Mengunjungi Negeri Ginseng

Pada 30 Agustus s.d 5 September 2016 saya berkunjung ke Korea memenuhi undangan Ketua Pusat Indonesia (Indonesia Center), Prof. Kim Soo-Il, yang juga Rektor Universitas Daegu, setelah beberapa kali tertunda karena selalu saja berbarengan dengan acara di kampus yang tidak dapat saya tinggalkan. Kunjungan kami (saya didampingi 3 pejabat Universitas) hakikatnya merupakan balasan atas kunjungan Prof. Kim beberapa waktu lalu. Dengan pesawat Garuda, kami berangkat melalui bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Selasa, 30 Agustus 2016 pukul 23.00 WIB dan tiba di bandara internasional Incheon, Seoul, Rabu (31 Agustus 2016) pukul 08.00 waktu setempat. Penerbangan Jakarta-Seoul memakan waktu kurang lebih 7 jam. Begitu mendarat, beberapa pejabat dari KBRI Seoul sudah siap menjemput kami. Udara di Incheon pagi itu sangat cerah, tetapi agak dingin, sehingga kami harus mengenakan jas penutup badan.

Sebagaimana ditawarkan Prof. Kim, maksud utama kunjungan kami ialah untuk menjajaki kerja sama dengan Korea, baik dengan Pusat Indonesia maupun dengan beberapa universitas.  Tentu saja tawaran Prof. Kim yang sudah hampir 40 tahun mengabdikan diri untuk mempromosikan Indonesia dan membangun hubungan baik antara Korea dan Indonesia kami sambut dengan gembira. Sebab, itu sesuai dengan salah satu agenda Universitas, yakni Program Internasionalisasi Universitas. Lebih dari itu, penting bagi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki mitra kerja dengan lembaga atau perguruan tinggi di Korea, sebab semua kita tahu bahwa saat ini Korea merupakan salah satu negara industri baru (a new industrialized country) yang sangat potensial untuk bermitra.

Seperti tidak mau membuang waktu, begitu keluar dari bandara oleh pihak KBRI yang menjemput, kami langsung dibawa menuju Hankuk University of Foreign Studies dan diterima oleh Wakil Rektor, Dekan, dan beberapa unsur pimpinan yang lain. Di Universitas ini diajarkan bahasa Indonesia, yang menurut informasinya banyak sekali peminatnya.  Saya juga baru tahu bahwa perhatian orang Korea terhadap Indonesia sangat tinggi. Menurutnya, selain sebagai pasar produk teknologi yang potensial, Indonesia merupakan salah satu negara pemasok bahan-bahan baku untuk industri mereka.

Saya juga sempat terkejut ketika memasuki kantor rektorat, tiba-tiba ada orang memanggil saya “Pak Mudji”. Semula saya hiraukan saja, karena saya mengira ada orang Korea yang namanya Mudji. Tetapi orang tersebut mendekati saya dan sekali lagi memanggil saya “Pak Mudji”. Ternyata beliau adalah kakak kelas saya di IKIP Malang dulu (sekarang UM), dari Jurusan Bahasa Indonesia. Namanya Tengsoe Tjahjono, sudah sangat terkenal di kalangan mahasiswa dan dosen di awal-awal 1980-an. Memang sejak lulus dari IKIP Malang, kami belum pernah ketemu, walau saya tidak lupa nama tersebut

Mas Tengsoe, begitu panggilannya, seorang sastrawan yang ketika masih mahasiswa saja sudah sering tampil di panggung membacakan puisi buah karyanya. Tulisannya juga sangat banyak dan tersebar di berbagai media. Ternyata, Mas Tengsoe, yang saat ini menjadi dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), sudah 3 tahun menjadi dosen tamu di Universitas Hankuk.

Di hari kedua, kami pindah kota menuju Busan, kota terbesar kedua di Korea. Busan adalah kota metropolitan dengan penduduk sekitar 3,6 juta dan merupakan kota pelabuhan terpadat kelima di dunia. Kotanya indah dan bersih. Dari Seoul ke Busan, kami naik kereta sekitar 2,5 jam, sehingga bisa melihat pemandangan dan lahan-lahan pertanian yang subur serta rumah penduduk yang semuanya tertata sangat rapi. Wajar jika banyak orang mengatakan bahwa belum disebut berkunjung ke Korea jika tidak mengunjungi Busan.

Di stasiun Busan kami dijemput oleh staf dari Pusat Indonesia (Indonesia Center) menuju Pusat Indonesia. Tiba di sana,  kami disambut  Prof. Kim dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 17. 00 lebih, Prof. Kim, yang ahli Indonesia, itu sudah tahu bahwa kami muslim dan seharian belum sholat. Oleh karena itu, di kantor tersebut kami ditawari sholat dan ternyata memang ada tersedia ruang untuk sholat lengkap dengan sajadahnya. Kata Prof. Kim, banyak orang Indonesia yang menggunakan tempat itu untuk sholat. Kami berempat menunaikan sholat dhuhur dan ashar dijamak qoshor. Usai sholat,  kami tidak beranjak dari ruang tersebut karena menunggu saat tiba sholat maghrib yang tidak lama lagi. Pukul 18. 00 waktu setempat, kami sholat maghrib dan isya’ dijamak qoshor sekalian. Alhamdulillah lega rasanya. Tradisi selalu sholat berjama’ah pun tetap terjaga, walau di negeri yang jumlah muslimnya kurang dari 1 % dari jumlah penduduk. Itu pun, menurut staf KBRI, tidak diketahui mereka di mana dan bagaimana Islamnya.

Usai sholat, kami diajak keliling ruangan Kantor Indonesia tersebut dan diiringi lagu uyon-uyon, sehingga suasananya mirip di Keraton Yogyakarta. Prof. Kim memang Indonesianis sejati. Di kantor yang dirikan sejak 40 tahun lalu atas beaya pribadi itu semuanya serba Indonesia. Mulai dari ornamen ruangan, barang-barang antik, batik, gamelan, tulisan, wayang kulit, benda-benda purbakala, makanan, alat-alat kesenian, termasuk angklung, hingga nama jalannya pun menggunakan nama Jalan Surabaya. Malam itu kami dijamu makan nasi goreng yang kata Prof. Kim dijamin halal. Prof. Kim rupanya tahu bahwa kami sangat lapar, karena seharian belum makan (nasi). Lagu langgam Jawa mengiringi kami selama makan. Malam itu kami tidak merasa bahwa kami sedang di Korea.

Begitu cintanya dengan Indonesia, Prof. Kim beberapa kali diundang ke Istana untuk menghadiri berbagai kegiatan, sejak era Pak Harto hingga SBY. Pak Habibie, Bu Mega dan Pak SBY juga pernah berkunjung ke kantor tersebut. Belum lagi para menteri. Foto Prof. Kim dengan  ketiga presiden tersebut juga terpampang di dinding ruang utama. Prof. Kim pernah menjabat sebagai Konsul Kehormatan Indonesia untuk Korea. Prof. Kim juga pernah menerima penghargaan dari pemeritah Indonesia.

Hari ketiga kunjungan, kami dipandu Prof. Kim menuju Tongmyong University dan Kaya University. Dari kunjungan ke tiga universitas tersebut disepakati bahwa pihak Korea akan mengirim mahasiswa untuk belajar budaya dan bahasa Indonesia ke UIN Malang sekitar Desember tahun ini. Tentu ini langkah awal kerjasama yang sangat baik. Bagi UIN Malang, kehadiran mahasiswa Korea akan menambah jumlah dan sebaran mahasiswa internasonal dan semakin memperkokoh posisi UIN Malang menjadi perguruan tinggi yang sedang bekerja keras menuju World Class Universty (WCU).

Seperti biasanya ketika mengunjungi sebuah negara lain, apalagi baru pertama kali berkunjung, sebagai peminat studi ilmu sosial, saya biasanya memanfaatkan juga untuk memperhatikan tata kehidupan masyarakat, tingkat perekonomian warga, dan mencoba memahami filsafat hidup mereka. Kesan awal begitu keluar dari bandara internasional Incheon sudah menunjukkan bahwa Korea jauh lebih maju dari Indonesia, setiap ruang publik tertata rapi dan sangat bersih. Dalam berlalu lintas warga Korea juga sangat tertib. Hampir 5 hari saya di sana, hanya sesekali saya mendengar klakson mobil. Karena itu, walau Seoul dan Busan merupakan kota metropolitan, suasananya tidak gaduh seperti di kota-kota besar lainnya, seperti Jakarta, New Delhi, Bangkok dan lain-lain.

Dalam perjalanan saya merenung mengapa Korea yang hari kemerdekaannya hampir bersamaan dengan Indonesia, yakni 15 Agustus 1945, begitu maju dan jauh meninggalkan Indonesia. Pendapatan rata-rata masyarakat Korea saat ini sudah $ 60.000, sedangkan Indonesia baru $ 6000. Padahal di awal-awal kemerdekaan masyarakat Korea juga sangat miskin seperti masyarakat Indonesia. Ternyata salah satu alasannya adalah rata-rata orang Korea adalah pekerja keras yang luar biasa. Sebab, jika tidak, mereka tidak akan bisa hidup, karena tidak memiliki sumber alam yang cukup. Untuk itu, mereka harus bekerja keras menciptakan peluang apa saja. Sistem dan tata kehidupan di Korea tidak memungkinkan orang bisa bermalas-malas dan santai. Mereka merasa malu jika menganggur atau bekerja tidak maksimal.

Ketika di sebuah kesempatan sambil sarapan, saya bertanya kepada Prof. Kim apa filsafat hidup orang Korea sehingga negeri tersebut begitu maju. Beliau menjawab karena mereka bekerja fokus pada tiga hal, dan tidak ganti-ganti. Pertama, kesejahteraan ekonomi. Kedua keamanan, terutama melindungi ancaman Korea Utara yang komunis, dan ketiga adalah demokrasi. Bagi orang Korea, siapapun pemimpinnya atau presidennya, dengan pemerintahan yang silih berganti, tiga hal tersebut menjadi prioritas utamanya. Ini sangat kontras dengan kita di Indonesia di mana setiap pergantian pemerintahan atau pejabat selalu diikuti dengan pergantian kebijakan dan skala prioritas pembangunan.

Akhirnya saya sampai pada simpulan bahwa kunci sukses memang kerja keras, dibarengi dengan ketekunan dan program yang berkesinambungan. Bukan program bongkar pasang di setiap pergantian pemerintahan. Sampai di situ saya meradang kapan negeriku Indonesia yang sangat kaya sumber alam ini bisa maju seperti Korea, sehingga rakyatnya sejahtera. Jawabnya sederhana yakni tergantung pada kita sendiri kapan kita sanggup bekerja keras dan disiplin dalam semua hal!

__________

Malang, 12 September 2016

Visits: 165
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *