Disertasi Bukan Sembarang Karya Print
Written by Mudjia Rahardjo   
Monday, 04 November 2019 10:37

Beberapa hari lalu saya diundang Ketua Program Studi, Pascasarjana di universitas tempat saya mengabdi untuk menguji disertasi pada tahap Ujian Pendahuluan atau Ujian Tertutup. Jumlah pengujinya tujuh orang, termasuk promotor dan ko-promotor. Karena semua penguji sudah lengkap dan mahasiswa sudah siap, maka pukul 10. 00 lewat beberapa menit ujian dimulai dengan diawali presentasi ringkasan disertasi oleh mahasiswa sekitar 10 menit. Sampai tahap ini semua berjalan normal; mahasiswa dapat menyajikan ringkasan isi disertasi dengan baik sesuai waktu yang diberikan. Selanjutnya dilakukan tanya jawab dari para penguji.

Sebagai penguji utama, saya diberi kesempatan bertanya lebih dahulu selama 15 menit. Sebelum menanyakan persoalan substantif menyangkut isi disertasi dan tentang metode penelitian, seperti biasa saya menanyakan dulu hal-hal teknis terkait dengan bahasa, mulai cara penulisan, pemenggalan kata, penggunaan kata depan dan awalan hingga penyusunan kalimat. Tetapi saya sangat sedih membaca naskah disertasi tersebut karena mulai halaman judul paling depan hingga daftar pustaka di halaman akhir selalu ada kesalahan bahasa. Saya bertanya mengapa itu terjadi dan apakah tidak diedit sebelum maju ke ujian tertutup. Mahasiswa menjawab katanya telah diedit, tetapi kok kesalahannya begitu banyak. Kemudian dia terdiam sambil merunduk, yang saya artikan naskah itu belum diedit sama sekali. Banyak sekali terjadi kesalahan ketik yang mestinya tidak perlu. Praktis hari ini saya belum menanyakan masalah substantif dan metodologis.

 

Lebih parah lagi, mahasiswa calon doktor pendidikan agama itu sama sekali tidak bisa membedakan bagaimana menulis “di” sebagai “awalan” atau imbuhan dan “di” sebagai “kata depan” atau preposisi, sehingga penulisan seperti “dikemudian”, “dibelakang”, “didepan”, “di beli”, “ di ajar” , “di kelompokkan” dan sebagainya seolah menghiasi hampir di semua halaman disertasi yang jumlahnya mencapai 350 lebih halaman. Cukup tebal, tetapi tidak bermutu. Karya ilmiah yang tidak bermutu seperti itu tidak ada artinya sama sekali bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Justru yang terjadi sebaliknya, merusak ilmu pengetahuan. Penulisan “di” yang seharusnya dipisah dari kata dasarnya digabung, dan yang seharusnya digabung malah dipisah.

Tidak hanya awalan dan kata depan “di” yang salah penggunaannya, mahasiswa itu juga kebingungan membedakan “ke” sebagai awalan dan “ke” sebagai kata depan, sehingga menulis “kehadirat”, yang mestinya ditulis “ke hadirat”, “kesekolah”, mestinya “ke sekolah”, “kesana”, yang mestinya “ke sana”. Dari kesalahan demikian banyak dan terjadi berulang-ulang saya menyimpulkan mahasiswa itu benar-benar tidak tahu bedanya awalan atau imbuhan dan kata depan atau preposisi. Kalau kesalahan terjadi satu atau dua kali mungkin karena keteledoran atau kecerobohan saja. Tetapi jika kesalahan sejenis terjadi di hampir semua halaman dapat disimpulkan mahasiswa itu benar-benar tidak memahami bagaimana menulis dengan benar.

Anehnya lagi mahasiswa ini sudah kuliah sampai S3, bahkan sampai ujian pendahuluan. Pertanyaannya ialah bagaimana S1 dan S2-nya dulu? Tidak adakah dosen yang membimbingnya? Apakah dia korban sistem pendidikan yang salah? Karena mahasiswa ini juga seorang dosen di sebuah perguruan tinggi, lalu bagaimana dia bisa membimbing mahasiswanya dengan baik ketika dia sendiri menulis saja tidak becus?

Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan kesalahan-kesalahan penulisan bahasa seperti itu yang mungkin bagi sebagian orang dianggap sepele, karena berprinsip yang penting ide telah tersampaikan. Saya berpikir sebaliknya jika hal-hal sepele saja mahasiswa masih salah, bagaimana mungkin dia bisa mengerjakan hal-hal yang lebih serius dengan benar. Lagi pula ide tidak mungkin tersampaikan dengan baik jika bahasa sebagai alat transmisi ide itu rusak. Belum lagi kesalahan-kesalahan mengeja kata dan menulis kalimat yang tidak lengkap juga ditemukan di naskah disertasi itu.

Saya sangat tidak sependapat dengan pandangan sebagian orang bahwa kesalahan bahasa, apapun bentuknya, dianggap kesalahan sepele. Kesalahan tidak bisa membedakan mana “awalan” dan mana “kata depan” adalah kesalahan fatal secara linguistik. Itu menggambarkan ketidaktahuan, kecerobohan, ketidaktelitian dan rendahnya kecerdasan, khususnya kecerdasan verbal (linguistik). Karena bahasa itu cermin perilaku dan watak seseorang, maka ketika seseorang ceroboh dalam berbahasa biasanya juga ceroboh dalam beraktivitas kesehariannya.

Perlu disadari bahwa ketelitian merupakan sebagian tanda kecerdasan seseorang. Bahasa itu ibarat pakaian yang dikenakan seseorang. Orang yang secara fisik tubuhnya sehat dan normal, tetapi pakaiannya compang camping akan hilang atau setidaknya berkurang kesan sehat dan normalnya sehingga tidak sedap dipandang. Orang biasanya akan malas membaca tulisan yang terdapat banyak kesalahan bahasa, walau mungkin secara substantif isinya bagus.

Ketika mahasiswa terdiam, salah seorang penguji berkomentar “maunya mahasiswa yang penting maju dulu”. Mendengar kalimat itu, saya diam, tetapi dalam hati tidak sependapat dengan jawaban “yang penting maju dulu”. Ungkapan semacam itu tidak kali ini saja saya peroleh. Di ujian-ujian sebelumnya juga pernah ada jawaban seperti itu, lebih-lebih ketika naskah disertasi mahasiswa amburadul. Bisakah mahasiswa menulis naskah disertasi apa adanya dan tanpa peduli dengan ukuran norma layaknya karya ilmiah, toh setelah ujian pun masih harus diperbaiki melalui tahap revisi?  Atau sebaliknya, naskah harus sempurna dulu sebelum diuji?

Melalui tulisan ini saya ingin mendudukkan persoalan disertasi itu sebenarnya apa dan bagaimana seharusnya ditulis untuk disuguhkan ke publik akademik. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2001: 268) mengartikan disertasi sebagai “karangan ilmiah yang ditulis untuk memperoleh gelar doktor”. Sedangkan Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (1989: 349) mendefinisikan disertasi sebagai “Long essay on a particular subject, especially one written for a doctorate or similar degree”. Dari dua sumber rujukan mengenai makna disertasi tersebut dapat diambil dua informasi sangat penting, yaitu “karya ilmiah” dan  “gelar doktor”. Artinya, disertasi ialah sebuah karya ilmiah untuk memperoleh gelar doktor.

Sebagai karya ilmiah, disertasi tidak bisa ditulis sembarangan. Dia harus memenuhi semua persyaratan yang ditentukan oleh konsorsium keilmuan, mulai hal-hal teknis seperti ukuran kertas, jenis kertas, jenis huruf, spasi, cara pengetikan, metode penelitian hingga substansi serta bahasa. Dari sini dapat diambil kesimpulan jika naskah disertasi itu mengabaikan bahasa sehingga terjadi banyak kesalahan, maka ukuran “keilmiahannya” dipertanyakan. Ditambah lagi kesalahan ketika mengutip bahasa asing. Layakkah ia disebut sebagai karya ilmiah? Saya kira naskah semacam itu tidak layak disebut sebagai karya ilmiah. Sebut saja sebagai karya mahasiswa yang baru belajar menulis karena masih mengandung banyak kesalahan.

Sebuah tulisan, apalagi disebut sebagai disertasi, yang diajukan ke sidang ujian seharusnya telah memenuhi syarat-syarat ilmiah seperti tersebut di atas. Sidang ujian hakikatnya sebuah ruang publik akademik untuk menilai suatu karya, sehingga tidak bisa dilakukan dengan prinsip “yang penting maju dulu”. Mestinya seorang penulis disertasi berprinsip “sempurna dulu” sebelum karyanya diajukan ke sidang ujian. Ketika naskah itu diuji berarti akan dibaca orang lain. Perlu diingat bahwa pembacaan sebuah karya tidak hanya untuk memperoleh pemahaman isinya lalu disimpulkan “lulus” atau “tidak lulus”, “baik” dan “tidak baik”,  tetapi juga untuk memperoleh “kesan diri” atau “self-impression” tentang siapa penulisnya. “Kesan diri” ini bisa melebar ke latar belakang sosial dan akademik penulis, tingkat kematangan akademik, keluasan pengetahuan, hingga kecerdasannya. Dan, akhirnya, integritas.

Dengan prinsip “yang penting maju dulu”, maka akan timbul kesan penulis disertasi melimpahkan kesalahan pada pembaca, yang dalam hal ini penguji. Artinya, memberikan pekerjaan rumah kepada pembaca atau penguji untuk membenarkannya. Kesan lainnya ialah penulis disertasi semacam itu bersifat pragmatis, yang penting maju ujian--- apapun bentuk dan kualitas disertasinya --- agar segera lulus dan menyandang gelar doktor.

Menurut saya “kesan diri” lebih tinggi nilainya daripada sekadar nilai ujian. Sebab, ia menyangkut integritas seseorang yang diberikan oleh orang lain atas dasar unjuk kerjanya. Siapapun pembaca naskah akan memberi kesan baik ketika naskah yang dibaca memenuhi kaidah-kaidah keilmuan secara sempurna. Setiap pembaca naskah akan menikmati naskah yang tampil prima.

Integritas itu penting ---lebih-lebih bagi seorang dosen atau akademisi. Ia harus dijaga atau dirawat dengan baik. Sebab, ia menempel pada diri seseorang selama hidup. Tidak mudah untuk memperoleh “kesan diri baik” dari orang lain atau dari masyarakat. Disertasi adalah karya akademik pamuncak, yang tidak ada lagi setelahnya. Karena itu, ia harus tampil “perfect”, baik menyangkut isi atau substansi, metode penelitian, dan bahasanya, sehingga tidak boleh sembarangan.

Selanjutnya karya itu akan ditaruh di perpustakaan di perguruan tinggi di mana mahasiswa mengambil program doktor untuk dibaca oleh generasi penerus. Lebih dari itu, disertasi akan menjadi “state of the arts” bagi penulis-penulis disertasi selanjutnya yang memiliki topik sejenis atau mirip dengannya. Karena itu bisa dibayangkan jika disertasi itu memiliki banyak kesalahan dan kesalahan serupa ditiru oleh penulis selanjutnya, maka penulis disertasi itu punya andil besar dalam menumpuk kesalahan.

Substansi kedua dari disertasi ialah “doktor”. Doktor ialah gelar akademik tertinggi di bidang keilmuan. Seorang doktor bukan sembarang orang, melainkan seorang ahli yang menekuni bidang ilmu tertentu dan menemukan temuan ilmiah dari hasil penelitian. Karena keahliannya, seorang yang telah menemukan sesuatu dari hasil penelitiannya itu diberi penghargaan berupa gelar “doktor”.

Seorang dengan gelar akademik doktor hakikatnya adalah seorang intelektual yang suatu saat dengan kepakarannya akan menjadi “public intellectual” yang bertugas menjadi inspirator dan penyuara kebenaran di masyarakat. Sebagai intelektual publik, seorang doktor harus tampil prima secara akademik. Tidak boleh ada kesalahan padanya, apalagi kesalahan-kesalahan yang seharusnya tidak perlu terjadi seperti dalam penulisan kata dan kalimat. Bagaimana mungkin seorang intelektual publik akan menjadi penyuara kebenaran dan contoh bagi masyarakat jika pada dirinya masih memiliki banyak kesalahan? Intelektual publik itu teladan bagi masyarakat dalam banyak hal, lebih-lebih dalam hal ilmu.

Wal hasil, orang dengan gelar doktor seharusnya bukan sembarang orang. Dia adalah pejuang ilmu yang tekun dan sanggup belajar bertahun-tahun dalam bimbingan dosennya. Selain itu, dia harus melakukan penelitian secara intensif untuk menemukan sesuatu yang baru. Seorang doktor mempunjyai tanggung jawab mengembangkan ilmu masing-masing, memiliki kompetensi mengadakan penelitian empirik dan evaluatif (mono, multi, interdisiplin), berpikir rasional. Inovatif/keatif, dan memiliki komitmen sosial kritis emansipatoris untuk kemajuan peradaban manusia dan kemanusiaan.

Nah, doktor bukan sembarang orang kan? Karena itu, karya yang menjadikannya diberi penghargaan gelar doktor yaitu disertasi tentu bukan sembarang karya yang  bisa disajikan dengan prinsip “yang penting maju dulu”. Sebagai karya puncak, disertasi yang disuguhkan ke publik harus dengan prinsip “sempurna” sehingga pembaca memberi kesan baik bahwa penulisnya menguasai apa yang dia tulis, menjunjung tinggi kaidah dan prinsip ilmiah yang benar, dan lebih dari itu, dia bukan seorang pragmatis. Ia adalah orang berintegritas tinggi secara akademik!

_________

Malang, 31 Oktober 2019

Comments (4)
  • zene za seks  -  - Disertasi Bukan Sembarang Karya
    avatar
    nice post. I learn about totally new and challenging on sites I stumbleupon everyday. It will always be useful to read through content from other authors and use a little something from other web sites.

    https://poznanstva.net
  • Ashleigh Denver  -  - Disertasi Bukan Sembarang Karya
    avatar
    porn porn porn

    http://eksemfri.se/vitamin-b5-pantotensyra-bluffen-mot-acne/
  • their website  -  - Disertasi Bukan Sembarang Karya
    avatar
    I simply must tell you that your websites are totally awesome. Offering a helping hand in that effort is a great way to create a real difference in your workplace. If it's not really important to you then just don't do it. I have very little doubt that it is extremely difficult to use this stuff in the real world. Really sorry to bother you, but we might have just a few more questions I'd like answers for.

    https://bit.ly/2lomcZB
  • Winston Kadish  -  - Disertasi Bukan Sembarang Karya
    avatar
    Last month, when i visited your blog i got an error on the mysql server of yours.:“:-

    https://blogtech.1dtones.com/google-adsense-technology/
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Last Updated on Tuesday, 05 November 2019 06:29