Gejala Perubahan Sosial di Desa

Beberapa waktu lalu, saya  mengunjungi  salah satu keluarga yang sedang punya hajat menikahkan putrinya. Saudara saya itu tinggal di sebuah pedukuhan kecil dan agak jauh dari keramaian. Semula saya agak lupa menemukan rumahnya karena sudah sangat lama tidak  berkunjung. Ciri-ciri fisik desa pun sudah banyak berubah.  Dulu ada sungai tempat anak-anak bermain, belajar berenang, dan memancing ikan kini sudah tertutup pasir. Undangan itu saya gunakan sebagai kesempatan untuk menyambung silaturrahim dengan sanak keluarga.  Ketika memasuki pedukuhan tempat tinggal saudara saya itu,  saya agak terkejut membaca tulisan “Jl. Jenderal Sudirman” yang terpampang di pinggir jalan. Saya sempat tertawa kok ada nama jalan di sebuah pedukuhan kecil seperti itu layaknya di kota-kota besar. Apalagi menggunakan nama besar seorang pahlawan nasional.

 

Ketika pulang dengan mengambil jalan lain, saya  juga menemukan nama jalan “Jl. Supriadi”. Saya tidak tahu asal mula pemberian nama jalan di pedukuhan kecil itu. Siapa pula yang berinisiatif. Jumlah rumah keluarga di pedukuhan itu hanya 30 buah, sehingga untuk menemukan rumah tempat tinggal siapa tidak sulit. Karena itu, sebenarnya untuk apa pemberian nama jalan itu. Jadi saudara saya itu tinggal  di Jl. Jenderal Sudirman, Dukuh W, Desa X, Kecamatan Y, Kabupaten Z. Terdengar keren, walau tidak ada nomor rumah.

Suatu kali saya berkunjung ke sebuah desa memonitor kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa. Saya mendapat laporan dari para mahasiswa bahwa di desa tempat mereka mengabdi itu telah terjadi perubahan sosial dalam beberapa hal, mulai sikap keagamaan, jenis pekerjaan, kekerabatan, pendidikan, hingga pemberian nama diri seseorang. Dalam hal beragama masyarakat desa itu sudah memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya agama bagi kehidupan. Indikatornya musholla dan masjid yang ada di desa sudah ramai dengan kegiatan keagamaan, terutama sholat berjama’ah. Lembaga-lembaga keagamaan seperti jama’ah tahlil, yasinan, sholawat dan sebagainya sudah bermunculan. Taman pendidikan al Qur’an juga sudah ada.

Dari sisi pekerjaan banyak warga yang meninggalkan profesi sebagai petani dan beralih menjadi pedagang di pasar dengan menjual hasil pertanian, sebagian ada yang membuka toko sendiri, bengkel sepeda motor, pertukangan, dan ojek. Tinggal beberapa saja yang masih setia dengan profesi bertani.

Dari sisi kekerabatan juga ada pergeseran dari yang semula sangat dekat sekarang  lebih longgar. Misalnya, dalam hal jual beli, pinjam meminjam uang dan lain-lain dilakukan dengan transaksi dan catatan yang jelas seolah-olah di antara mereka bukan saudara dekat. Prinsip mereka hutang ya hutang dan harus dikembalikan. Saudara tetap saudara. Hutang berbeda dengan pemberian.

Dari sisi pendidikan, sudah muncul kesadaran orangtua untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beberapa di antara mereka sudah sarjana dan itu menjadi seperti magnit bagi keluarga lainnya untuk menyekolahkan anak mereka hingga sarjana. Di masa lalu anak-anak desa itu cukup memperoleh pendidikan sampai sekolah dasar. Setelah lulus SD umumnya yang anak perempuan dinikahkan dan yang laki-laki diajak membantu orangtua bekerja di sawah.

Pergeseran lain yang cukup menarik untuk dikaji ialah tentang nama diri. Di desa tempat mahasiswa ber-KKN itu saat ini sudah jarang ditemukan nama-nama orang Jawa pedesaan seperti Bejo, Lamiran, Kadiyo, Tukiran, Panut, dan sebagainya (untuk laki-laki), dan Tumbrong, Tuminah, Tukiyem, Tuminem, Temon, Cuplik dan sebagainya (untuk perempuan). Juga tidak ada lagi nama orang  yang meminjam nama wayang, seperti Gareng, Limbuk, Cakil,  Bagong  dan sebagainya. Nama-nama seperti itu sudah hilang, kalaupun ada tinggal yang tua-tua yang usianya di atas 60 tahun.

Sebagai gantinya ialah nama-nama seperti  Budi, Antoni, Joni, Natalia, Martin, Amelia, Dian, Marcela, dan sebagainya yang menurut mereka lebih keren dan terasa internasional. Tidak ada lagi anak desa itu memanggil kakak laki-lakinya dengan “kang”, melainkan “mas”. Begitu juga untuk perempuan panggilannya bukan  “yu”, tetapi “mbak”.  Tidak ada lagi terdengar panggilan “Pak De”, tetapi “Pak Puh”,  juga bukan lagi “Pak Lek”, tetapi “Om”.

Kini, orang-orang desa cenderung memberi nama anak mereka dengan meniru nama-nama artis, tokoh politik, olahragawan, atau figur publik terkenal. Saya sangat terkejut ada warga desa saya yang memberi nama anaknya Platini, atau Zindan nama seorang pemain sepak bola terkenal asal Perancis. Malah ada yang memberi nama anaknya dengan menggunakan kata bahasa Inggris, yakni Good Night. Mungkin di antara para pembaca ini  ada yang tidak percaya, tetapi itu kenyataan. Saya tidak tahu apa orangtua anak itu tidak mengerti arti ungkapan “Good Night”. Bukankah “Good Night” itu artinya selamat tidur ketika orang saling berpisah di waktu malam?. “Good Night” bukan berarti  “Selamat Malam”. Tidak saja terdengar asing bagi orang yang mendengarnya, tetapi  memanggilnya  juga sulit, dipanggil Good atau Night .

Perubahan ternyata tidak saja pada penamaan nama diri, tetapi juga cara anak memanggil orangtua (ayah). Suatu saat saya mendengarkan dialog seorang paman dan keponakan yang tinggal di desa. “Bapakmu di mana Nik?”, tanya sang paman yang tinggal di kota. Sesekali sang paman, yang kebetulan bekerja di kantor pemerintah, masih sering mengunjungi sanak saudaranya yang tinggal di desa. “Nik” yang dimaksudkan ialah Anik, nama keponakan yang masih duduk di kelas lima sekolah dasar. Dengan santainya, si Anik menjawab “Ayah di sawah”.  Dalam hati saya tertawa mendengar dialog paman dan keponakan itu, bukan karena isinya, tetapi karena penggunaan kata “ayah” dan “sawah”.

Sebagai peminat studi sosial kebahasaan,  saya tertarik untuk mengupas peristiwa dialog tersebut lebih lanjut. Bagi orang desa seperti saya, panggilan “ayah” yang dipakai Anik untuk menyebut bapaknya kok terasa asing walau memang sah-sah saja dan tidak ada yang melarang. Kok rasanya ada yang kontras. Ayah kok ke sawah. Kalau berbunyi ayah ke kantor,  mungkin tidak terasa aneh. Saya berasumsi kalimat “Ayah ke sawah” merupakan turunan atau terjemahan dari kalimat bahasa Inggris “My dad is going to the field”. Bagi masyarakat Barat, kalimat seperti itu tentu tidak asing. Sebab, konsep “field” dalam bahasa Inggris tidak sama dengan “sawah” dalam bahasa Indonesia. Mungkin anak itu sering menonton film atau sinema di televisi yang menggunakan dwi bahasa.

Keterkejutan saya ternyata tidak berhenti di situ. Anak salah seorang teman yang tinggal di desa memanggil ibunya dengan panggilan “mama”, bukan “ibu”, apalagi “mbok”. Ibunya adalah ibu rumah tangga biasa, alias bukan pekerja kantoran sebagai seorang profesional. Saya sendiri mengajari anak-anak saya dengan memanggil saya sebagai “bapak” (bukan papa), dan memanggil ibunya sebagai “ibu” (bukan mama), sehingga suasana  di keluarga kami terasa biasa-biasa saja, alias tidak keren. Seorang warga desa yang menunakan ibadah haji begitu pulang oleh warga dipanggil “abah”, dan istrinya dipanggil “umi”. Nama lama pun sebagai nama asli diganti dengan nama baru.

Kandisi empirik di atas menunjukkan bahwa pergeseran nilai-nilai masyarakat tradisonal ke masyarakat modern tidak saja terjadi pada hal-hal yang menyangkut aspek fisik, seperti sarana dan prasarana umum yang semakin baik,  tetapi juga ke dunia simbolik, yakni nama diri dan panggilan. Umumnya, orang yang berasal dari desa dan sekarang bermigrasi di kota akan melihat banyak perubahan di desa dulu tempat dia dilahirkan dan dibesarkan. Memang masih bisa diperdebatkan, tetapi ini fakta bahwa perubahan penggunaan nama di kalangan masyarakat Jawa saat ini tergolong drastis.

Yang tak kalah menariknya dahulu di masyarakat pedesaan Jawa seorang ayah biasa dipanggil dengan nama anak laki-laki yang pertama.  Misalnya, jika punya anak laki-laki  pertama bernama Soni, oleh warga sang ayah itu biasa dipanggil Soni. Pemanggilan seperti menunjukkan hubungan keakraban di antara mereka dan hanya digunakan di antara warga sendiri dan keluarga dekat, dan tidak pernah digunakan untuk memanggil seseorang yang belum kenal baik. Itupun hanya terjadi pada seorang ayah, tidak pada ibu. Seorang ibu tidak pernah dianggil dengan nama anak perempuannya.

Uniknya ialah panggilan semacam itu tidak pernah terjadi pada seorang ayah yang anaknya  perempuan. Apa artinya? Panggilan seorang ayah dengan nama anak laki-laki bisa diartikan bahwa sistem patriarki yang sangat kental di mana laki-laki adalah figur dominan dalam keluarga, sedangkan perempuan merupakan figur pendukung dalam keluarga. Sayang fenomena menarik itu sekarang telah hilang seiring dengan perkembangan masyarakat di mana budaya patriarki dianggap sudah tidak relevan.

Pergeseran penggunaan nama diri ternyata tidak hanya terjadi di Jawa. Seorang teman dari Bali pernah menyampaikan bahwa di Bali juga terjadi perubahan nama orang.  Menurutnya orang Bali yang lahir sebelum tahun 1970’an, biasa bernama khas Bali seperti  I Made Titib, I Nyoman Deker,  I Gusti Ngurah, I Ketut Sudiri Panyarikan, dan sebagainya.  Pada dua dasawarsa terakhir, seperti orang Jawa  orang  Bali juga mulai memberi nama anak mereka  dengan menggunakan nama-nama orang terkenal, baik dari kalangan artis, politisi, maupun olahragawan.

Lebih lanjut kata teman itu, sekarang ada dua sangat menonjol terkait perubahan nama diri orang Bali,  yaitu kebarat-baratan dan keindia-indian. Dengan nama Barat mereka ingin disebuat sebagai warga internasional, dan dengan nama India mereka menunjukkan identitas diri sebagai pemeluk Hindu, sebagaimana orang Islam menggunakan nama-nama Arab, seperti Abdullah, Ghazali, Hamid, Fatimah, Azahra dan sebagainya.

Yang menarik lagi di Bali ada kecenderungan orang sudah tidak lagi menggunakan  “I” dan “Ni” yang biasanya ditaruh di depan nama diri, seperti “I Gede Ngurah Oka”, atau “Ni Nyoman Budiasa”.  Yang masih utuh sampai saat sebagai ciri khas nama orang Bali ialah Putu, Wayan, Made, Nyoman, Nengah, dan Ketut. Terkait dengan nama khas orang Bali itu, seorang penyiar pertandingan  sepak bola sempat membuat pendengar radio kebingungan karena hanya nama-nama seperti Ketut, Nyoman, Made, Gede, dan Wayan yang selalu disebut, seolah-olah jumlah pemain hanya 5 atau 6 orang (tidak 11).

Apa makna dari semua pergeseran atau perubahan sebagaimana terjadi di pedesan Jawa di atas? Perubahan sosial adalah sebuah keniscayaan. Ia adalah realitas yang tidak bisa terbantahkan dan senantiasa akan terjadi dari waktu ke waktu. Tidak heran jika filsuf Yunani kenamaan, Heracleitus, menyatakan bahwa “semua berubah, tidak satupun yang tetap (all change, nothing is permanent)” yang dibuat pada tahun 513 BC hingga kini tetap dijadikan rujukan. Bahkan, bisa jadi pernyataan yang telah berusia lebih dari 2500 tahun tersebut diperkirakan akan tetap menemui kebenarannya sampai akhir kehidupan manusia.

 

Saya yakin perubahan akan tetap terus terjadi di berbagai tingkatan masyarakat. Kita akan menyaksikan desa atau kota asal kita akan berubah. Tentu kita semua berharap perubahan yang terjadi itu menuju perbaikan dan kemartabatan manusia. Jangan sampai terjadi manusia menjadi korban perubahan. Sebab, hakikatnya sang manusia itu sendiri sebagai pelaku utama perubahan!

___________

 

Malang, 23 Desember 2018

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *