Kesalahan Umum Penulisan Disertasi (Tulisan 2 habis)

Kesalahan berikutnya tentang  peran teori. Peran teori sangat tergantung pada paradigma penelitian yang digunakan. Pada paradigma positivistik, teori untuk diuji. Karena itu, penelitian berparadigma positivistik, yang lazimnya menggunakan metode kuantitatif,  diawali dengan hipotesis. Hipotesis pada hakikatnya merupakan teori yang bersifat sementara. Hipotesis itu akan diuji. Hasilnya bisa terbukti, atau bisa tidak.  Peneliti tidak perlu memaksa diri agar hipotesisnya terbukti dengan cara memanipulasi data. Seorang peneliti harus jujur dengan data yang ada dan hasil apapun yang ditemukan. Jangan sekali-sekali melakukan manipulasi data. Biarkan data bicara (let data speak by themselves). Tugas peneliti menjadikan data berbicara apa adanya. Pada bagian akhir, peneliti akan menyatakan bahwa teori atau hipotesis yang diuji terbukti atau tidak terbukti. Karena itu, penelitian kuantitatif berangkat dari teori.

 

 

Sementara itu penelitian berparadigma interpretif, selain berperan sebagai alat analisis untuk memahami fenomena, teori untuk dikembangkan. Karena bertugas mengembangkan teori, maka peneliti dengan paradigma interpretif, yang lazimnya menggunakan metode kualitatif, wajib mengetahui teori-teori yang sudah ada sebelumnya. Karena itu, sebelum melakukan langkah-langkah lebih lanjut seorang peneliti kualitatif disarankan untuk lebih dahulu membaca literatur terkait topik atau tema penelitiannya sebanyak mungkin sehingga bisa mengetahui posisi teoretik penelitian yang dilalukan dalam deretan bidang ilmu sejenis. Misalnya, seorang mahasiswa yang melakukan penelitian bidang Manajemen Pendidikan wajib mengetahui teori atau konsep apa saja yang telah dihasilkan oleh para peneliti sebelumnya di bidang tersebut. Semakin banyak literatur yang dibaca akan semakin banyak pula khasanah pengetahuan di bidang yang akan diteliti sehingga memudahkan peneliti untuk memahami permasalahan secara lebih mendalam.

Akhirnya, peneliti kualitatif bisa  menyatakan bahwa hasil penelitiannya menambah atau mengembangkan teori tertentu yang sudah ada sebelumnya. Sayangnya, masih sering ditemukan bahwa peneliti kualitatif mengakhiri penelitiannya dengan pernyataan bahwa hasil penelitiannya sesuai atau tidak sesuai dengan  teori tertentu. Tentu ini tidak tepat, karena dengan pernyataan tersebut berarti peneliti  melakukan pembuktian  teori. Dan, itu bukan tujuan penelitian kualitatif. Jika penelitian kuantitatif berangkat dari teori, maka penelitian kualitatif berangkat dari fenomena unik yang menarik diteliti untuk menghasilkan teori baru. Saya pun beberapa kali menemukan kenyataan pada saat ujian disertasi mahasiswa belum mengerti tujuan akhir penelitiannya terkait dengan teori. Malah beberapa masih kacau dalam memahami antara apa yang dimaksud dengan membuktikan teori dan mengembangkan teori. Kesalahan pemahaman ini berakibat sangat fatal dalam keseluruhan proses penelitian.

Terkait hasil penelitian, tidak sedikit mahasiswa belum memahami  thesis statement yang dihasilkan dari penelitiannya. Thesis statement merupakan pernyataan akhir dari seluruh proses penelitian berupa satu atau dua kalimat sebagai inti dari keseluruhan temuan penelitian.  Memang tidak mudah menyusun thesis statement. Diperlukan renungan mendalam oleh peneliti dengan membaca kembali pertanyaan penelitian, jawaban atas pertanyaan tersebut dengan merujuk teori yang telah ditulis di bab kajian pustaka.         

Masih terkait teori, kesalahan yang sering terjadi  adalah pemilihan teori yang tidak tepat. Akibatnya, hasil analisisnya juga tidak tepat. Teori ibarat pisau bedah. Jika pisaunya tidak tepat, maka hasil bedahan atau irisannya juga tidak tepat. Penelitian merupakan aktivitas ilmiah yang menuntut kemampuan secara komprehensif, termasuk menempatkan peran dan posisi teori serta pemilihan teori yang tepat.

Kesalahan terkait  metode penelitian. Metode penelitian dikembangkan dari paradigma penelitian yang dianut. Sebagaimana diketahui ada dua paradigma yang saling berhadapan, paradigma positivistik dan interpretif atau fenomenologi. Paradigma positivistik — yang memiliki pandangan tersendiri dalam memandang realitas — melahirkan metode penelitian kuantitatif dengan ciri-ciri dan prosedurnya sendiri. Sedangkan paradigma interpretif — yang memiliki pandangan berbeda dari paradigma positivistik dalam memandang realitas – melahirkan metode penelitian kualitatif,  juga dengan ciri dan prosedurnya sendiri.

Sebenarnya selain paradigma positivistik dan interpretif,  masih ada satu lagi paradigma penelitian, yakni paradigma refleksif, yang melahirkan metode penelitian kritis. Bedanya dengan metode-metode penelitian sebelumnya adalah metode penelitian kritis dimaksudkan untuk memberikan empowerment,  atau pemberdayaan kepada kaum tertindas atau marjinal.

Metode yang terakhir baru dikembangkan di bidang-bidang ilmu sastra, seni, sosiologi, komunikasi, tetapi belum banyak yang menggunakannya untuk penelitian pendidikan. Sebagai varian baru, ada baiknya ada penelitian bidang  manajemen pendidikan yang mencoba menggunakan metode penelitian kritis. Sebagaimana diketahui teori kritis lahir sebagai counter terhadap paradigma positivistik yang memandang segala sesuatu dari sisi sebab dan akibat, dan paradigma interpretivisme yang menempatkan peneliti sebagai pihak paling dominan memberikan makna subjektifnya terhadap semua peristiwa, maka paradigma kritis lahir dengan tujuan untuk membebaskan manusia dari masyarakat irasional menjadi masyarakat yang rasional dengan selalu mempertanyakan setiap peristiwa secara kritis.

Kesalahan lain terkait metode penelitian ialah peneliti menulis ulang teori-teori penelitian pada bab Metode Penelitian. Misalnya, definisi tentang metode penelitian kualitatif, ciri-ciri dan prosedurnya, cara memperoleh data dan triangulasi data  menurut teori metodologi penelitian dan lain sebagainya. Padahal, judulnya berbunyi “Metode Penelitian”, bukan “Metodologi  Penelitian”, karena itu tidak pada tempatnya jika ditulis ulang teori mengenai penelitian. Pengetahuan mengenai teori penelitian tidak perlu lagi ditulis, tetapi disimpan di kepala peneliti. Pada bagian ini yang ditulis ialah semua aktivitas yang dilakukan peneliti sejak awal hingga akhir penelitian. Sebab, pada hakikatnya Bab Metode Penelitian berisi laporan kegiatan dari semua proses penelitian, bukan lagi berisi teori tentang penelitian.

Karena masing-masing peneliti, khususnya pada penelitian kualitatif, memiliki pengalaman berbeda-beda, maka pada bagian Metode Penelitian pengalaman antara satu peneliti ke peneliti yang lain tentu tidak sama. Karena itu, uraian pada Bab Metode Penelitian antara satu peneliti dan peneliti yang lain tidak perlu sama.

Terakhir kesalahan terkait bahasa. Pengalaman saya selama membimbing dan menguji menemukan bahwa tidak banyak penulis karya setingkat disertasi memberikan perhatian secara serius terhadap penggunaan bahasa yang baik dan benar, yang meliputi standardisasi, tata bahasa, pemenggalan kata dan ejaan serta kutipan.  Tidak sedikit kesalahan bahasa yang sangat mengganggu ditemukan di banyak karya setingkat disertasi. Misalnya, kalimat yang tidak lengkap, seperti “karena kuliah belum selesai”, penggunaan awalan yang tidak tepat, seperti “dirumah, di katakan, di tulis, kepasar, dan sebagainya”. Mengawali kalimat dengan kata “sehingga”, “dan”, dan sebagainya.  Ada juga yang menulis satu halaman penuh tanpa paragraf, atau satu kalimat ditulis dalam satu paragraf sehingga pembacanya tersengal-sengal. Padahal, ada ketentuan satu paragraf itu maksimal terdiri atas berapa kalimat.

Sering pula ditemukan ketidaktelitian penulis disertasi ketika mengutip kalimat dari bahasa asing, misalnya dari bahasa Inggris. Secara sengaja saya pernah meneliti semua kutipan dari bahasa Inggris di sebuah disertasi. Hasilnya sungguh memprihatinkan, karena hampir  di semua kutipan itu terjadi kesalahan, terutama dalam ejaan dan pemenggalan kata. Bisa dibayangkan mengutip saja masih salah, apalagi jika menyusun sendiri.

Sebagai peminat studi bahasa, sejujurnya kepala saya sudah pusing ketika menemukan penulis disertasi yang sangat tidak peduli, tidak teliti atau sembrono dalam penggunaan bahasa, apalagi jika di bagian-bagian awal sudah ditemukan kesalahan penulisan.  Memang manusia bukan malaikat yang tanpa ada kesalahan, tetapi kesalahan-kesalahan bahasa yang mestinya tidak perlu terjadi sedapat mungkin dihindari.

Seorang penulis disertasi hakikatnya adalah calon doktor, gelar akademik tertinggi dalam bidang akademik. Karena itu, doktor bukan sembarang orang. Padanya dituntut kecermatan, ketelitian, dan ketepatan berbahasa. Jangan lupa dari cara berbahasa, lisan atau tulis, bisa diketahui semua identitas seseorang, baik asal usul, latar belakang sosial dan budaya, tingkat  pendidikan, termasuk kecerdasan dan pola pikirnya. Karena itu, menampilkan bahasa yang baik dan benar dalam karya tulis, apalagi setingkat disertasi, mutlak diperlukan.

Selain kesalahan-kesalahan di atas, ditemukan penulis disertasi  pragmatis yang ada kecenderungan jumlahnya semakin hari semakin banyak. Kelompok pragmatis ini  tidak peduli dengan isi, metode, apalagi bahasa. Bagi mereka, yang penting segera lulus, dan memperoleh gelar doktor. Mereka juga tidak risau apa karyanya memberi manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan atau tidak. Rasanya gejala pragmatisme di berbagai bidang kehidupan saat ini juga merambah ke dunia akademik, termasuk para penulis disertasi.

Yang lebih konyol lagi ada yang  tidak peduli apa “disertasi”nya dibaca orang atau tidak.  Padahal, salah satu ukuran kualitas disertasi adalah apakah banyak orang tertarik untuk membaca dan melanjutkan penelitiannya atau tidak. Jika gejala pragmatisme semacam itu terus berkembang, sebanyak apapun doktor yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan tinggi tidak akan memberikan dampak apapun bagi kemajuan suatu bangsa. Malah sebaliknya yang terjadi adalah tragedi peradaban yang dilakukan justru oleh kaum “terdidik” yang menyandang gelar doktor. Sungguh ironis!

_______________

Malang, 23 Februari 2015

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *