Kosakata dan Ilmu Pengetahuan

Kompas (11/12/2018) mewartakan pentingnya peningkatan jumlah kosakata Bahasa Indonesia melalui penyerapan dari bahasa daerah. Itu inti dari lokakarya kajian dan evaluasi kegiatan kebahasaan serta kesastraan yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, Senin (10/12/2018).
Sebagaimana diketahui bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi manusia untuk berinteraksi dengan manusia lainnya. Sebagai makhluk relasionalitas, manusia tidak mungkin hidup sendirian. Dia memerlukan orang lain untuk memenuhi hajat hidupnya. Agar hasrat itu tercapai diperlukan sarana komunikasi, yakni bahasa. Kita bisa membayangkan apa yang terjadi andai tidak ada bahasa dalam kehidupan ini. Orang bisa saja berhubungan dengan yang lain melalui bahasa isyarat. Tetapi seberapa efektif bahasa isyarat dapat menyampaikan gagasan seseorang. Bahasa isyarat sangat terbatas untuk digunakan sebagai alat komunikasi.
Selain sebagai makhluk relasional, manusia ialah makhluk berkehendak (intentional human being). Sebagai makhluk berkehendak, keinginan manusia tidak pernah berhenti sampai akhir hayat. Karena keinginan  manusia terhadap sesuatu terus berkembang, maka diperlukan kosakata yang dapat digunakan menyampaikan keinginan itu. Karena itu dapat diambil kesimpulan bahwa semakin masyarakat berkembang semakin banyak pula kosakata yang diperlukan.
Bahasa Indonesia sebagai  bahasa resmi negara tentu diharapkan dapat mengimbangi perkembangan masyarakat.  Sayangnya hingga saat ini menurut  Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Dadang Sunendar  jumlah lema bahasa Indonesia baru mencapai 91. 000, sangat jauh dibanding bahasa Inggris yang telah memiliki 1 juta lema (Kompas, 11/12/2018). Itupun bahasa Inggris masih terus menambah lemanya dengan menciptakan kata-kata baru. Itu sebabnya lembaga yang dipimpin Dadang Sunendar menargetkan memiliki 200. 000 lema pada 2019. Untuk mencapai target itu, salah satu strategi yang diambil adalah dengan menyerap kosakata dari bahasa daerah menjadi istilah resmi bahasa Indonesia.
Penyerapan kosakata dari bahasa daerah menjadi kosakata bahasa Indonesia tentu langkah sangat tepat dan perlu dukungan masyarakat. Sebab, Indonesia dengan jumlah bahasa daerahnya mencapai 741 (jumlah pasti masih sulit diperoleh), tentu merupakan modal yang sangat baik untuk menopang kekurangan kosakata bahasa Indonesia.
Penyerapan kosakata dari satu bahasa ke bahasa lainnya sangat lazim dalam dunia kebahasaan. Tidak ada satupun bahasa yang tidak menyerap atau kosakatanya diserap oleh bahasa lainnya, lebih-lebih di era global seperti saat ini. Hanya masalahnya bahasa yang jumlah kosakatanya sudah sangat banyak seperti bahasa Inggris atau bahasa Arab jumlah kosakata serapan dari bahasa asing sangat sedikit dan yang diserap oleh bahasa lain sangat banyak. Sebagai contoh betapa melimpahnya kata serapan dari bahasa Inggris dalam  bahasa Indonesia. Sebaliknya, hanya sedikit sekali kosakata dari bahasa Indonesia yang diserap oleh bahasa Inggris. Misalnya, bamboo (bambu), satay (sate), orangutan (orang hutan), ketchup (kecap), sarong (sarung), durian (durian), dan amok (amuk).
Selain bahasa Inggris, bahasa Arab merupakan salah satu bahasa yang jumlah  kosakatanya sangat banyak. Menghitung dengan pasti jumlah kosakata suatu bahasa tentu mustahil karena jumlahnya terus berubah tiap saat. Tetapi bahasa Arab disepakati para ahli sebagai bahasa dengan jumlah kosakata terbanyak di dunia, yakni hampir mencapai 12. 305. 412 kosakata, kemudian disusul bahasa Inggris, bahasa Perancis dan bahasa Russia. Diambil dari arabeyah.blogspot. com,  diperoleh data bahwa bahasa Arab merupakan bahasa dengan jumlah kosakata terbanyak ialah  untuk menyebut singa yang di dalam bahasa Inggris hanya ada satu kata yakni “tiger” dalam bahasa Arab terdapat 150-500 sebutan untuk singa, dalam bahasa Inggris hanya ada satu sebutan untuk ular, yaitu “snake”, dalam bahasa Arab terdapat  200 sebutan untuk ular, dalam bahasa Inggris ada satu sebutan untuk madu, yaitu “honey”, dalam bahasa Arab terdapat 80 sebutan untuk madu, dan hanya satu sebutan untuk pedang dalam bahasa Inggris, yakni “sword”, dalam bahasa Arab terdapat  minimal 1.000 nama untuk pedang. Dari data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa dalam hal penyebutan nama sesuatu orang Arab tidak ada yang mendandinginya.
Kembali judul di atas tentang  hubungan antara kosakata dengan ilmu pengetahuan. Masyarakat manusia adalah entitas dinamis yang terus berkembang dari sisi pemikiran, budaya, keinginan, ilmu pengetahuan dan sebagainya.  Perkembangan semacam itu menuntut kehadiran kosakata baru agar keinginan dapat disampaikan kepada orang lain. Kebijakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk meningkatkan jumlah kosakata dalam bahasa Indonesia tentu dimaksudkan untuk mengimbangi perkembangan masyarakat. Perkembangan bahasa berjalan seiring dengan perkembangan masyarakat penggunanya. Karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin  luas pengetahuan seseorang,  semakin banyak kosakata atau perbendaharaan kata yang dimiliki. Atau, seseorang yang memiliki kosakata banyak menunjukkan bahwa dia memiliki pengetahuan yang luas. Sebaliknya, orang yang terbatas pengetahuannya memiliki jumlah perbedaharaan kata yang terbatas pula.
Kita dapat melihat perkembangan kosakata seseorang dan pengetahuan yang dimiliki dengan melihat bahasa anak.  Zakaria (1997: 36) memberi contoh menarik. Perkembangan bahasa anak dimulai dengan kemampuan mengucapkan suku kata (silabel), terus menjadi kata dan akhirnya kalimat. Misalnya, awalnya anak hanya bisa mengucapkan “mam”, lama-lama kelamaan seiring dengan pertumbuhan fisik dan tambahnya pengetahuan anak  bisa mengucapkan  kata “mama” dan kata kekerabatannya seperti “papa”.  Pada awalnya kata yang diucapkan pun  tidak sempurna secara fonetik, sehingga terdengar lucu. Misalnya, kata susu diucapkan “cucu”, kata sakit diucapkan “atit”, dan seterusnya.
Ketika anak tumbuh dewasa, mulailah dia sekolah, mulai dari sekolah dasar, sekolah lanjutan hingga perguruan tinggi. Bahasa seseorang ketika sudah kuliah tentu terus bertambah dengan diperolehnya pengetahuan baru. Hingga seseorang bisa mencapai tingkat pendidikan S3 jumlah kosakatanya juga terus bertambah. Dalam perspektif sosiolinguistik dapat dikatakan semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin banyak dan beragam kosakata yang dimiliki. Kepemilikan kosakata merupakan kekayaan kultural (cultural property) yang sangat penting bagi manusia.
Demikian perkembangan bahasa berjalan seiring dengan perkembangan pengetahuan masyarakat penggunanya.  Jika jumlah lema bahasa Indonesia saat ini menurut laporan resmi mencapai 91. 000, bahasa Indonesia tergolong bahasa yang terus berkembang (tidak stagnan). Sebab, pada 1988 jumlah lema bahasa Indonesia diperkirakan hanya 60. 000 dan tahun 1992 mencapai 72. 000.
Kini bahasa Indonesia sudah tumbuh tidak hanya sebagai bahasa komunikasi antarwarga, tetapi juga sebagai bahasa ilmu. Sebagai bahasa ilmu, bahasa Indonesia terus memperkaya diri dengan penyerapan kosakata dari bahasa apapun di dunia untuk selanjutnya disesuaikan dengan kaidah dalam bahasa Indonesia . Jika secara personal kita dapat menambah perbendaharaan kita masing-masing berarti kita berkontribusi besar dalam pengembangan bahasa Indonesia, alat komunikasi yang menyatukan beragam etnik, budaya, dan agama menjadi sebuah bangsa!
____________
Malang, 24 Desember 2018
Daftar Pustaka
Kompas (11/12/2018)
Zakaria, Syofyan.  1997. Wisata Bahasa: Kapita Selekta Bahasa Indonesia.
Bandung: Hutama Utama Press.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *