Menjadikan Hidup lebih Bermakna

Saya sering merenungkan makna, hakikat, tujuan hidup, dan kemana setelah hidup ini berakhir. Dari sisi rentangan waktu, hidup adalah kumpulan jam, hari, bulan, dan tahun yang terus berputar dan tidak pernah kembali. Hari kemarin tak akan pernah kembali, jangankan kemarin, beberapa detik yang lalu saja juga tak akan pernah kembali. Jadi sangat merugi jika waktu yang kita miliki berlalu begitu saja, tanpa kreativitas yang bernilai baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.

Setiap hari umur kita bertambah, yang berarti jatah waktu hidup kita semakin berkurang. Masa akhir kehidupan pun semakin mendekat yang ditandai dengan semakin melemahnya daya tahan fisik dan fungsi organ-organ tubuh yang lain. Di saat begini manusia mesti bertindak arif, menjalani hidup dengan keshalihan, aqidah yang kuat dan kekhusu’an dalam beribadah.

Secara substantif hidup adalah perjuangan. Siapapun yang sanggup hidup dia mesti sanggup berjuang untuk memperoleh ‘keberhasilan’ hidup. Tidak pernah ada keberhasilan tanpa perjuangan. ‘Keberhasilan’ dan ‘perjuangan’ merupakan dua kosakata yang saling beriringan dan berjalan linier. Keberhasilan tidak datang tiba-tiba. Ia mesti diraih. Tingkat keberhasilannya juga ditentukan tingkat perjuangannya. Perhatikan saja bagaimana manusia-manusia besar menggapai keberhasilan. Mereka mencapainya tentu lewat perjuangan tenaga, pikiran, waktu, bahkan nyawa sekalipun. Perjuangan tulus biasanya tidak mengenal tempat dan waktu serta pamrih.

Menurut saya hidup yang bermakna ialah hidup yang penuh berkah, baik secara material maupun spiritual. Secara material, orang terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya untuk hidup layak. Sebab, jika tidak terpenuhi, dia menjadi tidak terhormat.  Secara spiritual, orang terjaga akidahnya, meningkat amal shalihnya, bermanfaat bagi orang lain, disertai dengan peningkatan ibadah-ibadah yang lain. Jika berkuasa, kekuasaannya bisa dijadikan tempat orang berteduh, mengharapkan keadilan, memberikan solusi permasalahan, dan menjadikan dirinya semakin baik.

Jika berilmu, ilmunya bermanfaat bagi orang lain, tidak sombong dan tidak merasa paling hebat sendiri, apalagi untuk merendahkan orang lain. Sebab, orang lain tentu memiliki kemampuan dan ilmu yang kita tidak bisa. Selain itu, ilmunya dipakai untuk memintarkan dan mencerdaskan orang lain sehingga mereka menjadi beradab. Manusia berilmu adalah pribadi arif yang kehadirannya dinanti-nanti banyak orang karena orang rindu akan kedalaman dan keluasan ilmunya. Ujungnya, ilmu yang barokah ialah yang dapat mengantarkan pemiliknya untuk semakin dekat dengan Allah, mengagumi semua ciptaan-Nya, menyadari betapa kecilnya di hadapan Allah dan senantiasa mencintai  kebenaran.

Jika berharta, hartanya dipakai sebagai sarana beramal shalih, membantu yang memerlukan, dan ringan mengeluarkan sebagian yang diperoleh untuk kepentingan agama Allah. Harta yang diperoleh harus dimaknai sebagai sarana, bukan tujuan hidup. Kita ingat kata Nabi bahwa jika kita ingin disukai Allah, maka jangan terus mengejar-ngejar harta sehingga kita lupa. Sebab, hakikatnya ia adalah kenikmatan semu dan berlangsung sesaat. Tentu kita semua berharap menjadi manusia yang disukai Allah swt. Sayang, banyak manusia tertipu oleh gemerlapan duniawi sampai lupa tugas dan kewajibannya sebagai hamba Allah. Inilah manusia yang merugi dan tidak cerdas, kendati secara akademik telah berpendidikan puncak.

Setelah fase hidup kita lalui dengan hiruk pikuknya dunia, kita meninggalkannya menuju fase kehidupan setelah kematian. Di sanalah kita pertanggungjawabkan semua yang telah kita lakukan tatkala kita hidup di dunia. Semua ini tak bergeser sedikit pun dari rencana Allah. Siapa yang melahirkan, di mana lahir, di mana tumbuh, bagaimana rezekinya, dan di mana kelak mati semua adalah skenario Allah yang tak siapapun mengganggunya.

Rasulullah mengibaratkan hidup bagaikan saat tatkala seorang musafir sedang berteduh di bawah pohon yang rindang untuk menempuh perjalanan tanpa batas. Perjalanan itu akan sukses jika punya bekal yang cukup. Bekal itu bukan uang dan materi, melainkan takwa.

Orang yang berbekal takwa itulah sejatinya orang cerdas, karena dia sadar bahwa dia tidak mau tenggelam dalam kenikmatan duniawi yang semu dan sesaat, melainkan memilih kehidupan panjang tanpa akhir. Baginya, hidup bukan untuk hidup, tetapi untuk yang Mahahidup.

Karena itu, jangan takut mati, tetapi jangan mencari mati, dan jangan lupa mati. Kematian adalah sebuah fase untuk bertemu dengan sang Pencipta. Dengan berbekal amal shalih dan takwa, perjumpaan dengan Allah menjadi saat yang ditunggu-tunggu. Karena itu, hidup yang bermakna ialah hidup yang dihiasi dengan ketakwaan kepada sang Pencipta. Semoga !

Visits: 133
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *