PENELITI ITU BUKAN WARTAWAN ATAU PETUGAS SENSUS

Minggu lalu, saya menguji  disertasi pada ujian tertutup mahasiswa S3 Bidang Studi Manajemen Pendidikan di Program Pascasarjana sebuah Universitas. Selain saya, ada enam penguji  lain, sehingga semuanya berjumlah tujuh  orang penguji, termasuk promotor dan ko-promotor. Masing-masing penguji diberi kesempatan  bertanya pada bagian-bagian yang telah ditentukan oleh ketua sidang,  ada yang bagian substansi, metodologi, teori, bahasa  dan hal-hal teknis menyangkut teknik penulisan karya ilmiah.  Ujian dimulai  pukul 09.00 WIB, dan berlangsung  sekitar 2,5 jam,  diawali dengan pemaparan hasil penelitian secara ringkas oleh mahasiswa calon doktor dalam waktu 15 menit. Ketika memaparkan hasil penelitiannya, mahasiswa itu lancar-lancar saja dan tampak percaya diri. Saya merasa senang karena ujian akan berjalan mulus dan tidak bertele-tele.

Usai pemaparan,  pertanyaan dari para penguji dimulai.  Satu demi satu pertanyaan bisa dijawab dengan baik. Tetapi  ketika sampai penguji ketiga yang menanyakan masalah metode penelitian, melingkupi paradigma, pendekatan, metode dan jenis penelitiannya, mahasiswa itu mulai grogi. Lebih-lebih katika menyangkut bagian analisis data, mahasiswa itu mulai kedodoran karena  dianggap kurang mendalam dan datanya kurang memadai sehingga tidak menghasilkan temuan apa-apa. Padahal karya ilmiah setingkat disertasi harus menyumbang ilmu pengetahuan di bidang yang diteliti berupa konsep, syukur bisa menghasilkan teori, yang bisa dimanfaatkan dalam kehidupan nyata  (Burns, 1991: 18). Hasil penelitian mahasiswa bidang manajemen pendidikan, misalnya,  diharapkan bisa berkontribusi nyata bagi pengembangan ilmu manajemen pendidikan. Begitu juga bidang-bidang yang lain diharapkan  menyumbang ilmu pengetahuan baru di bidang yang diteliti, sehingga ilmu pengetahuan semakin hari semakin berkembang karena kontribusi para peneliti. Itu hakikat penelitian, selain untuk memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi manusia, juga untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Karena tidak memberikan sumbangan pengetahuan yang berarti, dan hanya bersifat deskriptif, penguji ketiga itu  spontan mengatakan karya mahasiswa itu  belum layak disebut disertasi. Lebih lanjut penguji itu mengatakan “anda kok seperti wartawan, karena hanya memaparkan data tanpa analisis mendalam. Padahal, peneliti itu tidak sama dengan wartawan atau petugas sensus penduduk”.  “Kalau anda seorang wartawan atau petugas sensus, karya ini bisa dianggap cukup. Tapi anda peneliti untuk menyusun disertasi yang tidak cukup hanya dengan mendeskripsikan data, tetapi menganalisis secara mendalam, apalagi ini penelitian kualitatif”, tambah sang penguji dengan nada agak kecewa. Mendengar ucapan penguji seperti itu, mahasiswa itu  tampak pucat dan jawabannya mulai tidak fokus. Tetapi ujian tetap berlangsung  dan hasilnya mahasiswa  diberi waktu dua bulan untuk melakukan revisi total. Setelah itu, jika yang bersangkutan sudah siap akan dilakukan ujian lagi. Ujian itu dianggap sebagai pra-ujian tertutup.

Usai ujian, saya merenungkan ucapan penguji itu. Dia  benar bahwa peneliti tidak sama dengan wartawan atau petugas sensus. Saya pun setuju dengan penilaian itu.  Sebab, disertasi mahasiswa itu memang hanya  memaparkan sejarah sekolah, visi dan misi sekolah, jumlah staf, jumlah siswa, jumlah prestasi yang diperoleh yang ditandai oleh  banyaknya trofi yang ada, jumlah buku perpustakaan, dan beberapa informasi dari hasil wawancara dengan kepala sekolah dan wakilnya. Padahal, mahasiswa itu maunya meneliti tentang manajemen mutu yang dikembangkan oleh sekolah tersebut. Menurutnya, dengan banyaknya trofi yang diperoleh sekolah itu dianggap bermutu. Praktis, mahasiswa itu sejatinya tidak pernah mengumpulkan data, layaknya seorang petugas sensus penduduk. Sebab, semua yang dipaparkan dan oleh dia dianggap sebagai data itu terpampang di dinding kantor sekolah itu. Dengan hanya mengambil data seperti itu, mahasiswa itu tak ubahnya seorang petugas sensus.

Antara peneliti dan wartawan atau petugas sensus ada persamaan, yaitu sama-sama mencari data. Latief (2012: 1-6) menggambarkan wartawan mengamati, merekam peristiwa dan kemudian melaporkan kepada publik. Wartawan tidak menganalisis dan mencari temuan. Produk kegiatan wartawan adalah berita yang berisi deskripsi  hasil pengamatan. Lebih lanjut, menurut Bogdan, R.C dan Biklen,S.K, (dalam Latief, 2012: 1)

“Journalists  tend to be more interested in particular events and tend to have a bias toward the newsmaker. They do not analyse the data. They do not address their findings to the theoretical questions”.

 

Sering pula terjadi penyampaian berita wartawan  sangat bias, karena tergantung ideologi atau frame medianya, sehingga dianggap tidak objektif. Peristiwa yang sama bisa disajikan dengan cara berbeda di media berbeda.  Itulah yang disebut bias. Petugas sensus hanya melaporkan data yang diperoleh secara deskriptif, justru tidak boleh melakukan penafsiran atau analisis.

Sedangkan peneliti adalah ilmuwan. Sebagai ilmuwan, tugasnya mengamati peristiwa, mengumpulkan data, menganalisis, dan akhirnya menyimpulkan dari apa yang telah dikumpulkan dan mencari makna dari peristiwa yang telah diamati untuk selanjutnya disampaikan ke publik seobjektif mungkin dalam bentuk laporan penelitian. Yang dimaksud objektif adalah peneliti tidak boleh memiliki kepentingan pribadi (self-interest) dengan hasil penelitian. Apapun yang terjadi, peneliti harus netral dan membiarkan data yang bicara (let data speak). Yang disampaikan ke publik berupa jawaban atas pertanyaan yang diajukan berupa pola, hukum, rumus, proposisi sebagai penjelas atas suatu peristiwa atau fenomena. Agar datanya objektif, maka peneliti melakukan pengamatan atau wawancara dengan informan secara berulang-ulang.

Untuk sampai ke kesimpulan, seorang peneliti harus mengumpulkan data selengkap mungkin agar kesimpulannya tidak bias. Malah, dalam tradisi metode penelitian kualitatif salah satu syarat ukuran kualitasnya adalah ketersediaan data yang cukup (thick description of data). Peneliti jangan sampai kekurangan data. Jika datanya kurang, hampir pasti kesimpulannya tidak dapat dipertanggungjawabkan alias tidak kredibel.

Masalahnya siapa yang dapat mengukur data cukup atau belum?  Yang dapat mengukur ketercukupan data adalah peneliti itu sendiri. Oleh sebab itu, khususnya dalam metode penelitian kualitatif, peneliti sendiri adalah instrumen utamanya, sehingga dia sendiri pula yang bisa mengukur apakah data penelitiannya sudah cukup atau belum. Jika dirasa belum cukup, peneliti wajib mengumpulkan data lagi secara terus menerus hingga mencapai titik jenuh atau yang disebut dengan “saturation step”. Itu sebabnya penelitian kualitatif biasanya  memakan waktu lebih lama daripada penelitian kuantitatif , karena peneliti bisa berulang kali datang ke lapangan untuk melengkapi data dengan bertemu informan atau mengamati peristiwa beberapa kali.

Ukuran kejenuhan adalah ketika peneliti sudah memperoleh jawaban yang sama  terhadap pertanyaan yang diajukan ke beberapa informan.  Sebaliknya, ketika peneliti masih memperoleh jawaban yang berbeda-beda dari informan maka peneliti harus hati-hati bahwa pengumpulan data belum bisa diakhiri. Dengan menggunakan teknik snow balling, peneliti wajib terus mengejar pertanyaan ke subjek atau  informan lagi. Pada tahap ini,  peneliti diuji apakah dia jujur atau tidak. Andai saja dia berhenti pada tahap jawaban masih berbeda-beda tidak ada orang yang tahu. Pembimbing pun tidak akan pernah tahu jika mahasiswanya berbohong.

Tetapi yang pasti hasil penelitian seperti itu  sangat berbahaya karena menyesatkan. Lebih-lebih jika hasilnya dipakai sebagai dasar untuk mengambil kebijakan publik. Tentu akan berdampak membawa korban. Jika itu terjadi, maka peneliti telah berkianat terhadap misi ilmu pengetahuan yang senantiasa mengedepankan kejujuran. Sebab, pada hakikatnya semua ilmu pengetahuan, apapun  namanya, bertujuan untuk kemaslahatan umat manusia. Untuk itu peneliti dituntut kejujuran ( a researcher must be an honest person) .

Tidak cukup dengan data yang memadai, peneliti masih mendialogkan hasil penelitian dengan teori-teori yang terkait dengan fenomena yang diteliti yang lazimnya ditulis pada bab Kajian Pustaka. Di sinilah gunanya kajian pustaka yang berisi teori, konsep atau pandangan para ahli pada tema atau topik yang diteliti. Lewat kajian pustaka, peneliti akan tahu siapa bicara atau pernah meneliti apa, di mana dengan hasil apa. Kajian pustaka hakikatnya memberikan wawasan kepada peneliti tentang topik yang dibahas dan sekaligus untuk memperoleh informasi baru yang disebut sebagai “state of the arts”. Logikanya sederhana. Karena penelitian itu dimaksudkan untuk menyumbang pengetahuan baru, bagaimana mungkin itu bisa dilakukan jika peneliti tidak mengetahui pengetahuan apa yang akan disumbang dengan cara merevisi, menghaluskan, menambah, hingga menolak teori atau konsep-konsep sebelumnya. Itu sebabnya, sebagai ilmuwan peneliti senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.  Borg, Walter R., dan Gall, Meredith D. (1989: 116) menyatakan:

”The review of literature provides you with the means of getting frontier in your particular field of knowledge. Until you have learned what others have done and what remains still to be done in your area, you cannot develop a research project that will contribute to furthering knowledge in your field. Thus the literature in any field forms the foundation upon which all future work must be built. If you fail to build this foundation of knowledge provided by the review of the  literature, your work is likely be shallow and naive, and will often duplicate work that has already been done better by someone else”.

 

Sayangnya sering kali terjadi kajian pustaka hanya menjadi hiasan atau ornamen untuk menambah ketebalan karya ilmiah,  Yang lebih parah, yang dibahas dalam kajian pustaka sama sekali tidak relevan dengan topik atau tema besar penelitian. Sebenarnya mudah untuk mengukur apakah kajian pustaka itu benar atau salah, ialah dengan cara menjawab pertanyaan apakah setelah membaca kajian pustaka itu peneliti memperoleh tambahan wawasan terhadap masalah yang diteliti secara teoretik. Jika tidak, maka kajian pustaka masih perlu dibenahi lagi.

Tidak saja analisisnya begitu dangkal, kajian pustaka pada disertasi yang  diujikan  juga kurang menyumbang secara teoretik pada bidang ilmu sesuai minat mahasiswa yang bersangkutan, yaitu manajemen pendidikan.  Bab kajian pustaka terdiri dari banyak halaman sehingga menjadi sangat tebal, tetapi tidak punya makna apa-apa kecuali hanya menambah ketebalan sehingga banyak disertasi berbobot (karena sangat tebal), tetapi tidak berkualitas.

Singkat kata, kendati disebut disertasi — karena ditulis oleh mahasiswa program doktor (S3) – sejatinya karya ilmiah itu belum memenuhi syarat sebagai disertasi karena alasan-alasan di atas, yaitu data tidak memadai, analisis kurang dalam karena hanya bersifat deskriptif, kajian pustaka tidak membahas teori yang terkait dengan masalah yang diteliti/ingin dijawab, dan tidak ada sumbangan ilmu pengetahuan pada bidang ilmu sesuai minat mahasiswa yang bersangkutan (manajemen pendidikan).

Semoga uraian di atas dapat  menambah wawasan bagi mahasiswa penyusun karya ilmiah, khususnya para penulis disertasi dan  peneliti.

____________

Pasir Putih, Situbondo, 29 Maret 2014.

 

Daftar Pustaka

Borg, Walter R., dan Gall, Meredith D., 1989. Educational Research:

An Introduction. London: Longman Group Ltd.

Burns, Robert B. 1991. Introduction to Reserach Mathods in

Education. Melbourne: Longman Cheshire.

Latief, Mohammad Adnan. 2012. Tanya Jawab METODE PENELITIAN

Pembelajaran  Bahasa. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang (UM Press).

 

 

Visits: 126
Today: 2

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *