Hidup Bukan Peristiwa Biasa Ada Perencanaan, Kerja Keras, dan Keikhlasan

Siang itu saya  di sebuah kota  untuk menghadiri acara pernikahan putra teman pada malam harinya. Waktu longgar yang tersedia saya manfaatkan pergi ke  toko buku tidak jauh dari tempat saya menginap. Setiba di toko buku, saya menuju ke tumpukan buku di pojok ruangan toko itu.  Perhatian saya  tertuju pada sebuah buku berwarna kuning berjudul “Cara Menjadi DIRI SENDIRI: Guna Meraih Puncak Prestasi Strategi Membangun Citra Diri” yang ditulis oleh M. Hariwijaya. Buku terbitan tahun 2012  oleh penerbit PLATINUM memulai halaman pertamanya dengan uraian kisah menarik.

Di bagian awal, buku itu menguraikan bahwa hidup bukan peristiwa biasa. Hidup itu peristiwa luar biasa. Ibarat manajemen, hidup adalah proyek raksasa yang harus dilalui dengan perencanaan, diisi dengan aktivitas yang bermakna dan diakhiri  dengan kebaikan. Tiap episode itu harus dilalui dengan baik. Karena itu, jangan main-main dengan kehidupan. Jika salah mengelolanya,  kekecewaan bahkan kegagalan menantinya.

Menariknya, untuk menjelaskan perjalan kehidupan penulis menggunakan kisah nyata seorang pekerja di sebuah perusahaan bangunan sebagai ilustrasi. Kisahnya diawali dengan permintaan seorang pekerja bangunan kepada majikannya  untuk pensiun karena sudah merasa sangat lama bekerja di perusahaan tersebut dan mulai merasa jenuh. Selain itu,  pekerja itu (sebut saja Pak Arman) merasa bahwa kekuatan fisiknya sudah mulai menurun. Dibanding rekan-rekan pekerja seangkatannya, Pak Arman memang paling lama. Teman-temannya sudah pada pensiun lebih dulu. Wajar jika dia sudah ingin mengakhiri bekerja di perusahaan tersebut, karena teman seangkatannya sudah tidak ada lagi. Yang tinggal adalah para pekerja di luar generasinya yang jauh lebih muda daripada Pak Arman.

Setelah tekadnya untuk berhenti sudah bulat, Pak Arman memberanikan diri menghadap majikannya dan mengutarakan niatnya. Seperti telah diduga sebelumnya, majikannnya menolak dengan halus  keinginan Pak Arman pensiun. Sebab, di mata majikannya, selain rajin, tekun, dan pekerja keras, Pak Arman sangat jujur. Hasil kerja Pak Arman pun selalu memuaskan. Karena itu, majikannya sangat sayang dan merasa kehilangan jika Pak Arman meninggalkannya. Keberadaan Pak Arman di perusahaan itu sangat berarti. Perusahaan tumbuh besar dan orang yang menggunakan jasa perusahaan puas atas pelayanannya.  Pak Arman pun menjadi salah seorang kepercayaan majikan.

Di benak majikan itu, sulit di era seperti sekarang ini mendapatkan orang seperti Pak Arman, terutama dari sisi kejujurannya. Ada orang yang bisa bekerja keras, tetapi tidak jujur. Sebaliknya, ada yang jujur, tetapi malas bekerja. Yang parah, ada yang malas dan tidak jujur. Tetapi sosok Pak Arman memang sempurna. Dia memiliki kompetensi yang diperlukan oleh perusahaan konstruksi bangunan itu.

Tetapi niat Pak Arman pensiun tidak pernah surut. Sekali ditolak, Pak Arman datang lagi. Begitu seterusnya hingga beberapa kali. Alasannya pun  tidak pernah berubah, yakni sudah terlalu lama, mulai jenuh dan kekuatan fisik sudah menurun. Akhirnya sang majikan gagal bertahan alias menyerah. Pak Arman diperbolehkan berhenti bekerja tetapi dengan syarat. “Apa syaratnya, pak”, tanya Pak Arman. “Sebelum meninggalkan perusahaan ini, buatkan saya satu bangunan rumah seperti biasanya hingga jadi dan setelah itu boleh berhenti”, jawab sang majikan.  Itu merupakan rumah terakhir yang dibuat Pak Arman.

Dengan perasaan agak menggerutu, Pak Arman memenuhi permintaan majikan itu. Tahapan-tahapan membuat rumah mulai dia kerjakan. Karena hati sudah ingin segera berhenti, Pak Arman bekerja tidak dengan sungguh-sungguh seperti sebelumnya walau pada akhirnya rumah itu jadi. Setelah itu rumah diserahkan ke majikannya. Hati Pak Arman berbunga-bunga karena urusan dengan majikan sudah selesai dan bisa segera meninggalkan perusahaan yang sudah bertahun-tahun menghidupinya.

Betapa kagetnya sang majikan setelah melihat rumah terakhir buatan Pak Arman tidak sebaik rumah-rumah sebelumnya. Majikan itu menggeleng-geleng kepala mengapa Pak Arman berubah menjadi tidak serius bekerja. Tetapi sang majikan segera sadar mungkin karena Pak Arman sudah tidak merasa nyaman dan ingin segera bisa berkumpul dengan keluarga. Bekerja pun sudah tidak efektif, karena sudah tidak lagi tulus.

Sebelum Pak Arman meninggalkan perusahaan, majikan kaya itu memanggilnya ke kantor pribadinya. Pak Arman mulai gelisah jangan-jangan ada permintaan lagi dari sang majikan. Dengan perasaan berat hati, Pak Arman menghadap sang majikan. Di kantor itu, sang majikan meminta kunci rumah terakhir buatan Pak Arman. Kunci pun diberikan. Dengan senyum ramah, sang majikan itu menyerahkan kunci rumah itu lagi ke Pak Arman. “Untuk apa kok kunci dikembalikan ke saya lagi pak?, tanya Pak Arman. Sang majikan menjawab “Rumah itu untuk Pak Arman, sebagai hadiah dari perusahaan ini, karena Pak Arman bekerja dengan baik dan penuh kejujuran selama bertahun-tahun di perusahaan ini”.  “Tetapi sayang, rumah buatan terakhir Pak Arman tidak sebaik sebelumnya. Padahal, sejak semula saya bermaksud memberikan rumah itu untuk bapak”, imbuh sang majikan.

Sekejap Pak Arman gemetar dan mencium tanah sebagai tanda bersyukur sambil mengucap “alhamdulillah”. Pak Arman menerima pemberian itu, karena memang belum memiliki rumah. Tetapi Pak Arman sangat menyesal mengapa bangunan rumah itu tidak dibuat sebaik rumah-rumah sebelumnya. Semua telah berlalu. Pak Arman meninggalkan perusahaan itu dengan penuh penyesalan mengapa menutup sejarah kariernya di perusahaan tidak dengan sempurna.

Kisah Pak Arman mengandung makna bahwa penyesalan selalu datang kemudian. Andai saja tahu bahwa rumah itu kelak akan diberikan sebagai hadiah, tentu Pak Arman akan mengerjakannya dengan sebaik-baiknya. Hidup pun begitu, harus diisi dengan berbagai aktivitas kebaikan dan kemaslahatan sejak awal hingga akhir. Sebab, hidup bukan peristiwa hampa. Hidup manusia pasti berakhir. Segala aktivitas seseorang selama hidup akan dievaluasi oleh sang Pencipta. Evaluasi akan menentukan kehidupan kita bernilai kebaikan dan kemaslahatan atau tidak.

Karena itu, kehidupan ini diisi  dengan amal sholeh lewat profesi apapun yang kita sandang, apakah kita menjadi pendidik, pegawai kantor, polisi, tentara, pedagang, politisi, pejabat negara, dan sebagainya. Semua profesi itu bisa mengantarkan ke amal sholeh jika dilakukan dengan niat suci bahwa bekerja merupakan amanah Allah untuk dijalankan dengan sebaik-baiknya. Jika tidak, kita akan menyesal di kemudian hari, sebagaimana penyesalan Pak Arman yang tidak bekerja dengan sungguh-sungguh di akhir pengabdiannya.

Kisah Pak Arman sebenarnya menggambarkan bahwa perjalanan hidup memerlukan sikap istiqomah. Tidak ada keberhasilan atau kesuksesan di bidang apapun tanpa sikap istiqomah. Di akhir episode, Pak Arman tidak mengakhiri pekerjaan dengan indah (baca: khusnul khotimah). Padahal, selama bekerja di perusahaan dia tergolong pekerja sukses. Karena kurang sabar dan ingin segera meninggalkan perusahaan, Pak Arman bekerja tidak dengan tulus. Pak Arman pun terpeleset, walau tidak sampai jatuh.

Kisah Pak Arman bisa terjadi pada siapa saja. Orang yang selama hidupnya tekun beribadah tiba-tiba di akhir perjalanan hidup terpeleset, karena  kurang sabar dan tulus dalam bekerja. Hidup bukan peristiwa biasa. Di dalamnya sarat makna. Ia adalah karunia Tuhan yang harus dilalui dengan perencanaan yang matang, diisi dengan kebajikan dan amal sholeh dan diakhiri dengan kebaikan atau bahasa agamanya disebut khusnul khotimah karena keikhlasannya mengabdi kepada sang Pencipta terus menerus. Jangan sampai kita menyesal kelak di kemudian hari sebagaimana penyesalan Pak Arman di masa akhir pengabdiannya.  Semoga tulisan pendek ini menjadi renungan kita bersama untuk bisa mengelola kehidupan kita yang tersisa dengan sebaik-baiknya dan mengakhirinya dengan khusnul khotimah! Amin3x ya mujibassailiin.

____________

Kuala lumpur, 26 Maret 2015

Visits: 377
Today: 6

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *