Ibadah Prioritas

Udara kota Bandung pagi itu sangat cerah, tetapi agak dingin. Jam 04.00  pagi saya keluar dari kamar hotel dan berjalan kaki menuju masjid yang tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Pintu gerbang masjid terbuka lebar dan ada dua orang satpam yang menjaganya. Masjid berlantai dua itu cukup besar yang bisa menampung ribuan jemaah. Kondisi masjidnya pun bersih. Tetapi ketika masuk, saya agak heran karena belum ada satu pun orang untuk salat subuh. Saya berpikir mungkin saya datang terlalu awal, karena tidak tahu jam berapa salat subuh dilaksanakan. Sambil menunggu jemaah yang lain, saya menjalankan ibadah salat sunah.

Pukul 04.30 seorang pengurus takmir masjid datang dan segera mengumandangkan gema azan. Sampai azan selesai, saya melihat ke kanan dan ke kiri masih belum ada lagi jemaah yang datang. Tidak lama lagi ada satu orang yang datang dan ternyata ia adalah imam masjid itu, dan ada dua jemaah yang datang terlambat. Hingga salat subuh selesai, jumlah jemaahnya hanya 5 orang termasuk imam.

Usai salat, sang imam segera membalikkan duduknya dan menyampaikan pengajian subuh dengan membuka lembaran yang telah disiapkan. Tema pengajian subuh itu “Ibadah Prioritas”. Ketika ceramah berjalan beberapa menit, dua orang jemaah minta izin untuk  meninggalkan karena ada urusan keluarga, sehingga praktis di pengajian subuh itu hanya ada tiga orang: saya, satu orang jemaah dan sang ustaz sendiri. Kendati jumlah jemaah hanya beberapa orang, ustaz itu tetap bersemangat menyampaikan materi pengajian.

Isi ceramahnya sangat baik. Sang ustaz mengupas kenyataan yang dihadapi umat Islam saat ini, yaitu kemiskinan dan kebodohan. Jumlah umat Islam di dunia menempati posisi 20% dari populasi dunia. Tetapi, persoalannya adalah jumlah sebesar itu tidak memiiki nilai tawar tinggi baik dalam bidang ekonomi, politik, maupun budaya. Umat Islam berada dalam posisi marginal. Sudah begitu, menurut sang ustaz, di berbagai belahan dunia umat Islam berkonflik. Konflik politik di negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara merupakan bukti konkret rapuhnya ukhuwah islamiyah di dunia Islam.

Untuk menjawab pertanyaan yang dia ajukan, ustaz separuh baya itu mengutip sebuah hadis riwayat Al-Bazzar dan Thabrani yang isinya adalah banyak umat Islam salah menentukan mana yang prioritas dan mana yang bukan dalam menjalankan ibadah. Menurut penjelasan ustaz, prioritas ibadah yang didahulukan oleh umat islam seharusnya mencari ilmu dulu, agar memahami semua kegiatan ibadah yang dilakukan, sebagaimana arti lengkap hadis itu “Keutamaan ilmu lebih aku sukai daripada keutamaan ibadah, dan sebaik-baiknya agamamu adalah sifat wara’ (menjaga diri dari dosa)” (H.R. Al-Bazaar dan Thabrani). Ketika saya bertanya ilmu apa yang dimaksudkan dalam hadis itu, ustaz itu menjawab ‘ilmu agama’. Pasalnya, ilmu agama diturunkan oleh Allah ke Rasulullah SAW dan merupakan pengetahuan yang akan melandasi kehidupan keimanan dan moralitas seorang muslim. Melalui penguasaan ilmu agama, seseorang akan menjadi pribadi baik. Tetapi, lanjut ustaz itu, berbuat baik saja tidak cukup sebagai bekal hidup di dunia ini. Karena itu, setelah menguasai ilmu agama, seorang muslim harus segera mencari ilmu pengetahuan modern seperti sains dan teknologi sebagai piranti mengelola dunia dan seisinya.

Bermaksud meyakinkan saya, sang ustaz menambahkan penjelasannya dengan menyatakan betapa pentingnya ilmu-ilmu pengetahuan modern itu bagi umat Islam. Sebab, tanpa ilmu pengetahuan, umat Islam tidak akan pernah bisa maju. Karena itu, setelah menguasai ilmu pengetahuan agama, kewajiban bagi umat Islam adalah mempelajari dan menguasai ilmu pengetahuan, seperti kedokteran, kimia, fisika, matematika, ekonomi, humaniora, astronomi, teknik dan seterusnya.

Merujuk ke kemajuan peradaban Islam pada abad 8 hingga 16, ustaz itu memberikan bukti konkret peran para ilmuwan muslim saat itu seperti.  Ilmuwan muslim seperti Imam Al Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Farabi, dan seterusnya adalah orang yang menguasai sains dan menguasai ilmu pengetahuan agama pada saat yang sama. Tetapi mereka itu memulai dengan menguasai ilmu agama lebih dulu. Sosok semacam itu yang menjadikan Islam tidak saja sebagai pedoman hidup, tetapi juga sebuah peradaban manusia. “Berislam tidak saja bersyahadat, bersalat, berpuasa, berzakat, dan berhaji, tetapi juga berilmu pengetahuan’, begitu kata sang ustaz mantap.

Tetapi, katanya lebih lanjut,  umat Islam saat ini salah menentukan prioritas. Mereka berlomba-lomba mengejar penguasaan ilmu pengetahuan modern, sehingga melahirkan sosok manusia materialistis. Dampaknya lebih lanjut mereka mengejar kekayaan material. Padahal, Nabi sudah mengingatkannya 14 abad yang lalu sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud bahwa:

“Dikhawatirkan kalian nanti akan diperebutkan umat-umat lain dari segala penjuru seperti berebutnya pemakan di sekitar mangkuk”. Para sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kita pada saat itu sedikit, wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Tidak, bahkan kalian berjumlah banyak, akan tetapi kalian seperti buah air bah. Allah melenyapkan kewibawaan kalian dari hati-hati musuh kalian, dan Allah melemparkan wahn ke dalam hati kalian ”. Mereka bertanya lagi, “Apa wahn itu, wahai Rasulullah?”. Beiiau  menjawab , Cinta dunia dan takut mati” (H.R. Ahmad dan Abu Daud).

 

Peringatan Rasulullah itu sekarang menjadi kenyataan. Kecintaan umat Islam pada hal-hal yang bersifat duniawi telah menggeser kepentingan ukhrawi sehingga menjadi pandangan hidup (world view). Sebagai pandangan hidup, maka ia diperjuangkan mati-matian dengan berbagai cara, termasuk konflik dan perang sekali pun. Karena itu, di mana pun konflik yang terjadi di dunia Islam pangkalnya persoalan materi. Ustaz itu menunjuk konflik di berbagai negara di kawasan Timur Tengah, seperti Irak, Mesir, Tunisia, Libya, Bahrain, Yordania, Yaman, dst. Pangkal dari konflik di kawasan  itu adalah ketidakadilan sosial, politik dan ekonomi. Kecintaan umat Islam pada penguasan ilmu, terutama ilmu agama, sangat rendah. Karena itu, lembaga pendidikan agama kurang peminat, kecuali untuk beberapa bidang saja. Bahkan beberapa jurusan tertentu sama sekali tidak ada peminat dan ditutup. Sebaliknya, bidang-bidang sains dan teknologi diburu peminat yang membludak.

Akibat lebih lanjut rendahnya penguasaan ilmu agama di kalangan umat Islam adalah banyak di antara mereka menjalankan ibadah tanpa mengetahui maksudnya. Padahal, kata sang ustaz, beribadah tanpa tahu maksudnya, kecuali membaca alQur’an, tertolak. Mestinya urutannya adalah berilmu dulu, kemudian beramal dengan bekal ilmu yang telah dikuasai. Semua ibadah dalam Islam ada syarat dan rukunnya yang wajib diketahui.

Jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Pengajian itu diakhiri dan ustaz itu merangkum semua apa yang telah disampaikan sekaligus mengajak untuk merenungkan kondisi umat Islam saat ini dan mengkaji hadis Nabi di muka. Umat Islam yang menempati 20% populasi dunia seharusnya segera bangkit dengan cara menjalankan perintah agamanya sebagaimana disampaikan Rasulullah lewat hadis tadi agar memiliki nilai tawar tinggi. Umat Islam tidak boleh berlama-lama terpinggirkan seperti sekarang ini. Umat Islam harus menjadi bagian populasi yang dapat memainkan peran penting dalam percaturan dunia di berbagai bidang. 23% dari populasi dunia bukan jumlah sedikit. Jika populasi dunia saat ini mencapai 6,7 milyar, maka umat Islam berjumlah 1, 57 milyar. Jumlah umat Indonesia mencapai 203 juta, atau kurang lebih  13% jumlah umat Islam dunia, sehingga posisinya merupakan terbesar di dunia. Tetapi apa artinya jumlah tersebut jika mereka tidak berkualitas. Jumlah sedikit tetapi berkualitas akan lebih baik daripada jumlah besar tetapi bodoh. Ustaz itu menutup ceramahnya dengan mengutip ayat Al Qur;an (2: 249) yang terjemahannya:

“Berapa banyak terjadi  golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Ditambah pula dengan sebuah hadis “Patahlah punggungku gara-gara dua orang, yaitu orang berilmu yang menyeleweng dan orang bodoh yang banyak beribadah”. (H.R. Muslim).

Dari ayat dan hadis tadi dapat diambil sari betapa pentingnya penguasan ilmu, terutama ilmu agama, bagi umat Islam. Ini tidak berarti penguasaan ilmu pengetahuan umum tidak penting. Tetapi urutannya adalah pengetahuan ilmu agama harus lebih dahulu dipelajari, tidak sebaliknya dan apalagi tidak meguasai kedua-duanya. .

Sayang pengajian subuh yang begitu baik itu tidak diikuti oleh banyak jemaah. Umat Islam masih belum bisa menentukan mana ibadah yang diutamakan lebih dahulu dan mana yang kemudian. Ada hadis yang sangat jelas dan sering kita baca dan dengar bahwa salat subuh berjamaah di masjid memiliki pahala sama dengan salat sunah semalam suntuk. Sebagian besar umat Islam masih belum memahaminya. Mungkin sudah paham, tetapi berat untuk melakukannya. Karena itu, wajar jika di masjid-masjid jumlah jemaah salat subuh bisa dihitung dengan jari. Umat Islam pada umumnya sangat bersemangat membangun masjid, tetapi belum bersemangat mengisi dan meramaikan masjid dengan salat berjamaah pada waktu salat-salat wajib, lebih-lebih salat subuh yang memiliki keutamaan begitu besar.

__________

Bandung, 14 April 2011

Visits: 69
Today: 2

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *