Bahasa Khas di Pasar Tradisional Jawa

Prof. Andi Hakim Nasution,  pakar statistika dan mantan Rektor IPB, suatu kali pernah menulis di sebuah media bahwa salah satu kegemaran beliau ialah mengunjungi pasar. Karena itu, jika sedang berkunjung ke daerah beliau tidak lupa untuk menyempatkan diri mengunjungi pasar rakyat atau sering disebut pasar tradisional. Melalui pasar, beliau akan melihat tidak hanya jenis barang apa saja yang dijajakan penjual, tetapi juga harga barang itu. Jenis barang menggambarkan aneka ragam tanaman yang ditanam petani, dan harga barang menunjukkan tingkat perekonomian masyarakat.
Kendati tidak sama persis dengan Prof. Andi Hakim Nasution, saya juga sangat senang mengunjungi pasar. Saya teringat di masa kecil sering ke pasar bersama nenek. Saya senang bukan main jika diajak ke pasar, karena setelah selesai belanja saya selalu diajak makan ke warung nasi tahu dan dibelikan jajanan pasar khas desa. Ada gethuk, cenil, utri, ketan, tiwul, jenang grendul, horok-horok, gatot, dan lain-lain. Biasanya jajan pasar semacam itu digunakan ketika warga punya hajat selamatan.
Ketika sudah bisa naik sepeda motor, saya sering diminta mengantar nenek ke pasar untuk belanja berbagai kebutuhan dapur. Pasar telah menjadi kenangan indah masa kecil saya hingga sekarang. Alhamdulillah, pasar itu hingga kini utuh dan dipertahankan sebagai pasar tradisional, walau beberapa bangunan di depan berubah bentuk dan pemilik. Setiap kali pulang kampung, saya selalu melewati pasar itu dan mengingatkan masa kecil saya sebelum hijrah ke kota untuk kuliah.
Seiring dengan pergeseran waktu, perhatian saya tentang pasar juga berubah. Jika dulu saya senang diajak ke pasar karena ingin dibelikan makanan atau jajan pasar, sekarang perhatian saya tentang pasar ialah melihat bagaimana orang-orang di pasar saling berinteraksi dalam proses jual beli. Di pasar itu ada orang yang menjual dagangan, yang menjadi pembeli, yang sekadar melihat harga barang dan membandingkannya dengan di tempat lain, yang ingin bertemu temannya, ada tukang karcis (petugas pengumpul pajak), ada peminta-minta (pengemis), ada penjaga, ada tukang sapu, tukang parkir, ada penjahat yang sering disebut pencopet, dan ada orang gila dengan berbagai tingkatannya. Di pasar desa saya dulu malah  ada mitos beberapa pedagang yang kaya dituduh ngajak  thuyul ke pasar untuk mencuri uang, walau itu tidak pernah terbukti hingga sekarang. Setahu saya para pedagang kaya itu memang pekerja keras dan selain berdagang mereka juga memiliki lahan atau sawah luas.
Itulah pasar, tempat berkumpulkannya beragam orang dengan beragam kepentingan. Heri Priyatmoko (Republika, 30/9/2016) menyatakan pasar bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan juga mewadahi terselenggaranya silaturrahim sesama manusia. Sebelum era medsos seperti sekarang ini dulu pasar menjadi media penyebaran informasi. Seseorang yang mengabarkan kematian kerabat, tetangga, atau temannya datang ke pasar, dan dari mulut (gethok tular) kabar itu cepat tersiar. Tidak hanya kematian yang disiarkan melalui pasar, tetapi juga berita kemalingan, pembunuhan, kecopetan, dan peristiwa-peristiwa kriminal lainnya.
Saya ingat setiap pulang dari pasar nenek saya memperoleh berbagai kabar yang tersebar melalui para pedagang. Karena itu sangat disayangkan jika pasar sebagai simbol pertemuan rakyat dipugar atas nama modernisasi sehingga merusak ekosistemnya yang sudah melekat puluhan tahun. Andai bisa bicara, pasar akan berkata “Aku jangan dirusak. Biarkan aku begini hingga anak keturunanmu bisa melihatku yang asli”.
Kehidupan pasar sering tidak menjadi perhatian ilmuwan sosial. Padahal di pasar itu ada beragam dimensi yang patut dikaji lebih dalam, mulai urusan ekonomi, sosial, budaya, politik, hingga komunikasi (bahasa). Penelitian kelompok yang dilakukan mahasiswa untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah sosiolinguistik yang saya bimbing dengan menjadikan beberapa pasar tradisional di Malang sebagai situs penelitian menemukan beberapa hal menarik. Satu di antaranya ialah kata “pelaris” merupakan kata yang paling sering diungkap oleh pedagang. Kalau sudah ada pembeli yang membeli dagangannya, para penjual umumnya mengucapkan kata “pelaris”, sambil mengipas-ngipaskan uang di atas dagangannya. Menurut KBBI (2001: 642) pelaris artinya “barang dagangan yang dijual murah agar yang lain dapat laku (biasanya penjualan pertama)”.
Atas dasar makna tersebut, seharusnya kata “pelaris” hanya diucapkan kepada pembeli barang dagangan pertama. Tetapi ternyata itu tidak terjadi. Pedagang di pasar tradisional itu rupanya sangat terbiasa mengucapkan kata “pelaris” kepada pembeli setiap dagangannya laku. Uniknya, itu terjadi di semua pasar tradisional yang dipilih menjadi situs penelitian.
Bentuk komunikasi khas selanjurnya ialah ungkapan penolakan ketika tawaran belum diterima. Misalnya, ketika barang dihargai Rp. 5000 dan ditawar Rp. 3000 atau Rp. 3. 500, pedagang menolak penawaran dengan sangat halus. Penolakan dilakukan tidak dengan mengatakan “mboten angsal” (tidak boleh), tetapi dengan ungkapan khas  “tumbase mawon dereng angsal”, artinya “belinya saja belum boleh”.
Berbeda dengan pedagang di pasar-pasar modern yang cenderung individualis, pedagang di pasar tradisional memiliki sikap kebersamaan yang tinggi. Itu ditujukkan ketika ada pembeli ingin membeli barang dan kebetulan barang itu tidak ada atau telah habis terjual, dengan ikhlas dia arahkan ke pedagang lain yang memilikinya. Jika kebetulan berdekatan, dia panggil namanya dan memberitahu kalau ada pembeli yang mencari dagangannya. Para pedagang pasar tradisional tidak merasa teman-teman sesama pedagang sebagai pesaing atau kompetitor. Mereka dianggap sebagai teman senasib dan sepenanggungan.
Di kampung saya ada istilah pasar “krempyeng”, artinya pasar yang hanya buka pada hari dan jam tertentu. Biasanya penentuan hari tidak menggunakan nama hari seperti Senin, Selasa, rabu dan seterusnya, tetapi menggunakan penamaan Jawa, seperti paing, pon, wage, kliwon, dan legi. Pasar krempyeng biasanya buka di hari pon dan legi, dan jam 10. 00 sudah bubar. Masyarakat mendirikan pasar krempyeng ketika jarak ke pasar induk jauh. Karena itu, keberadaan pasar krepyeng berfungsi semacam pasar pembantu dari pasar induk.
Dagangan yang dijual di pasar krempyeng biasanya tidak selengkap di pasar induk (pasar besar), dan harganya lebih mahal. Tetapi karena jarak ke pasar induk jauh, para pembeli di pasar krempyeng tidak keberatan. Mereka berpikir daripada menempuh jarak beberapa kilometer menuju pasar induk, lebih baik belanja di pasar krempyeng, walau harga barang lebih mahal. Terkait dengan pasar “krempyeng” itu, ada ungkapan “dino pasaran”, yang artinya hari di mana pasar buka.
Ada satu ungkapan yang juga menandai keberadaan pasar tradisional, yaitu “blonjo”, yang artinya belanja. Warga yang ke pasar tradisional untuk membeli berbagai kebutuhan, biasanya menggunakan kata “blonjo”. Ketika ditanya teman mau ke mana, biasanya  dijawab “arep blonjo”.  “blonjo yu?”, “iyo kang”, begitu saling sapa di antara warga pengguna pasar tradisional. Rupanya kata “blonjo” sudah cukup mewakili barang-barang yang akan dibeli, sehingga jarang sekali terdengar pembeli menyebut satu per satu barang.
“Kukut” adalah kata yang digunakan para pedagang di pasar-pasar tradisional ketika barang dagangan sudah habis. “Ayo kukut yu”, adalah ungkapan khas pedagang ketika  mau pulang karena barang sudah habis terjual.
Ungkapan-ungkapan seperti “pelaris”, “tumbase mawon dereng angsal”, “blonjo”, “pasar krempyeng”,  dan “kukut” hanya sebagian ungkapan khas di pasar tradisional. Jika ditelusuri lebih dalam, saya yakin masih banyak ungkapan lain yang menandai keberadaan pasar tradisional. Bagaimana ungkapan khas itu muncul? Menurut Riga Adiwoso Suprapto (Prisma, No. 1 Tahun XVIII: 61) kehadiran bahasa dalam kehidupan manusia tidak dapat dianggap berada dalam  suatu “ruang hampa”. Selain sebagai alat transmisi pesan,  bahasa merupakan kode yang penggunaannya ditentukan bersama oleh warga suatu kelompok atau masyarakat. Ini berarti bahasa merupakan suatu aspek kegiatan sosial manusia.
Merujuk pemikiran Riga di atas, dapat disimpulkan bahwa  ungkapan -ungkapan khas pasar itu tidak muncul secara arbiter, sesuai kesukaan penggunanya, melainkan juga ada pola yang mencerminkan berbagai ketentuan yang mendasari suatu sistem hubungan sosial. Dari perspektif sosiolinguistik, sebuah tuturan yang diucapkan seseorang bukan hasil yang bersifat semena-mena, melainkan ada interaksi di antara penutur. Kenyataan sosial di pasar tradisional yang dibentuk oleh bahasa bukan suatu fakta melainkan  suatu hasil dari pengertian bersama antarpelaku sosial, yang tak lain ialah pembeli dan penjual yang saling menyepakati makna ungkapan yang mereka produksi.
Tak terlupakan konteks juga menentukan harga barang. Barang yang dijual jauh lebih tinggi dibanding harga yang lain tidak akan lalu. Sebaliknya, yang dijual terlalu murah akan diprotes pedagang yang lain karena dianggap merusak harga pasaran. Itulah realitas sosial yang terbentuk melalui kesepakatan antarwarga tanpa harus ditulis di lembar kertas formal sebagai pengikat.
______
Malang, 10 Desember 2018

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *