Menulis Sejarah

Sejarah sering diidentikan dengan peristiwa masa lalu, sehingga menulis sejarah diartikan menulis tentang peristiwa yang telah terjadi. Seorang kawan yang kuliah di jurusan sejarah sering digoda sebagai calon sarjana masa lalu. “Untuk apa masa lalu dipelajari? Bukankah lebih baik menyiapkan masa depan yang pasti akan dilalui daripada mempelajari sesuatu yang telah lewat. Apa tidak buang-buang waktu”. Begitu ucapan yang sering kita dengar menyangkut sejarah. Orang yang mengatakan demikian itu tidak paham sejarah. Padahal, justru melalui sejarah orang bisa mempersiapkan masa depan. Orang bisa mengambil setiap hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi. Bukankah Allah telah berfirman bahwa tidak ada yang sia-sia terhadap semua ciptaan-Nya, termasuk sejarah?.        

Perjalanan hidup seseorang adalah sejarah yang akan dibaca oleh anak cucu, generasi kini dan yang akan datang. Sepak terjang kehidupan manusia akan dikenang oleh manusia berikutnya, bahkan bisa menjadi memori kolektif masyarakat luas dalam jangka waktu sangat lama tergantung nilainya. Semakin monumental kisahnya, semakin lama pula dia akan dikenang. Sejatinya setiap manusia akan membuat sejarah tentang dirinya. Misalnya, perjuangan Soekarno-Hatta memerdekakan Indonesia telah dan akan menjadi memori kolektif masyarakat Indonesia untuk selamanya.  

Di dunia ini banyak orang menjalani hidup dan menjadi catatan sejarah bagi masyarakat. Dunia bukan bumi yang datar tempat benda-benda mati dikumpulkan, melainkan planet sosial yang diisi dan dihiasi oleh para genius,  pemikir ulung dan pejuang hebat. Misalnya, Nelson Mandela akan terus dikenal sebagai pahlawan besar rakyat Afrika Selatan dan dunia karena berhasil  mengakhiri politik apartheid yang tidak manusiawi. Presiden Amerika Serikat Joe Biden juga akan dikenang sebagai presiden pertama Amerika Serikat yang mengutip hadits Nabi Muhammad SAW dan mengucapkan “insya Allah” saat debat publik menghadapi sang petahana Donald Trump. Sontak ucapan Biden menyebar bagaikan kilat ke seluruh penjuru dunia dan mengundang simpati masyarakat muslim Amerika dan dunia. Mereka bulat mendukung Biden. Biden dengan sangat lihai memilih kosakata yang tepat di saat lawannya justru ceroboh dan liar dalam berbahasa. Putin juga akan dikenang sebagai Presiden Russia pertama yang menganjurkan rakyatnya mempelajari al-Qur’an. Kamala Harris telah membuat sejarah sebagai wanita pertama keturunan Asia (India) yang menjadi Wakil Presiden Amerika Serikat.          

Rasanya kita tidak perlu jauh-jauh pergi ke Afrika Selatan, Russia dan Amerika Serikat untuk mencari para pembuat sejarah. Tidak jauh dari tempat kita juga ada pribadi-pribadi unggul pembuat sejarah yang monumental. Alkisah,  pada tahun 1960 seorang dermawan asal Solo bernama H. Anwar Shodiq mewakafkan lahan miliknya di Mantingan Ngawi seluas hampir 200 hektar ke Pondok Modern Gontor yang diwakili oleh Almaghfurlah KH. Imam Zarkasyi.  Di atas tanah wakaf itu kini berdiri Pondok Putri yang demikian megah. Setiap kaki yang melangkah ke lokasi pondok  seolah disapa oleh sang dermawan dengan ucapan “ahlan wa syahlan di tanah yang aku wakafkan untuk mengembangkan pendidikan Islam melalui Pondok Modern Gontor”. 

Dipilihnya Pondok Modern Gontor sebagai penerima tanah wakaf adalah sejarah tersendiri. Mengapa tidak ke yang lain? Toh di daerah Ngawi–Solo juga banyak lembaga pendidikan yang tentu tidak akan menolak diberi tanah wakaf. Tentu dermawan asal Solo itu telah merenungkan dengan matang dan melihat jauh ke depan. Selain karena melihat integritas, komitmen, kejujuran, keseriusan para pendiri pondok (Trimurti) dan prospek dalam perjuangan mengembangkan pendidikan Islam, pilihan sang pewakaf juga karena dilandasi pemahaman yang dalam mengenai urgensi lembaga pendidikan Islam yang dapat   melahirkan para pejuang Islam yang unggul dan tidak mengenal lelah. Integritas para pendiri  terbukti. Hingga saat ini tak satu senti meter pun lahan berkurang dari luas semula (200 Ha).

Memahami tindakan pewakaf ke Pondok Modern Gontor, kita bisa menggunakan perspektif Ritzer yang menyatakan bahwa memilih suatu tindakan bagi seseorang bukan semata karena adanya dorongan dari luar yang membuat dirinya memilih bertindak sesuatu itu, tetapi juga hasil pemaknaan terhadap pilihannya itu. Dengan demikian, dermawan itu telah memahami arti dan urgensi kebaradaan pondok pesantren di lokasi lahan yang diwakafkan. Jadi bukan tindakan tiba-tiba.       

Pembangunan Pondok Modern Gontor yang di atas lahan luas dan tempat strategis juga merepresentasikan lembaga pendidikan Islam yang modern dan menjadi contoh bagi yang lain. Bangunan megah, bersih nan asri secara simbolik juga menggambarkan keluasan berpikir, kesejukan, kesucian, kemuliaan dan keramahan hati penghuninya. Itulah citra Islam. Islam itu luas, mulia, suci, bersih, suci dan indah. Islam itu pro kemajuan. Islam jauh dari ciri-ciri negatif sebagaimana dilabelkan oleh para orientalis sebagai agama teroris, terbelakang, kumuh dan miskin. Pondok Modern Putri di Mantingan telah menghapus stigma itu semua.                                

Mendengar seseorang mewakafkan lahan pribadinya seluas 200 ha, semua akan takjub dan mungkin baru kali ini terjadi. Mewakafkan tanah 100 m2 atau 500 m2 untuk kepentingan sosial adalah hal biasa dan sering kita dengar. Jika dihitung dengan uang dengan harga saat ini tanah 200 ha yang membentang di jalan utama Ngawi-Solo sudah tak terhitung jumlahnya. Saya yakin sang pewakaf bukan guru atau ahli sejarah. Tetapi beliau telah membuat sejarah hidupnya sendiri untuk dibaca banyak orang kelak di kemudian hari. 

Sudah beberapa tahun tahun terakhir ini saya mengajar di Program Pascasarjana, Unida Gontor. Tetapi baru kali ini saya mengetahui kisah sejarah indah yang dibuat oleh warga Solo itu. Itu pun atas jasa ustadz Dr. Asif Trisnani dan ust. Syamsul Badi’ yang menawari saya untuk melihat-lihat pondok putri sebelum memberi kuliah di pascasarjana sore itu. Kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Satu demi satu yang ada di pondok saya perhatikan dengan saksama, mulai gedung kuliah, asrama, kantin, dapur, gudang, masjid, lapangan olah raga, dan berbagai tanaman yang rindang yang dihinggapi berbagai jenis burung. Tentu tak terlewatkan para santriwati yang sore itu siap-siap menunaikan sholat ashar. Saya semakin terkesima karena dari area masjid terdengar para santriwati mengumandang syi’ir Abu Nawas yang terkenal itu sambil menunggu sholat berjama’ah. 

Selama mengelilingi pondok, saya tidak bisa bicara apa-apa. Mulut saya seolah terkunci.  Saya pun heran dengan diri saya sendiri. Sebagai seorang guru besar bidang bahasa, sore itu saya tidak cukup memiliki kosakata untuk melukiskan realitas pondok putri yang megah, anggun, bersih, rindang dan masih banyak yang lain. Bangunan Pondok Putri itu gagah dan berwibawa, tetapi tak sedikit pun ada rasa angker di dalamnya. Justru sebaliknya, gedung itu menyapa dengan ramah siapa pun yang mengunjunginya.    

Saya membisu, bukan berarti tidak berbahasa. Saya mebisu karena saya gagal mencari kosakata yang tepat untuk melukiskan realitas pondok. Saya menjadi teringat tesis sang filsuf hebat bernama Michel Polanyi yang mengatakan kita hidup bergelimang realitas. Ada yang objektif, subjektif, dan simbolik. Tak ada satu pun bahasa di dunia ini, termasuk bahasa Arab yang memiliki kosakata terbanyak disbanding semua bahasa di dunia yang jumlahnya kurang lebih 6470, sanggup mengungkapkan realitas kehidupan secara utuh dan lengkap. Keagungan, kebesaran, keindahan, dan kesejukan pondok putri tidak dapat diwakili oleh satu kosakata. Maka membisu adalah sikap berbahasa saya yang saya pilih saat itu. Dan, saya kira tepat.      

Kini Pondok Pesantren Modern Gontor telah tumbuh menjadi salah satu pondok terbesar di Indonesia dengan puluhan ribu santri di dalamnya. Alumninya tersebar hampir di seluruh dunia dan membuat nama pondok mendunia. Setiap saat saya berkunjung ke luar negeri dan mampir ke KBRI rasanya saya selalu bertemu dengan alumni Pondok Gontor. Kebesaran Pondok Modern Gontor bukan saja karena lahan yang luas, puluhan ribuan santri di dalamnya, dan jumlah asetnya, tetapi juga peran dan kiprah para alumninya.  Tak terhitung jumlahnya alumni yang berhasil menduduki jabatan strategis dan para pengambil keputusan penting di negeri ini, baik di sektor pemerintah maupun swasta.       

Cerita integritas, kejujuran komitmen dan pandangan jauh ke depan para pendiri pondok (Trimurti) yang kini telah diteruskan oleh pemimpin saat ini adalah sejarah indah. Saya yakin pada tahun 1926 ketika mencanangkan pendirian pondok, para pendiri (Trimurti) tidak menggunakan rumus atau teori futuristik sebagaimana dirancang oleh para ahli seperti Alvin Toffler, Francis Fukuyama, Robert D Kaplan dan lain-lain. Mereka mendirikan pondok atas dasar hati yang jernih dan ikhlas dengan memikirkan pentingnya mendidik anak bangsa yang berakhlak mulia, berbudi luhur, dan berilmu pengetahuan untuk menatap dunia dalam perjuangan Islam.   

      Dengan keberadaan Universitas  Darussalam (Unida) di dalamnya yang kini terus berkembang Pondok Pesantren Gontor telah mengokohkan dirinya sebagai salah satu dan bagian penting pengembang peradaban Islam di Indonesia dan dunia. Sebagai bagian dari sistem pendidikan Pondok Modern Gontor, Unida dapat mengembangkan berbagai disiplin ilmu. Pendirian Unida dapat dimaknai pelebaran makna “iqra’“ yang artinya “bacalah” di mana umat Islam (sebagian besar) memaknai ‘iqra’ hanya sebatas “nderes” (baca kitab al-Quran). Padahal, perintah membaca itu maksudnya adalah membaca semua ayat-ayat Allah, baik yang kauliyyah maupun kauniyyah. Membaca dalam arti luas juga diartikan sebagai memahami dan bernalar logis. Pemahaman dan penalaran logis hanya dapat dilakukan ketika seseorang memiliki ilmu pengetahuan. Universitas merupakan tempat yang tepat untuk belajar dan memperoleh ilmu pengetahuan.     

Kini menjelang satu abad usia pondok, para pendiri (K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainudin Fananie, dan K.H. Imam Zarkasyi) yang sering disebut sebagai Trimurti dapat tersenyum lega dan bangga melihat perkembangan pondok di bawah pemimpin saat ini. Melihat blue print pendirian pondok yang terdokumentasikan, rasanya tidak salah jika dikatakan perkembangan pondok saat ini telah melampaui dari yang dicita-citakan para pendiri. Walhasil, beliau bertiga bersama dan H. Anwar Shodiq  telah menulis sejarah hidupnya sebelum teks sejarah ditulis oleh generasi penerusnya.        

  Perkembangan Pondok Modern Gontor dengan seluruh dinamika dan prestasi yang telah diukir tidak akan mampu ditulis dalam narasi sejarah. Keterbatasan bahasalah yang membuat tidak semua penziarahan para pendiri dan pemimpin pondok dapat ditulis secara lengkap. Sebab, di samping kehebatannya, bahasa juga memiliki sifat reduksionis terhadap realitas yang diungkap. “The reality is much more complex than what we can say, let alone write”. Atas dasar perspektif tersebut dapat dikatakan sejatinya apa yang ada di dalam pondok jauh lebih luas dan agung daripada tulisan dalam lintas sejarah. Karena itu, andai saja bisa bicara, pondok sendiri akan dapat bercerita mengenai sejarah dirinya secara utuh. Meminjam ungkapan sang filsuf bahasa kenamaan Wittgenstein “selalu ada yang tersisa dalam narasi sejarah”!

_____ Siman, 20 Maret 2021

  • Mudjia Rahardjo [1] & Abdul Hafidz Zaid [2]
  • Makalah Ditulis untuk Melengkapi Materi Perkuliahan Filsafat Bahasa. [1]
  • Penulis adalah Dosen Matakuliah Filsafat Bahasa Program Pascasarjana, Unida Gontor. [2]

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *