Cerita dari Penjual Minuman Keliling di Ibukota

Udara ibukota pagi itu (23/4/2016) sangat cerah, tetapi sedikit berangin. Saya manfaatkan waktu pagi itu berolah raga sejenak sebelum ke kantor mengikuti pertemuan memenuhi undangan rapat sebuah instansi pemerintah. Tidak jauh dari hotel tempat saya menginap, ada taman yang asri yang juga dimanfaatkan warga untuk beraktivitas olah raga. Pagi itu, di taman tersebut berkumpul beberapa pemuda penjual minuman keliling bersepeda pancal (angin) dengan tumpukan dagangan minuman ditaruh di atasnya. Tiba-tiba salah seorang dari mereka menyapa saya “minum pak”. “Gak mas, masih olah raga”, sahut saya cuek.

Tanpa saya sadari, ternyata pemuda itu tetap menanti saya di pinggir lapangan hingga saya selesai beraktivitas. Karena penasaran dan ingin mengetahui lebih jauh tentang kehidupan para penjual minuman keliling, saya akhirnya memesan teh susu, walau sebenarnya saya tidak merasa haus. Pemuda  dengan sigap memenuhi permintaan saya sambil berkata “panas atau hangat pak?”. “Panas, mas”, jawab saya.

Hanya dalam hitungan beberapa menit saja pesanan saya itu tersaji. “Ini pak”, kata pemuda itu. “Terima kasih mas”, saya menimpalinya. Karena sangat panas, pemuda itu menambah satu gelas plastik lagi sebagai pembalut. “Berapa mas”, tanya saya. “Rp 8 juta pak”, jawabnya bergurau. Maksudnya adalah delapan ribu rupiah. Saya berikan uang Rp. 10. 000, sehingga dia mengembalikan ke saya Rp. 2000. “Tidak ada uang kertas dua ribuan pak, karena ini tadi baru berangkat”, katya sambil menyodorkan dua keping uang logam. Uang logam kembalian bernilai dua ribu rupiah itu saya berikan saja, sehingga saya membayar 1 gelas kecil plastik teh susu itu Rp. 10. 000. “Alhamdulillah, pak”, jawabnya.

Sambil minum teh susu panas itu, saya sempatkan ngobrol sejenak tentang kehidupan pemuda penjual minuman keliling di ibukota itu. “Siapa namanya mas”, tanya saya mengawali obrolan. “Rohim pak”, jawabnya. “Dari mana mas Rohim asalnya”, lanjut saya. “Dari Madura”, sambungnya. “Madura mana, mas?”, tanya saya lebih lanjut. “Sampang”, jawabnya lagi. “Di Jakarta tinggal di mana mas?” “Di dekat Pasar Senin Pak. Saya sewa kamar dengan istri dan anak. Setahun Rp. 5 juta untuk satu kamar. Saya sudah 6 tahun di Jakarta”, jawabnya terus meluncur.

Sambil memandang sepeda pancalnya dengan tumpukkan barang dagangan, saya melanjutkan pertanyaan yang lain. “Itu seharian habis ya mas?“, tanya saya penasaran. “Oh ya nggak pak. Itu banyak sekali lho, ada susu, kopi, dan teh”, jawabnya mantap dan semakin terasa akrab.

“Berapa gelas terjual sehari”, tanya saya. Dengan penuh percaya diri, pemuda berusia kira-kira berusia 32 tahun dan berkulit gelap itu menjawab “rata-rata 80 sampai 90 gelas sehari”. “Oh banyak sekali ya mas”, lanjut saya. “Berarti uangnya bisa mencapai delapan ratus sampai sembilan ratus ribu rupiah ya”, sambung saya semakin penasaran. “Ya nggak pak. Rata-rata pemasukan saya sekitar 400 hingga 500 ribu rupiah sehari”, jawabnya sedikit pelan. “Kan 1 gelas minuman Rp. 8000 seperti saya tadi mas”. “Lho karena bapak pesan teh dan susu panas. Jadi hitungannya 2x Rp. 4000. Per gelas minuman teh harganya Rp. 4000. Jarang orang beli dobel pak. Teh saja, kopi  atau susu saja”, jelasnya. “Oo begitu ya mas. Disyukuri saja ya ”, sambung saya.

“Saya ingin hidup tenang pak. Alhamdulillah, saya tidak punya hutang sedikitpun. Saya ini kira-kira lebih tenang daripada mereka yang tinggal di rumah-rumah mewah seperti itu”, sambil memandang rumah-rumah mewah sekitar taman yang terletak di tengah-tengah ibukota itu. Di sela-sela pembicaraan itu, tiba-tiba datang seorang penjual minuman yang lain dengan tetap menaiki sepedanya yang penuh tumpukan dagangan. “Siapa dia mas”, tanya saya. “Dia kakak saya”, jawabnya. “Oh, dia yang ajak mas dulu ke Jakarta”, tanya saya lagi. “Ya”, jawabnya.

Selesai minum segelas plastik teh susu, saya meninggalkan lapangan menuju hotel tempat menginap dan siap-siap menghadiri acara pagi itu. Ketika saya meninggalkan penjual minuman itu beberapa langkah, saya mendengar kalimat “Rp. 10.000 segelas teh susu. Alhamdulillah. Rejeki”. Ternyata dia sangat bahagia ketika uang logam kembalian senilai Rp. 2000 tidak saya minta. Saya yakin uang kembalian Rp. 2000 tentu tidak membuat dia kaya, tetapi cukup membuat hati rakyat kecil itu bahagia pagi itu, terpancar dari bahasa tubuhnya kendati dia tidak mengucapkan sebuah kata atau kalimat “Saya bahagia”.

Dalam perjalanan kembali ke hotel sambil bersimbah keringat, saya sempat menghela nafas betapa ketimpangan terjadi begitu ekstrim di negeri kita. Ada sebagian orang menghambur-hamburkan uang dengan hura-hura, berpesta pora untuk berbagai acara, ada  yang mengemplang uang negara miliaran bahkan trilyunan rupiah dengan begitu mudahnya. Sementara di sisi lain, ada yang mengais uang 2 ribuan rupiah dengan berjualan minuman keliling di terik matahari ibukota yang tidak ramah, berpeluh keringat menjajakan dagangannya.

Tetapi di sisi yang lain, yaitu betapa adilnya Allah berbagi rasa suka dan bahagia kepada makhluk ciptaannya. Ada yang tidak bisa dan mau bersyukur kendati telah memperoleh banyak kenikmatan secara material, sehingga kekayaannya tidak membawa berkah. Hidupnya tidak tenang kendati harta melimpah, karena merasa dikejar dosa atau kesalahan akibat perbuatannya. Contoh orang-orang semacam itu hari ini sangat banyak dan kita bisa menyaksikannya dengan sangat mudah. Tetapi ada yang mau bersyukur kendati hanya memperoleh Rp. 2000. Setidaknya, ucapan “alhamdulillah” merupakan bukti awal rasa syukur sang pemuda penjual minuman keliling di ibukota pagi itu. Wal hasil, hanya dengan Rp. 2000 pagi itu saya bisa membuat seseorang bahagia!

___________

Dubai, Uni Emirat, 2 Mei 2016

Visits: 311
Today: 3

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *