“AKU” YANG SAYA KENAL

Bagian I

Seiring dengan perjalanan waktu dan bertambahnya usia, saya sering berkontemplasi tentang makna kehidupan dan perjalaan hidup ini. Di tengah-tengah kontemplasi itu, muncul pertanyaan yang agak aneh, karena saya tiba-tiba bertanya dalam kalimat tanya sederhana, “aku” – bukan saya — ini siapa?”. Mungkin bagi sebagian orang pertanyaan tersebut membingungkan karena saya membedakan antara “aku” dan “saya”. Sekilas “aku” dan “saya” punya arti yang sama, tetapi sebenarnya bisa beda. “Aku” hadir dalam sikap keegoan, sedangkan “saya”  lebih bersifat egaliter. Di antara sikap ego”ku” itu adalah bagaimana saya memaknai hidup ini.

 

Bagiku, hidup ini adalah sebuah perjuangan berat dan panjang. Karena itu, wajar jika ada orang yang perjalanan hidupnya mulus, dalam arti tidak banyak rintangan untuk menggapai cita-citanya. Tetapi sebaliknya, ada pula yang sulit, bahkan amat sangat sulit, sehingga hidup terasa sangat berat. Tidak sedikit pula yang putus asa. Semua itu tergantung pada bagaimana masing-masing memaknai dan memperjuangkan kehidupannya sendiri. Tingkat keberhasilan dan kegagalan dalam hidup juga sangat tergantung pada tingkat perjuangannya. Dan, itu wajar. Selain perjuangan, hidup juga  merupakan bentangan pengalaman panjang. Di antara pengalaman itu ada yang sangat manis, ada pula yang pahit. Semua menjadi satu dan mewarnai perjalanan hidup seseorang, termasuk saya.

Di antara warna-warni kehidupan itu ada yang sempat saya tulis, tetapi ada yang hanya tertuang dalam hati, sehingga meminjam istilah Michael Polanyi menjadi “an unarticulated knowledge” (pengetahuan tak terungkap). Ada yang lama tertanam,  ada pula yang mudah terlupakan dan hilang begitu saja tanpa ada bekas sedikitpun. Yang membekas biasanya adalah  pengalaman atau peristiwa yang ekstrim dan fenomenal.

Saya sering menggunakan waktu luang  untuk membaca apa saja; seperti koran, buku, majalah yang ringan-ringan dan apa saja yang ada atau tersedia di mana saya berada, Bahkan ketika di dalam pesawat, saya sering membaca buku “company profile” maskapai penerbangan. Beberapa kali saya minta ijin pramugari untuk membawa pulang buku yang saya baca itu karena ada tulisan yang cukup menarik. Misalnya, kiat hidup sehat, cara berkomunikasi yang efektif, kiat menuju sukses dan sebagainya. Pokoknya, di benak saya waktu itu anugerah Tuhan yang luar biasa yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dan yang lewat tidak pernah akan kembali.

Saya termasuk orang yang sangat ketat dalam urusan waktu dan karenanya tidak mau waktu berlalu begitu saja. Jika waktunya mengajar, saya jarang sekali terlambat, kecuali iba-tiba ada urusan mendadak. Itupun terasa ada sesuatu yang menggajal jika datang terlambat, kendati bisa dimaklumi. Di waktu-waktu normal, saya datang beberapa menit sebelum perkuliahan dimulai. Kedisiplinan saya dalam hal waktu membuat sebagian mahasiswa, terutama yang belum mengenal saya, sempat kaget. Begitu juga dalam rapat-rapat dinas, saya berusaha untuk disiplin dengan datang ke tempat rapat sebelum waktunya sehingga rapat bisa dimulai tepat waktu. Seperti halnya mahasiswa, para staf dan kolega saya juga sempat terkejut dengan kedisiplinan saya menggunakan waktu.

Karena bagi saya waktu itu begitu mahal,  saya orang yang paling tidak suka ngobrol ke sana ke mari berlama-lama dengan siapa saja tanpa ada topik yang jelas untuk dibahas. Bagi saya, waktu adalah dimensi yang tidak akan pernah terulang. Satu detik yang telah lewat saja tidak akan pernah kita mampu mengembalikannya, apalagi jam, hari, bulan, dan tahun. Karena itu, betapa pentingnya memanfaatkan waktu yang tersedia untuk mengisi kehidupan ini.  Maka dari itu, ada orang-orang sukses, setengah sukses, dan ada pula yang gagal, bahkan gagal total. Pada hal, waktu yang tersedia untuk semua orang sama, yakni 24 jam sehari. Bedanya ialah di antara mereka ada yang pandai memanfaatkan waktu dengan baik, dan ada pula yang melewatkannya begitu saja. Tetapi ada pula yang menggunakannya dengan setengah-setengah.

Rasa ingin tahu saya tentang “aku”  ini terus menggoda hati, karena ternyata saya lebih tahu tentang  “orang lain” daripada tentang diri”ku” sendiri. Orang lain yang saya maksud ialah keluarga, kawan, kolega di kantor serta mahasiswa yang saya ajar. Pengetahuan saya “tentang” mereka itu terwujud dalam kata-kata penilaian. Ada yang malas, rajin, baik hati, jahat, pinter, ceroboh, tulus, setia, dan tidak sedikit pula yang berwajah ganda. Bahkan kepada mahasiswa, pengetahuan saya tentang mereka saya wujudkan dalam angka atau huruf penilaian, ada yang lulus dengan nilai A, B, atau C. Ada pula yang gagal, sehingga memperoleh nilai D atau E.

Saya sungguh khawatir jika penilaian saya tentang mereka itu tidak benar. Apa jadinya. Sebab, itu penilaian subjektif. Tetapi bagaimanapun, saya telah menjatuhkan penilaian “tentang” mereka. Ini aneh mengapa saya lebih tahu tentang “mereka” ketimbang tentang “diriku”.

Saya memiliki latar sosial kehidupan sangat sederhana. Terlahir di sebuah desa pedukuhan kecil ujung barat Kabupaten Blitar. Desa sebelah saya sudah masuk wilayah Kabupaten Tulungagung. Makanya, ketika kecil saya lebih sering main dan bahkan sempat ngaji di sebuah pondok salaf di Tulungagung sebagai santri kalong, artinya santri yang tidak mondok. Orangtua saya petani sederhana, tetapi untuk ukuran desa tidak tergolong miskin karena memiliki beberapa petak sawah dan beberapa ekor sapi.

Di desa saya, keluarga yang punya sawah, beberapa ekor sapi, rumahnya menggunakan kayu jati sudah tergolong kaya. Orang miskin didefinisikan sebagai orang yang tidak punya sawah sama sekali, tidak punya binatang piaraan, seperti sapi atau kerbau, pekerjaannya buruh dan rumahnya tidak terbuat dari kayu jati.

Tidak seperti anak-anak pada umumnya yang diasuh oleh orangtuanya sejak kecil,  saya diasuh oleh nenek, orangtua dari ayah saya. Awalnya adalah karena saya keburu punya adik.  Istilah dalam bahasa Jawa disebut “kesundulan”. Tradisi di daerah saya, jika ada anak yang kesundulan, maka pengasuhan anak itu diambil alih,  bisa  oleh nenek atau saudara dekat. Secara kebetulan, saya diasuh oleh nenek dan kakek begitu adik saya lahir. Karena itu, saya tidak pernah merasa hidup dalam belaian kasih sayang ibu dan ayah kandung saya sendiri, sehingga tidak merasa dekat dengan beliau berdua.

Dalam kenyataannya, nenek saya jauh lebih dominan mengasuh saya daripada kakek. Tetapi sekarang saya merasakan ada hikmah penting di balik pengasuhan nenek itu. Nenek saya yang buta huruf dan tidak pernah sekolah itu sangat disiplin dalam mengasuh saya. Tidak segan-segan beliau menghukum saya secara fisik jika saya menolak perintahnya.

Saya diajari hidup teratur, tidur, bangun tidur, makan, bermain, bekerja semua diatur secara ketat, sehingga saya sering protes karena tidak seperti teman-teman desa sebaya yang lebih bebas. Jika malam tiba, nenek saya sering menemani saya belajar dengan lampu “ublik” ala kadarnya, karena waktu itu belum ada listrik. Saya sering diminta membaca pelajaran dengan keras, sehingga nenek itu bisa mendengarkan. Maklum dia tidak bisa baca tulis, karena memang tidak pernah sekolah. Walaupun tidak sekolah, rasa ingin tahu (curiousity) nya tentang segala sesuatu sangat tinggi.

Saya juga diajari bekerja di sawah sebagaimana anak-anak desa pada umumnya. Tak ketinggalan saya juga diberi tanggung jawab untuk memelihara seekor sapi, sehingga setiap hari juga harus mencarikan makanan rumput. Saya tidak pernah merasa itu beban berat, karena begitulah kegiatan sehari-hari warga desa.

Di samping diajak melakukan aktivitas sebagaimana warga desa pada umumnya, saya juga dikenalkan ilmu agama. Setiap hari sekitar jam 16 sampai jam 19,  kecuali Jum’at,  saya diantar nenek itu ke masjid yang agak jauh dari rumah saya dengan berjalan kaki untuk mengaji di seorang kyai desa kerabat dekat nenek. Paginya sekolah di SD seperti biasa.  Alhamdulillah sang kyai itu sekarang masih sehat wal afiat dan masih sering saya kunjungi.  Malamnya diambil untuk diajak pulang. Kegiatan ini berlangsung beberapa tahun hingga saya meninggalkan desa karena sekolah di kota (Blitar). Kegiatan itu juga sempat saya protes, karena teman-teman sebaya saya tidak ada yang diperlakukan oleh orangtuanya seperti itu.

Malah saya ingin pergi meninggalkan nenek yang menurut saya itu kejam. Tetapi saya tidak tahu akan pergi ke mana, karena keluarga kami tergolong kecil, artinya tidak banyak saudara. Ayah saya hanya dua bersaudara, yang tinggalnya di sebelah rumah nenek tempat saya tinggal. Kembali ke orangtua tidak mungkin, karena tidak kerasan. Maklum, karena sejak usia 1 tahun sudah diasuh nenek.

Kendati tidak merasa nyaman karena dipaksa mengaji,  di tempat mengaji saya memperoleh perhatian khusus sang kyai. Saya dianggap mudah belajar dan bisa menirukan lantunan ayat-ayat suci al Qur’an yang dibaca sang kyai  dengan baik. Karena itu, pak kyai itu sering menasehati saya agar melanjutkan sekolah dan menggapai cita-cita setinggi langit. Pak kyai itu pula yang sering mengarahkan agar nenek saya sanggup membiayai untuk melanjutkan sekolah seteleh lulus SD. Sebab, di desa saya ketika itu lulus SD sudah pada dinikahkan. Kawan-kawan saya di SD sudah pada menikah usia 12 – 13 tahun.  Karena itu, sekarang sudah pada punya banyak cucu, bahkan kabarnya sudah ada yang bercicit.

Karena arahan sang kyai itu, nenek saya sanggup membeayai sekolah saya dengan melanjutkan pendidikan di SMP yang ada di desa sebelah. Hal yang sama terjadi di SMP. Melihat potensi akademik saya, beberapa guru SMP saya menemuai nenek saya agar setelah lulus SMP saya bisa melanjutkan sekolah ke tingkat di atasnya. Kali ini nenek mulai ragu tentang beaya sekolah hingga SMA. Tetapi karena dorongan para guru dan kyai itu, nenek pun luluh dan saya dibeayai untuk melanjutkan sekolah setelah lulus SMP.

Nenek setuju  saya melanjutkan sekolah, tetapi apa sekolahnya, SMA, SPG, atau STM. Keluarga saya rapat untuk menentukan pilihan. Rapat itu menentukan saya boleh melanjutkan asal ke STM (Sekolah Teknologi Menengah) atas saran beberapa guru SMP saya, terutama Kepala Sekolahnya.  Alasannya, kalau SMA setelah lulus belum bisa bekerja, SPB juga tidak ada jaminan bisa bekerja setelah lulus. Maka pilihannya adalah STM. Saya pun masuk STM di Blitar dan mengambil jurusan Teknik Sipil.

Di STM semua berjalan dengan lancar dan berkat ketekunan dan kediplinan saya – yang saya peroleh sejak di desa – saya menjadi lulusan terbaik. Karena terbaik itu, kepala sekolah STM meminta ayah saya – yang datang ketika acara kelulusan, seperti wisuda saat ini, untuk bisa melanjutkan sekolah dengan kuliah di Malang. Pilihannya antara IKIP dan Universitas Brawijaya. Berita itu dibawa oleh ayah saya ke nenek. Kali ini nenek saya tegas-tegas menolak dan tidak sanggup membiayai kuliah, karena beaya pasti banyak dan bisa-bisa jual tanah untuk beaya itu. Tetapi saya teringat di tengah-tengah penolakan itu, nenek mempersilahkan saya kuliah asal sanggup membeayai sendiri.

Saya tidak tahu apa yang terjadi dalam batin saya bahwa saya sanggup kuliah dengan mencari beaya dan penghidupan sendiri asal direstui. Kenekatan saya itu ternyata meluluhkan hati nenek dan keluarga saya. Dengan bekal apa adanya, saya pun meninggalkan desa kelahiran saya menuju Malang untuk kuliah di IKIP Malang. Karena lulusan STM, maka saya mendaftarkan diri  masuk Fakultas Keguruan Teknik (FKT) dengan memilih Jurusan Teknik Sipil. Ternyata di jurusan ini saya merasa tidak nyaman setelah dipengaruhi oleh teman kos, yang baru saja lulus dari Jurusan Bahasa Inggris. Tidak henti-hentinya dia mempengaruhi saya agar bisa masuk ke Jurusan Bahasa Inggris, karena sebagai bahasa internasional, peran bahasa Inggris semakin dominan. Saran itu masuk dalam hati. Dan, benar 1 tahun saya pakai untuk mempersiapkan diri belajar bahasa Inggris dengan kuliah sore hari di Akademi Bahasa Asing (ABA) Malang.

Tahun berikutnya, tepatnya tahun 1979, saya mendaftarkan diri masuk Jurusan Pendidikan Bahasa  Inggris, dan alhamdulillah diterima. Di jurusan baru ini saya bekerja keras dan tekun hingga memperoleh beberapa prestasi.  Usai lulus dari Jurusan Bahasa Inggris, IKIP Malang, saya segera bekerja di berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Malang, bahkan hingga menjadi dosen di IPB Bogor. Studi lanjut pun saya teruskan ke S2 (Universitas Muhammadiyah Malang) dan S3 (di Universitas Airlangga Surabaya). Di studi pasca (S2), ketekunan saya tetap terpelihara, hingga menjadi lulusan terbaik. Di S3, kendati tidak menjadi terbaik, saya menjadi lulusan pertama di angkatan saya, program studi ilmu-ilmu sosial. Dari sini saya puas, karena filsafat hidup saya tercapai, yaitu “Be the first or the best”. Artinya, dalam hidup yang sementara ini, kita harus bisa meraih prestasi terbaik, jika tidak bisa menjadi yang terbaik, jadilah yang pertama. Sebaliknya, jika tidak bisa menjadi yang pertama, jadilah yang terbaik, syukur bisa meraih kedua-duanya pada saat yang bersamaan. Kendati itu tidak mudah, ada juga orang yang bisa meraih keduanya di saat yang sama.

____________

Visits: 116
Today: 2

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *