Tantangan Pendidikan Islam di Era Multikultural

 

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

A’udzubillahi minassyaithanirrajim. Bismillahirrahmanirrahin. Alhamdulillahirabbbil alamin. Allahumma shalli ‘ala sayidina muhammad. Tibil quluubi wa dawaa’ihaa. Wa’aafiatil abdaani wasyifaa’ihaa. Wanuuril abshaari wadziaa ’ihaa. Wa’ala alihi washahbihi. Bi’adati maafii ’ilmik. Amma ba’du.

 

Segenap alim-ulama yang kepada beliau, kita semua senantiasa takdzim dan tawaddu’.

Ketua Senat Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien, yang saya hormati.

Segenap unsur umara’ yang saya hormati.

Para dosen Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien yang saya hormati.

Para ustadz Pesantren Al-Amien yang saya hormati

Para orangtua wisudawan dan wisudawati yang berbahagia,

Hadirin undangan yang dimuliakan Allah,

Wabil khusus, para wisudawan dan wisudawati yang berbahagia,

 

Marilah bersama-sama kita menghaturkan puja dan puji syukur kepada Allah SWT atas segala ni’mat yang dikaruniakan kepada kita semua. Kita meyakini bahwa setiap kali kita mensyukuri satu ni’mat, akan membuka jalan bagi kita bagi datangnya ni’mat yang lebih banyak dan lebih besar. Marilah pula, kita memohon kepada Allah SWT, agar shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Semoga kita semua berada dalam salah saru shaf di belakang beliau.

Ketua dan Anggota Senat yang saya hormati,

Mengawali pidato ilmiah ini, saya ingin mengajak semua hadirin untuk merenungkan gejala kesosialan manusia (human sociality). Hampir setiap kita mengakui bahwa manusia adalah makhluk sosial. Bahkan, manusia tidak pernah menjadi manusia sejati tanpa melalui proses sosialisasi, yang tentu saja berlangsung melalui proses interaksi sosial. Namun demikian, tidak banyak dari kita yang merenungi betapa kesosialan manusia bersifat sangat unik, menarik dan bermanfaat untuk dipelajari.

Seorang pakar filsafat ilmu sosial, Gordon (1991) mengemukakan bahwa tak hanya manusia yang menunjukkan ciri-ciri kesosialan. Kesosialan dimaksud terdiri dari lima jenis, yaitu: (1) perilaku berkumpul antar sesama, (2) pemberlakuan jenjang kedudukan, (3) pembagian tugas berdasar keragaman ragawi, (4) praktik pengkhususan fungsional, dan (5) keberadaan nurani pengorbanan demi sesama.

Pertama, seperti biri-biri, manusia juga suka hidup berkelompok. Perbedaannya, kalau perkelompokan biri-biri sekedar memuaskan kebutuhan berdekatan secara ragawi, perkelompokan manusia memberi nilai tambah bagi pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Hingga kiamat pun, kelompok biri-biri hanya tahu memanen. Tak pernah ada, kecuali dalam dongeng pengantar tidur, sekawanan biri-biri yang berbagi tugas menggarap tanah dan menanam rumput demi persediaan makan mereka sendiri. Akan halnya perkelompokan manusia, merupakan wahana kerjasama bagi peningkatan sediaan kebutuhan mereka. Kendati nyaris tanpa nilai-tambah, perkelompokan biri-biri tak pernah pandang bulu. Seburuk apa pun tampang seekor biri-biri, kehadirannya diterima dengan baik oleh kelompoknya. Sebaliknya, hanya karena perbedaan warna kulit, bukan mustahil sesama manusia saling membunuh.

Kedua, mudah dikesan seperti sekandang ayam, manusia pun menerapkan penjenjangan kedudukan. Bedanya, kalau hirarkhi dunia ayam menyiratkan hasrat menang-menangan dan naluri kerakusan, pada manusia menjadi cara berguna bagi tujuan bersama. Tak pernah ada, misalnya, seekor ayam kelas atas mengomandani ayam kelas bawah untuk membangun pertahanan dari, dan mengatur perlawanan terhadap seekor musang. Para ayam, bila menghadapi musang, kecuali sang induk dengan anak-anak kecilnya, hanya berlarian demi keselamatan diri sendiri. Perilaku demikian hanya terhenti bila sang musang telah berhasil menangkap mangsa dan beristirahat dalam kekenyangan. Sebaliknya, kalau ada seekor harimau mengancam sekelompok manusia, justru harimau yang mungkin menjadi santapan bersama kelompok manusia. Persoalannya, mudah diamati kalau kekuasaan manusia kelas atas cenderung merampas kebebasan lahir-batin manusia kelas bawah.

Ketiga, seperti kebanyakan hewan bertulang belakang, manusia pun mengenal pembagian tugas berdasar perbedaan anatomi. Perbedaannya, kalau pembagian tugas pada kawanan hewan semata-mata karena keterbatasan ciri ragawi, pada manusia melampaui ciri ragawi mereka. Sekedar contoh, tiada alasan ragawi yang menghalangi kaum laki-laki mengasuh anak, memasak makanan, menyapu halaman, maupun mencuci pakaian. Tiada alasan memadai, mengapa kalau pilot harus laki-laki sedangkan pramugari harus perempuan, kalau dokter laki-laki sedangkan perawat tentu perempuan, kalau direktur seolah pasti laki-laki sedangkan sekretaris niscaya perempuan.

Keempat, seperti koloni rayap, masyarakat manusia pun menampilkan ciri pengkhususan fungsional. Perbedaannya, kalau pada rayap pengkhususan seumur hidup menjadi harga mati dan sebatas dalam koloni mereka, pada manusia berlaku sementara dan saling bergantung dengan masyarakat lain. Walhasil, manusia tak hanya harus siap beralih peran dan pekerjaan, tetapi juga harus mampu membangun kebersamaan dalam perbedaan. Bisa dipastikan, sekelompok petani khusus apel tak hanya butuh apel, dan sekelompok tukang khusus meja-kursi tak hanya butuh meja-kursi. Ada peluang kenaikan dan penurunan jenjang sosial, dan ada saling ketergantungan antar masyarakat manusia.

Kelima, seperti sekawanan gajah, manusia pun memiliki nurani pengorbanan demi sesama mereka. Kalau sekawanan gajah dewasa mengasuh, menjaga dan berani menerjang bahaya demi gajah-gajah muda tanpa peduli siapa induknya, masyarakat Indonesia pun pernah menyumbang atau disumbang bahan makanan dan obat-obatan bangsa-bangsa lain. Bahkan, hampir semua negara melembagakan pajak lebih besar bagi kaum kaya demi pemberdayaan kaum miskin. Meski demikian, terlihat jelas betapa hasrat berkorban demi orang lain pada manusia tak menyurutkan sama sekali hasrat mengorbankan orang lain demi diri sendiri dan kelompoknya.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Seperti menegaskan firman Allah SWT, segala kelebihan manusia sebagai makhluk  sosial tersebut, ternyata juga berpotensi untuk melemparnya hingga jatuh ke tempat paling rendah (Q.S. At Tiin).

 

4.  Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

5.  Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

6.  Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya (Q.S. At Tiin 4-6).

 

 

Dalam sorotan ilmu sosial, maka sesungguhnya manusia telah diciptakan oleh Allah SWT dengan kesosialan terbaik. Namun demikian, bisa saja kesosialan terbaik tersebut akan melemparnya ke jenjang kesosialan yang tidak lebih tinggi dari biri-biri, ayam, rayap, dan gajah. Justru karena kesosialan uniknya, manusia cenderung berlaku pilih-kasih, pandang-bulu, dan bahkan terlibat dalam pertikaian saling membunuh.

Matra lain dari kesosialan manusia berkenaan dengan kurun altrisialitas, dan kemajemukan status sosial mereka. Meminjam konsep dalam ilmu unggas (ornitology), manusia adalah makhluk altrisial. Ketika lahir, bayi manusia tak berdaya mempertahankan dan memenuhi kebutuhan dirinya. Karena itu, bayi-bayi pun harus dipelihara dan ditumbuh-kembangkan oleh manusia dewasa dalam waktu cukup lama. Selama belum dewasa dan mandiri, manusia bergantung kepada orang lain. Masa kebergantungan (altriciality) anak manusia, ternyata jauh lebih lama ketimbang makhluk lain. Kelengkapan reproduktif manusia baru tercapai pada hitungan belasan tahun, dan masih perlu beberapa tahun lagi untuk kematangan fisik secara utuh.

Selama kurun kebergantungan hingga akhir hayat, manusia senantiasa mempelajari seperangkat ketrampilan, pengetahuan, dan nilai-nilai bagi peran masa kini dan masa depan mereka. Pranata keluarga, pendidikan, keagamaan, kemasyarakatan, dan negara-bangsa berperan memasyarakatkan dan membudayakan manusia muda. Bila berhasil, manusia tersebut akan bisa menyatukan diri ke dalam masyarakatnya. Ini berarti bahwa bagian besar perilaku manusia merupakan hasil pemasyarakatan dan pembudayaan.

Keunikannya, kalau seekor binatang hanya menjadi anggota satu kelompok, setiap manusia menjadi anggota banyak kelompok sosial. Memang boleh jadi ada binatang yang berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain. Namun, dalam satu saat seekor binatang hanya mempunyai satu kelompok dan hidup dalam ruang tertentu. Sedangkan manusia, secara bersamaan menjadi anggota berbagai kelompok. Seseorang, misalnya, sekaligus menjadi kepala keluarga, guru sekolah, umat beragama, organisasi kemasyarakatan, partai politik, dan juga warga suatu daerah atau negara. Karena itu, manusia adalah makhluk multi-sosial, multi-budaya, dan multi-status.

Kesetiaan terhadap diri pribadi, menjebak manusia ke dalam tingkah egosentrisisme. Sebagai anggota sebuah keluarga dan kerabat, bisa saja manusia terjerembab ke dalam tindakan nepotisme. Sebagai anggota kelompok agama, daerah, dan etnik, bisa juga manusia terserimpung oleh mental primordialisme. Sebagai warga bangsa, manusia pun bisa terjungkal ke dalam bahaya chauvinisme. Bahkan sebagai wakil Tuhan di bumi pun, bisa saja manusia terjerumus ke dalam antroposentrisme.

Akhirnya, kendati secara normatif, seperti diyakini pemeluknya bahwa Islam merupakan ajaran universal, secara empirik Islam ternyata adalah gejala partikular. Kalau umat Islam berkelompok, perkelompokan itu pun menjadi partikular. Dilongok ke dalam, seperti agama lain, Islam pun cenderung hanya mampu mempersatukan anggota sejenis.

Memang, sejauh kemajemukan bangsa tak menjadi keniscayaan, potensi perbenturan tak bakal teraktualisasi dalam pertikaian. Namun, bila kemajemukan bersifat tak terelakkan, panen pertikaian pun bisa berlangsung atas nama apa saja. Lebih celaka lagi, ada kecenderungan membungkus pertikaian materi dengan kepentingan agama, serta membenarkan pertikaian bersumber materi dengan dalih harga diri etnik.

Hanya karena keengganan menerapkan jalan tengah, dengan hikmah, dan berkeadilan, bukan mustahil citra Islam menjadi tersudut, bengis dan pendendam. Pun kendati semula partai politik digagas sebagai piranti penyelesaian tikaian dan persaingan secara damai, justru bisa pula mengentalkan kesetiaan sosial sempit dan membabi-buta. Keberakhlakan kemanusiaan universal dan kenegaraan nasional tergantikan oleh kefanatikan partikular.

Wisudawan dan Wisudawati yang berbahagia,

Sudah menjadi sunnatullah bahwa dunia diciptakan dalam keragaman. Keragaman terjadi bukan karena Allah SWT gagal menjadikan kita sebagai umat yang satu, melain memang diniatkan oleh Allah SWT sebagai ujian bagi umat manusia, sehingga dalam keragaman itu manusia berkesempatan dan diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Dalam keragaman itu manusia suka atau tidak suka harus berupaya saling melengkapi satu sama lain, dan tidak untuk berselisih.

 

48.  Dan kami Telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu (Q.S. Al Maidah 48).

 

Sejalan sunatullah pula, maka pelbagai perubahan baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif menjadi semakin menampak di akhir jaman ini. Ungkapan sehari-hari menunjukkan, satu kepala satu pendapat, dua kepala dua pendapat, dan tentu saja bermilyar kepala bermilyar pendapat. Gejala demikian yang oleh para ilmuwan sosial disebut proses diferensiasi sosial.

Ada banyak ungkapan untuk menyebut diferensiasi dimaksud. Saya pribadi, sebagai pengkaji bahasa, sering terkejut oleh timbul-tenggelamnya berbagai istilah dalam khasanah Bahasa Indonesia. Istilah kebhinekaan pernah begitu mengemuka dalam perbendaharaan kata kita. Sementara istilah kebhinekaan masih dipertahankan, muncul istilah keanekaragaman, keragaman, dan belakangan keberagaman. Belakangan, dua istilah saling bersaing dengan ketat, yaitu pluralisme yang sering diterjemahkan kemajemukan, dan multikulturalisme, yang bisa saja diterjemahkan keserba-budayaan.

Tidak hanya dalam kehidupan bersama, multikulturalisme tampil sebagai semacam cara pandang dan perilaku, tetapi juga dalam lapangan filsafat ilmu Brian Fay (1998) menawarkan multikulturalisme sebagai perspektif kontemporer ilmu-ilmu sosial. Kalau dalam kehidupan bersama gagasan multikulturalisme berbentuk tenggang-rasa tinggi dalam kehidupan bersama sehari-hari antar manusia yang pasti berbeda-beda, dalam filsafat ilmu sosial, multikulturalisme mewujud dalam kesediaan menerima kaidah interaksionisme, antara ilmuwan peneliti dengan subjek penelitian, antara penafsiran peneliti dengan penghayatan subjek penelitian.

Sebenarnya kemajemukan mempunyai rujukan dalam al-Qur’an. Sebagai pedoman hidup umat manusia, al-Qur’an menyuratkan keberadaan kemajemukan. Untuk memahami kebenaran hakiki yang terkandung di dalamnya tidak cukup dengan pendekatan penalaran, karena yang lebih penting adalah memahami dan menghayati setiap firman tertulis dan tak tertulis dengan kebeningan dan kerendahan hati.

Sekali lagi, keragaman merupakan kenyataan yang disengajakan oleh Allah SWT. Keragaman yang disengajakan ini tidak hanya berkenaan dengan ciri-ciri lahiriah, pikiran dan cara pandang,  serta kebudayaan, tetapi bahkan keragaman dalam keimanan dan keagamaan.

 

99.  Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?(Q.S. Yunus 99).

 

Karena itu, pemaksanaan keimanan dan keagamaan merupakan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah SWT. Tidak ada paksaan dalam agama, dan karena itu pula Allah SWT melarang siapa pun, termasuk Rasulullah SAW, memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang semuanya beriman.

Para orangtua wisudawan dan wisudawati yang saya hormati,

Sejarah Arab menunjukkan, keadaan bangsa-bangsa Arab sebelum kenabian Muhammad SAW sudah mengikuti dan menganut agama yang majemuk. Selain Yahudi dan Nasrani, juga ada kepercayaan lain seperti Sabi’in dan Majusi. Lebih dari itu, di antara penduduk juga ada yang tidak bertuhan (atheists), dan bertuhan banyak (polytheists). Dalam al-Qur’an, kelompok ini disebut kuffar dan musyrikun. Dua kelompok ini malah boleh dikatakan sangat menonjol di kalangan masyarakat Makkah. Nabi Muhammad dengan al-Qur’an, menjalankan dakwah dan pendidikan kepada mereka untuk bertuhan satu (tauhid).

Bila dicermati, tarikh kenabian Muhammad SAW selama masih di Makkah, sebagaimana tercermin dalam surat-surat Makiah, menekankan aspek ketauhidan. Sementara itu, sesudah berhijarah ke Madinah, inti dakwah Rasulullah SAW, sebagaimana tercermin dalam surat-surat Madaniah lebih tertuju pada upaya penyempurnaan ajaran Islam sampai kepada upaya pembentukan sistem kemasyarakatan secara utuh, untuk kehidupan manusia baik sebagai individu maupun anggota masyarakat sekaligus warga negara. Secara ringkas, pada periode Madinah itu, al-Qur’an menekankan pada tiga masalah pokok: akidah, akhlak, dan hukum.

Suatu sistem kemasyarakatan secara utuh meliputi sikap dan perlakuan terhadap pemeluk agama lain yang secara faktual ada. Berkenaan dengan persoalan ini, al-Qur’an memberi pedoman cukup rinci sebagaimana tampak dalam peristilahan al-yahud, al-ladzina hadu, bani isra-il, al-nashara, ahl al-kitab, al-shabi’in, al-majus. Kepada mereka yang tidak bertuhan al-Qur’an menyebut dengan istilah al-kuffar, al-ladzina kafaru, al-kafirun, dan lain-lain, sedangkan yang bertuhan banyak disebut dengan panggilan al-musyrikun, al-ladzina asyraku, dan sejenisnya.

Tampak jelas, al-Qur’an menunjukkan pengakuan akan keberadaan perbedaan keyakinan dan atau agama di tengah-tengah masyarakat. Konsep kemajemukan agama juga memasukkan mereka yang tidak beragama dan mereka yang mempunyai banyak tuhan sebagai agama.

1.  Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,

2.  Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

3.  Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.

4.  Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,

5.  Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.

6.  Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku (Q.S. Al-Kafiruun).

Sebagaimana dalam kutipan, al-Qur’an membenarkan fakta adanya orang kafir yang tidak bertuhan atau yang tidak beragama Islam. Karena itu, jelas bahwa ajaran Islam itu bersikap dan perilaku toleran terhadap kemajemukan agama, termasuk kepada kuffardan musyrikun yang ada sekarang ini. Dengan kata lain, kebebasan beragama dan keyakinan pada hakikatnya menjadi prinsip dasar yang diniscayakan kebeberaannya oleh al-Qur’an.

Hadirin yang berbahagia,

Tercermin dalam istilah yang digunakan, multikulturalisme menunjuk pada kesadaran akan keragaman budaya masyarakat. Kesadaran demikian diharapkan dapat mengantarkan manusia untuk dapat berinteraksi, bertoleransi, dan integrasi sosial. Fenomena serba-budaya (multi-culture) merupakan suatu kenyataan yang harus diterima dan ditanggapi secara positif demi manusia itu sendiri.

Konsep masyarakat serba-budaya diperkenalkan untuk membedakan dengan pengertian masyarakat budaya tunggal (monoculture). Di jaman modern ini, memang semakin kecil masyarakat budaya tunggal yang semua anggotanya terikat sepenunya pada nilai-nilai dominan dan kuat dalam struktur masyarakat. Sedangkan masyarakat serba-budaya adalah masyarakat yang terdiri dari aneka kebudayaan namun tetap harus hidup berdampingan. Kehidupan masyarakat modern tidak diatur oleh sistem budaya tunggal dan tertutup, melainkan terdiri atas sistem nilai yang beragam.

Pengertian masyarakat serba-budaya dan multikulturalisme diperkenalkan oleh Hobart (1964). Kedua istilah itu merujuk pada suatu fenomena migrasi multietnik dan masyarakat dengan lingkup ruang besar. Meskipun konsep masyarakat serba-budaya masih problematik, secara umum masyarakat serba-budaya dinyatakan sebagai sebuah kumpulan aneka ragam masyarakat dengan latar belakang berbeda-beda.

Lazimnya, dalam perbincangan keserba-budayaan dikenal adanya kelompok mayoritas dan minoritas. Sekalipun demikian, mereka berhasil mengembangkan kesadaran akan perasaan kebersamaan dan jati-diri menyeluruh kehidupan bersama untuk membentuk perasaan bersama akan ketentraman dan keamanan. Sebagai suatu faham, multikulturalisme diharapkan dapa menjadi perekat antar berbagai kelompok etnis dan budaya. Hajatnya pun jelas, agar terjadi harmoni dan integrasi sosial.

Para ustadz dan ustadzah yang dimuliakan Allah,

Gejala keserba-budayaan di Indonesia telah cukup memberikan gambaran bahwa untuk merumuskan sebuah pola tindakan dan pendidikan serba-budaya, pertama-tama perlu kesadaran untuk memandang dan memperlakukan orang lain seperti layaknya memperlakukan diri sendiri.

Terkait gejala keserba-budayaan yang semakin meningkat karena arus komunikasi, informasi dan migra fisik, pendidikan Islam menghadapi tantangan yang berat untuk tetap bertahan dan meningkatkan perannya. Dalam sistem pendidikan nasional, pendidikan agama mempunyai posisi yang kuat karena pendidikan agama wajib diajarkan mulai dari jenjang pendidikan terendah sampai jenjang pendidikan tertinggi.

Keserba-budayaan merupakan salah satu persoalan mendasar yang dihadapi pendidikan agama saat ini. Ketika pendidikan agama Islam masih diajarkan dengan mengedepankan semangat ekslusivisme dan klaim kebenaran, maka sulit kita bisa berharap pendidikan agama Islam dapat turut meredam pertikaian sosial. Kajian sosiologis menunjukkan, klaim kebenaran banyak melahirkan konflik sosial-politik hingga perang antar umat beragama.

Belakangan dan lebih-lebih di masa mendatang, keserba-budayaan hampir pasti semakin mengemuka. Keserbabudayaan akan semakin mengemuka karena derajat kemerdekaan juga semakin tinggi. Dalam tinjauan nilai-nilai masyarakat sipil, bisa dijelaskan dengan tiga kata kunci: merdeka, berbeda, tetapi setara (freedom, different, but equal). Kemerdekaan akan melahirkan aneka perbedaan. Namun demikian, dalam perbedaan harus dijamin kesetaraan. Bila tidak, yang berarti ada pihak-pihak yang merasa lebih tinggi, maka tiada lagi kemerdekaan.

Apakah keserbabudayaan menuntut perubahan besar dalam filsafat dan paradigma pendidikan Islam?

Menurut hemat saya, kemajemukan ataupun keserbabudayaan tidak cukup penting untuk bisa mengubah filsafat dan paradigma pendidikan Islam. Justru apabila terbukti ada praktik pendidikan Islam yang bertentangan dengan nilai-nilai kemajemukan dan keserba-budayaan, maka patut dipertanyakan filsafat dan paradigma pendidikan Islam mana yang dijadikan pegangan.

Hingga kapan pun, filsafat dan paradigma pendidikan Islam senantiasa bercita-cita, pertama, mewujudkan manusia yang melek spiritual (spiritual literate), yang ditandai dengan keberimanan yang kokoh (tauhid).

Kedua, mewujudkan manusia melek moral (moral literate) yang ditandai dengan kemampuan melakukan penilaian moral serta memiliki keteguhan untuk menjalankan tindakan moral (tazkiyah).

Ketiga, mewujudkan manusia melek akal-budi (intellectual literate) yang ditandai dengan pengetahuan, kecakapan, wawasan, dan pemahaman membaca dan merenungi  segala sunatullah dan menjadikannya sebagai bekal bersama menjalankan fungsi kekhalifahan di bumi (hikmah).

Keempat, mewujudkan manusia melek jasmani (physical literate) yang ditandai dengan penerapan kaidah keseimbangan dalam kebugaran dan keafiatan, keseimbangan antara kesehatan jasmani dengan kesejahteraan rohani (istiqomah).

Kelima, mewujudkan manusia melek antar-pribadi (interpersonal literate) yang ditandai dengan pemahaman akan peran penting komunikasi, kerjasama, keterbukaan dan persahabatan untuk memantapkan dan menjamin hubungan yang bermanfaat antar individu dan kelompok (muamalah).

Keenam, mewujudkan manusia melek sosial (social literate) yang ditandai dengan perasaan dan dorongan yang kuat untuk bertindak adil, bertanggungjawab sosial, dan menjalankan peran keteladanan masyarakatnya (amanah).

Terakhir, mewujudkan manusia melek budaya (cultural literate) yang ditandai dengan kehendak kuat menjalankan gaya hidup yang sejalan dengan kaidah-kaidah keberakhlakan yang baik (tamaddun).

Hadirin sekalian yang berbahagia,

Kita sampai pada kesimpulan bahwa hiruk-pikuk sekitar keserba-budayaan (multiculturalism) bukan sesuatu yang baru dalam tradisi pendidikan Islam, khususnya di Indonesia. Tidak ada yang perlu dirisaukan, dan bahkan diubah dalam filsafat dan paradigma pendidikan Islam yang selama ini kita yakini kebenaran dan kemuliaannya. Justru bila ada praktik pendidikan Islam yang tidak sejalan dengan kaidah keserbabudayaan, maka patut dipertanyakan ketepatan sumber nilai-nilai rujukannya.

Semoga kesetiaan kita terhadap nilai-nilai yang terpancar dari pemahaman Islam sebagai rahmat alam semesta senantiasa membaik karena dilandasi oleh keyakinan akan kebenaran al-Qur’an dan keteladanan Sunnah Rasul.

Marilah kita do’akan bersama, agar anak-anak kita yang diwisuda pada hari ini, berhasil memenuhi cita-cita pendidikan Islam, menjadi insan melek tauhid, melek tazkiyah, melek hikmah, melek istiqomah, melek muamalah, melek amanah, dan melek tamaddun, agar segala perolehan belajarnya tak hanya bermanfaat bagi dirinya di dunia dan di akhirat, tetapi juga bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan umat manusia secara umum.

Rabbana taqabbal minna. Innaka antas sami’ul alim. Watub ‘alaina yaa maulana, innaka antat tauwa burrahim. Rabbana atina fiddunya khasanah. Wafil akhirati khasanah. Waqina adzabannar. Subhana rabbika rabbil izzati amma yasifuun. Wasalum ‘alal mursalin, walhamdulillahirabbil ‘alamin.

 

Wallahul muwwafiq ila aqwamiththariq

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 


[1] Orasi ilmiah dibacakan dalam Rapat Terbuka Senat Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan, Sumenep dalam rangka Wisuda XII Sarjana (S1), tanggal 22 Februari 2010.

[2] Guru Besar Fakultas Humaniora dan Budaya, dan Pembantu Rektor bidang Akademik, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

Visits: 149
Today: 2

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *