Apa yang Dipelajari oleh Ilmu Bahasa (linguistik)? (Bahan Kuliah Sosiolinguistik)

Bahasa dipelajari atau dikaji oleh disiplin ilmu yang disebut linguistik atau ilmu bahasa. Seperti halnya disiplin-displin yang lain, linguistik juga memiliki tiga pilar penyangga, yakni

ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi merupakan asas penetapan objek dan wilayah kajian dan karenanya menjawab pertanyaan apa yang dikaji,  termasuk apa bentuk realitasnya (konkret,  abstrak, atau simbolik). Epistemologi merupakan asas penetapan bagaimana cara mempelajari atau memperolehnya, dan karenanya menjawab pertanyaan bagaimana mengkajinya, karena itu bersifat metodologis. Metodologi penelitian merupakan epistemologinya pengetahuan. Sedangkan aksiologi merupakan asas penetapan tujuan dan manfaat pengetahuan, dan karenanya menjawab pertanyaan apa tujuan dan manfaat pengetahuan yang akan dikaji. Berikut uraian ketiga pilar penyangga tersebut.

 

1. Apa Wilayah Penelitian Bahasa?

Setiap ilmu niscaya memiliki ciri dan kekhususan masing-masing, kendati antara yang satu dengan yang lainnya dapat saling bersentuhan. Dengan demikian,  setiap kajian tentang metode keilmuan tertentu, termasuk ilmu bahasa, perlu terlebih dahulu menjawab pertanyaan: (1) apa bahan kajian ilmu bahasa, (2) bagaimana cara mengkaji ilmu bahasa, dan (3) apa manfaat  dan tujuan ilmu bahasa.

Secara ontologik, ilmu bahasa mengkaji berbagai gejala bahasa, dan tali-temali bahasa dengan gejala lain. Wardhaugh (1986: 1) menyebutkan “…a language is what the members of a particular society speak”. Sebelumnya Saussure (1973: 16) mendefinisikan bahasa sebagai  “.. a system of signs that express ideas”. Jadi, pada hakikatnya bahasa adalah lisan. Dengan demikian, bahan kajian primer ilmu bahasa adalah bahasa lisan, sedangkan bahasa tulisan merupakan bahan kajian sekunder (Verhaar, 1976: 3).

2. Mengapa Bahasa Lisan Utama?

Tokoh hermeneutika kontemporer seperti Gadamer memandang bahwa menurut kodratnya bahasa adalah “lisan”, kemudian disusul bahasa tulis demi efektivitas dan kelestarian bahasa tutur. Perubahan bahasa dari tutur ke tulis mengandung banyak kelemahan, misalnya kehilangan konteks dan daya ekspresi penuturnya (Rahardjo, 2005: 84).

Pemikiran di atas tidak lepas dari gagasan dasar yang dikemukakan  Ferdinand de Saussure  lewat karyanya Cours de Linguistique Generale. Pemikiran Saussure yang kemudian disebut sebagai linguistik modern  menekankan pada  aspek struktur bahasa, sehingga  paham ini disebut sebagai linguistik struktural. Saussure mengembangkan konsep tentang hakikat bahasa yang dibedakan atas tiga pengertian, yaitu langue, langage, dan parole.

Menurut Saussure, gejala paling konkret bahasa adalah ujaran (parole). Gejala lebih abstrak, karena menyangkut kaidah-kaidah bahasa tertentu secara tepat, berupa langue. Bahasa Inggris dengan segala kaidahnya, misalnya, merupakan langue. Sedangkan yang paling abstrak adalah langage, yang mencakup tidak hanya kaidah satu bahasa, tetapi kaidah umum berbagai bahasa.

3. Apa Saja Gejala Bahasa itu?

Secara sederhana, ada lima wujud gejala bahasa. Karena kelahiran bahasa bermula dari ujaran (speech), maka gejala terkecil bahasa adalah bunyi (sound, phone) yang direpresentasikan dalam bentuk huruf. Gejala ini dipelajari oleh cabang kajian fonetik atau fonologi (phonetics or phonology). Gejala bahasa terkecil kedua berupa morfem (morpheme) dan kata (words). Serba-serbi kata dipelajari oleh morfologi (morphology), perbendaharaan kata ini dipelajari oleh leksikologi (lexicology), sedangkan kata sebagai tanda dikaji oleh semiotika (semiotics) atau semiologi.

Gejala bahasa berupa kelompok kata, baik berupa frasa (phrase) maupun kalimat (sentence) yang tersusun secara tertentu (structure) dipelajari oleh cabang kajian sintaksis (syntax). Karena bahasa niscaya digunakan untuk bertukar pesan, maka unsur sangat penting bahasa berikutnya adalah makna (meaning). Gejala bahasa ini dipelajari oleh cabang kajian semantika (semantics). Selanjutnya, gejala bahasa berupa percakapan dan atau wacana (conversation and or discourse) dipelajari baik oleh cabang kajian pragmatika (pragmatics), hermeneutika (hermeneutics), analisis isi (content analysis),  maupun analisis wacana (discourse analysis). Seluruh cabang ilmu bahasa yang mempelajari sistematika bahasa tanpa mengaitkan dengan perkembangan atau sejarahnya disebut sebagai kajian linguistik sinkronik (synchronic-linguistics).

4. Bagaimana Hubungan Gejala Bahasa dengan Gejala Khas Manusia yang Lain?

Sebagai gejala khas manusia, bahasa juga tidak dapat dipisahkan dengan gejala khas manusia yang lain. Gejala ini melahirkan bidang kajian lintas disiplin (inter-disciplinary study). Tali-temali bahasa dengan masyarakat, misalnya, dipelajari oleh cabang kajian sosiolinguistik dan sosiologi bahasa (sociolinguistics and sociology of language). Hubungan bahasa dengan jiwa manusia, termasuk proses pemerolehan bahasa pertama (first-language acquisition), speech comprehension and production dipelajari oleh cabang kajian yang disebut psikolinguistik (psycholinguistics). Hubungan bahasa dengan ilmu pendidikan, misalnya, pembelajaran bahasa kedua (second-language learning), dipelajari oleh cabang kajian linguistik terapan (applied-linguistics). Kenyataan yang terkait dengan masa kuno dari sesuatu bahasa dengan sejarah atau perkembangan bahasa, dipelajari oleh linguistik diakronik (diachronic-linguistics). Bahasa juga bersentuhan dengan antropologi yang kemudian dipelajari oleh cabang kajian antropolinguistik (anthropolinguistics). Relasi bahasa dengan ilmu neurologi dikaji oleh cabang kajian yang disebut neurolinguistik (neurolinguistics), sedangkan kajian yang mempelajarai bahasa dengan kehidupan manusia pada umumnya (etnometodologi) disebut etnolinguistik (ethnolinguistics).

Gejala baru dalam bidang kebahasaan dengan memanfaatkan piranti teknologi modern melahirkan cabang disiplin baru dalam ilmu disebut language computing. Language computing bukan komputerisasi bahasa, melainkan cabang linguistik dengan memanfaatkan komputer untuk memahami bahasa selain berfungsi sebagai alat bantu komunikasi, khususnya lewat internet. Di antara sekian banyak cabang interdisciplinary studies tersebut, tampaknya baru cabang sosiolinguistik dan psikolinguistik yang sudah berkembang pesat.

__________

Malang, 3 Maret 2015

Visits: 192
Today: 2

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *