Afrika Selatan, Piala Dunia, dan Palestina

Saat ini berjuta-juta mata masyarakat internasional tertuju pada sebuah negara di benua hitam, Afrika Selatan, untuk menyaksikan pesta olah raga  paling populer di planet bumi ini. Ini untuk pertama kalinya hajatan akbar itu diselenggarakan di benua Afrika setelah sebelumnya di Asia (Jepang, Korea dan China). Afrika Selatan berhasil menjadi tuan rumah penyelenggaraan perhelatan akbar  empat tahunan itu lewat perjuangan panjang dengan mengalahkan banyak pesaing dan dengan beberapa alasan.  Pertama, Afrika Selatan ingin membuktikan dirinya mampu menyelenggarakan event olah raga itu sebagaimana bangsa-bangsa lain yang lebih maju.  Event internasional bukan sembarang event. Di dalamnya ada kekuatan mengorganisasi seluruh resources, dana, semangat kerja keras, politik, kekuatan ekonomi, dan teknologi yang mendukung ketersediaan sarana dan prasarana kegiatan.

Kedua, Afrika Selatan ingin membangun citra positif sebagai sebuah bangsa bermartabat. Sebab, selama berpuluh-puluh tahun masyarakat dunia mengenalnya sebagai negara dengan sistem politik rasial berbasis warna kulit atau apartheid. Lewat politik apartheid warga kulit hitam terpinggirkan di hampir semua sektor kehidupan, politik, sosial, budaya, dan ekonomi. Penindasan berbasis warna kulit sungguh kejam dan tak berperikemanusiaan. Kita bisa mengajukan pertanyaan apa salahnya mereka berkulit hitam. Sebab, manusia terlahir tidak bisa memilih warna kulit, orangtua, dan tempat kelahiran. Andai saja bisa memilih, mungkin warga Afrika Selatan itu memilih berwarna kulit putih, atau sawo matang, atau apa saja yang mereka sukai dan memilih orangtua yang warna kulitnya juga tidak hitam agar tidak jadi korban politik apartheid..

Saya teringat sebuah majalah asing yang terbit awal 1980-an mengupas kekejaman apartheid dengan membatasi jalan tempat warga lewat dan rumah-rumah makan melalui pengumuman besar yang terpampang “The Road for White Only”, dan “Restaurat for Black”. Siapapun  yang melanggar ketentuan itu pasti kena saksi ditangkap dan dipenjara. Afrika Selatan menjadi negara dengan sistem apartheid paling kejam di muka bumi. Pejuang Afrika Selatan, Nelson Mandela, kini 91 tahun, yang memperjuangkan penghapusan politik apartheid dan akhirnya menjadi presiden pasca-politik apartheid harus meringkuk di penjara selama dua puluh lima tahun.

Konon Organisasi Sepak Bola Internasional (FIFA) meloloskan Afrika Selatan sebagai tuan rumah tidak lepas dari peran Nelson Mandela. Bagaimana pun Nelson Mandala adalah putra terbaik Afrika Selatan yang sebagian besar waktu hidupnya dipakai untuk memperjuangkan rakyatnya agar bebas dari penindasan bangsa-bangsa lain. Nelson Mandela adalah simbol negarawan sejati bagi masyarakat benua hitam itu.

Ketiga, Afrika Selatan  ingin menunjukkan ke dunia internasional sebuah platform politik rekonsiliasi yang dibangun setelah berakhirnya politik apartheid.  Lewat kebijakan rekonsiliasi, Afrika Selatan ingin menunjukkan kepada dunia luar bahwa mereka adalah bangsa besar dan bukan bangsa pendendam. Sebab, lewat rekonsiliasi nasional yang dibangun, pemimpin Afrika Selatan di bawah Nelson Mandela memaafkan semua pemimpin dan siapa saja yang berafiliasi ke politik apartheid.

Di bawah Nelson Mandela, Afrika Selatan ingin menatap masa depan dengan menghilangkan rasa saling dendam dan benci sesama bangsa Afrika Selatan. Mereka tidak mau larut dalam kesedihan yang mendalam karena ditindas, tetapi ingin segera bangkit dan membangun diri dengan membuka hubungan dengan dunia luar dengan mengolah sumber daya alam yang sangat melimpah yang selama berlangsungnya politik apartheid hubungan itu terputus karena sanksi internasional. Politik rekonsiliasi model Afrika Selatan ini menjadi contoh model solusi konflik negara yang baru saja lepas dari konflik politik.

Keempat, Afrika Selatan ingin menjadikan dirinya tidak saja sebagai pemimpin bagi bangsa Afrika yang lain, tetapi ingin mengambil posisi sebagai sebuah kekuatan dunia yang patut diperhitungkan. Di dalam geopolitik internasional, di mana Barat ingin menjadi pemimpin dunia satu-satunya, Afrika Selatan tampil merebut perhatian dunia lewat event olah raga paling bergengsi. Sampai saat ini Afrika Selatan memang belum berhasil memerangi kemiskinan, pengangguran, kriminalitas setelah lepas dari politik apartheid. Konon di jalan-jalan protokol masih sering terjadi perampokan di siang bolong, sehingga angka kriminalitas sangat tinggi. Tetapi Afrika Selatan telah berhasil membuktikan ambisinya untuk mewakili  kekuatan rakyat dari benua hitam.

Lewat hajatan akbar itu Afrika Selatan ingin dicatat bukan sebagai bangsa bekas korban apartheid, melainkan sebagai sebuah bangsa besar yang bermartabat. Keinginan itu kini terbukti. Mungkin di benak Afrika Selatan kemenangan atau seri melawan Mexico tidak begitu penting. Tapi yang lebih penting dari itu adalah kini semua mata warga dunia diajak menyaksikan bahwa negara hitam itu sanggup menyelenggarakan event akbar sebagai simbol peradaban  modern. Perhelatan itu diselenggarakan di tengah kemajuan sains dan teknologi informasi yang demikian pesat dan ditayangkan oleh ribuan wartawan ke seluruh penjuru dunia.

Untuk sementara masyarakat internasional lupa penderitaan warga Gaza, Palestina, yang disandra Israel dengan tidak bisa keluar dan tidak boleh menerima sumbangan kemanusiaan.  Padahal, kebutuhan dasar hidup sangat terbatas, sarana dan prasarna umum hancur berantakan karena buldoser Israel, dan pengangguran sangat tinggi. Saya yakin warga Palestina juga menonton pertandingan sepakbola akbar itu. Tetapi rasanya, mereka tidak bisa menikmati indahnya teknis dan  kecanggihan sepak bola modern itu, karena penderitaan yang merekan alami akibat blokade Israel. Bagi warga Palestina, yang diperlukan saat ini bukan sepak bola melainkan lepas dari belenggu zionis Israel untuk selanjutnya hidup layak sebagai manusia merdeka. !

Visits: 175
Today: 2

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *