Cetak Biru Kebudayaan Kota Malang (?)

Sejak terpilih dan akhirnya  dilantik sebagai Walikota dan Wakil Walikota Malang  periode 2013-2018 pada Jum’at, 13 September 2013, Walikota Abah Anton (begitu panggilan kesukaannya) dan Wawali Sutiaji hinga saat ini belum terdengar menyampaikan ke publik tentang  cetak biru  atau blue print pembangunan kota Malang dari sisi pembangunan budaya. Budaya macam apa yang hendak beliau berdua inginkan, setidaknya pada 5 tahun masa kepemimpinannya, tentu telah ditunggu-tunggu oleh masyarakat Malang, khususnya para pecinta, pemerhati dan penggiat kebudayaan. Sebenarnya, sebagai walikota baru, Abah Anton bisa saja menggunakan cetak biru pembangunan budaya yang telah dibuat oleh walikota-walikota sebelumnya, tentu dengan melakukan revisi di sana sini karena konteksnya sudah berbeda dari keadaan masa lalu.  Tetapi jika belum ada, para seniman, budayawan, pecinta,  dan penggiat, serta pengkaji budaya dan  seni yang ada di kota Malang serta para akademisi di fakutas-fakultas seni dan budaya atau sastra di beberapa perguruan tinggi di kota Malang   bisa diundang untuk membuat cetak biru pembangunan budaya yang memuat wajah budaya macam apa yang diinginkan, program prioritas apa saja yang dirasa sangat mendesak  dan bagaimana strategi untuk mencapainya. Itulah yang disebut sebagai cetak biru kebudayaan.

Upaya tersebut memerlukan “political will” dari Abah Anton beserta seluruh jajaran pemerintahannya. Syukur jika cetak biru tersebut merupakan Road Map berjangka panjang (setidaknya hingga 25 tahun yang akan datang)  sehingga generasi ke depan  bisa melihat sekaligus memahami wajah budaya yang  diinginkan oleh para generasi sebelumnya agar tidak salah arah. Pertanyaannya seberapa penting atau urgenkah cetak biru pembangunan  budaya bagi suatu masyarakat?  Menurut saya sangat penting, sebab jika tidak ada cetak biru kebudayaan, pembangunan yang hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi akan sangat berbahaya. Bisa-bisa masyarakat akan pelan-pelan kehilangan identitas diri. Selama ini kita bisa belajar dari praktik pembangunan yang mengandalkan pertumbuhan ekonomi ternyata gagal menjadikan masyarakat sejahtera secara keseluruhan. Kesejahteraan ekonomi ternyata hanya dinikmati segelintir orang.

Secara naluriah, tidak ada masyarakat yang tidak ingin hidupnya sejahtera atau bahagia. Dan, adalah salah satu tugas pemerintah untuk membahagiakan atau menyejahterakan masyarakatnya. Kebahagiaan atau kesejahteraan tidak hanya dilihat dari tolok ukur keberhasilan pembangunan ekonomi semata yang ditunjukkan dengan meningkatnya angka pendapatan masyarakat dan pembangunan fisik berupa bertambahnya sarana dan prasarana pembangunan, tetapi juga pembangunan budaya berupa tata nilai yang dikembangkan dan sekaligus dianut oleh setiap anggota masyarakat. Sayangnya, pemerintah lebih suka menggunakan dua tolok ukur yang pertama (pendapatan ekonomi dan pembangunan fisik) karena mudah diukur, sedangkan pembangunan budaya sulit diukur karena bersifat abstrak. Lihat saja laporan para kepala daerah di akhir tahun atau akhir masa jabatan jarang sekali yang menampilkan keberhasilan pembangunan budaya sebagai variabel tak terpisahkan dari pembangunan secara keseluruhan. Para kepala daerah (bupati, walikota, gubernur) lebih suka dan sangat bangga memaparkan hasil-hasil pembangunan ekonomi dan sarana fisik pada masa kepemimpinannya melalui  data statitsik. Itu memang tidak salah, tetapi belum cukup keberhasilan pembangunan diukur semata dari sisi pertumbuhan pembangunan fisik.

Sebagai kota berukuran menengah yang tumbuh sangat pesat, dari sisi budaya kota Malang memiliki daya tarik tersendiri. Dengan begitu banyaknya jumlah perguruan tinggi baik negeri maupun swasta sehingga menarik banyak mahasiswa dari luar daerah, udara yang sangat sejuk sehingga membuat banyak orang untuk memiliki tempat tinggal di Malang, beaya hidup yang relatif rendah, lembaga-lembaga pendidikan (mulai tingkat dasar, menengah, atas, hingga perguruan tinggi) yang berkualitas, peroleh Travel Club Tourism Award 2013 sebagai kota dengan kinerja pariwisata terbaik, sarana-sarana umum yang memadai dan sebagainya menjadikan Malang sebagai kota dengan keanekaragaman budaya. Lembaga pendidikan bertaraf internasional juga mulai tumbuh dan jaringan kerjasama internasional oleh berbagai lembaga memperkaya khasanah budaya kota dingin ini.

Malah ada budaya khas di kalangan anak-anak muda kota Malang, yakni bahasa “walikan”  yang tidak  dimiliki oleh masyarakat lain sebagai sarana komunikasi, seperti “kera ngalam” (maksudnya “arek Malang”), “kadit niam” (maksudnya “tidak main”), “komes” (maksudnya “semok”), “kewut” (maksudnya “tuwek”), dan seterusnya. Bahasa walikan khas Malang ini memiliki komunitas tersendiri, terutama di kalangan anak-anak muda. Suatu kali anak saya yang waktu itu masih di SMA berkomukasi dengan teman-temannya menggunakan bahasa walikan. Semula saya tidak paham bahasa apa yang ia gunakan dengan teman-temannya itu. Setelah saya mendengarkan dengan cermat saya temukan mereka menggunakan bahasa walikan yang diucapkan dengan sangat cepat agar orang di luar komunitasnya tidak bisa memahaminya.

Selain itu, ada juga budaya “bonek” alias “bondo nekat” sebagai ciri khas semangat pantang menyerah dalam semua hal, kendati tidak cukup memiliki modal. Semua masyarakat di negeri ini tentu telah mengenal bahwa istilah “bonek” berasal dari Malang. Awalnya dipakai di kalangan penggemar klub sepakbola asal Malang yang diberi nama Arema. Kenekatan klub Arema dalam bertanding  dan para penggemarnya  yang memberi dukungan secara total – kendati dengan modal pas-pasan—menambah kekhasan budaya warga kota Malang.

Bahasa walikan dan budaya bonek tersebut, menurut hemat saya, hingga hari ini luput dari perhatian pemerintah  kota Malang. Padahal, keduanya merupakan budaya asli warga kota Malang dan jika mampu dikelola dengan baik, bisa menjadi kekuatan tersendiri dalam pembangunan kota Malang secara keseluruhan.  Selain itu, pentingnya mengokohkan budaya asli dimaksudkan agar warga kota Malang tidak sekadar menjadi penganut dan penggembar budaya asing yang terus masuk, sebagaimana yang terjadi saat ini.

Belum adanya cetak biru kebudayaan kota Malang sangat mengkhawatirkan, karena bisa berakibat terjadinya krisis kebudayaan di mana masyarakat kehilangan jati diri yang ditandai dengan sikap mudah ikut-ikutan setiap ada budaya dan gaya hidup baru yang masuk. Sadar atau tidak krisis kebudayaan itu saat ini telah terjadi di masyarakat kita. Contohnya, gaya hidup, model berpakaian, gaya potong rambut, gaya makan, pandangan tentang hidup, cara  menghibur diri,  dan sejenisnya meniru gaya dan model Barat secara total akibat perubahan masyarakat dunia yang begitu cepat.  Bahkan belakangan, tidak saja budaya Barat yang terus masuk , tetapi juga budaya pop Korea tak  ketinggalan merambah kehidupan remaja. Karena itu  bisa dibayangkan bahwa masyarakat kita akan terus digerus oleh berbagai macam ragam budaya yang masuk, sehingga kompleksitas budaya akan tumplek blek merasuk dalam kehidupan dunia, terutama bagi para remaja.

Jika hal ini terus terjadi dan tidak ada upaya mengelola perubahan itu dengan baik melalui cetak biru kebudayaan kita sendiri, maka masyaraat kita akan menjadi terasing justru di negerinya sendiri. Itulah saat di mana petaka kebudayaan telah terjadi, dan tentu kita tidak menginginkannya. Sebab, selain identitas diri hilang, masyarakat menjadi tidak yakin terhadap eksistensi dirinya di tengah-tengah pergaulan masyarakat dunia yang terus berubah.

Karena itu, mumpung masih di masa-masa awal pemerintahannya, Abah Anton dan wakilnya, Pak Sutiaji, untuk segera menyusun cetak biru kebudayaan jika krisis kebudayaan tidak ingin benar-benar terjadi. Saya yakin sebagai pemimpin, Abah Anton dan Pak Sutiaji tentu ingin dicatat sebagai pemimpin yang berhasil dalam memimpin masyarakat yang telah mempercayainya, dan karena itu jangan kehilangan momen untuk membangun masyarakat kota Malang secara komprehensif, termasuk dari sisi budaya.

___________

Makasar, 9 Maret 2013

Visits: 131
Today: 2

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *