Di Salon Potong Rambut pun Orang Bicara Jokowi

Sore itu kota Malang diguyur hujan deras. Saya mampir ke tukang potong rambut langganan saya, karena rambut saya sudah mulai memanjang. Sambil memotong rambut, mas-mas tukang salon yang kakak beradik itu saling bersahutan berbicara tentang politik. Sampailah mereka bicara tentang Jokowi. Saya dengarkan saja obrolan mereka. Mas Himawan, yang memotong rambut saya, mengawali pembicaraan tentang Jokowi. Saya tidak tahu awal mulanya bagaimana kok tiba-tiba dia mengatakan “Presiden kita sekarang ini hebat”. Adiknya yang ada di sebelahnya menyahut “ Di mana hebatnya, mas?”. “Bagaimana tidak hebat, sekarang jenderal polisi saja ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Pengedar narkotika dihukum mati. Malaysia saja ditantang jika berani memindah patok perbatasan laut. Kenapa kok baru sekarang?. Presiden sebelumnya kok gak berani melakukan itu’. “betul mas”, sahut adiknya yang berdiri sambil memotong rambut langganannya. “Pak SBY itu cari aman saja ya, yang berisiko diberikan ke pemerintahan selanjutnya”, sahut yang lain.

“Gak hanya itu”, tambahnya. “Apa itu?”, tanya mas Himawan. “Sekarang  kapal-kapal pencuri ikan di perairan Indonesia ditenggelamkan. Kapok”. “Ternyata Jokowi itu pemberani ya mas. Dia gak peduli Duta Besar negara-negara yang warganya dihukum mati ditarik pulang”, kata adik mas Himawan yang lain lagi. “ya, walau sipil, Jokowi itu pemberani. Saya bangga”, jawab mas Himawan, tukang potong rambut paling senior di salon itu. “Jokowi itu berani karena dia bersih, jadi gak punya beban. “Lihat saja dia juga mendatangi Prabowo. Itu artinya, dia gak didikte ibunya (baca: Megawati), seperti dugaan orang selama ini”, tambah Himawan serius. “Orang-orang itu gak tahu banyak tentang Jokowi, tetapi ngomongnya pada ngawur”, lanjutnya.

Saya tahan untuk tidak merespons obrolan mereka sore itu agar mereka bisa berbicara lugas, apa adanya, tanpa intervensi dari siapapun, termasuk dari saya. Tetapi dalam batin, saya tertawa mendengar obrolan mereka, yang sore itu tak ubahnya seperti para pengamat politik yang sering manggung di layar televisi. Mereka bicara bebas, dan masing-masing berlagak seperti yang paling tahu tentang Jokowi. Rupanya, mereka rajin mengikuti berita politik di Tanah Air dari koran atau televisi yang memang terpasang di dinding di ruang itu.

Ibarat seorang peneliti kualitatif, sore itu saya memperoleh informan atau subjek penelitian yang baik, karena begitu aktif bicara sehingga saya memperoleh data yang melimpah. Lebih dari itu, semua berjalan secara alamiah, sebagai salah satu syarat penelitian kualitatif. Seperti saya, pelanggan-pelanggan lainnya juga diam. Saya tidak tahu mereka pada diam itu karena mendengarkan obrolan mas-mas tukang salon itu secara serius, atau mereka tidak gubris.

Lepas dari apapun isinya, saya menangkap pesan bahwa mas-mas tukang potong rambut itu merupakan fans berat Jokowi, dan mengikuti perkembangan politik di Tanah Air. Mereka tidak apolitis. Ini fenomena menarik, karena di alam politik yang semakin demokratis ini rakyat lapis bawah sekalipun mulai melek politik. Politik bukan milik para elite di Senayan, di kantor-kantor pemerintah, atau di kantor-kantor partai politik.

Rasa bangga mereka kepada Jokowi ditunjukkan dengan sikap apresiatifnya terhadap pemerintah yang bersikap tegas terhadap gembong-gembong narkoba yang divonis hukuman mati, kendati mendapat protes keras dari pemerintah negara asal para gembong dan para penggiat HAM. Sikap tegas Jokowi tidak saja kepada para penjahat narkoba, tetapi juga kepada para pencuri ikan dari negara asing. Hukuman bagi mereka adalah kapal-kapal mereka ditenggelamkan. Para fans Jokowi itu sangat bangga dengan Menteri Susi yang tegas. Baru di era Jokowi ini kapal-kapal asing pencuri ikan ditenggelamkan. Sebelumnya, mereka hanya dihalau untuk keluar dari wilayah perairan Indonesia.

Ada pelajaran penting lain yang bisa dipetik dari obrolan mas-mas tukang potong rambut itu, yakni pentingnya sikap tegas bagi seorang pemimpin. Rakyat senang dengan pemimpin pemberani. Tentu saja beberapa langkah tegas yang diambil pemerintah Jokowi  berisiko dimusuhi. Saya kira Jokowi sudah tahu risiko tersebut. Pemimpin tidak bisa hanya memilih kebijakan yang enak-enak saja. Kalau hanya memilih hal-hal yang enak dan populis sehingga disukai banyak orang ya bukan pemimpin. Seorang pemimpin apapun pada level apapun harus siap menerima hujatan ketika mengambil kebijakan yang tidak populis tetapi demi kepentingan rakyat banyak. Sebaliknya, bukan seorang  pemimpin jika hanya mengharap pujian dari rakyat yang dipimpin.

Sebenarnya, hujatan atau kritik justru bisa dijadikan bahan koreksi seorang pemimpin terhadap semua kebijakan yang telah diambil. Sebaliknya, pujian bisa membawa seorang pemimpin jatuh, karena tidak ada yang mengontrol sehingga lepas kendali. Dalam sejarah bangsa ini kita memperoleh pelajaran berharga dengan peristiwa kejatuhan Pak Harto. Salah satu sebab Pak Harto jatuh dari kursi kepresidenan adalah Pak Harto sangat alergi terhadap kritik. Akibatnya, orang-orang di sekelilingnya hanya memberikan masukan yang membuat Pak Harto senang, dan yang jelek-jelek disembunyikan. Pak Harto sangat tidak suka orang kritis, sehingga orang-orang kritis disingkirkan. Kita juga masih ingat orang-orang yang dulu selalu memuji Pak Harto akhirnya juga menjadi pecundang, bahkan menjadi pengkhianat hebat.

Bisa saja seorang pemimpin diuji atau dicoba Tuhan lewat pujian, atau sebaliknya lewat hujatan atau fitnah. Pemimpin yang menanti dan mengharap pujian rakyat hakikatnya dia bekerja untuk dirinya, yakni ya sekadar mencari pujian itu. Karena itu, pemimpin semacam ini tidak tulus menjalankan amanah. Kepemimpinannya dikendalikan oleh nafsu pribadinya, bukan oleh rasio yang seharusnya dipegang. Bahayanya orang biasanya kuat menghadapi ujian lewat hujatan atau fitnah. Yang dimaksud kuat di sini ialah bisa bersikap sabar menerima hujatan, cercaan  dan bahkan fitnah. Tetapi, justru orang tidak kuat menerima pujian dan sanjungan. Maksudnya, pujian atau sanjungan menjadikan diri seseorang sombong atau takabur. Padahal, kesombongan dan sikap takabur merupakan awal kejatuhan. Oleh sebab itu, karena pada hakikatnya setiap kita adalah pemimpin kita mesti berhati-hati dengan pujian atau sanjungan.

Jadi sebenarnya yang merapuhkan kita bukan hujatan, tetapi justru pujian dan sanjungan. Banyak orang menjadi semakin tegar dengan seringnya menerima hujatan dan cercaan.  Mengapa pujian bisa merapuhkan kita? Karena pujian itu sebenarnya bukan hak kita sebagai manusia, tetapi hak Allah. Bukankah kita selalu berikrar hanya Allah yang patut dipuji dan disanjung? Benar. Kita sering berikrar begitu. Tetapi sebagai manusia, kita  itu pelupa. Ketika manusia sudah berani mencoba mengambil hak Allah atau meniru sifat Allah, saat itu pula kehancuran sudah dekat.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah masukan (bukan nasihat) bagi Jokowi.  Demi kelangsungan dan keberhasilan pemerintahannya, Jokowi tentu bisa belajar dari sejarah tentang jatuh dan bangunnya para pemimpin terdahulu. Banyak pemimpin jatuh, bukan  karena lawannya hebat, tetapi karena dirinya rapuh. Dan, rapuhnya diri itu karena pujian atau sanjungan.

Karena itu, menjadi bahan pembicaraan orang di mana-mana, Jokowi tidak perlu risau. Itu sebuah risiko sebagai figur publik utama. Dicerca atau dihujat, dan dipuji jadikan saja semua itu kesempatan untuk memperbaiki diri. Jangan sedih ketika dihujat, misalnya oleh lawan-lawan politik di DPR, dan sebaliknya jangan terlalu gembira jika dipuji atau disanjung, termasuk oleh mas-mas tukang potong rambut langganan saya itu. Sebab, sebagaimana dikatakan Imam Ghazali,  batas antara pujian dan hujatan itu sebenarnya sangat tipis!.

__________

Dalam perjalanan Ponorogo- Yogyakarta, 8 Februari 2015

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *