Anatomi Bahasa Tubuh

Tulisan pendek ini masih terkait dengan tulisan sebelumnya tentang kiat berbicara di depan publik. Sebagaimana diuraikan sebelumnya kiat sukses berbicara di depan publik melibatkan banyak unsur, mulai jenis pilihan kata, penekanan kata, intonasi kalimat, penguasaan tema ceramah sampai gerakan anggota badan. Semuanya memberikan kesan audiens terhadap pembicara atas penguasaan panggung, apakah pembicara itu orang yang mengusai materi yang disampaikan atau tidak, atau apakah pembicara orang yang demam panggung atau tidak. Tulisan ini menghadirkan sisi lain dari kiat bicara di depan publik, yakni mengenai bahasa tubuh (body language).

 

Semua orang mengetahui bahwa alat komunikasi tidak saja kata dan kalimat, melainkan juga gerakan fisik anggota badan seseorang yang lazim dikenal sebagai bahasa tubuh atau body language. Sebagaimana dari bahasa (lisan dan tulis) dapat diketahui siapa dan dari mana latar sosial pembicaranya, dari bahasa tubuh juga bisa diketahui sosok orangnya. Bahkan dapat pula diketahui fungsi bahasa tubuh itu sendiri, apakah sekadar untuk menutupi rasa kurang percaya dirinya atau mengalihkan isi pembicaraan yang tidak begitu dikuasai.

 

Para ahli komunikasi sepakat bahwa gerakan anggota tubuh tidak saja menyiratkan apa yang sedang dipikirkan oleh pembicara, tetapi juga dapat membantu pemahaman audiens mengenai isi pembicaraan asal disampaikan dengan tepat dan benar. Misalnya, karena ingin menekankan pentingya informasi tertentu, pembicara mengucapkan kata yang mengandung informasi itu dengan penekanan (stress) yang berbeda dengan kata-kata yang lain ditambah kepalan tangan.

 

Bahasa tubuh tidak saja berupa gerakan tangan, tetapi juga bentuk dan warna pakaian, gerakan mata, ekspresi muka, dan gerakan tubuh, yang kesemuanya menyiratkan makna sendiri-sendiri. Gerakan tangan yang meyakinkan bisa menggambarkan semangat dan antusiasme tema yang dibahas serta sikap terhadap audiens. Tetapi perlu diingat gerakan tangan yang berlebihan justru bisa diartikan sebagai kebiasaan yang dalam bahasa Jawa disebut sebagai pendono. Ada orang yang kalau berbicara selalu diikuti dengan gerakan tangan, sehingga bisa mengurangi efektivitas pembicaraan. Audiens bisa terganggu dengan gerakan tangan yang berlebihan. Karena itu, agar efektif gerakan tangan dilakukan pada saat yang tepat.

 

Selain gerakan tangan, pakaian yang dikenakan seseorang  juga merupakan bahasa tubuh yang syarat makna. Ketika seseorang pertama kali tampil di depan orang yang belum dikenal, maka pakaian merupakan bahasa yang pertama kali dikenali. Dari pakaian akan diketahui siapa pemakainya, dari mana ia berasal dan dari golongan apa. Lebih dari itu, pakaian juga menggambarkan apakah seseorang berasal dari kelompok yang sama dengan audiens, yang dalam istilah manajemen diri (self-management) disebut sebagai tribal recoginition. Seorang yang dianggap berasal dari kelompok yang sama akan lebih mudah diterima. Perhatikan orang yang dianugerahi gelar kehormatan biasanya berpakaian sama dengan masyarakat yang memberi gelar tersebut. Dengan dianggap sebagai bagian dari kelompoknya, pesan atau informasi yang disampaikan pembicara yang akan lebih mudah diterima. Perlu diingat jangan sampai berpakaian glamor yang menimbulkan kesan mewah di depan publik, tetapi juga jangan berpakaian ala kadarnya sehingga mengesankan tidak menghormati audiens. Perhatikan bahwa dengan berdiri di depan banyak orang semua bagian yang ada pada tubuh kita diperhatikan audiens. Karena itu, menjaga kita kenakan menjadi sangat penting.

 

Bagian lain yang juga sangat penting untuk diperhatikan adalah gerakan tubuh, misalnya kepala yang menunduk atau mendongak. Kepala yang selalu menunduk bisa dimaknai sebagai sikap kurang percaya diri, sebaliknya kepala yang mendongak bisa dianggap sikap sombong dan merendahkan audiens. Baik sikap kurang percaya diri maupun  sombong merupakan sikap tidak positif dan tidak perlu dilakukan. Karena itu, kesan percaya diri bisa ditunjukkan dengan cara menatap ke depan dengan kepala tegak yang wajar. Sikap ini sangat penting dimiliki oleh pembicara publik. Sebab, sebagaimana diuraikan pada tulisan terdahulu, pada dasarnya orang hanya mau mendengarkan pembicaraan yang disampaikan oleh orang yang memiliki pengetahuan atau informasi yang cukup memadai yang ditunjukkan dengan sikap percaya diri.

 

Gerakan mata merupakan bahasa tubuh yang sangat penting. Gerakan mata dengan melakukan kontak mata dengan audiens dapat melahirkan suasana komunikasi yang interaktif dan bisa mengurangi rasa gugup. Kemampuan membangun gerakan mata merupakan ketrampilan yang harus dimiliki oleh seorang pembicara. Sebab sering ditemukan ada pembicara yang tidak  menatap mata audiens, sehingga dianggap kurang percaya diri dan menimbulkan kebosanan. Sebagai bagian dari komunikasi, audiens harus disapa jika diinginkan hasil yang efektif. Menyapa audiens tidak harus dengan menyebut nama satu per satu, melainkan dengan tatapan mata.

 

Perlu diketahui bahwa mata merupakan bagian tubuh yang paling sulit berbohong. Dari mata orang yang kita bicara terlihat jelas apakah dia menikmati pembicaraan atau hanya pura-pura. Karena itu, bagi seorang pembicara memperhatikan gerakan mata audiens sangat penting. Perhatikan jika mata pasangan bicara kita melihat ke sana ke mari pada saat diajak bicara itu tandanya dia tidak tertarik dengan pembicaraan atau kehadirannya hanya basa-basi. Pendengar yang serius akan mengarahkan matanya ke pembicara dengan penuh perhatian.

 

Menyampaikan infrormasi kepada orang lain dan apalagi meyakinkannya bukan pekerjaan sederhana. Komunikasi merupakan peristiwa sosial yang melibatkan banyak pihak, baik dari sisi pembicara itu sendiri maupun dari audiens dan kesemuanya menyatu dalam sebuah peristiwa dengan tujuan yang bisa jadi tidak sama walaupun keduanya saling membutuhkan. Saya yakin masih banyak bahasa tubuh yang bisa diuraikan lebih jauh. Tetapi yang tertuang dalam tulisan ini setidaknya cukup menjadi bahan renungan bagi siapa pun yang ingin berhasil dalam membangun komunikasi melalui bahasa tubuh.

 

_________

Malang, 14 Agustus 2010

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *