Tumbuhnya Quality Culture di UIN MALIKI Malang

Senin, 30 Agustus 2010 merupakan hari pertama perkuliahan Semester Gasal 2010/2011. Di luar dugaan, hampir seluruh mahasiswa dan dosen mulai semester pertama sampai tujuh hadir. Padahal, sebelumnya banyak yang meragukan apakah kuliah minggu ini bisa  efektif karena  selain  hanya berlangsung  satu minggu, sebagian besar mahasiswa masih berlibur.  Nuansa hari raya idul fitri juga sudah mulai terasa. Karena itu,  ada beberapa usulan agar waktu perkuliahan diundur setelah hari raya idul Fitri saja.  Usulan itu tidak bisa diterima karena kita ingin konsisten dengan jadwal  Kalender  Akademik  yang telah diedarkn bahwa  semester  Gasal 2010/2011 dimulai tanggal 30 Agustus 2010  hingga 4 Januari 2011. Jika dihitung ada 18  minggu  masa perkulihan , termasuk di dalamnya  satu minggu untuk Ujian Tengah Semester dan satu minggu untuk Ujian Akhir Semester.  Harus diakui ada satu atu dua orang dosen yang tidak masuk karena mengira mahasiswa  belum datang. Ini berbeda jauh dari waktu-waktu sebelumnya yang biasanya baik mahasiswa maupun dosen molor mengawali perkuliahan.  Fenonena apa ini?

Menurut saya budaya tertib  perkuliahan  sebagai bagian dri komponen qulity culture sudah tumbuh di UIN MALIKI Malang ini. Jika direnungkan  tumbuhnya quality culture seperti ini tidak tiba-tiba dan tidak lepas dari ajakan Rektor  yang disampaikan di berbagai kesempatan untuk selalu memberikan pelayan terbaik, menjunjung tinggi rasa tanggung jawab sebagai dosen serta menjadi contoh bahwa  perguruan tinggi  Islam itu  pro dengan kemajuan dan ketertiban. Sebab, hanya dngan ketertiban dan kedisiplinan tinggi perguruan tinggi ini bisa  maju memenuhi harapan banyak pihak. Selain itu, dari pihak dosen dan mahasiswa sudah mulai tumbuh inner awareness mengenai tugas dan tanggung jawab masing-masing. Mereka melaksanakan tugas bukan karena dipaksa atau karena rasa takut dengan pimpinan, tetapi karena panggilan hati untuk menjalankan tugas masing-masing dengan baik.          

Ketika keinginan belajar dari mahasiswa demikian tinggi dan tanggung jawab dosen untuk mengajar juga besar, maka pintu kemajuan akan diperoleh.  Sebab, pada hakikatnya isinya lembaga pendidikan ya hanya dua itu: mahasiswa dan dosen, selain itu sifatnya sebagai pendukung.  Karena tugas Universitas ialah untuk memproduksi dan mengembangkan ilmu  pengetahuan, maka hampir mustahil itu dicapai dengan model kerja apa adanya dan santai-santai saja.   Universitas ini dibangun dengan tujuan mulia dan harapan sangat besar, yakni mengembalikan kejayaan peradaban islam. Dalam sejarah peradaban,  Islam dikenal pernah merajai peradaban dunia selama beberapa  abad sebelum  akhirnya revolusi  industri muncul sebagai kekuatan baru yang menenggelamkan peradaban Islam.

Kemajuan peradaban Islam melalui filsuf-filsuf Islam kenamaan seperti Ibnu Sina, Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Rusyd, Al Ghazali dan sebagainya bukan pribadi-pribadi yang malas, Mereka adalah ilmuwan yang bekerja keras tanpa kenal lelah sepanjang hidupnya. Hebatnya lagi, mereka tidak saja menguasai satu disiplin ilmu, melainkan multidisiplin pada saat yang sama.  Apa mungkin penguasan beberapa disiplin ilmu dilalui dengan kerja apa adanya saja?

Pertanyaannya ialah bisakah UIN MALIKI Malang maju dan mengembalikan kejayaan peradaban Islam sebagaimana dulu pernah dinikmati? Jawabnya ‘bisa’, asal beberapa prasyarat berikut dipenuhi. Pertama,  sivitas  akademika kampus ini konsisten pada tugas tugas dan tanggung jawab masing-masing. Mahasiswa giat belajar dan dosen mengajar dengan baik. Kedua, tumbuhkan budaya meneliti , setidaknya  pada bidang ilmu masing-masing. Pada artikel  terdahulu, saya menulis dengan judul “Penelitian sebagai Pilar  Penyangga Perguruan Tinggi’. Jika  perguruan tinggi diharapkan dapat  memproduksi dan mengembangkan ilmu pengetahuan, maka penelitian harus memperoleh porsi yang sama dengan pengajaran. Selama ini kegiatan penelitian dilakukan sebatas keperluan kenaikan pangkat. Penelitian yang dimaksudkan ialah penelitian dasar yang dilakukan secara serius  untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Tampaknya terjadi kemandekan pada sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan, karena penelitian tidak memperoleh porsi yang sepadan dengan tugas pengajaran. Jika perguruan tinggi tidak melakukan penelitian dengan serius, maka status perguruan tinggi tidak ubahnya seperti lembaga-lembaga kursus yang hanya bertugas membekali siswanya keterampilan  dalam bidang tertentu.

Ketiga, dosen selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan di bidangnya untuk memperoleh informasi terbaru (the most up date information), yang dalam filsafat ilmu penelitian disebut state of the arts. Karena dosen sejatinya seorang ilmuwan, maka pencarian ilmu  secara total pada bidang masing-masing merupakan sebuah keharusan. Agar dosen bisa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang paling up date, maka pemenuhan sarana seperti perpustakaan, internet, majalah ilmiah dan jurnal mutlak harus  tersedia.

Keempat, ketersediaan dana yang cukup. Aktivitas apa pun harus dijalankan bersamaan dengan ketersediaan dana. Untuk itu, mencari dan mengembangkan sumber-sumber pendanaan yang tidak hanya tertumpu  pada anggaran dari negara (DIPA) harus dilakukan. Persoalan dana seringkali menjadi alas an mengapa program tertentu tidak jalan. Perguruan tinggi mengalami kesulitan mengakses dana dari pihak luar pemerintah karena tidak ada produk unggulan yang bisa dijual ke publik.. andai saja perguruan tinggi sudah mampu melahirkan produk yang unggul dan bermanfaat bagi masyarakat luas, maka dana bukan persoalan utama.

Kelima, perluas jaringan kerjasama  dengan berbagi pihak, baik dalam maupun luar negeri. Pada  era  di mana antar-masyarakat  saling tergantung satu sama yang lain, maka hampir mustahil sebuh pergurun tinggi dapat berkembang pesat tanpa jaringan yang luas dengan brbagi kalangan. Kepercayaan public untuk membangun jaringan juga sangat tergantung pada kualitas perguruan tinggi itu sendiri. Mana mungkin orang atau lembaga mau diajak kerjasama yang saling menguntungkan  dengan lembaga yang tidak bermutu.  Dengan demikian,  segala pintu kemajuan tetap dimulai dari perguruan tinggi itu sendiri.

Untuk mengakhiri tulisan ijni, saya hanya ingin menyampaikan bahwa sudah ada tanda-tanda tumbuhnya quality culture di UIN MALIKI Malang yang ditunjukkan dengan ketertiban dan kedisiplinan mahasiswa dan dosen pada hari pertama perkuliahan. Tentu itu masih jauh dari cukup untuk memenuhi syarat menuju universitas yang unggul. Tetapi yang jelas benih itu telah ada, dan sekarang tinggal bagaimana menjadikan benih itu tumbuh sehat dan berkembang. Semuanya ada di tangan warga kampus ini sendiri.

___________

Malang, 30 Agustus 2010

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *