ANALISIS WACANA DALAM STUDI KEISLAMAN: Sebuah Pengantar Awal

(Bagian II)

Enam Pendekatan Utama

Paling tidak, kini telah berkembang enam pendekatan terhadap wacana (approaches to discouse). Masing-masing adalah: (1) pendekatan tindak tutur (the speech act approach); (2) pendekatan  sosiolinguistik interaksional (interactional sociolinguistics); (3) pendekatan etnografi komunikasi (the ethnography of communication); (4) pendekatan pragmatika (pragmatic approach); (5) analisis percakapan (conversational analysis); dan (6) pendekatan variasionis (variationists approach).[1]

Walaupun teori tindak tutur pertama kali tidak dikembangkan untuk mengkaji wacana, sejumlah isu dalam teori tindak tutur ini seperti  indirect speech acts dan multiple functions of utterances telah mengarah kepada analisis wacana.

Pendekatan sosiolinguistik interaksional mewakili kombinasi tiga disiplin anthropoly, sosiologi, dan linguistik. Pusat perhatiannya adalah bagaimana orang-orang dari budaya berbeda bisa berbagi pengetahuan gramatikal suatu bahasa tetapi secara berlainan mengkontekstualisasikan apa yang dikatakan sehingga pesan yang berbeda akan terjadi.

Menurut etnografi komunikasi, cara kita berkomunikasi bergantung banyak kepada kebudayaan  darimana kita berasal. Berkaitan dengan hal ini, bisa dianalisis misalnya alasan-alasan mengama suatu prasangka bisa muncul.

Pendekatan pragmatika menegaskan bahwa setiap komunikasi diprasyarati oleh kaidah-kaidah kerjasama dan maksim percakapan (the cooperative principal and conversational maxims).

Analisis percakapan lebih tertarik pada urutan percakapan. Diasumsikan bahwa orang-orang yang berinteraksi sekurang-kurangnya harus memiliki asumsi minimum satu sama lain. Orang bisa saja meminta giliran bicara dengan sekedar berdehem.

Pendekatan variasionis mendasarkan diri pada asumsi bahwa semua teks memiliki sejumlah pola formal tertentu. Penilaian terhadap suatu teks didasarkan pada penyimpangannya dari struktur sintaktis sederhana.

Secara keseluruhan, sebelum perkembangan analisis wacana kritis, fokut kajian, dan rumusan masalah kajian dalam keenam pendekatan analisis wacana tersebut bisa disajikan sebagai berikut:

Pendekatan kajian wacana

Fokus kajian

Rumusan Masalah

Struktural

Analisis Percakapan

Urutan struktur

Mengapa kemudian itu?

Variasionis

Kategori struktural dalam teks

Mengapa bentuk itu?

Fungsional

Tindak Tutur

Tindakan komunikatif

Bagaimana melakukan sesuatu dengan kata-kata?

Etnografi komunikasi

Komunikasi sebagai perilaku budaya

Bagaimana wacana mencerminkan budaya?

Sosiolinguistik interaksional

Makna linguistik dan sosial yang terbentuk selama berkomunikasi

Apa yang mereka lakukan?

Pragmatika

Makna dalam interaksi

Apa yang hendak dikatakan pembicara?

Belakangan, sejalan dengan perkembangan paradigma kritis, juga berkembang analisis wacana kritis. Analisis wacana kritis mengalami perkembangan sangat pesat karena sangat berpotensi untuk digunakan tidak hanya dalam hubungan asimetris antar dua atau lebih pengguna bahasa, tetapi juga untuk menganalisis konflik sosial antara kelompok masyarakat. Berkenaan dengan analisis wacana kritis ini, berikut disajikan kerangka dasarnya.

Kerangka Dasar Analisis Wacana Kritis

Dua di antara sejumlah ranting aliran analisis wacana kritis yang belakangan sangat dikenal adalah buah karya Norman Fairclough dan Teun van Dijk.[2] Dibanding sejumlah karya lain, buah pikiran van Dijk dinilai lebih jernih dalam merinci struktur, komponen dan unsur-unsur wacana. Karena itu, model analisis wacana kritis ini pula terkesan mendapat tempat tersendiri di kalangan analis wacana kritis.

Kohesi yang merupakan tautan atau hubungan antar bagian dalam wacana sehingga menjadi satu kesatuan, menjadi salah satu kata kunci dalam analisis wacana positivistik. Ini pula yang diperkenalkan lebih awal oleh para pengajar pengantar linguistik kepada para mahasiswanya.[3]

Berbeda dari pandangan tersebut, dalam kerangka analisis wacana kritis, struktur wacana tersusun atas tiga aras yang membentuk satu kesatuan. Masing-masing adalah struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro (macro structure, superstructure, and micro structure). Struktur makro menunjuk pada makna keseluruhan (global meaning) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh suatu wacana.[4]

Superstruktur menunjuk pada kerangka suatu wacana atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau tulisan yang dimulai dari pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri dengan penutup. Bagian mana yang didahulukan, serta bagian mana yang dikemudiankan, akan diatur demi kepentingan pembuat wacana.[5]

Struktur mikro menunjuk pada makna setempat (local meaning) suatu wacana. Ini dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika. Aspek semantik suatu wacana mencakup latar, rincian, maksud, pengandaian, serta nominalisasi.[6]

Aspek sintaksis suatu wacana berkenaan dengan bagaimana frase dan atau kalimat disusun untuk dikemukakan. Ini mencakup bentuk kalimat, koherensi, serta pemilihan sejumlah kata ganti (pronouns).[7]

Aspek stilistika suatu wacana berkenaan dengan pilihan kata dan lagak gaya yang digunakan oleh pelaku wacana. Dalam kaitan pemilihan kata ganti yang digunakan dalam suatu kalimat, aspek leksikon ini berkaitan erat dengan aspek sintaksis.[8]

Aspek retorik suatu wacana menunjuk pada siasat dan cara yang digunakan oleh pelaku wacana untuk memberikan penekanan pada unsur-unsur yang ingin ditonjolkan. Ini mencakup penampilan grafis, bentuk tulisan, metafora, serta ekspresi yang digunakan.[9]

Dengan menganalisis keseluruhan komponen struktural wacana, dapat diungkap kognisi sosial pembuat wacana. Secara teoretik, pernyataan ini didasarkan pada penalaran bahwa cara memandang terhadap suatu kenyataan akan menentukan corak dan struktur wacana yang dihasilkan. Bila dikehendaki sampai pada ihwal bagaimana wacana tertentu bertali-temali dengan struktur sosial dan pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat, maka analisis wacana kritis ini harus dilanjutkan dengan analisis sosial.[10]

Penutup

Banyak topik kajian dalam studi keislaman bisa dipilih untuk didekati dengan analisis wacana. Perdebatan tentang penetapan hari raya iedul fitri, misalnya, cukup menarik untuk dianalisis dengan pendekatan analisis wacana kritis. Demikian pun tentang berbagai bentuk discourse marker yang menjadi pengait antara satu ayat dengan ayat lain dalam Al Qur’an akan sangat bermanfaat bila dianalisis dengan teknik analisis wacana konvensional dengan menekankan pada koherensi dan kohesi teks Al Qur’an. Naskah-naskah ceramah agama pun cukup menarik untuk dianalisis sebagai wacana.

Selamat mencoba!

 


[1] Schiffrin, D., 1994. Approaches to Discourse. Oxford UK, Cambridge USA: Blackwell.

[2] Eriyanto. 2001. Analisis Wacana. Yogyakarta: LkiS. Periksa pula Stephen W. Littlejohn. 1996. Theories of Human Communication. Belmont: Wadsworth Publishing Company.

[3] George Yule. 1985. The Study of Language. Cambridge: Cambridge University Press.

[4] Teun A. van Dijk. 2003. Ideology and discourse: A Multidisciplinary Introduction. Internet Course for the Oberta de Catalunya (UOC).

[5] Teun A. van Dijk. 2003. Discourse analysis as Ideology analysis. Internet Course for the Oberta de Catalunya (UOC).

[6] Teun A. van Dijk. 2003. Ideology and discourse: A Multidisciplinary Introduction. Internet Course for the Oberta de Catalunya (UOC).

[7] Teun A. van Dijk. 2004. Ideology and Discourse Analysis. Ideology Symposium Oxford, September 2004.

[8] Teun A. van Dijk. 2004. Ideology and Discourse Analysis. Ideology Symposium Oxford, September 2004.

[9] Teun A. van Dijk. 2001. Knowledge and News. Paper for the Cuadernos de Filología Valencia). University of Amsterdam. Universitat Pompeu Fabra, Barcelona. February, 2001.

[10] Teun A. van Dijk. 2003. Ideology and discourse: A Multidisciplinary Introduction. Internet Course for the Oberta de Catalunya (UOC).

Visits: 317
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *