Kunjungan Syekh Al-Azhar dan Pengembangan UIN Maulana Malilk Ibrahim Malang

(Tulisan 3 Habis)

Dalam dunia pendidikan keberadaan sosok yang diidolakan sangat penting. Biasanya anak didik atau siswa akan mengikuti atau meniru sosok idolanya itu dalam banyak hal, mulai bagaimana berperilaku, berbicara, berpakaian,   sampai bagaimana perjalanan hidup sang tokoh tersebut hingga mencapai kesuksesan. Grand Syekh Azhar, Prof. Dr. Ahmad Muhammad Ahmad Ath Thayyeb, adalah seorang tokoh yang sangat disegani dan dihormati sekaligus pejabat publik penting di Mesir. Bahkan dalam sebuah survei, Grand Syekh dimasukkan sebagai satu di antara 500 orang terpenting dan berpengaruh di dunia. Karena itu, wajar jika di berbagai kunjungan resmi beliau diperlakukan sebagai VVIP (Very Very Important Person), layaknya seorang kepala negara atau kepala pemerintahan.

 

Dalam dunia Sunni, beliau diaggap pemilik otoritas tertinggi dalam pemikiran Sunni dan fikih. Karena ketokohan dan keulamaannya, beliau menjadi tokoh Islam yang sangat berpengaruh di dunia, khususnya di kalangan masyarakat Sunni. Karena itu wajar jika kehadirannya selama 6 hari di Indonesia itu memperoleh perhatian dan publikasi sangat besar oleh berbagai kalangan media cetak maupun elektronik, karena sarat makna. Lebih dari itu juga  merupakan berkah bagi Indonesia. Sebab, banyak negara sangat ingin bisa dikunjungi beliau. Tetapi, beliau memilih Indonesia, tentu bukan tanpa pertimbangan matang.  Sebagai negara dengan jumlah pemeluk Islam terbesar dan mayoritas bermadzhab Sunni, Indonesia memperoleh perhatian tersendiri bagi Syekh Azhar tersebut.

Selain sebagai seorang ulama besar, beliau seorang juga seorang intelektual yang telah menulis ratusan buku, khsususnya dalam bidang pemikiran Islam.  Jika ketokohan dan intelektualitas Grand Syekh tersebut dikaitkan dengan visi dan misi besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yakni untuk melahirkan lulusan yang berpredikat sebagai “Ulama Intelek yang Profesional” dan “Intelek Profesional yang Ulama”, maka UIN Maulana Malik Ibrahim Malang telah memperoleh contoh yang tepat tentang lulusan yang diharapkan.  Beliau merupakan pribadi lengkap. Bagaimana tidak lengkap. Beliau pernah menjadi mufti negara, yang tentu saja bukan sembarang orang untuk bisa dipilih menjadi jabatan setinggi itu. Seorang mufti mesti terpilih dari para ulama yang paling tinggi derajat keilmuan agama dan keulamaannya. Secara akademik, beliau juga sebagai seorang guru besar dengan jumlah karya ilmiah yang tak terhitung jumlahnya, khususnya dalam bidang fiqih dan pemikiran Islam. Dari sisi jabatan di lembaga akademik, beliau pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin di Universitas Islam Internasional Pakistan dan Rektor Universitas Al-Azhar, 2003 – 2010.

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang  merupakan konversi dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malang memiliki tujuan sangat mulia, yakni mengembangkan ilmu pengetahun agama (Islam) dan ilmu-ilmu umum pada saat yang sama. Tujuan itu diformulasikan menjadi viisi dan misi Universitas, yakni untuk menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu agama (Islam) dan ilmu umum secara integratif. Lulusan dengan kompetensi ilmu yang integratif semacam itu akan memiliki pandangan yang luas dalam melihat dan menyelesaikan suatu persoalan. Kita tidak bisa memungkiri bahwa dalam Islam ada berbagai aliran dan kita juga menyaksikan semakin meningkatknya sektariansime antara kelompok Sunni dan Syiah, selain gerakan-gerakan Islam fundamentalis,  radikal dan liberal. Ke depan persoalan yang dihadapi umat islam tentu  akan semakin kompleks.

Dalam melihat banyaknya persoalan yang dihadapai  umat Islam saat ini, Syekh Azhar mengajak umat Islam untuk tidak begitu mudah menyalahkan kelompok yang lain dan mengklaim dirinya atau kelompoknya yang paling benar. Bahkan terkait dengan keberadaan Syiah sekalipun, Syekh dengan tegas menyatakan bahwa “Sunni dan Syiah adalah saudara”. “Perbedaan antara Sunni dan Syiah hanya masalah imamiah semata”. Menurutnya,  Islam itu agama yang jelas. Sepanjang seseorang menyatakan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, kemudian menegakkan sholat, berpuasa, berzakat, menunaikan ibadah haji bagi yang mampu, maka dia adalah Islam. Menurutnya, Syiah pun melakukan itu. Karena itu, beliau sangat tidak setuju jika Syiah itu disebut sebagai kafir.

Cara pandang Syekh yang sejuk itu bisa menjadi contoh bagaimana umat Islam seharusnya memandang perbedaan. Perbedaan tidak disikapi dengan pertengkaran dan kekerasan. Tetapi dengan sikap arif dengan semangat persatuan. Beliau mengajak umat Islam harus bersatu dan tidak boleh terjebak dalam satu klaim kebenaran. Sikap moderat dalam keberagamaan seperti itu yang ingin dilahirkan dari Universitas ini. Format pendidikan yang mengintegrasikan antara sistem perguruan tinggi dan sistem pondok pesantren /ma’had yang dilakukan oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang diharapkan untuk melahirkan sarjana muslim yang moderat dan jauh dari sikap radikal dan libral yang akhir-akhir ini sangat meresahkan banyak kalangan.

Islam tidak alergi dengan perbedaan, baik dari aspek pemikiran, nilai-nilai sosial budaya, ekonomi maupun politik. Tetapi semua itu harus dikelola dengan sikap arif yang tidak menimbulkan perpecahan. Islam bukan agama yang beku, karena itu menghargai perbedaan yang produktif demi kemaslahatan.

Namun demikian, dalam menyikapi keberadaan aliran-aliran fundamentalis, radikal, dan liberal, Syekh Azhar sangat tegas menolaknya. Menurutnya, kebenaran harus dilalui dengan cara-cara yang baik. Kekerasan pun tidak boleh dengan kekerasan, yang akhirnya juga melahirkan bentuk kekerasan baru.  Dan, Syekh Azhar telah memberi contoh yang sangat baik bagaimana menghadapi berbagai perbedaan.

Wal hasil, kehadiran pemimpin tertinggi lembaga keagamaan Mesir itu membawa manfaat sangat besar, baik secara akademik maupun reputasi Universitas. Namun demikian, semua tetap berpulang kepada warga dan anggota sivitas akademika Universitas ini sendiri untuk memaknai secara tepat atas kehadiran Syekh Azhar dan pidato beliau di depan Sidang Senat Terbuka Universitas dalam rangka penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan dalam rangka penguatan program-program akademik dan kelembagaan yang telah dicanangkan. Jangan sampai kehadiran Syekh hanya dikenang dari sisi meriahnya kegiatan seremoninya saja. Jika itu terjadi betapa meruginya kita!

__________

Malang, 20 Maret 2016

Visits: 110
Today: 2

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *