Kiat Berbicara di Depan Publik

“Lidah tak bertulang, tidak terpatahkan, dan tajamnya bisa melebihi pedang”, begitu kata orang bijak untuk menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan lidah. Jika penggunaannya tepat, lidah mampu mengantarkan orang menjadi sukses. Sebaliknya, jika sembrono, lidah bisa mengantarkan ke kehancuran. Karena itu, para orangtua kita selalu mewanti-wanti agar kita berhati-hati dalam berbicara. Sebab, jika sudah terlontar perkataan tidak akan pernah bisa ditarik oleh siapa pun, termasuk oleh yang bicara itu sendiri. Kesalahan ucap yang sudah keluar dari lidah bisa direvisi atau diralat, tetapi akibat yang ditimbulkannya tidak akan pernah bisa hilang. Ia membekas dan menancap tajam.

 

Semua orang sepakat bahwa berbicara itu penting untuk menyampaikan maksud atau pesan kepada orang lain. Tetapi tidak semua orang pandai berbicara, dan kalau pun berbicara tidak didengarkan dan diperhatikan orang lain. Sebaliknya, ada sebagian orang yang jika berbicara bisa membuat pendengarnya terkesima, seolah terhipnotis, tidak saja oleh isi pembicaraannya, tetapi juga oleh kedahsyatan kata yang dipilihnya dan gaya bicaranya yang memukau. Banyak orang sukses karena kepiawiannya berbicara kendati isinya hal-hal biasa-biasa saja. Sebaliknya, banyak orang gagal menyampaikan hal-hal baik karena ketidakcakapannya menyampaikan gagasan tersebut.

Berbicara bukan pekerjaan sederhana. Ia memerlukan seni dan ketrampilan tinggi untuk menjadikan pembicaraan efektif dan memperoleh perhatian pendengar, lebih-lebih jika berbicara di depan publik. Cara berbicara seseorang mengundang penilaian orang lain dan menggambarkan siapa dia yang sesungguhnya. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika para ahli sosiolinguistik mengatakan bahwa semua yang kita miliki (harta, profesi, jabatan, identitas diri dan sebagainya) bisa kita sembunyikan rapat-rapat, tetapi kita tidak akan pernah bisa menyembunyikan cara bicara kita. Sebab, pemilihan kosa kata, cara menyampaikannya, tekanan kata dan intonasi kalimat, dan kecepatan berbicara semuanya menggambarkan siapa sebenarnya yang berbicara itu. Apakah orang terdidik, profesional, atau orang biasa-biasa saja.

Khusus berbicara di depan publik tampaknya diperlukan kiat tersendiri. Kita sering melihat orang berbicara di panggung dengan penuh percaya diri dan memukau sehingga membuat tepuk tangan pendengarnya. Itu pertanda pembicaranya hebat. Sebaliknya, sebagaimana telah diungkap di depan, banyak orang grogi, gemetar, gugup, malu, membosankan, dan monoton ketika di depan publik sehingga seolah mereka berbicara dengan diri mereka sendiri. Padahal, secara akademik mereka berpendidikan cukup dengan kemampuan nalar yang bagus. Bagi pendengarnya, model bicara seperti itu sangat membosankan dan bagi pembicaranya sendiri merupakan beban sangat berat. Panggung yang mestinya menjadi medan ekspresi diri berubah menjadi panggung siksaan yang menyakitkan.

Pembicara hebat bukan terlahir, walau ada orang yang memang punya bakat untuk itu. Tetapi kemampuan bicara memerlukan latihan dan pengetahuan serta ketrampilan. Dari pengalaman berbicara di forum-forum besar dengan banyak hadirin dan juga dari pembacaan banyak referensi tentang kiat sukses berbicara di depan publik ada benang merah yang bisa ditarik. Secara berurutan, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Kuasai benar topik yang akan disampaikan. Dengan menguasai materi atau topik pembicaraan, seseorang akan merasa percaya diri. Perlu diketahui rasa percaya diri merupakan modal penting bagi seseorang untuk bisa bicara di depan publik dengan tenang dan meyakinkan. Dengan tidak menguasai pokok masalah yang disampaikan, seorang pembicara akan kehilangan arah pembicaraan alias nglantur. Wujudnya, dari masing-masing kalimat tidak ada keterkaitan. Dampaknya, pendengar sudah mulai gaduh dan tidak ada lagi oarng yang mendengarkan. Itulah bukti bicara di depan publik yang tidak sukses. Karena itu, jangan coba-coba berbicara di depan publik tentang masalah yang tidak dikuasai. Sebab, siapa tahu di antara mereka justru ada orang yang lebih tahu daripada pembicaranya sendiri. Kecuali forumnya memang untuk sekadar diskusi.
  2. Kenali siapa pendengarnya, berapa jumlahnya, mengapa mereka hadir, tingkat pengetahuan mereka terkait tema yang dibahas, harapan mereka, jenis kelamin dan usia rata-rata mereka. Dengan mengenali semuanya itu, kita akan dapat menetapkan tingkat kesulitan bahan yang akan disampaikan dan ragam bahasa yang dipakai. Berbicara di depan pendengar dengan latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi yang berbeda-beda tidak sama dengan berbicara di depan pendengar yang berlatar belakang sosial homogen.
  3. Sebelum tampil, tatap mata dan sapa para pendengar. Melalui tatapan mata dan sapaan beberapa di antara pendengar, mereka merasa diperhatikan dan dihormati. Penting bagi seorang pembicara untuk segera masuk ke dalam dunia batin pendengar dan merasa bagian dari mereka. Dengan menjadi bagian dari mereka, seorang pembicara akan diterima dengan baik, walau mungkin tema pembicaraan tidak begitu berbobot. Karena itu berempati seolah telah menjadi bagian dari mereka menjadi sangat penting.
  4. Pandai-pandai menggunakan bahasa tubuh dan penampilan secara tepat. Senyum, gerakan tangan, berjalan mendekati pendengar dan berpakaian yang tepat adalah jenis-jenis bahasa non verbal yang penting untuk diperhatikan oleh seorang pembicara publik. Dengan senyum, emosi terkendali dan ketegangan menjadi kendor, sehingga bisa berbicara dengan tenang dan tidak grogi. Gerakan tangan atau anggota tubuh yang lain dapat membantu memperjelas pembicaraan, asal ada batasnya. Gerakan tangan berlebihan malah bisa mengganggu konsentrasi pendengar. Berjalan sambil mendekati hadirin bisa menumbuhkan suasana akrab dengan pendengar. Berpakaian yang tepat, artinya sesuai dengan keadaan, menggambarkan pembicara menghormati audiens. .
  5. Jangan merendahkan diri. Kita kerap mendengar seorang pembicara menyatakan “Maaf sebenarnya saya tidak siap bicara hal ini karena tidak menguasai dan memang bukan bidang saya. Tetapi karena saya menghormati panitia yang meminta untuk menyampaikan masalah ini, maka saya tidak bisa menolaknya”. Atau ada yang mengatakan “Saya tidak tahu banyak masalah ini, tapi ya apa boleh buat karena terpaksa”. “Maaf saya baru belajar, jadi belum banyak tahu tentang tema ini”. Di benak pembicara mungkin saja ungkapan-ungkapan itu maksudnya untuk merendah agar tidak dikesan sombong. Tapi dalam etika bicara di publik, ungkapan itu menjadi konyol. Sebab, mana ada pendengar yang datang untuk mendengarkan pembicara yang tidak siap dan tidak menguasai bidangnya. Orang pada hakikatnya hanya mau mendengarkan sesuatu yang ia belum ketahui untuk menjadi pengetahuan.
  6. Hindari hal-hal berbau SARA dan seks. Jangan mengangkat isu SARA (Suku, Agama, dan Ras) di depan banyak orang. Apalagi, melecehkannya satu di antara yang lain. Semua orang yang hadir harus memperoleh penghormatan yang sama. Martabat mereka harus dihormati. Orang menjadi sangat marah jika dilecehkan di depan publik baik mengenai agama, ras, dan sukunya. Kalau pun membuat lelucon yang menyangkut SARA pilih yang tidak bersifat melecehkan. Seorang pembicara yang diprotes di depan banyak orang karena melakukan hal-hal tersebut akan kehilangan harga diri, alias jatuh. .
  7. Jangan membuat humor tentang seks. Selain SARA, hal yang perlu diperhatikan adalah humor tentang seks. Perlu diketahui tidak semua orang suka humor berbau seks. Sebab, ia menjijikkan. Jika memang ingin membuat humor untuk membangun kesegaran, cari humor-humor segar yang tidak melecehkan siapa pun dan tidak berbau seks. Hal-hal yang bersifat privat, seperti tentang seks, sangat tidak patut disampaikan di depan publik. Seorang pembicara harus mampu membedakan mana hal-hal yang bersifat publik dan privat.
  8. Jangan menyudutkan seseorang. Setiap orang pasti ingin dihargai dan dihormati. Selain menyakitkan, menyudutkan seseorang di depan banyak orang, sengaja atau tidak, sangat tidak bermanfaat. Karena itu, harus dihindari. Jika terpaksa menggunakan seseorang sebagai contoh untuk menambah penjelasan atau menyegarkan suasana carilah kisah keberhasilannya, bukan kekonyolannya atau lebih aman pakai contoh dirinya sendiri. Tetapi perlu dihindari terjadinya kesan pamer dan menyombongkan diri. Ada banyak cara menghidupkan suasana di depan banyak orang. Seorang pembicara publik mesti pandai-pandai memilihnya dengan tepat agar bicaranya bernilai tinggi yang tidak saja didengarkan, tetapi juga diperhatikan.

 

Demikian beberapa kiat sukses berbicara di depan publik. Masih ada beberapa hal lain yang juga perlu diperhatikan, seperti jangan datang terlambat, kuasai medan, masuklah dari sisi kiri audiens, jangan bicara dengan nada tinggi dan sebagainya. Tetapi delapan poin di atas setidaknya cukup menjadi perhatian serius bagi siapa pun yang ingin sukses menjadi pembicara publik. Selamat mencoba !

 

____________

 

Malang, 31 Juli 2010

 

 

 

. .

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *