“Antara Terima kasih, Syukron dan Kaifal hal”

“Pak, mana jalan menuju Bandara Abd. Rahman Saleh”. Begitu pertanyaan seorang lelaki setengah baya kepada saya ketika saya sedang memarkir mobil di depan sebuah toko buku. Karena saya sering pergi lewat bandara tersebut, tentu saja saya dengan mudah menjawabnya. Lelaki tersebut mendengarkan jawaban saya dengan penuh perhatian, kendati dari raut wajahnya tampak agak panik. Mungkin dia takut terlambat naik pesawat atau karena sebab lain yang saya tidak tahu. Anehnya, setelah medengarkan jawaban saya, lelaki tersebut nylonong

begitu saja tanpa mengucapkan “terima kasih”.

Dalam konteks agak berbeda, peristiwa sejenis terjadi pada saya beberapa waktu lalu ketika beberapa mahasiswa menghubungi saya lewat sms (short message services) untuk konsultasi studi. “Pak, ada waktu. kami mo konsultasi, jam brp n di mana?” , begitu bunyi sms yang saya terima. “Ya, ada. Besuk jam 10 di kantor sy. Tlg jgn terlmbt”, begitu jawaban saya melalui sms pula. Anehnya lagi, jawaban saya tersebut tidak memeroleh respons balik, atau setidaknya ucapan “terima kasih”, sehingga saya tidak tahu apakah mereka bisa datang atau tidak pada hari, jam dan tempat yang telah saya tentukan.

 

Bagi saya yang menarik dari dua peristiwa tersebut bukan pertanyaannya, bukan pula penanyanya, melainkan mengapa mereka tidak mengucapkan “terima kasih”. Dalam kehidupan sehari-hari saya memang jarang mendengarkan ucapan terima kasih di antara penutur bahasa Indonesia, apalagi di kalangan generasi mudanya. Saya lebih sering mendengar ungkapan-ungkapan “thank ya”. Belakangan, tidak jarang terdengar pula ungkapan “tengkayu” di kalangan anak muda.

Tampaknya kita lebih sering mendengar terima kasih diucapkan oleh orang asing (baca: orang Barat atau orang Arab) yang bisa berbahasa Indonesia. Mungkin bagi orang Barat, mereka terpengaruh dengan kata “thank you” atau “thanks” yang begitu sering mereka ucapkan dalam komunikasi sehari-hari di berbagai kesempatan atau kata ‘syukron” bagi orang Arab yang juga begitu sering mereka ucapkan. Di Barat, tidak jarang sopir taksi mengucapkan “thank you” setelah menurunkan penumpang. Sopir taksi di Saudi yang sempat mengantarkan kami dalam beberapa kunjungan juga begitu sering mengucapkan syukron.

Fenomena rendahnya frekuensi penggunaan kata “terima kasih” bagi penutur bahasa Indonesia sempat mengundang pertanyaan seorang kawan Barat yang sudah sangat fasih berbahasa Indonesia dan suka utak atik fenomena bahasa. Dia pernah bertanya kepada saya beberapa pertanyaan. Mengapa orang Indonesia kurang suka mengucapkan terima kasih kepada lawan bicaranya? Apakah bisa dimaknai bahwa orang Indonesia kurang menghargai orang lain yang pernah membantu sekalipun? Apakah mengucapkan terima kasih dianggap terlalu formal sehingga terkesan kaku? Atau, apakah rasa terima kasih tidak perlu diucapkan dan diganti dengan senyum? Bukankah orang Indonesia paling jagoan untuk senyum, seperti sering dilakukan oleh mantan Presiden Soeharto sehingga dia disebut sebagai “The Smiling General”? Sebab, dalam kondisi apapun Pak Harto selalu tersenyum. Dengan agak menggelitik, kawan saya tersebut mengatakan mungkin orang Indonesia adalah bangsa yang paling banyak tersenyum, sampai-sampai punya banyak hutang pun tetap bisa senyum, tetapi yang paling sedikit mengucapkan terima kasih. Kendati agak tersinggung, saya menyarankan dia untuk melakukan penelitian secara komprehensif tentang fenomena “terima kasih dan senyum”. Mendengar saran saya, orang Barat tersebut akhirnya juga tersenyum.

Lebih lanjut, menurut teman saya tersebut di Indonesia kata terima kasih sering digunakan hanya dalam dua peristiwa, yaitu pada saat pejabat pemerintah mengawali dan mengakhiri pidato. Di awal pidato, seorang pejabat terbiasa mengucapkan “Pada kesempatan ini saya menyampaikan banyak terima kasih atas kehadiran Bapak, Ibu dan Saudara-saudara” dan di akhir pidato disampaikan “Saya menyampaikan terima kasih atas perhatian Bapak, Ibu dan Saudara-saudara sekalian”. Bukankah begitu?, kata teman saya tersebut. Setelah saya merenung, hipotesis kawan saya tersebut memang benar. Oleh karena itu, saya mengiyakannya. Tetapi saya tambah satu lagi kapan kata “terima kasih” sering diucapkan. Apa itu?, tanya teman saya tersebut. Ketika seseorang menerima pinjaman uang dari teman atau bank. Wo !

Pembaca !

Lain “terima kasih”, “thank you” dan “syukron”, lain pula “kaifal hal”. Di antara penutur asli bahasa Arab, selain “syukron” kata “kaifal hal” merupakan kata yang sangat sering mereka ucapkan. Saya memiliki pengalaman sangat menarik. Dalam kunjungan kami ke Saudi Arabia beberapa waktu lalu, kami sempat mampir dan akhirnya bermalam ke keluarga Arab. Seperti tradisi orang Arab pada umumnya ketika menerima tamu, keluarga tersebut menerima kami dengan sangat ramah dan penuh keakraban serta ketulusan. Satu persatu anggota keluarga tersebut menyapa dan memberi salam kepada kami dengan pertanyaan “kaifal hal”. Semakin sore dan menjelang malam tamu yang datang menemui kami semakin banyak hingga jumlahnya mencapai kurang lebih dua puluh orang.

Menariknya, setiap orang mengucapkan “kaifal hal” tidak kurang dari lima kali hanya dalam waktu beberapa saat. Kendati jawaban saya tetap sama, yaitu “khoir” dan sesekali saya sisipkan “alhamdulillah”, pertanyaan “kaifal hal” tetap saja meluncur ketika saling bertatap muka. Dengan jumlah orang yang hadir pada pertemuan itu mencapai dua puluh orang lebih, maka bisa dihitung berapa kali kata” kaifal hal” diulang saat itu. Semula saya mengira bahwa peristiwa itu hanya ragam bahasa pada level individu yang sering disebut dengan istilah idiolek dalam sosiolinguistik, atau saya anggap ritus sosial yang tidak punya makna karena saking seringnya diucapkan. Tetapi ternyata tidak demikian. Setiap orang yang bertemu kami selalu menyapa dengan ‘kaifal hal” beberapa kali. Ketika itu saya teringat teman saya di Tanah Air yang suka menganalisis teks dengan menggunakan pendekatan analisis isi (content analysis) —yang berparadigma positivistik—yang tesisnya adalah semakin kata sering diulang semakin penting makna kata tersebut.

Tampaknya tesis tersebut tidak tepat dipakai untuk memahami penggunaan kata “kaifal hal” tersebut. Menurut saya, makna pertanyaan “kaifal hal” lebih luas daripada pertanyaan “How are you?”, dan “Apa kabar?” yang sekadar menanyakan keadaan, kesehatan atau kondisi fisik lawan bicara. “Kaifal hal” bisa dimaknai sebagai ungkapan untuk membangun keakraban atau hubungan sosial secara lebih dekat. Selain itu, saya perhatikan pula bahwa penggunaan “kaifal hal” tidak sama antara satu orang ke orang yang lain. Semakin seseorang belum dikenal dalam sebuah kelompok, semakin sering dia ditanya dengan pertanyaan “kaifal hal”. Buktinya, kawan saya yang sudah akrab dengan beberapa anggota keluarga tersebut tidak ditanya “kaifal hal” sesering saya.

Jika penggunaan “kaifal hal” dan “How are you” serta ‘Apa kabar” dalam realitasnya tidak sama, maka bagaimana metode comparative analysis yang sering dipakai para pengajar bahasa asing (Arab dan Inggris)— yang kebetulan menguasai keduanya. Bukankah untuk efektivitas pengajaran bahasa asing, para pengajar sering memadankan bahwa Apa kabar? = How are you?= Kaifal hal?” . Ketika fenomena tersebut di atas saya jelaskan kepada salah seorang teman dosen, dia bertanya jika demikian halnya, maka “terima kasih” tidak sama dengan “thank you” dan tidak sama pula dengan “syukron” apalagi “suwun”. Saya menjawab bahwa secara literal makna kata-kata tersebut sama, tetapi secara kontekstual berbeda. Tampaknya memahami makna kata secara kontekstual lebih efektif untuk membangun harmoni sosial. Selamat mencoba!

Visits: 131
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *