Studi Heuristik dalam Penelitian Kualitatif

Dibanding  fenomenologi dan etnografi, pendekatan heuristik relatif jarang dipakai dalam studi-studi ilmu sosial. Malah mungkin istilah ‘heuristik’ sendiri masih terdengar asing bagi sebagian orang. Padahal, sebagai sebuah  pendekatan, heuristik juga  menarik  dan  memiliki keunikan. Heuristik dikenalkan pertama kali oleh seorang psikolog humanistik Amerika bernama Clark Moustakas pada 1950-an sampai 1960-an ketika melakukan penelitian  eksplorarif  tentang ‘kesendirian’. Pada tahun 1985 bersama Bruce Douglas, Moustakas mengembangkan model proses studi heuristik yang mencakup tiga tahap; immersion (tahap mengajukan pertanyaan, masalah, atau tema), acquisition (pengumpulan data), dan realization (sintesis). Pada tahun 1990 Moustakas mengembangkan model tersebut   secara lebih rinci menjadi tujuh tahap penelitian heuristik (Given, ed., 2008: 389-292).

 

Walaupun termasuk pendekatan eksploratif, heuristik sangat berbeda dengan pendekatan-pendekatan kualitatif pada umumnya. Jika tujuan utama studi etnografi ingin menggali budaya yang berkembang di sebuah kelompok masyarakat dan fenomenologi ingin menggali makna suatu tindakan atau peristiwa dari sudut pandang pelakunya, maka heuristik ingin menggali pengalaman pribadi peneliti dan pengalaman orang lain yang mengalami peristiwa yang sama.

Secara konseptual apa sebenarnya makna heuristik. Kata heuristik berasal dari bahasa Yunani ‘heuriskein’ yang berarti ‘menemukan’, awalnya digunakan oleh Moustakas untuk menjelaskan proses pencarian pengetahuan secara mendalam untuk menemukan hakikat dan makna suatu pengalaman. Walaupun merupakan sebuah pendekatan untuk  menggali makna, heuristik berbeda dari pendekatan-pendekatan lain dalam tradisi penelitian kualitatif. Heuristik tidak dimaksudkan untuk menemukan teori atau menguji hipotesis, tetapi yang diutamakan heuristik ialah pengetahuan manusia, khususnya dengan refleksi diri.

Ada dua unsur penting yang mesti diperhatikan oleh peneliti heuristik. Pertama, peneliti sendiri wajib memiliki pengalaman dan minat tinggi terhadap fenomena yang diteliti. Kedua, orang lain yang menjadi mitra peneliti (co-researcher), wajib membagi pengalamannya dengan peneliti. Studi heuristik akhirnya merupakan gabungan atau kombinasi pengalaman orang, baik pengalaman peneliti sendiri maupun subjek yang diteliti yang akhirnya berkapasitas sebagai mitra peneliti (co-researcher) yang menghasilkan pemahaman tentang esensi sebuah fenomena. Menurut Douglas dan Mustakas (dalam Patton, 1990: 71) studi heuristik mengutamakan “makna, bukan ukuran; dengan esensi, bukan penampilan; dengan kualitas, bukan kuantitas; dengan pengalaman, bukan perilaku”.

Kekuatan studi heuristik terletak pada observasi sistematik dan dialog antara diri peneliti dengan partisipan, serta interviu mendalam dengan partisipan. Selain itu, keterbukaan terkait kebenaran yang diperoleh juga menjadikan salah satu kelebihan studi heuristik. Menurut Moustakas dan Douglas melalui  kajian ‘diri’ yang mendalam, dialog dengan orang lain, penjelasan pengalaman secara kreatif akan diperoleh pengetahuan yang komprehensif.

Menurut Moustakas, keunikan heuristik dibanding pendekatan lainnya ialah bertemunya pengalaman-pengalaman pribadi, refleksi dan pandangan peneliti bersama mitranya tentang fenomena yang sama-sama mereka alami berdialog tentang pengalaman  masing-masing untuk menghasilkan pengetahuan baru.  Karena itu, antara peneliti dan partisipan harus terjadi hubungan yang baik untuk dapat menjelaskan hakikat, makna, dan esensi pengalaman mereka masing-masing. Dari perspektif klinis, ada kemiripan antara studi heuristik dan praktik konseling dan psikoterapi. Karena itu tidak salah jika dikatakan heuristik sangat tepat digunakan untuk meneliti isu-isu yang terkait konseling dan psikoterapi.

Tujuh langkah studi heuristik menurut Moustakas (dalam Given, 2008: 390) adalah sebagai berikut:

  1. Initial engagement (keterlibatan awal). Penelitian dimulai dengan pencarian isu-isu sosial yang penting yang memiliki implikasi personal dilakukan dengan cara dialog dengan diri sendiri (self-dialog) dan mencari sendiri topik serta pertanyaan penelitian.
  2. Immersion. Usai menemukan pertanyaan  penelitian, peneliti melakukan pendalaman terhadap pertanyaan penelitian secara intensif melalui dialog dengan diri sendiri (self-dialogue), refleksi diri (self-research), mencari peneliti mitra yang memiliki kepedulian dan pengalaman yang sama.
  3. Incubation. Ini tahap konsolidasi. Peneliti berhenti sejenak untuk memungkinkan ide-ide baru muncul dengan melibatkan peneliti mitra.
  4. Illumination. Tahap ini terjadi secara alamiah dan spontan, di luar tahap sebelumnya. Ada pertemuan aspek-aspek fenomena yang disadari dan tidak disadari dan merupakan awal melakukan sintesis pengetahuan yang masih berurai.
  5. Explication. Ini merupakan periode di mana peneliti berdiam diri dan fokus secara penuh untuk mendalami, menjelaskan dan memperbaiki penemuan baru, untuk memperoleh pemahaman yang lebih lengkap tentang fenomena yang diteliti. Peneliti menjelaskan komponen-komponen utama fenomena yang diteliti dan siap-siap memasuki tahap akhir penelitian.
  6. Creative Synthesis. Tahap ini dilalui lewat penguasaan data. Peneliti dapat mengeksplorasi dengan cara apapun yang dipandang kreatif dan tepat – misalnya seni, musik, puisi, metafor, dan sebagainya untuk memperoleh makna yang paling murni dari fenomena bagi dunia.
  7. Validation of Heuristic Research. Pada tahap ini peneliti kembali lagi melihat data untuk melihat bahwa penjelasan pengalaman sudah cukup komprehensif, jelas, dan tepat. Ini tahap penting yang hanya bisa dilakukan oleh peneliti utama. Selanjutnya dilakukan oleh peneliti mitra (co-researcher). Validasi akhir dilakukan melalui publikasi, presentasi, atau penampilan. Dengan terus bertukar pengetahuan dengan orang lain validitas pendekatan  heuristik dapat dipenuhi.

Dari sajian di atas menjadi jelas bahwa studi heuristik memang tidak untuk mengembangkan teori, apalagi menguji teori, sebagaimana diakuti oleh tokohnya sendiri, Moustakas, tetapi lebih pada proses atau tahapan-tahapan untuk sampai pada pengetahuan baru. Itu sebabnya, studi heuristik dianggap berada di luar dari arus utama penelitian kualitatif, khususnya dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Tetapi secara secara perlahan heuristik telah  digunakan di bidang-bidang seperti pendidikan, psikologi, psikoterapi, konseling, teologi dan studi transpersonal!

____________

 

Malang, 17 Maret 2018

 

 

Daftar Bacaan:

Given, Lis M. (ed.). 2008.  The Sage Encyclopedia of Qualittaive Research

Methods. Los Angeles, London, New Delhi, Singapore: SAGE Publications.

Patton, Michael Quinn. 1990. Qualitative Evaluation and Research Methods.

Newbury Park, London, New Delhi: Sage Publications.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *