Pembantu: Mengapa Sering Menjadi Kambing Hitam?

Suatu hari saya berkunjung ke rumah teman. Ketika akan masuk,  rumah terkesan sepi seperti tidak ada orang. Saya ketuk pintu. Tidak ada jawaban. Saya semakin yakin penghuni rumah sedang tidak ada di tempat. Saya bermaksud pulang dan akan berkunjung di lain hari. Tetapi beberapa saat kemudian kawan yang saya kunjungi itu membuka pintu dan mempersilakan saya masuk. Suasana terasa aneh, sebab di hari-hari lain biasanya rumah itu ramai dan penghuninya ceria. Tetapi kali itu sungguh berbeda. Dari body language tuan rumah terasa ada  ketegangan. “Ada apa gerangan?” pikir saya.

Setelah itu kawan saya memulai pembicaraan. Benar. Dia baru saja gegeran dengan istrinya. Apa pasalnya? Anak lelakinya yang baru berumur 2 tahun terpeleset jatuh di kamar mandi dan bibirnya memar sampai berdarah. Dia marah kepada istrinya karena sang istri menyalahkan pembantunya karena kejadian itu. Pembantunya dianggap yang paling bersalah karena teledor hingga anaknya jatuh. Kawan saya itu tidak rela ketika kesalahan dilimpahkan ke pembantunya. Kata kawan saya itu sang istri memang sering memarahi pembantunya yang berasal dari sebuah desa itu. Gadis desa yang polos itu diam saja tatkala dimarahi, walau mungkin hatinya berontak. Tetapi karena itu hanya persoalan sepele dan urusan rumah tangga dia, saya tidak mau terlibat lebih dalam. Saya pun segera mengalihkan pembicaraan mengenai maksud kunjungan saya.          .

Kendati saya telah  berusaha mengalihkan pembicaraan dengan tema maksud kunjungan saya itu, sang kawan masih belum bisa melepaskan secara total peristiwa yang baru saja terjadi. Tampak sekali dia mendongkol dengan istrinya. Sampai akhir kunjungan saya, dia tidak memanggil istrinya untuk bersama-sama menemui saya. Padahal, saya juga kenal baik.

Peristiwa di atas mungkin juga pernah kita jumpai di tempat lain, atau malah di tempat kita sendiri. Tatkala dalam perjalanan meninggalkan keluarga itu saya berpikir mengapa pembantu sering menjadi sasaran kesalahan dan menjadi kambing hitam setiap terjadi ketidakberesan di sebuah rumah tangga. Misalnya, masakan tidak enak — kurang garam atau terlalu banyak garam — karena kesalahan pembantu. Cucian tidak kering karena pembantu. Hasil setrika baju tidak rapi juga karena pembantu. Anak tidak mau makan juga karena  pembantu. Koran tidak datang pun pembantu terlibat kesalahan. Nasi habis dianggap pembantu kurang antisipatif. Kok sial sekali nasib pembantu !

Saya merenung siapa sesungguhnya pembantu itu. Bukankah dari sisi kemanusiaan dia adalah saudara kita? Siapa yang mau menjadi pembantu? Bukankah situasi sosial dan ekonomilah yang memaksa dia bekerja di bawah kendali majikan. Bukankah semua manusia terlahir bebas, tanpa direndahkan dan dikuasai oleh manusia lainnya? Bukankah kondisi dan aturan hidup yang membuat munculnya pekerjaan menjadi pembantu?

Saya yakin istri kawan saya tadi tidak mudah marah ke pembantunya andai saja dia sadar bahwa dalam hidup ini setiap orang tergantung pada orang lain. Coba bayangkan bagaimana rasanya bagi keluarga yang sudah terbiasa dengan kehadiran pembantu dan tiba-tiba pembantu itu pulang karena sesuatu hal. Lihat saja bagaimana warga ibukota yang terpaksa menginap di hotel-hotel pada saat hari raya Idul Fitri karena pembantunya pulang kampung. Seorang ibu rumah tangga ibukota pernah mengeluh bahwa biaya menginap di hotel selama satu minggu jauh lebih banyak daripada gaji yang dia keluarkan untuk dua orang pembantunya selama satu tahun.

Roda kehidupan justru tidak mungkin berputar jika semua orang memperoleh pembagian rezeki yang sama. Persoalan rezeki sangat tergantung pada banyak hal: ketrampilan, bakat, kesempatan, pengetahuan, kondisi kehidupan dan hubungannya dengan orang lain dan sebagainya. Dan, yang terakhir tentu sangat tergantung pada ketentuan sang Maha Pemberi Rezeki. Karena itu,  perolehan rezeki dari satu orang ke orang lain tentu berbeda-beda. Perbedaan itu  justru merupakan sesuatu yang penting untuk melaksanakan tugas manusia di muka bumi.

Coba kita bayangkan seandainya semua itu merupakan cetakan yang berulang-ulang, tentu kehidupan tidak akan berlangsung dan pekerjaan tidak akan memperoleh balasan yang setimpal dan tidak akan pula ditemukan orang yang akan melakukannya. Sebab, semua orang telah memperoleh pembagian rezeki yang sama. Allah telah menjadikan perbedaan dan kecukupan untuk melaksanakan peran yang dituntut dalam kehidupan. Karena itu, Allah menghendaki diantara manusia ada saling ketertundukan, tolong menolong, dan saling melayani untuk mengisi kehidupan. Semua ini bisa terjadi jika di antara manusia ada perbedaan-perbedaan status, peran, tugas, dan tanggung jawab.

Keadilan Allah justru ketika membagi rezeki bagi manusia secara berbeda-beda Kehadiran sang pembantu di keluarga kawan itu pun adalah sebuah bukti keadilan Allah yang mesti disambut syukur, bukan malah dimarahi ketika ada ketidakberesan. Di hadapan Yang Kuasa kita semua sama, yang membedakan adalah derajat keimanan dan ketakwaan kita masing-masing. Karena takwanya, siapa tahu justru pembantu itu lebih mulia di hadapan Yang Kuasa ketimbang sang majikan perempuan yang sering memarahinya.

Visits: 138
Today: 3

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *