Sejarah Sosial Pengabdian kepada Masyarakat

(tulisan ini adalah kelanjutan dari artikel yang berjudul ”Meretas Fungsi Tradisional Universitas” atau dapat anda lihat di link ini: www.mudjiarahardjo.com)

Guna mengetahui asal-usul sosial, wujud dan bentuk, serta hakikat pengabdian kepada masyarakat oleh pergu­ruan tinggi di Indonesia hingga melembaga seperti sekarang, maka peninjauan harus dilakukan tidak hanya berdasarkan ketentuan perundang-undangan, tetapi juga harus didasarkan pada perjalanan sejarah, telaah filosofis dan praktika perguruan tinggi di Indonesia.

Sejarah pertumbuhan dan perkem­bangan perguruan tinggi sebagai lembaga dan masyarakat ilmiah di berbagai negara semula memang lebih mengutamakan kegiatan pendidikan dan pengajaran. Selanjutnya perguruan tinggi juga memiliki orientasi peneli­tian. Perubahan pemikiran dan perkembangan lebih lanjut melibatkan kegiatan-kegiatan penerapan ilmu, teknologi, dan seni. Penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh perguruan tinggi modern lebih ber­orientasi pada pelayanan masyarakat.

Mudah dikesan bahwa ketiga bidang kegiatan perguruan tinggi, yakni: pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sesungguhnya saling berkaitan erat satu sama lain. Karena itu, merupakan keharusan bagi masyarakat perguruan tinggi itu sendiri untuk menyelaraskan mereka, sehingga saling menunjang satu sama lain agar lebih mampu mewujudkan visi, misi, dan tujuan dasar pergu­ruan tinggi.

Seturut pemikiran tersebut, Margono Slamet (1985) mengemukakan bahwa dorongan dasar sivitas akademika perguruan tinggi untuk menerapkan atau mengamalkan ilmu, teknologi, dan seni bagi masyarakat luas adalah keyakinan bahwa ilmu, teknologi, dan seni yang diamalkan dapat membe­rikan kebahagiaan bagi manusia.

Perguruan tinggi di Indonesia lahir dalam situasi revolusi (1945 – 1949) dalam perjuangan untuk merebut kembali, menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara Republik Indonesia. Ancaman nyata masa-masa awal berdirinya perguruan tinggi di Indonesia adalah kembalinya penja­jahan. Karena itu, selain mene­ruskan tradisi sebagai lembaga ilmiah yang bersifat universal, perguruan tinggi kita juga berfungsi membina dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni demi kepentingan kesejahteraan masyarakat dengan corak nasional.

Sejak zaman penjajahan Belanda, putera-putera bangsa Indonesia yang berkesempatan menjadi mahasis­wa dan berhasil menjadi sarjana telah berperan dalam merintis pergerakan nasional dan cita-cita kemerdekaan Indonesia, seperti pembentukan Budi Utomo (1908), penggelaran Sum­pah Pemuda (1928), dan perjuangan melalui partai-partai politik serta organisasi-organisasi massa.

Perguruan tinggi adalah bahagian integral dari ma­syarakat, bangsa dan negara Indonesia yang sedang ber­juang dan membangun untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan Proklamasi Kemerdekaan, yaitu mencerdaskan kehi­dupan bangsa, dalam rangka memajukan kesejahteraan umum serta membina kerjasama antar bangsa dan perdamaian dunia sesuai dengan amanat yang tersurat dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945.

Peran sivitas akademika perguruan tinggi kita bersa­ma-sama para pejuang kemerdekaan, tentara, golongan poli­tik dan seluruh unsur rakyat dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara sangat besar dan penting artinya. Banyak di antara sivitas akademika perguruan tinggi kita yang secara sukarela berkorban di medan juang sebagai bagian dari darma bakti mereka dalam berbagai bidang, seperti pengiriman tenaga dokter ke pelbagai medan perjuangan dan pembentukan rumah sakit gerilya, pembangunan pabrik-pabrik senjata dan mesiu, pengadaan pangan dan logistik selama perang kemer­dekaan, pengiriman Pengerahan Tenaga Mahasiswa Pejuang (PTM) untuk mengisi kekurangan tenaga guru di pelbagai pelosok tanah air, maupun pembentukan pasukan Corps Maha­siswa Pejuang (Brigade XVII) yang bersama-sama TP dan TRIP maju bertempur di garis depan.

Selanjutnya pada masa setelah penga­kuan kedaulatan, dalam rangka nasionalisasi berbagai usaha besar, peran per­guruan tinggi adalah mengisi kekosongan tenaga ahli, karena ditinggalkan oleh tenaga ahli asing baik yang sebelumnya mengisi jabatan di universitas dan institut, maupun dalam dunia industri, perkebunan, dan jawatan.

Peran sivitas akademika perguruan tinggi tersebut dilakukan atas dasar panggilan jiwa, serta motivasi yang murni untuk berbakti dan mengabdi kepada bangsa dan negara. Karena itu tampak jelas, kesediaan untuk berbakti dan mengabdi merupakan watak perguruan tinggi Indonesia (Reksowardojo, 1985).

Dalam masa dan situasi apa pun sivitas akademika Indonesia senantiasa peka dan aktif berpe­ran dalam peristiwa-peristiwa penting atau kritis yang memerlukan pemikiran konseptual untuk pemecahan masalah kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam perjuangan Orde Baru sivitas akademika pergu­ruan tinggi berperan memberikan sumbangan pikiran dan konsepsi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, melakukan kri­tik dan koreksi terhadap berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh rezim Orde Lama serta aksi-aksi Tritura. Amat penting sumbangan pikiran dan konsepsi perguruan tinggi dalam perjuangan menegakkan cita-cita proklamasi dengan kembali kepada Pancasila dan UUD 1945. Pengabdian dan peran perguruan tinggi dalam masa­-masa selanjutnya diarahkan pada usaha ikut mensukseskan pembangunan nasional.

Dengan latar belakang sejarah tersebut di atas, maka jelas bahwa sejak awal kemerdekaan, kehadiran perguruan tinggi di Indonesia sudah aktif melaksanakan tugas dan kegiatan sebagai pusat pendidikan dan penga­jaran, pusat penelitian ilmiah serta pengamalan ilmu pegetahuan, teknologi, dan seni bagi masyarakat, bangsa dan negara. Tiga bidang tugas dan kegiatan tersebut pada waktu itu diungkapkan sebagai “Tri Saka Guru” perguruan tinggi, yakni “Pendidikan, penelitian, afilia­si industri dan pembangunan”. Tiga bidang tugas dan peran itu yang akan menjadi inti bakal konsepsi Tridarma Perguruan Tinggi di Indonesia (Reksowardojo, 1985).

Ketiga misi, fungsi dan tujuan tersebut kemudian dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 1961, bahwa Perguruan Tinggi adalah lembaga ilmiah berdasarkan Pancasila yang mempunyai tugas menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran tinggi atas dasar kebudayaan kebangsaan dengan cara ilmiah untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang ditujukan untuk pengamalan kepada kehidupan manu­sia dan masyarakat. Rumusan tersebut oleh Thoyib Hadiwidjaja, selaku Menteri PTIP, diberi nama Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu (1) Pendidikan dan pengajaran, (2) Penelitian, dan (3) Pengabdian kepada masyarakat. Kesemuannya sebagai satu kesatuan konsepsi merupakan misi, fungsi dan tugas pokok semua perguruan tinggi di Indonesia.

Dengan demikian maka pelaksanaan darma pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian integral Tridarma Perguruan Tinggi secara judisial merupakan tugas dan tanggungjawab institusional perguruan tinggi, serta kewajiban dan tanggungjawab luhur seluruh sivitas akademika di negara kita.

 

(tulisan ini akan berlanjut pada artikel yang berjudul ”Hakikat dan Asas Pengabdian kepada Masyarakat” atau dapat anda lihat di link ini: www.mudjiarahardjo.com)

Visits: 117
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *