Penelitian Tindakan Kelas (PTK): Bolehkan untuk Menyusun Tesis atau Disertasi?

Suatu kali saya ditanya oleh salah seorang mahasiswa melalui email. Pertanyaannya berbunyi “Maaf Pak, saya mau bertanya bolehkah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dipakai untuk menyusun tesis atau disertasi?. Saya bertanya demikian karena ada dosen yang membolehkan, tetapi ada juga yang melarang. Mohon penjelasan”. Saya tidak langsung merespons atau memberi jawaban “boleh”, atau “tidak boleh” terhadap pertanyaan tersebut,  tetapi saya memberikan penjelasan tentang apa sebenarnya Penelitian Tindakan Kelas (PTK) itu lewat tulisan ringkas berikut.

 

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research merupakan kegiatan penelitian yang secara khusus dirancang oleh guru atau praktisi pendidikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran atau perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas.  Dengan demikian, dalam PTK guru berperan ganda; di satu sisi dia sendiri ialah peneliti yang ingin mengetahui persoalan pembelajaran di kelasnya dan untuk memperoleh jawaban ilmiah terhadap persoalan tersebut yang bermanfaat bagi praktik pembelajaran, tetapi di sisi yang lain dia adalah pendidik yang bertugas mengajarkan materi ajar ke para siswa sebagaimana layaknya tugas sebagai pendidik.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan pengembangan dari Penelitian Tindakan (Action Research) yang diawali oleh pekerja-pekerja sosial dalam bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora di Amerika Serikat dan Eropa sekitar tahun 1946  dengan tujuan untuk memperbaiki  persoalan sosial di  masyarakat, seperti kenakalan remaja, pengangguran, penyalahgunaan obat, narkoba, kekerasan dalam rumah tangga, dan sebagainya, dengan mempraktikkan langsung tindakan yang telah dirancang sebelumnya.  Guru itu sendiri yang merancang kegiatan, melakukan kegiatan dan mencari jawaban atas persoalan yang dihadapi serta melakukan telaah kritis atas jawaban yang diperoleh. Burns (1991: 252) menjelaskan Penelitian Tindakan sebagai:

“the application of fact finding to practical problem solving in a social situation with a view to improving the quality of action within it, involving the collaboration and cooperation of researchers, practitioners, and laymen”.

Dalam perkembangannya, Penelitian Tindakan tidak hanya dipakai oleh para praktisi ilmu-ilmu sosial dan humaniora, tetapi juga oleh para guru dan praktisi pendidikan. Tentu saja kawasan Penelitian Tindakan lebih luas daripada Penelitian Tindakan Kelas. Jika  Penelitian Tindakan menggunakan  masyarakat sebagai kawasan penelitiannya, maka  Penelitian Tindakan Kelas menggunakan kelas sebagai wilayah atau medan penelitian.

Dalam hal Penelitian Tindakan Kelas, situasi sosial yang dimaksudkan oleh Burns ialah kelas di mana praktik pembelajaran berlangsung. Lebih lanjut Burns menjelaskan bahwa di bidang pendidikan, Penelitian Tindakan meliputi kegiatan-kegiatan seperti pengembangan kurikulum, pengembangan profesional pendidik, program perbaikan sekolah, pengembangan kebijakan dan perencanaan sistem dan sebagainya. Biasanya Penelitian Tindakan meliputi identifikasi strategi yang telah dijalankan, kemudian diobservasi secara sistematik, dilakukan refleksi dan terakhir dilakukan perubahan-perubahan atau perbaikan terhadap strategi yang telah dijalankan, misalnya terhadap strategi belajar mengajar yang telah dilakukan oleh seorang guru.

Penelitian Tindakan Kelas,  yang mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 1980-an, merupakan sebuah proses secara menyeluruh di mana situasi atau keadaan yang dianggap bermasalah didiagnosis, kegiatan remedinya direncanakan dan dilakukan dengan baik, dan hasilnya dimonitor. Karena itu, Penelitian Tindakan Kelas adalah sebuah pendekatan untuk menyelesaikan masalah pembelajaran, dan sekaligus proses untuk menyelesaikan masalah tersebut (it is both an approach to problem-solving and a problem-solving process).

Fokus Penelitian Tindakan terletak pada masalah yang spesifik dalam konteks tertentu, dan tidak dimaksudkan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah yang bisa digeneralisasikan, sebagaimana lazimnya dalam penelitian kuantitatif, atau memperoleh pengetahuan ilmiah yang bisa ditransferabilitaskan, sebagaimana lazimnya dalam penelitian kualitatif. Menurut Burns, setidaknya terdapat 4 ciri utama Penelitian Tindakan sebagai berikut:

  1. Situasional — mendiagnosis masalah dalam konteks tertentu dan berupaya menyelesaikannya dalam konteks itu pula. Peneliti berangkat dari persoalan yang dihadapi.
  2. Kolaboratif —- peneliti dan praktisi berkerja bersama-sama. Misalnya, dalam melaksanakan kegiatan, guru bekerja sama dengan pihak-pihak lain, seperti atasan langsung, teman guru sejawat, siswa, guru BP, hingga orangtua siswa.
  3. Partisipatori —– anggota tim penelitian secara langsung mengambil bagian dalam penelitian.
  4. Self-evaluatif —- modifikasi atau perbaikan dievaluasi secara terus menerus dalam kondisi yang berlangsung untuk perbaikan.

Kendati tidak dimaksudkan untuk menghasilkan pengetahuan ilmiah yang bisa digeneralisasikan atau ditransferabilitaskan, selain dimaksudkan untuk melakukan perbaikan atau meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas, hasil Penelitian Tindakan Kelas bisa saja dipakai untuk berbagi pengalaman dengan sesama guru atau praktisi yang mengajar bidang studi yang sama di tempat lain.

Jika Penelitian Tindakan adalah jenis penelitian yang dilakukan oleh para praktisi, bukan jenis penelitian akademik atau ilmiah untuk menemukan temuan baru berupa konsep, proposisi atau teori, maka sama halnya Penelitian Tindakan Kelas dilakukan oleh para praktisi pendidikan atau guru tidak dimaksudkan untuk menemukan konsep atau teori pembelajaran, tetapi untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dan menyelesaikan masalah yang timbul di kelas yang diajar oleh guru.

Penelitian Tindakan Kelas  dimulai dari masalah yang sangat sempit dan praktis, bukan masalah yang bersifat ilmiah atau teoretik. Teori dalam Penelitian Tindakan  Kelas bersifat preskriptif, bukan eksplanatori untuk menjelaskan suatu fenomena untuk melahirkan teori baru (generating new theory), dan juga bukan berupa hipotesis untuk dibuktikan sebagaimana lazimnya dalam penelitian kuantitatif. Metodenya pun tidak ada ukuran yang standar, sebagaimana dalam penelitian-penelitian formal, mulai dari persoalan situs, sampel, kontrol validitas, instrumen, hingga analisis datanya.

Selain itu, tidak  tidak perlu ada bagian khusus yang membahas interpretasi data dan diskusi hasil, melainkan refleksi personal dari guru itu sendiri tentang pengajarannya, kritis terhadap yang telah dilakukan untuk selanjutnya melakukan perbaikan-perbaikan. Semua dilakukan secara sistematis, realistis dan rasional berdasarkan masalah yang dihadapi. Dari PTK guru diharapkan tahu kelebihan dan kekurangannya dalam mengajar.

Hasil akhir Penelitian Tindakan  Kelas terbatas sebagai upaya untuk perbaikan praktik pendidikan oleh guru yang bersangkutan. Penelitian Tindakan Kelas bukan jenis penelitian formal yang menggunakan paradigma positivistik (yang melahirkan jenis penelitian kuantitatif) atau paradigma interpretif atau fenomenologi (yang melahirkan jenis penelitian kualitatif), tetapi termasuk jenis penelitian terapan dengan pendekatan kualitatif… walaupun bisa saja menggunakan data kuantitatif.  Jenis penelitian ini juga tidak perlu ada novelty atau state of the arts yang wajib ada dalam penelitian formal.

Di kalangan para ahli metodologi penelitian, tingkat keilmiahan Penelitian Tindakan  Kelas masih menjadi perdebatan hingga kini. Karena itu, sebaiknya tidak dipakai untuk kegiatan menyusun tesis, apalagi disertasi. Tesis dan disertasi, bahkan skripsi sekalipun merupakan karya ilmiah akademik yang hasilnya berupa temuan baru untuk pengembangan ilmu pengetahuan sesuai bidang yang diteliti. Tetapi bahwa Penelitian Tindakan Kelas sangat bermanfaat untuk perbaikan praktik pengajaran di kelas tidak diragukan. Justru saya sangat merekomendasikan setiap guru bidang studi apa saja untuk menguasai jenis penelitian ini dengan membaca buku atau tulisan tentang Penelitian Tindakan Kelas oleh para pakar.

Sebagai sebuah varian  baru dalam metodologi penelitian, tentu saja Penelitian Tindakan Kelas sangat bermanfaat bagi para guru dan praktisi pendidikan. Bagaimana pun tidak ada ilmu yang tidak bermafaat bagi umat manusia. Hanya masalahnya semua harus ditempatkan secara proporsional, seperti kelayakan Penelitian Tindakan Kelas digunakan untuk menyusun karya setingkat tesis atau bahkan disertasi.

Kompleksitas persoalan masyarakat yang dari hari ke hari terus meningkat baik kualitas maupun  kuantitasnya meniscayakan setiap pendidik untuk memperbaiki diri dengan terus meningkatkan kualitas akademiknya, termasuk dalam hal Penelitian Tindakan Kelas. Mahasiswa di jurusan-jurusan pendidikan juga sangat baik dibekali pengetahuan tentang Penelitian Tindakan Kelas, sekaligus mempraktikannya.

Semoga tulisan ringkas ini dapat menjawab pertanyaan mahasiswa yang diajukan ke saya sebagaimana di awal tulisan ini.

_________

Bratislava, Slovakia, 28 Oktober  2015

Daftar Pustaka

Burns,  Robert B. 1991. Introduction to Research Methods in Education.

Melbourne: Longman Cheshire Pty Limited

Latief, Mohammad Adnan. 2012. Tanya Jawab Metode Penelitian

Pembelajaran Bahasa. Malang: Universitas Negeri Malang (UM PRESS)

 

Visits: 159
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *