Anatomi Metodologi Penelitian

 

1. Secara paradigmatik dikenal ada 3 (tiga) macam paradigma penelitian:

  1. positivistik  (fokusnya mencari hubungan antar-variabel) — madhab Comtean (August Compte). Akar penelitian kuantitatif.
  2. interpretif  (fokusnya pada makna suatu tindakan) — madhab Weberian. Akar penelitian kualitatif.
  3. kritik (fokusnya pada wacana. Wacana merupakan medan beroperasinya kekuasaan) — madhab postmodernisme  (ideologi dan kekuasaan)

2. Secara metodologik, terdapat 4 (dua) macam metode penelitain:

  1. Metode Kuantitatif  — dasarnya adalah semua persoalan kehidupan terjadi dalam hubungan sebab akibat.  Tindakan manusia merupakan akibat dari sebab-sebab tertentu.
  2. Metode Kualitatif  — dasarnya adalah manusia merupakan makhluk berkehendak bebas  (free will)  yang bertindak atas dasar keinginan pribadi
  3. Metode Campuran (Mixing Methods) Kuantitatif dan Kualitatif dasarnya adalah logika triangulasi (hasil kualitatif bisa dikembangkan untuk diuji kuantitatif, atau hasil kuantitatif perlu diperdalam kepada para aktor secara  kualitatif)
  4. Metode Kritis/Refleksif – dasarnya adalah fungsi praksis (perbaikan) ilmu pengetahuan untuk mengkritisi dan mengubah situasi yang tidak manusiawi.

3. Berdasarkan dorongannya, terdapat 2 (dua) macam penelitian:

  1. applied (terapan) —  tujuannya untuk menyelesaikan persoalan dengan  cepat
  2. pure  (murni) — tujuannya untuk pengembangan ilmu pengetahuan

4. Berdasarkan cakupan keluasan wilayah kajiannya, terdapat 2 (dua) jenis wilayah

penelitian:

  1. mikro
  2. makro
  3. meso

5. Berdasarkan jenis  realitasnya (unit of analysis), terdapat  4 (empat) jenis penelitian:

  1. penelitian mikro objektif (misalnya tentang tindakan-tindakan individual)
  2. penelitian mikro subjektif (misalnya tentang pendapat, ide, pengalaman    individual).
  3. penelitian makro objektif (misalnya tentang pola-pola struktural umum yang kasat mata, seperti masyarakat, birokrasi, hukum, arsitektur, pendidikan dsb).
  4. penelitian makro subjektif (misalnya tentang pola-pola struktural umum yang tidak kasat mata, seperti  kultur, norma, dan nilai yang  ada di masyarakat)
  5. penelitian pertautan (linkage) antar dua atau lebih kuwadran (mikro-makro, subjektif-objektif)

 

Makro

 

Subjektif                                                                        Objektif

 

 

Mikro

 

 

 

 

6. Berdasarkan sifat masalah dan tujuan penelitian terdapat

  1. Penelitian eksploratori: Menjelajahi fenomena baru
  2. Penelitian deskriptif: Memaparkan fenomena/fakta
  3. Penelitian eksplanatori: Menjelaskan (hubungan) dua atau lebih fenomena/fakta
  4. Penelitian Prediktif: Meramalkan kecenderungan fenomena/fakta berdasarkan data sekarang
  5. Penelitian Interpretif: Memahami fenomena (khususnya melalui tindakan verbal dan diskursif pelaku)
  6. Penelitian kritis: Memberikan penafsiran tandingan (alternatif) atas fenomena berdasarkan pendirian tertentu
  7. Penelitian historis: merekonstruksi rangkaian kejadian penting masa lalu.

 

7. Berdasarkan perolehan data, terdapat 2 (dua) macam jenis penelitian:

  1. lapangan (field) (field research)
  2. teks (text analysis/studies)

 

8. Berdasarkan  jenis data yang dikaji, terdapat  3 (tiga) kelompok besar  analisis data kualitatif:

  1. analisis teks dan bahasa
  2. analisis tema budaya
  3. analisis kinerja, dan pngalaman individual serta perilaku institusi

 

9. Berdasarkan metodenya, teks dan bahasa dapat diteliti dengan:

  1. Analisis Isi (Content Analysis)
  2. Analisis Wacana (Discourse Analysis)
  3. Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis)
  4. Analisis Bingkai (Framing Analysis)
  5. Analisis Semiotik (Semiotic Analysis)
  6. Analisis Konstruksi Sosial (Social Construction Analysis)
  7. Hermeneutika (Hermeneutics):

1). Hermeneutika Intensionalisme — makna teks ditelusur dari penyusun teks.

2). Hermeneutika Gadamerian. —  makna teks ditelusur pada pembacanya.

 

10. Terdapat 3 (tiga) Varian Analisis Teks

 

Analisis Isi

(Content Analysis)

Analisis wacana

(Discourse Analysis)

Analisis Wacana Kritis

(Critical Discourse Analysis)

  1. Metode paling awal untuk menganalisis teks dan bahasa
  2. fokus pada  penggalian makna dari apa yang tampak (manifes).
  3. fokus pada apa yang dikatakan atau ditulis orang, tetapi tidak mengapa dan bagaimana sesuatu itu disampaikan
  4. beraliran positivistik
  5. nilai dasarnya semakin ujaran sering dipakai, maka semakin signifikan maknanya
  6. alat ukurnya statistika
    1. Metode yang muncul setelah Analisis Isi
    2. titik perhatiannya tidak saja pada makna yang diungkap,(manifes)  tetapi juga yang tidak diungkap  (laten).
    3. fokusnya juga bukan hanya pesan, tetapi makna
    4. beraliran konstruksionistik
    5. fokus kajian pada muatan, nuansa, dn konstruksi makna
    6. perhatian lebih pada konteks
    7. tidak fokus pada berapa sering ungkapan muncul, tetapi pada konteks munculnya ujaran

 

  1. Metode yang muncul sebagai counter terhadap  kedua jenis metode sebelumnya
  2. wacana selalu muncul dalam hubungan kekuasaan (yang dominan dan yang didominasi )
  3. prinsip dasarnya ada empat:
  4. tindakan
  5. konteks
  6. historis
  7. kekuasaan
  8. ideologi
  9. bahasa adalah manifestasi dari  konteks secara keseluruan , yakni
  10. teks (lisan atau tulis, termasuk ekspresi, nuansa dll)
  11. konteks (semua situasi di luar teks yang mempengaruhi pemakaian bahasa, siapa, kapan, di mana, tujuannya apa)
  12. wacana , yakni keseluruhan antara teks dan konteka yang menyatu.

 

 

10. Analisis data kualitatif

 

Miles dan Huberman (1987) menganjurkan model analisis interaktif (interactive model) yang mengandung empat komponen yang saling berkaitan, yaitu

(1) pengumpulan data,

(2) penyederhanaan data,

(3) pemaparan data, dan

(4) penarikan dan pengajuan simpulan.

 

Spradley (1979) menganjurkan 4 (empat) teknik analisis data kualitatif, yaitu

(1) analisis ranah (domain analysis)  untuk mengembangkan kategori

(2) analisis taksonomik (taxonomic analysis) untuk melengkapi isi

kategori (sub-kategori)

(3) analisis komponensial (componential analysis) untuk membedakan

karakteristik antar kategori (sub-kategori)

(4) analisis tematik (thematic  analysis) untuk menangkap tema budaya

 

Analisis ranah dimaksudkan untuk memperoleh pengertian umum dan relatif menyeluruh mengenai pokok permasalahan. Hasil analisis ini berupa pengetahuan tingkat “permulaan” tentang berbagai ranah atau kategori konseptual secara umum pula.

Pada analisis taksonomik, pusat perhatian ditentukan terbatas pada ranah yang sangat berguna dalam memaparkan gejala-gejala yang menjadi sasaran penelitian. Analisis taksonomik tidak saja berdasarkan data lapangan, tetapi juga berdasarkan hasil kajian pusataka. Beberapa ranah yang sangat penting dipilih dan dijadikan pusat perhatian untuk diselidiki secara mendalam.

Analisis komponensial dilakukan untuk mengorganisasikan perbedaan (kontras) antar-unsur dalam ranah yang diperoleh melalui pengamatan dan atau wawancara terseleksi.

Pada analisis tematik, peneliti menggunakan saran Bogdan dan Taylor (1975: 82-93) dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

(1) membaca secara cermat keseluruhan catatan lapangan.

(2) memberikan kode pada topik-topik pembicaraan penting.

(3) menyusun tipologi, dan

(4) membaca kepustakaan yang terkait dengan masalah dan konteks

penelitian.

 

Berdasarkan seluruh analisis, peneliti melakukan rekonstruksi dalam bentuk deskripsi, narasi dan argumentasi. Beberapa sub-topik disusun secara deduktif, dengan  mendahulukan kaidah-kaidah pokok yang diikuti dengan kasus dan contoh-contoh. Sub-topik selebihnya disajikan secara induktif, dengan memaparkan kasus dan contoh untuk ditarik kesimpulan umumnya.

 

Cara atau model  ketiga disarankan oleh Strauss dan Corbin (1990) dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) open coding, (2) axial coding, (3) selective coding, dan (4) the generation of a conditional matrix.

 

 

Visits: 149
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *