Warung: Ruang Publik dengan Berbagai Kepentingan

Warung! Siapa tidak mengenalnya? Rasanya setiap orang Indonesia mengenal warung. Dalam ungkapan sehari-hari warung juga disebut kedai. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 1269), warung diartikan sebagai tempat menjual makanan, minuman, kelontong dan sebagainya. Berbeda dengan restoran atau rumah makan moderm, warung biasanya menyediakan jenis makanan dan minuman dengan tarif lebih murah. Warung juga sering digunakan tempat nongkrong warga untuk sekadar minum kopi, teh atau makan makanan-makanan ringan. Jika orang mengalami kesulitan mencari tempat pertemuan, warung sering menjadi pilihannya. Bagi orang yang suka bepergian karena tuntutan pekerjaan, warung seolah menjadi rumah keduanya. Di desa kelahiran saya orang yang suka ke warung disebut suka “marung” (dan konotasinya negatif). Orang yang suka “marung” dianggap pemboros.    

Walau saat ini warung tidak identik dengan tempat menjual makan dan minuman sederhana, karena banyak rumah makan mewah juga bernama “Warung Makan”, ada makna yang tidak berubah dari warung, yakni ruang publik masyarakat untuk berbagai kepentingan. Warung tumbuh dan berkembang dari dan untuk rakyat yang pendiriannya tidak memerlukan surat keputusan dan peresmian dari pemerintah. Karena itu, warung hampir selalu dapat dijumpai di setiap komunitas di mana saja dengan mudah. Bisa di tengah kota, perkampungan, atau pinggir jalan. Yang penting di tempat yang ramai.       

Apa warung hanya berfungsi menjadi tempat orang jual dan beli makanan, tempat nongkrong dan janjian dengan teman? Ternyata tidak sesederhana itu. Sebagai ruang publik, warung sering menjadi tempat sangat efektif bagi warga masyarakat untuk bertukar pikiran, diskusi, menyampaikan uneg-uneg atau aspirasi, transaksi barang dan sebagainya. Tidak jarang, warung juga menjadi tempat untuk mengritik kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro dengan kepentingan masyarakat. Ketika terjadi tarik menarik kebijakan pemerintah mengenai Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law) beberapa waktu lalu, warung seolah telah beralih fungsi menjadi tempat berdiskusi pengunjung warung tentang undang-undang tersebut.

Pengunjung warung bisa duduk berjam-jam membahas kebijakan pemerintah tersebut di warung hanya dengan minum satu cangkir kopi. Di musim pemilu dan pilkada, warung juga menjadi arena kampanye para pendukung calon yang berkompetisi. Sering kali diskusi mereka serius, tak kalah serius dengan para pakar debat di televisi. Isu-isu lain yang mengemuka di masyarakat juga sering menjadi bahan obrolan pengunjung warung.   

Di warung tidak ada strata, siapa memimpin siapa, sehingga orang dapat berbicara dan bertukar pikiran dengan bebas dan leluasa tanpa hambatan struktural dan psikologis. Tidak ada moderator atau orang yang mengatur jalannya pembicaraan sebagaimana lazimnya di forum seminar. Tidak hanya itu, warung juga menjadi tempat ‘ngerumpi” dan “gunjingan” warga. Terkait yang terakhir ini, saya teringat sinetron pendek Bu Tejo. Apa yang diperankan Bu Tejo merupakan potret sosial. Bu Tejo yang berperan suka membuat gosip menggambarkan karakter ibu-ibu di masyarakat pada umumnya yang suka gosip. Istilah orang sekarang disebut “nyinyir” atas hal-hal yang belum jelas salah dan benarnya. Sinetron pendek Bu Tejo yang dengan cepat menjadi populer merupakan kritik sosial terhadap kehidupan masyarakat, terutama kaum ibu.                   

Bagi peneliti dan peminat studi sosial, warung merupakan lokus berlangsungnya peristiwa sosial yang sebenarnya, tanpa manipulasi dan perlakuan (treatment). Peneliti dapat mengamati siapa saja yang hadir, siapa berbicara apa dengan kepentingan apa, apa saja pokok pembicaraan, bagaimana struktur pembicaraan berlangsung, dan bagaimana fenomena terjadi dengan realitas yang sesungguhnya. Melalui warung dapat diketahui pula kekuasaan jenis apa yang sedang beroperasi dan menjadi pembicaraan publik.     

Ibarat peneliti sains (biologi, kimia atau fisika), warung adalah laboratorium untuk mengamati suatu peristiwa secara jernih. Alat pengumpul dan analisis data, seperti mikroskop, dapat membaca fenomena dengan jelas sehingga diperoleh data yang kredibel untuk berbagai kepentingan. Misalnya, bagi ahli ekonomi, warung bisa menjadi tempat melihat tingkat perekonomian masyarakat. Bagi ilmuwan sosial, warung menjadi medan untuk melihat struktur sosial dan profesi utama masyarakat. Ahli politik dapat menggunakan warung untuk melihat afiliasi politik warga. Tak ketinggalan ahli bahasa juga dapat melihat pilihan bahasa yang dipakai orang-orang di warung, bagaimana alih kode dan campur kode berlangsung. Dan, masih banyak hal bisa dilihat melalui warung.                       

Saya memiliki kenangan indah dengan warung dan tak terlupakan hingga saat ini. Di saat kecil, saya sering diminta nenek mengantar belanja ke pasar. Saya senang ketika diajak ke pasar. Sebab, usai belanja saya selalu diajak ke warung kesukaan nenek yang terletak di tengah-tengah pasar. Warung Bu Sipon sangat terkenal di mata warga pasar.  Selain diajak makan, saya biasanya dibelikan jajan pasar tradisional, seperti cenil, nagasari, kue cucur, onde-onde dan lain-lain. Di warung itu tersedia berbagai makanan rakyat desa, seperti pecel, soto, rawon dan kare ayam. Yang menarik, bukan hanya pilihan makanan yang disajikan, tetapi warung itu juga menjadi tempat berkumpul teman-teman yang sama-sama mengantarkan orangtua mereka belanja. Sambil, menikmati makanan kami bercengkerama dengan sesama teman. Sayang warung itu kini telah tiada. Sepeninggal Bu Sipon, tidak ada anak dan cucunya yang melanjutkan usaha warungnya.            

Warung juga menjadi arena perjuangan dan pertarungan politik. Ada peristiwa menarik terjadi menjelang pilkades di sebuah kabupaten beberapa waktu. Warung menjadi tempat keramat penentuan siapa yang akan “dimenangkan” untuk memimpin desa yang memiliki banyak perusahaan dan industri rumah tangga itu. Wajar desa kaya itu menjadi rebutan banyak orang dan berbagai kepentingan masuk di dalamnya. Setiap ada peristiwa pilkades, desa itu mengundang perhatian banyak pihak, terutama para botoh. Beberapa hari menjelang pilkades, para botoh berkumpul. Menariknya, para botoh yang hadir itu dari kubu yang saling berkompetisi.  Merekalah sebenarnya pemain inti yang menentukan siapa yang akan dimenangkan dan dikalahkan dalam pilkades. Sebab, suara rakyat telah mereka beli. Ketika para warga pemilik suara berduyun-duyun mendatangi tempat pemungutan suara, para botoh berada di tempat masing sambil tersenyum karena mereka sejatinya telah mengetahui siapa pemenangnya.

 Dalam kesempatan ke warung beberapa minggu lalu di sebuah kota kecamatan, kami sekeluarga dibuat terkejut oleh pemilik warung. Sebut saja namanya Bu Roh, seorang ibu setengah baya. Bu Roh sangat ramah menyapa setiap pengunjung. Warung yang menyiapkan masakan ikan dan ayam pedas itu mempersilakan pengunjung untuk mengambil sendiri makanan yang dipilih. Istilah saat ini “self-service”.  Kami  datang ke warung itu atas saran teman. Saat kami sedang mengambil makanan yang kami pilih, tiba-tiba Bu Roh bertanya kami dari mana dan bagaimana kami tahu warung tersebut. Bu Roh sangat senang ketika kami beritahu kami datang atas saran dan pemberitahuan seorang teman.

Di tengah-tengah kami makan, datang seorang ibu muda dengan pakaian ketat membeli makanan. Pakaiannya menjadi perhatian kami semua. (maaf sangat norak). Bu Roh rupanya tahu perhatian kami tertuju pada seorang pembeli itu. Tanpa ditanya, Bu Roh bercerita seorang pembeli yang baru datang itu. Dia dari sebuah kota di luar Jawa dan di sini bekerja sebagai “purel”. Saya mengira “purel” yang dimaksudkan Bu Roh adalah “public relation”, sebagaimana saya pahami selama ini. “Purel” perusahaan ya Bu”, tanya saya. Sambil tertawa, Bu Roh menjawab “bukan”. Dia “purel” sebuah penginapan. “Dan langganannya banyak”, tambahnya. Dia terpaksa menjalani profesi itu karena himpitan ekonomi karena Covid-19.

Menurut Bu Roh perempuan itu diceraikan suaminya yang terkena pemutusan hubungan kerja dari perusahaan tempatnya bekerja. Bu Roh pun menyayangkan mengapa dia memilih profesi yang melanggar norma agama itu. Saat ini akibat pandemi Covid-19 banyak orang mengalami kesulitan ekonomi. Tetapi tidak harus terjun ke dunia hitam seperti itu. Bu Roh juga mengakui sejak pandemi Covid-19, kunjungan ke warungnya turun drastis, tinggal seperempat dari kebiasaannya sebelum era pandemi Covid-19. Tetapi Bu Roh tetap tabah dan sabar sambil bekerja melayani pengunjung yang datang ke warungnya dan berharap Covid segera berlalu, sehingga dapat menjalani kehidupan normal seperti sedia kala.

Cerita Bu Roh melengkapi peran warung sebagai ruang publik yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja dan untuk macam-macam kepentingan. Di warung tidak saja tersedia menu makanan dan minuman, tetapi berbagai informasi aktual yang terjadi di masyarakat. Para peneliti sosial dapat memanfaatkan warung sebagai lokus dan sumber pengumpulan data yang kredibel, karena semua yang terjadi tidak ada yang dibuat-buat. Semua berlangsung secara alamiah tanpa ada yang ditutup-tutupi. Para pengunjung warung telah menjadi aktor sosial yang memainkan peran tanpa mengubah wajah dan tindakan  mereka.

Aktivitas marung menarik untuk dikaji secara sosiologis. Warung menjadi tempat berkumpulnya orang dengan berbagai latar dan kepentingan. Minum kopi di warung bukan semata karena haus, tetapi juga merupakan aktivitas motif di balik tindakan marung. Marung juga menciptakan kelas sosial pelakunya. Di warung ada kehidupan masyarakat yang terbentuk melalui proses interaksi dan komunikasi antar-pengunjung dengan simbol-simbol yang saling mereka pahami. Minum kopi sejatinya bisa dilakukan di rumah. Tetapi tindakan pergi ke warung atau marung merupakan hasil pemaknaan terhadap citra warung.

Marung bisa dianggap lebih membanggakan. Jika cukup punya uang, aktivitas marung akan ditinggal dan beralih ke kafe, kedai, atau restoran. Kafe, kedai, restoran tentu memiliki strata yang lebih tinggi dibanding warung. Tetapi aktivitas ke tempat itu tetap disebut “marung”. Walhasil, warung, kedai, kafe, dan restoran merupakan ruang publik di mana orang saling bertemu, berinteraksi, dan berkomunikasi untuk membentuk kehidupan sosial yang sesungguhnya. Karena itu, marung bukan sekadar aktivitas untuk membeli makanan dan minuman, tetapi juga fenomena yang membentuk kehidupan sosial dari berbagai lapisan masyarakat!           

_________ Sendang Biru, 14 Maret 2021

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *