PENELITIAN KUANTITATIF VERSUS KUALITATIF

Perbedaan dua jenis metode penelitian, kuantitatif dan kualitatif, tidak habis-habisnya dibahas dan didiskusikan banyak orang. Memang ada rasa keasyikan tersendiri untuk mendalami keduanya. Para pakar juga sudah menulis banyak buku mengenai kedua jenis metode penelitian tersebut. Sebagai peminat metodologi penelitian, khususnya kualitatif, tak ketinggalan saya juga sering menerima pertanyaan mengenai hal itu, baik dari mahasiswa maupun masyarakat umum, yang berminat di bidang metodologi penelitian.

 

Jika perbedaan kedua jenis penelitian tersebut ditulis secara rinci, bisa saja dihasilkan satu buah buku tersendiri. Tetapi, demi kemudahan untuk menghafal, khususnya bagi para pemula, saya mencoba merangkumnya dalam 30 kalimat pengandaian  “jika ….., maka ….”, dirangkum dari berbagai sumber, yang sebut sebagai “30 kontras penelitian kuantitatif dan kualitatif”. Berikut uraian lengkapnya.

  1. Jika penelitian kuantitatif berangkat dari paradigma positivistik, yang memandang bahwa semua kejadian berlangsung dalam hubungan  sebab akibat, di mana sebab terjadi lebih dulu daripada akibat, maka penelitian kualitatif berangkat dari paradigma interpretif atau naturalistik, yang memandang semua unsur dalam sebuah peristiwa saling terkait dan karena itu sulit menentukan mana sebab dan mana akibat,
  2. Akibat dari poin 1 tersebut, jika penelitian kuantitatif menanyakan penyebab atau akibat, hubungan atau korelasi antar-variabel, maka penelitian kualitatif menanyakan mengenai apa, bagaimana dan mengapa sebuah peristiwa terjadi,
  3. Jika dalam penelitian kuantitatif, faktor sebab dan akibat sudah jelas dan ditentukan sejak awal, maka dalam penelitian kualitatif antara keduanya belum jelas, karena peneliti belum terjun ke lapangan, sehingga bisa saja terjadi yang semula dikira sebab, ternyata setelah di lapangan peneliti justru menemukan sebaliknya,
  4. Jika penelitian kuantitatif menggunakan hipotesis sebagai titik awal penelitian untuk selanjutnya dibuktikan, maka penelitian kualitatif tidak menggunakan hipotesis, tetapi jika ada, hipotesis yang dimaksudkan itu disebut sebagai hipotesis kerja – agar penelitian terarah pada suatu fokus tertentu,
  5. Jika penelitian kuantitatif memandang realitas bersifat tunggal dan dapat dipilah-pilah, maka penelitian kualitatif memandang bahwa realitas bersifat jamak atau holistik,
  6. Dalam hubungan peneliti dengan yang diteliti, jika penelitian kuantitatif tidak ada hubungan antara peneliti dengan yang diteliti (terpisah) — dalam arti peneliti bisa menyuruh orang lain untuk mengumpulkan data sehingga tidak harus ke lapangan sendiri,  maka dalam penelitian kualitatif hubungan antara peneliti dengan yang diteliti bersifat Interaktif – dalam arti peneliti sendiri yang harus mengumpulkan data dengan terjun ke lapangan dan menemui subjek sendiri—karena peneliti merupakan instrumen utamanya,
  7. Jika penelitian kuantitatif menggunakan latar eksperimen (laboratorium) atau kondisi yang sudah diberi perlakuan (treatment), maka penelitian kualitatif menggunakan latar alami (natural setting),
  8. Jika penelitian kuantitatif menganggap realitas/kenyataan bersifat objektif (kasat mata), maka penelitian kualitatif memandang bahwa realitas sosial merupakan kreasi kesadaran  individual  atau hasil rekonstruksi manusia,
  9. Jika penelitian kuantitatif bertujuan membuktikan teori (theory verifying), maka penelitian kualitatif  bertujuan untuk mengembangkan teori (theory generating),
  10. Jika penelitian kuantitatif berangkat dari teori, maka penelitian kualitatif berangkat dari sebuah kasus atau fenomena unik,
  11. Jika proposal penelitian kuantitatif bersifat final, — tidak ada lagi perubahan ketika penelitian sudah berjalan—,  maka proposal penelitian kualitatif bersifat tentatif, dalam arti bisa berkembang ketika kegiatan penelitian sudah berjalan,
  12. Jika proses pengumpulan data penelitian kuantitatif bersifat linier, maka proses penelitian kualitatif bersifat siklus, sehingga peneliti bisa kembali lagi menemui subjek atau informan lagi jika data dirasa belum cukup, sehingga kegiatan pengumpulan data bisa berlangsung beberapa kali,
  13. Jika data penelitian kuantitatif diperoleh melalui tes, kuesioner, dan dokumentasi, maka data penelitian kualitatif diperoleh dari wawancara, observasi, focus group discussion, dan partisipasi,
  14. Jika data penelitian kuantitatif berupa angka, maka data penelitian kualitatif berupa kata, gambar, simbol, foto dan sebagainya,
  15. Jika dalam penelitian kuantitatif, informasi mengenai pola, keteraturan, kaidah dan dalil suatu fenomena dianggap benar atau valid jika bersumber dari semua atau sebagian besar populasi, maka dalam penelitian kualitatif semua informasi  dianggap benar jika bersumber dari orang punya otoritas atau yang ahli di bidangnya,
  16. Jika data penelitian kuantitatif bersifat nomotetik, maka data penelitian kualitatif bersifat ideografik,
  17. Jika urutan-urutan  penelitian kuantitatif dimulai dari “masalah – teori — data”….dengan logika hipotetico-verifikatif, maka urutan penelitian kualitatif  dimulai dengan “masalah — data — teori”,
  18. Dari sisi waktu, jika penelitian kuantitatif dapat berlangsung dalam waktu lebih singkat, maka penelitian kualitatif umumnya lebih lama,
  19. Jika penelitian kuantitatif menekankan keluasan cakupan yang diteliti, maka penelitian kualitatif menekankan kedalaman peristiwa atau fenomena yang diteliti,
  20. Terkait dengan kumpulan data, jika dalam penelitian kuantitatif keseluruhan merupakan hasil penjumlahan atau perkalian, maka dalam penelitian kualitatif keseluruhan adalah kumpulan dari bagian-bagian ( a whole is a collection of parts),
  21. Jika penelitian kuantitatif meneliti sesuatu yang sudah berakhir, maka penelitian kualitatif meneliti sesuatu yang masih dalam proses, agar peneliti bisa melihat sesuatu yang sedang terjadi,
  22. Jika kriteria data penelitian kuantitatif berupa validitas, reliabilitas, objektivitas, dan generalitas, maka kriteria data penelitian kualitatif berupa kredibilitas, dependabilitas, konfirmabilitas dan transferabilitas,
  23. Jika analisis data penelitian kuantitatif bersifat deduktif, maka penelitian kualitatif bersifat induktif,
  24. Jika analisis data penelitian kuantitatif menggunakan  statistik dengan ukuran yang sudah standar sebagai instrumen utama, maka penelitian kualitatif  menggunakan  manusia (penelitinya sendiri sebagai instrumen utama),
  25. Jika sampel dari populasi dalam penelitian kuantitatif diperoleh secara acak (random), maka subjek dalam penelitian kualitatif diperoleh secara purposif,
  26. Jika penelitian kuantitatif bertujuan menjelaskan fenomena, maka penelitian kualitatif bertujuan memahami fenomena,
  27. Jika hubungan antara peneliti dan yang diteliti bersifat value-free (bebas nilai), — dalam arti bahwa peneliti yang lain harus menghasilkan kesimpulan yang sama jika dilakukan dengan  cara yang sama,  maka hubungan antara peneliti dan yang diteliti bersifat value- bound (terikat nilai)—dalam arti peneliti yang lain bisa menghasilkan temuan yang berbeda walau menanyakan hal yang sama,
  28. Jika hasil akhir penelitian kuantitatif bersifat closed ended (hasil sudah final), maka penelitian kualitatif bersifat open ended (hasil penelitian masih bisa direvisi dan dikembangkan lagi oleh peneliti yang lain),
  29. Jika dalam penelitian kuantitatif peneliti tidak perlu mendialogkan kesimpulan penelitian dengan responden, maka dalam penelitian kualitatif kesimpulan wajib didialogkan dengan informan,
  30. Jika kesimpulan akhir penelitian kuantitatif berupa generalisasi temuan, maka penelitian kualitatif berupa  transferabilitas.

Dari 30 kalimat pengandaian “jika …., maka ….” di atas terlihat jelas bahwa kontras antara metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif sangat  tajam. Itu terjadi karena masing-masing berangkat dari pandangan filsafat yang berbeda, digunakan dengan cara berbeda dengan tujuan berbeda pula. Itu sebabnya tidak ada satu metode yang paling sempurna atau yang satu lebih baik atau lebih jelek dari yang lain. Karena itu, menggunakan metode kuantitatif atau kualitatif adalah sebuah pilihan metodologis. Dengan demikian, tugas seorang peneliti adalah untuk mencapai tujuan yang diharapkan perlu dipikirkan secara matang pilihan metode yang tepat, bukan metode yang baik. Sebab, pada hakikatnya semua metode adalah baik, karena merupakan hasil renungan yang mendalam dari para ahli. Karena itu, tinggal bagaimana metode yang baik itu dapat digunakan secara tepat. Selamat merenungkan dan mencoba!

______________

Jakarta, 14 April 2014

Visits: 319
Today: 4

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *