Kongres Nasional Sepak Bola

Selasa, 30 Maret 2010, saya mewakili Rektor menghadiri acara pembukaan Kongres Sepakbola Nasional 2010 di Gelanggang Olah Raga Ken Arok Malang. Pembukaan dilakukan oleh Presiden SBY, yang didahului oleh sambutan Ketua Panitia Kongres, Agum Gumelar, Gubernur Jawa Timur, H. Soekarwo, dan Menteri Pemuda dan Olah Raga, Andi Malarangeng. Acara cukup meriah karena selain dihadiri oleh pengurus teras PSSI, KONI, para Bupati dan Walikota, juga para supoter sepakbola dari seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya, Presiden SBY menekankan lima hal. Pertama, beliau ingin sepakbola nasional bangkit di tingkat Asia dan suatu kali kelak di tingkat dunia. Beliau memilih istilah “bangkit” karena persepakbolaan Indonesia pernah jaya tidak saja di tingkat Asia, tetapi juga dunia. Dalam catatan sejarah kesebelasan nasional Indonesia pernah menahan kesebelasan Russia 0-0 dalam pertandingan internasional di Australia. Kesebelasan Russia itu akhirnya tampil sebagai juara. Artinya, kesebelasan Indonesia sangat kuat dan disegani di kawasan Asia saat itu.

Kedua, beliau meminta para pengurus PSSI bersatu dan tidak bertengkar. Sebab, tidak mungkin prestasi dapat diraih jika pengurusnya saling bertengkar. Permintaan Presiden bukan tanpa alasan. Sebab, kenyataannya para pengurus teras persepakbolaan nasional saling bertikai, terutama sejak Ketua Umumnya, Nurdin Halid, tersangkut masalah pidana dan akhirnya dipenjara. Apalagi prestasi sepakbola nasional terus merosot akhir-akhir ini. Tak mengherankan jika arena Kongres dipakai sebagai  kesempatan untuk menggusur sang Ketua Umum.

Ketiga, Presiden meminta Kongres melalukan evaluasi secara menyeluruh terhadap manajemen persepakbolaan nasional hingga mencapai kondisi prestasi nasional seperti saat ini yang sangat terpuruk. Artinya, yang baik diteruskan, dan yang belum dikoreksi. Hasil dari evaluasi adalah rekomendasi. “Pemerintah akan memperhatikan sungguh-sungguh apapun rekomendasi Kongres”.tutur Presiden.

Keempat, kita semua diharapkan membantu PSSI agar bisa mencapai prestasi baik. Presiden yakin dengan dukungan semua  rakyat Indonesia yang berjumlah 230 juta jiwa lebih, persepakbolaan nasional akan bangkit dan menjadi kebanggan nasional. Menurut Presiden, atas pengamatan Presiden FIFA sebenarnya bangsa Indonesai punya bakat (talent) dalam olahraga paling populer di planet bumi ini. Persoalannya adalah bagaimana bakat yang ada dapat dibina hingga berhasil baik.

Kelima, Presiden mengharapkan ada semacam Renstra persepakbolaan nasional. Misalnya, dalam waktu lima tahun mendatang, prestasi persepakbolaan nasional bisa hebat di tingkat Asia Tenggara, sepuluh tahun lagi di tingkat Asia, dan lima belas tahun lagi di tingkat dunia. Untuk mencapai prestasi itu, harus ada program yang kontinyu. Karena itu, setiap tahun Presiden tetap menyelenggarakan pertandingan dalam rangka Presiden Cup sebagai ajang mencari bibit baru menuju persepakbolaan nasional yang bermutu.

Apa yang diharapkan Presiden sebenarnya merupakan himbauan betapa pentingnya meningkatkan prestasi sepakbola nasional pada khususnya dan olahraga pada umumnya. Menurut Presiden, olahraga merupakan bagian penting sebagai tolok ukur kemajuan sebuah bangsa, kendati tidak ada korelasi antara jumlah penduduk sebuah bangsa dengan prestasi olahraganya. Bisa saja sebuah bangsa dengan jumlah penduduk kecil, tetapi  memiliki prestasi olahraga yang baik, dan sebaliknya.

Menurut saya, olahraga mesti dipandang lebih dari sekadar kebanggaan. Selama ini kalangan akademisi sering mengesampingkan olahraga. Padahal, olahraga merupakan salah satu tipe kecerdasan yang menentukan kesuksesan seseorang. Melalui olahraga yang teratur kecerdasan seseorang bisa tumbuh. Sebab, manusia itu memiliki empat macam jenis kecerdasan, yang  masing-masing bisa dilatih. Pertama, kecerdasan Intelektual (IQ) yang disempurnakan oleh kecerdasan Emosional  (EQ), dan kecerdasan Spiritual (SQ), dan kecerdasan kinestik atau gerakan. Kecerdasan terakhir ini luput dari perhatian banyak orang. Kecerdasan kinestik adalah bagaimana efek gerakan dalam berolahraga terhadap kesehatan.

Lebih dari itu, ada filosofi olahraga yang mesti disadari oleh semua. Semua jenis olahraga menekankan aspek sportivitas. Artinya, dalam permainan olahraga pasti ada yang kalah dan yang menang. Yang kalah harus sanggup mengakui kehebatan lawan dan mengakui kekurangannya. Ini artinya sikap sportif. Sayang, sportivitas seperti ini yang mesti dijunjung tinggi oleh para olahragawan dan pendukungnya belum sepenuhnya dimiliki. Buktinya, jika timnya menang rasa bangga dan bahagia diluapkan dengan kegembiraan yang berlebihan. Sebaliknya, jika tim kesayangannya kalah, tim lawan diserang dan bahkan yang mengherankan sarana-sarana umum pun — yang tidak tahu apa salahnya — sering menjadi sasaran pengrusakan. Kaca kerata api yang sedang lewat juga tak luput dari amuk massa.

Jika demikian keadaannya, di mana nilai-nilai sportivitas tersebut. Karena itu, lewat Kongres PSSI ini kita semua berharap agar Kongres tidak saja melahirkan evaluasi, rekomendasi dan program kerja ke depan, tetapi yang tidak kalah pentingya adalah juga membangun kesadaran betapa pentingya menjunjung tinggi semangat sportivitas di kalangan pemain dan pecinta olahraga di Tanah Air. Selamat berkongres !

 

__________

 

Kedungkandang, Malang, 30 Maret 2010

Visits: 452
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *