketika konflik berlangsung, bahasa Indonesia tetap menjadi alat komunikasi di antara mereka. Karena itu, kita rawat dan kembangkan bahasa nasional kita sebagai aset bangsa yang tak ternilai harganya.

_______

Malang, 29 April 2010

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *