Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital Print
Written by Mudjia Rahardjo   
Wednesday, 03 June 2020 08:17

A. Pengantar

Ilmu pengetahuan diciptakan sebagai sarana bagi manusia untuk memeroleh kemudahan dan kesejahteraan. Dengan ilmu pengetahuan, manusia dapat memanfaatkan benda-benda di sekelilingnya untuk mendukung kebutuhan hidup dengan cara yang efektif, baik untuk dirinya sendiri maupun masyarakat. Melalui ilmu pengetahuan pula, manusia dapat menciptakan berbagai macam teknologi. Menurut Francis Bacon pengetahuan itu hakikatnya kekuatan (knowledge is power). Atas dasar itu, melalui pengetahuan manusia dapat melakukan berbagai aktivitas, termasuk mengolah sumber daya, untuk menopang kebutuhannya.

 

Pada tataran lebih luas, ilmu pengetahuan dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia, sehingga membedakannya dengan makhluk-makhluk yang lain. Para filsuf sering menyatakan hanya manusia yang dapat mengembangkan dan memiliki ilmu pengetahuan sehingga harkat dan martabatnya tinggi jika dapat menggunakannya dengan baik. Jika tidak, ilmu akan berbalik menjadi petaka yang mengerikan.

Secara filosofis, ilmu pengetahuan juga dapat digunakan untuk mengukur standar norma tentang baik dan buruk, salah dan benar, pantas dan tidak pantas, dan seterusnya. Pada tataran praktis, ilmu pengetahuan dapat digunakan manusia untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Sebagai contoh, saat ini masyarakat dunia dilanda persoalan Covid 19 yang telah memakan ribuan korban. Virus ini harus segera dihentikan agar tidak memakan korban lebih banyak dan menimbulkan persoalan sosial lebih jauh. Para ahli ilmu kesehatan ditantang untuk memberi solusi terhadap masalah ini, sebagai panggilan kemanusiaan.

Hermeneutika, sebagai ilmu tentang cara memahami teks, juga sama dengan ilmu-ilmu yang lain memiliki tugas dan tanggung jawab kemanusiaan. Mempelajari hermeneutika bukan untuk gagah-gagahan atau mencari prestise, tetapi untuk mengejar nilai atau value bagi kemanusiaan. Sebagai bagian dari pemikiran dalam filsafat, hermeneutika memberi ruang perenungan yang sangat luas kepada siapa saja yang mau mempelajarinya. Hardono Hadi, dalam kata pengantarnya di buku berjudul “Tanggung Jawab Pengetahuan: Mempertimbangkan Epistemologi secara Kultural” karya Aholiab Watloly (2001) menyatakan filsafat bukan ideologi yang dibatasi oleh otoritas pemegang tampuk pimpinannya. Filsafat bukan pula agama yang dibatasi oleh dogma dan wahyu sehingga orang tidak leluasa bergerak mengembangkan pikirannya. Filsafat adalah olah pikir yang dapat dibeberkan di hadapan umum untuk dinilai dan dipertanggungjawabkan. Meskipun di dalam filsafat dimungkinkan banyak pendapat, namun satu hal yang tidak dapat ditinggalkan adalah pertanggungjawaban dan keterbukaan untuk dibedah secara umum.

Atas dasar uraian di atas, hermeneutika terus membuka diri untuk mengembangkan konsep epistemologisnya dan sekaligus terbuka untuk dikoreksi untuk disesuaikan dengan perkembangan masyarakat. Hermeneutika harus selalu hadir memberi makna perubahan. Ilmu dapat dipakai untuk memotret berbagai persoalan masyarakat dan pada saat yang sama dapat menjadi pedoman untuk mengambil kebijakan.

B. Hermeneutika dan Revolusi Industri

Dalam sejarah ilmu, kita dapat belajar tentang sebab musabab lahir atau munculnya ilmu yang tidak bisa dilepaskan dari konteks peristiwa atau fenomena yang terjadi yang kemudian mengundang perhatian para ilmuwan untuk memikirkannya lebih jauh melalui penelitian. Dari peristiwa alam, seperti gunung meletus, tsunami, banjir, kekeringan dan sebagainya, para ahli ilmu alam dapat melakukan penyelidikan sesuai bidang dan keahlian masing-masing untuk akhirnya menjadi ilmu pengetahuan. Para ilmuwan sosial dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dari konflik yang terjadi di masyarakat. Begitu juga para ahli agama dapat membangun kerangka ilmu dari peristiwa kekerasan atas nama agama, dan seterusnya.

Atas pandangan tersebut di atas, perlu direnungkan secara mendalam tentang eksistensi hermeneutika filosofis yang dikembangkan para filsuf sejak Schleiermacher hingga Derrida, bahkan Capurro dengan hermeneutika digitalnya. Sebagai contoh, Schleiermacher mengembangkan hermeneutika pada kurun waktu 1805-1833. Menurut Forster (2010: 327-334) tema besar yang selalu diusung Schleiermacher dalam karya tulis dan ceramahnya di berbagai kesempatan selama kurun waktu hampir selama tiga puluh tahun ialah tentang bahasa dan psikologi dalam interpretasi. Bahasa dan psikologi merupakan dua komponen penting untuk memeroleh pemahaman.

Kurun waktu pengembangan hermeneutika oleh Schleiermacher (1805-1833) bersamaan dengan terjadinya Revolusi Industri, yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Industri pertama (RI. 1.0) pada 1760-1840, dimulai dari Inggris, menyebar ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang dan seluruh dunia. Revolusi Industri pertama ini ditandai dengan penciptaan mesin uap dan jalan kereta api yang mengawali perubahan besar dalam sejarah dunia dan memengaruhi hampir semua aspek kehidupan, mulai peningkatan pertumbuhan penduduk, pendapatan rata-rata penduduk, pengalihan tenaga kerja dari hewan dan manusia untuk bekerja ke penggunaan mesin, mekanisme industri kecil, urbanisasi sehingga jumlah penduduk kota membengkak, dan lain-lain. Perubahan besar juga terjadi di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi. Semuanya berdampak pada kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat di seluruh dunia.

Revolusi Industri dilatarbelakangi oleh terjadinya revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke-16 dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan besar seperti Francis Bacon, Rene Descartes, dan Galileo Galilei yang saat itu harus berlawanan dengan dominasi gereja. Sebab, gereja bukan hanya institusi keagamaan tetapi juga ilmu pengetahuan yang sangat dihormati masyarakat. Revolusi ilmu pengetahuan ingin melepaskan masyarakat dari ajaran gereja yang dogmatik dan menggantinya dengan kekuatan akal, yang ditunjukkan oleh Descartes dengan konsep ‘rasionalisme’nya.   .

Momentum revolusi ilmu pengetahuan menjadi kesempatan sangat berharga bagi Schleiermacher untuk mengembangkan konsep dan pemikirannya lebih jauh tentang hermeneutika. Setidaknya, ada dua gagasan penting Schleiermacher, yaitu mengembangkan hermeneutika dari semula studi eksegesis menjadi hermeneutika universal, sehingga hermeneutika juga bisa digunakan sebagai metode tafsir untuk ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Kedua, Schleiermacher menempatkan hermeneutika pada tataran epistemologis. Dengan kedudukan tersebut, secara filosofis hermeneutika menduduki tempat sangat kokoh.

Revolusi Industri kedua (RI. 2.0) dimulai pada 1870 yang ditandai dengan penciptaan ban jalan yang dipelopori oleh Henry Dunand. Sejak saat itu dimulai produksi mobil secara massal dengan menggunakan tenaga listrik melalui jalur perakitan. Revolusi Industri ketiga terjadi pada 1969 yang sering disebut dengan revolusi komputer, yang ditandai dengan berkembangnya semikonduktor dan komputasi komputer besar (mainframe), komputasi personal (1970-1980), dan pada 1990-an perkembangan internet. Menurut Schwab (2017), kita saat ini berada pada Revolusi Industri keempat (RI 4.0). yang dibangun di atas revolusi digital. Tandanya adalah semakin meluasnya interrnet mobile, sensor yang lebih kecil, tetapi lebih kuat dan murah, kecerdasan buatan (AI), dan machine learning (Ninok Leksono, Kompas, 6/1/2020).

Menurut Ninok Leksono, lebih daripada terkoneksinya sistem dan mesin yang kian pintar, RI. 4.0 juga ditandai munculnya kemajuan pesat di bidang lain, seperti penataan gen teknologi nano. Berfusinya bermacam-macam teknologi tersebut dan interaksi mereka di ranah fisikal, digital, dan biologi berbeda secara fundamental dengan revolusi-revolusi sebelumnya. RI.4.0 membuat wajah baru dalam fase kemajuan teknologi.

Seiring dengan kemajuan teknologi RI. 4.0 yang dianggap mendegradasikan peran manusia, Jepang menyatakan dunia akan memasuki era 5.0, di mana masyarakat akan berpusat pada manusia (human centered). Artinya, Jepang ingin membuat sebuah tatanan kehidupan masyarakat di mana terjadi keseimbangan antara kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem yang mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik (diambil dari https://www.kompasiana.com/nadyarahma).

Tak bisa dipungkiri kemajuan teknologi akibat RI. 4.0 dan gagasan Jepang tentang era 5.0 mengubah secara mendasar tatanan ekonomi, cara kerja dan gaya hidup masyarakat. Hanya dalam waktu tiga tahun disrupsi akibat teknologi digital yang mendasari revolusi industri ke-4 sudah dirasakan oleh hampir semua unsur dan lapisan masyarakat di seluruh dunia.

Akibat lain dari RI. 4.0 ialah terjadinya pergeseran makna tentang ‘kebenaran’, sesuatu yang hakiki yang selalu diburu oleh semua ilmu pengetahuan. Sebab, sejatinya manusia adalah makhluk pecinta dan pencari kebenaran (truth seeking creatures). Kebenaran itu sesuatu yang tidak dicari dan diburu, tetapi diperjuangkan. Sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan hadir untuk mencari kebenaran yang hakiki.

Selama ini kita belajar bahwa kebenaran itu harus objektif, berdasarkan fakta, dan bisa diverifikasi. Tetapi sejak 20 tahun terakhir kita disuguhi pergeseran yang mencengangkan tentang nilai kebenaran. Lompatan teknologi digital telah menjadikan realitas bisa berubah menjadi keyakinan, bukan tentang sesuatu yang objektif atau terverifikasi. Mengutip Bill Kovach dan Tom Rosentiel, Ninuk Mardiana Pambudy (Kompas, 2/1/2020) menyatakan saat ini masyarakat telah beralih dari era informasi ke era afirmasi, atau yang dikenal dengan istilah “post-truth society”. Post truth society adalah sebuah konsep di mana orang lebih mempercayai informasi atau kejadian berdasarkan perasaan dan keyakinan daripada fakta.

Akibat dari post truth ialah membanjirnya praktik kebohongan di semua lapisan masyarakat, mulai rakyat jelata yang berpendidikan rendah hingga pejabat atau orang yang berpendidikan tinggi. Bohong menjadi sesuatu yang biasa. Kemudian, kita dapat membayangkan jika kebohongan telah menjadi sesuatu yang lumrah di mata publik, lalu masyarakat macam apa yang menghuni planet bumi ini? Bukankah kebohongan, ketidakjujuran, kepalsuan dan sejenisnya merupakan biang terjadinya berbagai persoalan dan konflik kemanusiaan sejak dahulu kala?

Jika kebenaran didefinisikan semacam itu, lalu bagaimana dengan konsep kebenaran yang dipahami oleh hermeneutika, sejak yang klasik hingga kontemporer. Bukankah hermeneutika yang dikembangkan para filsuf sejak Schleiermacher bahkan filsuf-filsuf sebelumnya hingga Derrida mempunyai misi utama yakni mencari kebenaran yang ada dalam kandungan teks? Bukankah aneka ragam teori penafsiran yang ditawarkan oleh para filsuf hermeneutika juga dimaksudkan untuk dapat menggali kebenaran yang seobjektif mungkin? Jika pada akhirnya, kebenaran tidak perlu sesuai fakta objektif tetapi hanya berdasarkan perasaan dan keyakinan, maka teori hermeneutika mana yang dapat membenarkan itu?

Masih ada banyak pertanyaan hermeneutik yang menyertainya dan harus dijawab oleh para ahli hermeneutika. Misalnya, terkait dengan relasi tiga komponen utama hermeneutika, yakni teks, pembaca dan author atau pengarang. Siapa yang disebut author ketika robot sudah dapat mengganti peran manusia yang menyusun teks? Bagaimana pula seorang penafsir teks dapat menggali dunia kejiwaan author ketika author-nya yang berupa robot? Belum lagi penggunaan artificial intelligence (AI) yang demikian dahsyat pengaruhnya bagi kehidupan.

Mengikuti perkembangan masyarakat sedemikian cepat era revolusi industri empat ini, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh hermeneutika. Pertama, hermeneutika melakukan peninjauan ulang tentang konsep ‘kebenaran’ sebagai sesuatu yang dicari dan diperjuangkan. Kedua, hermeneutika meluruskan makna ‘kebenaran’ sebagaimana selama ini dipegang. Ketiga, hermeneutika meluruskan pandangan masyarakat tentang makna ‘kebenaran’ yang telah bergeser. Keempat, menawarkan konsep dan pendekatan baru bagaimana menafsirkan teks sesuai perkembangan zaman. Kelima, hermeneutika diam saja sambil menikmati status dan posisinya sebagai aliran pemikiran filsafat yang dinikmati oleh para akademisi dan peminat hermeneutika saja. Jika pilihannya yang paling akhir, maka akan tercatat dalam sejarah bahwa hermeneutika sama sekali tidak memiliki azas kemanfaatan bagi kehidupan manusia! Dan, itu artinya peringatan Schmidt (2016) sungguh terjadi.

Kebenaran memang tidak pernah tunggal, sebagaimana kaidah dan prinsip yang dianut hermeneutika selama ini. Dari prinsip ini hermeneutika membuka ruang lebar kepada siapapun untuk berargumentasi dan berbeda pendapat untuk menyingkap kebenaran. Tetapi kebenaran yang dimaksud harus tetap berlandaskan ukuran-ukuran logis, rasional dan objektif. Tidak ada kebenaran yang dirumuskan atas dasar kebohongan.

 

C. Hermeneutika Digital

Sebagaimana diuraikan di atas, menurut Schwab (2016) kita sekarang memasuki periode awal Revolusi Industri 4.0 (RI. 4.0) yang dibangun ai atas revolusi digital, ditandai dengan semakin luasnya internet mobile, sensor yang lebih kecil tetapi lebih kuat dan murah, kecerdasan buatan (AI), dan machine learning sebagai penerapan AI pada sistem sehingga ia punya kemampuan otomatis untuk belajar dan memperbaiki berdasar pengalaman, tanpa diprogram secara eksplisit (Ninok Leksono, 6/1/2020). Juga muncul penerapan teknologi robot, 3D printing, dan Internet Segala (IoT) yang memungkinkan lahirnya pabrik cerdas, di mana sistem produksi, baik fisikal maupun virtual, bekerja sama dalam lingkup masyarakat global dan fleksibel.

Istilah Revolusi Industri 4.0 sendiri dipopulerkan di Hannover Fair tahun 2011. Kemudian pada pertemuan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) tahun 2016 di Davos, Swiss, Klaus Schwab, seorang teknisi dan ekonom Jerman,  sekaligus  Pendiri dan Executive Chairman pertemuan itu menyebut bahwa Revolusi Industri 4.0 sangat berbeda dari revolusi-revolusi industri sebelumnya. Pada Revolusi Industri 4.0 kecepatan, jangkauan, dan dampak teknologi digital pada sistem kehidupan begitu besar. Hanya dalam waktu tiga tahun disrupsi akibat teknologi digital yang mendasari Revolusi Industri 4.0 sudah dirasakan oleh hampir semua bagian kehidupan; pemerintahan, industri, dunia usaha dan bisnis, perdagangan, hingga kehidupan pribadi. Data pribadi yang tanpa sadar diberikan pemiliknya ketika bertransaksi secara digital bisa dimanfaatkan pihak kedua dan ketiga tanpa harus minta izin pemiliknya. Dalam kondisi demikian, menurut Ninuk Mardiana Pambudy (Kompas, 2/1/2020) banyak warga masyarakat merasa tidak relevan dengan situasi sosial baru. Masyarakat membutuhkan bukan saja sekadar informasi, tetapi juga kemampuan memahami informasi, membedakan yang penting dan yang tidak penting, menghubungkan tiap informasi menjadi satu gambar besar tentang situasi yang terjadi. Salah satu ciri utama era digital ini ialah “serba cepat” dalam banyak hal, yang dampaknya bisa saja keburukan daripada keberkahan. Selain “serba cepat”, era digital ditandai dengan kompleksitas persoalan. Masalahnya, “serba cepat” acap membuahkan  kedangkalan. Padahal, penyelesaian masalah kompleks memerlukan pikiran mendalam (deep thought) dan pengendapan masalah.

Tidak hanya itu, menurut Capurro (2010: 1) saat ini kita hidup di masyarakat di mana sistem ekonomi, budaya, militer, hukum, dan politik semuanya digerakkan melalui komunikasi digital dan jaringan informasi dan pada saat yang sama terjadi apa yang disebut sebagai “digital-divide” atau kesenjangan digital. Akibatnya, ada sebagian masyarakat yang dapat mengakses teknologi informasi semacam internet dengan mudah, walau ada sebagian masyarakat yang tidak dapat mengaksesnya yang berdampak pada kesenjangan di banyak bidang (sosial, ekonomi, budaya, dan seterusnya).

Sebenarnya perubahan di masyarakat telah terjadi sejak 1980-an, tetapi perjalanannya memang belum begitu cepat. Dengan kehadiran teknologi informasi dan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan Whatsapp, mengubah kondisi masyarakat secara drastis dan diseminasi informasi berjalan lebih cepat. Maka, era ini  disebut sebagai era digital. Melalui teknologi digital, masyarakat memeroleh kemudahan layanan dan cakupan tanpa batas. Karena berbagai kemudahan yang diperoleh dari teknologi digital, jumlah pengguna internet di dunia terus bertambah, tak terkecuali di Indonesia. Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informasi (2013) Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna Facebook terbanyak di dunia. Pengguna internet mencapai 63 juta orang dengan 95 % dari mereka adalah pengguna media sosial. Tetapi pada saat yang sama Indonesia memiliki tingkat baca masyarakat terendah. Sebagaimana ditulis The Jakarta Post, studi yang diadakan oleh John Miller, President of the Central Connecticut State University in New Britain, menempatkan Indonesia pada ranking terendah kedua dari 61 negara yang disurvei. Ini artinya, masyarakat Indonesia lebih banyak menggunakan media sosial untuk memeroleh informasi (Lukman, 2018: 98).

Selain memberikan banyak kemudahan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, teknologi digital juga mengancam hilangnya jutaan lapangan pekerjaan, terutama jenis pekerjaan yang oleh Ninok Lekosono disebut sebagai jenis pekerjaan “repetitif adiministrarif” , karena akan diganti dengan robotika. Karena itu, menurut Schwab (2016), untuk menghadapi era demikian diperlukan tiga ketrampilan utama, yakni kemampuan kognitif (yang erat dengan logika dan kecerdasan rasional), kecakapan memahami sistem, dan kemampuan menyelesaikan masalah kompleks, yang diikuti dengan soft skill atau social skill pada urutan berikutnya.

Menghadapi perubahan dan potensi munculnya persoalan baru kita dituntut kemampuan untuk mengikuti tren dan sikap cerdas dengan cara memahami karakter teknologi yang membentuk sikap hidup baru agar kita dapat menyesuaikan diri dengan era baru dengan lompatan teknologi informasi yang serba digital tersebut.  Setiap perubahan secara revolusioner yang  mengarah ke penciptaan rasionalitas baru biasanya muncul dari terobosan teknologi dan ilmiah yang luar biasa. Merespons perkembangan demikian, Capurro (2010) menawarkan gagasan “hermeneutika digital” sebagai salah satu jawaban.

Hermeneutika yang secara konvensional merupakan metode menafsirkan teks keagamaan (eksegesis), sastra dan hukum, kini harus  berubah menyesuaian diri dengan kemajuan masyarakat digital, sebagaimana dinyatakan Tripathi (2016: 152):

“Facing the digital challenge, hermeneutics must develop a ‘productive logic’ towards understanding the foundations of digital technology and its interplay with human existence”.

Apa yang dimaksud ‘productive logic’ ialah sebuah lompatan cara berpikir baru dengan cara merevisi konsep-konsep lama dan membuka area yang baru pula. Dengan demikian, hermeneutika digital adalah sebuah konsep baru dalam filsafat heremeneutika dengan meninggalkan cara pandang lama. Cara pandang lama yang ditinggalkan ialah apa yang dimaksud dengan teks --- yang berupa tulisan --- diganti dengan produk teknologi. Bagi hermeneutika digital, teknologi hakikatnya adalah teks yang di dalamnya ada makna yang bisa digali. Sebab dalam teknologi, menurut Romele (2020: 17) ada sistem tanda dan simbol yang membantu pemahaman dan penggunaannya, baik secara individual maupun sosial. Setiap teknologi industri selalu disertai dengan imajinasi sosial, kultural, dan bahkan politik. Karena itu, peneliti hermeneutika digital dapat melacak muatan-muatan itu baik secara sosial maupun individual.

“Technologies are always embedded into systems of signs and symbols that mediate their understanding and uses, individually and socially”.

Terkait itu, Bruno Bachimont, seorang filsuf Perancis dan ahli komputer menyatakan teknologi informasi dan komunikasi merupakan perpaduan antara sistem tulisan (teknologi intelektual) dan sistem produksi (teknologi material): artikulasi antara kepakaran tentang ekspresi, transmisi isi dan kepakaran tentang transmisi benda. Karena itu, teknologi merupakan wujud dari suatu kepakaran yang dapat digali maknanya.

Ketika saat ini, orang bicara hermeneutika digital dianggap baru atau malah dikesan asing. Padahal, sebenarnya menurut Capurro, sejak 1970-an hermeneutika telah berhubungan erat dengan teknologi digital. Setelah melewati aliran-aliran pemikiran filsafat kontemporer seperti, misalnya, teori kritis (Habermas), rasionalisme kritis (Popper), filsafat analitik (Wittgenstein), dekonstruksi (Derrida),  fenomenologi simbol (Ricoeur), psikoanalisis (Lacan), materialisme dialektik (Badiou), mediologi (Debray), hermeneutika subjek (Foucault), dan gagasan hermeneutika “Weak Thought” Gianni Vattimo, kini hermeneutika sedang menghadapi tantangan yang muncul dari teknologi digital, yang oleh Capurro disebut “hermeneutika digital” (Tripathi, 2016: 152).

Apa yang dimaksudkan ‘hermeneutika digital?  Hermeneutika digital merupakan sebuah pendekatan baru yang mengawinkan antara hermeneutika dengan teknologi digital, sebagaimana dinyatakan oleh Capurro (dalam Tripathi, 2016: 154):

“...digital hermeneutics should be understood as a new approach of hermeneutics which is the encounter between hermeneutics and digital technology, particularly in the realm of the internet”.

Konsep hermeneutika digital merupakan  kritik terhadap hermeneutika filosofis yang  mengutamakan peran bahasa, tetapi mengenyampingkan mediator atau perantara makna yang lain dan mengabaikan materialitas dan teknisitas dari berbagai unsur pembentuk makna. Mengutip Cavarero, Romele (2020: 17) menyatakan:

“....hermeneutics has generally favored the language, while neglecting other mediators, and ignoring the materiality and the technicity of the multiple supports for transmitting meaning--- starting from vocal expression”.

Definisi agak  berbeda tentang hermeneutika digital dibuat oleh Romele (2020: 71) :

“... digital hermeneutics is about computer-mediated interpretations and understanding of texts or texts corpora, or about a texts reading-inspired attitude towards elements of digitality such as the code”.

Dari dua definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa hermeneutika digital ialah merupakan pendekatan baru dalam metode penafsiran  dengan menggunakan  komputer sebagai alat bantu untuk memahami  teknologi sebagai objeknya, bukan fenomena linguistik sebagaimana hermeneutika konvensional.

Gagasan hermeneutika digital berangkat dari kenyataan bahwa para ahli teknologi mengakui bahwa saat ini kita hidup dalam budaya teknologi di mana teknologi itu sendiri sejatinya netral tetapi secara kultural berubah-ubah. Maka, cara termudah untuk memahami ketidaknetralan teknologi ialah dengan cara memahami bagaimana pengalaman dimediasi oleh teknologi yang kita gunakan.

Tetapi pandangan demikian ditolak oleh Verbeek (2008) bahwa teknologi bukan instrumen atau perantara netral, tetapi merupakan mediator aktif yang membantu membentuk hubungan antara orang dan realitas. Mediasi ini memiliki dua arah: yang pertama pragmatik, terkait tindakan orang, dan lainnya hermeneutik, terkait interpretasi. Teknologi memediasi antara orang dan realitas dan pengalaman. Fenomena mediasi teknologi memiliki dua dimensi, masing-masing terkait dengan hubungan antara manusia dan realitas. Yang pertama, teknologi membantu bagaimana realitas dan pengalaman dapat hadir bagi manusia  dengan mediasi persepsi manusia dan interpretasi. Kedua, teknologi membantu bagaimana manusia hadir dalam realitas dengan cara memediasi tindakan dan praktik dalam kehidupan manusia. Yang pertama disebut hermeneutika, karena terkait penafsiran, sedangkan yang kedua pragmatik karena terkait tindakan manusia.

Sejarah hermeneutika digital sendiri, menurut Capurro, bermula ketika ada diskusi hangat tentang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) pada 1970-an  yang dimuat di “What Computers Can’t Do: A Critique of Artifial Reason” karya Hubert Dreyfus. Pakar lain yang berkontribusi pada hermeneutika digital ialah Terry Winograd dan Fernando  Flores dalam karyanya “Understanding Computers and Cognition. A New Foundation for Design (1986).

Menurut Capurro (2010: 7), sebagai pendekatan baru dalam penafsiran, hermeneutika digital memiliki dua tugas utama. Pertama, untuk menjawab pertanyaan  dalam hal apa atau bagaimana kode digital memiliki dampak pada semua proses, khususnya proses-proses sosial di masyarakat. Kedua, mengacu ke tantangan digital terkait dengan interpretasi diri manusia dalam semua dimensi eksistensialnya, khususnya tentang diri mereka secara fisik, hak otonom mereka, cara mereka memahami dan hidup dalam waktu dan ruang yang ada, pemahamannya tentang dunia, kemampuannya membangun struktur sosial, pemahamannya tentang sejarah, imajinasinya, pemahamannya tentang ilmu pengetahuan, dan kepercayaan mereka terhadap agama.

Terkait hermeneutika digital, yang dikenalkan Caporro, Tripathi (2016) mengajukan konsep ‘hermeneutika material’, yakni seni memahami kebudayaan  material dan teknologi, sedangkan hermeneutika digital digunakan untuk memahami praksis konkret teknologi seperti teknologi internet dan dunia maya. Hermeneutika teknologi merupakan praktik memahami teknologi, yang secara sosial dan kultural terikat.  Hermeneutika digital tidak bisa dipahami dengan pendekatan semantik, tetapi dengan cara dieksplorasi dengan perwujudan manusia.

Dengan kehadiran hermeneutika digital, maka objek kajian hermeneutika bukan lagi teks atau fenomena linguistik, dan terbatas pada  dimensi sosial, budaya, dan sejarah, melainkan praksis ilmu pengetahuan dan tatanan objek ilmiah dalam kehidupan.  Hermeneutika digital sangat terkait dengan filsafat teknologi. Untuk itu, Kaplan, sebagaimana dikutip (Tripathi 2016: 154) menyatakan prinsip penting dalam filsafat teknologi ialah untuk  menjawab pertanyaan tentang pemahaman yang tepat mengenai teknologi; yakni  bagaimana teknologi memengaruhi keberadaan manusia dan sebaliknya bagaimana keberadaan manusia memengaruhi teknologi. Karena itu, tugas filsafat teknologi ialah manganalisis fenomena teknologi, dan cara bagaimana teknologi menjadi jembatan dan mentransformasi pengalaman dan persepsi kita tentang dunia.

Gagasan hermeneutika digital Capurro selaras dengan pandangan Don Ihde dalam “Expanding Hermeneutics” (1998) yang menyatakan pada hakikatnya sains adalah aktivitas hermeneutika, sehingga hermeneutika tidak terbatas hanya pada ilmu-ilmu humaniora “... science is a profoundly hermeneutic activity, and that hermeneutics, therefore, is not limited to the humanities”.

Dalam memahami keberadaan teknologi Don Ihdi mengajukan konsep ‘post-phenomenology’. Berbeda dengan konsep fenomenologi klasik Husserl yang memusatkan pada pencarian makna di balik fenomena dan sama sekali tidak bersentuhan dengan teknologi, post-phenomenology memusatkan perhatian pada bagaimana teknologi yang dibuat manusia memengaruhi praktik pencarian makna secara intensional. Menariknya, hubungan manusia dan teknologi dalam pandangan post-phenomenology bersifat timbal balik (reciprocal). Manusia menciptakan teknologi, tetapi pada saat yang sama teknologi juga mencetak ulang manusia. Menurut Heelan (dalam Kelly dan Bielby (2016: 147) post-phenomenology bukan kritik terdahap fenomenologi klasik, tetapi merupakan aplikasi fenomenologi secara hermeneutik, konkret, dan hati-hati terhadap praktik teknologi

Tak terelakkan kehidupan manusia menyesuaikan diri dengan kehadiran teknologi, sehingga seolah manusia menjadi makhluk baru yang tercipta. Sebagai contoh, bagaimana kehadiran teknologi internet telah memengaruhi perilaku kehidupan jutaan manusia di dunia, bukan teknologi internet yang menyesuaiakan diri dengan menusia, tetapi justru sebaliknya manusia yang harus menyesuaikan dengan kehadiran teknologi internet. Dalam konteks pemikiran filsafat kontemporer,  tawaran post-phenomenology Don Ihde  adalah lompatan dalam pemikiran dalam memandang dan memahami teknologi, sekaligus merupakan kebutuhan filosofis akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, khususnya dalam konteks teknosains dan kebudayaan material.

Diletakkan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam ranah demokrasi di Indonesia yang dirasakan mundur selama 15 tahun terakhir, hermeneutika digital dapat menggali lebih dalam mengapa itu bisa terjadi. Melalui bantuan teknologi informasi yang merupakan objek kajian hermeneutika digital, pengkaji hermeneutika digital dapat memanfaatkan teknologi informasi untuk melacak lebih jauh praktik demokrasi yang berkembang pada ranah penyelenggara negara maupun masyarakat. Era disrupsi di mana informasi merupakan kekuatan terbesar perubahan menjadi tantangan kiprah hermeneutika digital yang tidak dapat dielakkan.

 

D. Penutup

Setiap peristiwa besar yang terjadi tidak saja didahului oleh pemikiran besar yang mendasarinya, tetapi juga sering diikuti dengan cara pandang baru atau perspektif baru dalam filsafat pemikiran. Revolusi industri merupakan peristiwa besar yang diikuti oleh gagasan pemikiran besar dalam sejarah kehidupan manusia. Hermeneutika filosofis dikembangkan oleh Schleiermacher pada 1805-1833 bersamaan dengan terjadinya Revolusi Industri pertama (RI. 1.0) pada 1760-1840, dimulai dari Inggris, menyebar ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang dan seluruh dunia. Revolusi industri menjadikan masyarakat terbuka dan adaptif terhadap perubahan yang ditawarkan oleh para pemikir.

Revolusi industri II, dan III juga diikuti dengan gagasan-gagasan besar dalam sains dan teknologi. Begitu juga Revolusi Industri IV (RI. 4.0) yang ditandai oleh kehadiran komputer, teknologi informasi, robotika dan digitalisasi dalam banyak sektor kehidupan berdampak pada pengembangan disiplin hermeneutika, yang semula berupa metode untuk memahami teks keagamaan (eksegesis), sastra, dan hukum kini telah berkembang untuk memahami teknologi melalui apa yang disebut ‘hermeneutika digital’.

Adalah Rafael Capurro yang pertama kali mengenalkan istilah ‘hermeneutika digital’ melalui karyanya ‘Digital hermeneutics: An Outline AI & Society’ (2010), yakni metode menafsirkan teknologi dengan menggabungkan hermeneutika dan teknologi. Landasan filsafatnya ialah teknologi tersusun dalam sistem tanda dan simbol yang dapat digali maknanya. Selain itu, setiap produk teknologi selalu terkait dengan nilai sosial, kultural, bahkan politik masyarakat.

Melalui hermeneutika digital, objek kajian hermeneutika tidak lagi naskah atau teks tulis tentang sastra, seni, agama, atau politik, tetapi adalah teknologi. Bagi hermeneutika digital, teknologi adalah teks yang bisa digali makna di balik penciptaannya. Tak pelak, kehadiran hermeneutika digital menandai gelombang perubahan yang terjadi di era Revolusi Industri 4.0 pada bidang ilmu pengetahuan. Kehadirannya dianggap sebagai sebuah kebutuhan bagi para peminat, pengkaji dan peneliti hermeneutika!

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Capurro, Rafael. 2010. Digital Hermeneutics: An Outline. http;//. Capurro.de./digitalheremeneutics.html

Forster, Michael 2010. After Herder: Philosophy of language in the German Tradition. New York: Oxford University Press

Ihde, Don. 1998. Expanding hermeneutics: Visualism in science. Evanston: IL: Morthwestern University Press.

Kelly, Matthew and Jared Bielby (eds.). 2016 Information Culture in the Digital Age. A Festschrift in Honor of Rafael Capurro. Wiesbaden GmbH: Springer VS.

Kompas,  27/Mei/ 2020.

Leksono, Ninok. 2020. “Menjadi Penyintas Era 4.0”. Kompas, 6 Januari 2020.

Lukman, Fadhli. 2018. “Digital Hermeneutics and A New Face of the Qur’an Commentary. The Qur’an in Indonesian’s Facebook”. Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies-ISSN: 0126-012 X (p); 2356-0912 (e). Vol. 56, no. 1 (2018), pp.95-120, doi: 10.1442/ajis.2018. 561.96-120.

Pambudy, Ninuk Mardiana. 2020. “Memberi Makna Perubahan”. Kompas, 2 Januiari 2020.

Romele, Alberto. 2020. Digital Hermeneutics. Philosophical Investigations in New Media and Technologis. New York and London: Routledge Taylor & Francis Group.

Schmidt, Lawrence K. 2006. Understanding Hermeneutics. Durham: Acumen.

Schwab, Klaus. 2016. The Fourth Industrial Revolusion. Cologny/Geneva/Switzerland: World Economic Forum  91-93 route de la Capite.

Tripathi, Arun Kumar. 2016. “The Significance of Digital Hermeneutics for the Philosophy of Technology”. Dalam Matthew Kelly and Jared Bielby (eds.). Information Culture in the Digital Age. A Festschrift in Honor of Rafale Capurro. Wiesbaden GmbH: Springer VS.

Watloly, Aholiab. 2001. Tanggung Jawab Pengetahuan: Mempertimbangkan Epistemologi secara Kultural. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Comments (43)
  • ??? ??  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Best view you can finde , in this side of world!

    https://bestplay777.com
  • ???????  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Love to spend time near Sea !

    https://free-play88.com
  • ?????  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Love to spend time near Sea !

    https://free-play88.com
  • ?? ??  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Best view you can finde , in this side of world!

    https://newsrelated.net
  • sòng b?c uy tín SBOBet  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    this is actually great! for once someone is not repeating the banter myth.

    https://www.vuasongbac.com/song-bac-uy-tin/sbobet/
  • bialystok stomatolog  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Pozdrawiam serdecznie

    sobaniec.pl/pytania-pacjentow/
  • sòng b?c tr?c tuy?n Win2888  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    One of the most beautiful places in the world.

    https://www.vuasongbac.com/song-bac-uy-tin/win2888/
  • ??? ??  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Best place to watch movies !

    https://yesplay88.com/sportslive
  • Rudolph Stockham  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    I really treasure your piece of content, Good post.

    http://appnana-hacks.com/
  • sòng b?c tr?c tuy?n  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    I want to be a teacher and you have already inspired me thank you so much!

    https://www.vuasongbac.com/song-bac-games/
  • sòng b?c tr?c tuy?n  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Am looking for a new sofa and this gives me an opportunity to see what is out there for a fair price and discovering the different style's I can pick from.!!!

    https://www.vuasongbac.com/song-bac-uy-tin/
  • ?? ??????  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Best view i have seen for long time !

    https://kizi-2.org
  • Warren Covalt  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Contact with us will help you

    https://www.tcsindustry.com/pd/t3.html
  • ???  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Best view in the town !

    https://yesbet88baccarat.com
  • ??? ???  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Best view in the town !

    https://baccarat.best
  • ???  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Best view in the town !

    https://japook.com/baccarat
  • Anonymous  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar


    https://www.vuasongbac.com/song-bac-uy-tin/empire777/
  • ???  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Love watching sunset !

    https://sanopk.com/yesbet88
  • ?? ? ???  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Love watching sunset !

    https://yesbet88lucky.com
  • ???88  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Love watching sunset !

    https://bestbaccarat.fun
  • ???88  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Love watching sunset !

    https://baccarat.best
  • ??  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Love watching sunset !

    https://bestplay99.com/slot
  • ????? ????????? ??????????  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    I missed the old recording device in a form of cassettes

  • ??? ??  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Best view i have ever seen !

    https://yesplay88.com/sportslive
  • ????? ??? ?????? ??? ???? ???  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    if I ran in the elections imma change my name to wisely! Haha

    https://www.88thaicasinoslots.com/no-deposit-bonus/
  • Anonymous  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    if given a chance to be an animal I want to have wings! So I can fly free!

    https://www.88thaicasinoslots.com/no-deposit-bonus/
  • Marylyn Dejardin  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Pharm line is going down

    https://www.fmyykj.com/pro/Carmustine_154-93-8_usage_structure_dose_an d_price.html
  • Jeramy Ebanks  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Yes, this is a Good one

    https://www.fmyykj.com/pro/Cyclosporin_A_59865-13-3_dogs_synthetic_usa ge.html
  • ?????  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Love watching sunset !

    https://tripleshottuesday.com/
  • cannabis oil pills  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Passing this on.

  • buy cbd gummies  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    CBD for the win!

  • Sylvester Marusiak  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Spreets sends out discounts that make your hair curl daily. But they can be cleverly disguised to make them appear like they are some thing of genuine worth, which they are not. However, his fit seemed like it experienced a hangover.

    https://hoortravels.com/
  • safe playground  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Love to see this every day !

    https://www.newsquick.net
  • ???88  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Love to see this every day !

    https://blackjack88.pro
  • ?? ???  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Best movie i have ever seen !

    https://roulettekr.com
  • ?? ???  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Best movie i have ever seen !

    https://www.wealive.co.kr
  • ??? ??  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Best movie i have ever seen !

    https://toproulette.live
  • safe playground  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Love to see this every day !

    https://www.newsquick.net
  • Norris Felske  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Thanks a lot for sharing this with all of us you actually understand what you're speaking about! Bookmarked. Please additionally discuss with my site =). We can have a link alternate arrangement among us! We used GetResponse 30 days for FREE to decide. Here is the review: https://www.no1geekfun.com/getresponse-review-2021/

    https://www.no1geekfun.com/getresponse-review-2021/
  • ??  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Best film i have ever seen !

    https://www.songmanhits.com
  • ??? ??  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Love to see this every day !

    https://www.songmanhits.com
  • ??? ???  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Best view i have ever seen !

    https://www.baobigiatot.com
  • https://www.shinsen-mart.com  -  - Revolusi Industri dan Hermeneutika Digital
    avatar
    Best view i have ever seen !

    ?????
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Last Updated on Wednesday, 03 June 2020 08:20