Studi Kasus dalam Penelitian Kualitatif: Konsep dan Prosedurnya (Tulisan ke 1)

I. Pendahuluan

Akhir-akhir ini saya banyak terlibat dalam ujian disertasi baik pada tingkat Ujian Tertutup maupun Ujian Terbuka di beberapa perguruan tinggi. Dari pengalaman menguji tersebut, saya menemukan mahasiswa calon doktor meneliti dengan menggunakan jenis penelitian Studi Kasus, yang biasanya dijadikan nama anak atau sub-judul. Misalnya, “Manajemen Sumber Daya Manusia sebagai Upaya Peningkatan Kinerja Lembaga (Studi Kasus di Sekolah …)”. Ada juga yang menggunakan pendekatan Studi Multi-Kasus atau Multi-Situs, jika kasus dan situs penelitiannya lebih dari satu. Sayangnya ketika ditanya apa alasannya memilih Studi Kasus dan apa yang membedakannya dengan studi-studi lainnya, mahasiswa sering tidak bisa menjawab dengan memuaskan. Lebih-lebih jika pertanyaan diperlebar menjadi kapan sebuah penelitian disebut sebagai Studi Kasus dan apa pula ciri-cirinya, mahasiswa tampak semakin kebingungan, sehingga terkesan memilih Studi Kasus sebagai strategi penelitian hanya karena mengikuti teman-teman lain, tanpa pemahaman secara mendalam. Akibatnya tujuan akhir Studi Kasus untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang tema atau topik yang dikaji tidak tercapai, sehingga pekerjaan penelitian itu sia-sia. Padahal, waktu, tenaga, pikiran, dan uang telah banyak dikeluarkan untuk kegiatan tersebut. Tulisan ini akan membahas tentang konsep dan strategi melakukan penelitian Studi Kasus, agar penelitian dapat dilakukan secara efektif.

 

 

II. PEMBAHASAN

A. Apa Arti Studi Kasus?

Studi Kasus berasal dari terjemahan dalam bahasa Inggris “A Case Study” atau “Case Studies”. Kata “Kasus” diambil dari kata “Case” yang  menurut Kamus  Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (1989; 173), diartikan sebagai 1). “instance or example of the occurance of sth., 2) “actual state of affairs; situation”,  dan 3). “circumstances or special conditions relating to a person or thing”. Secara berurutan artinya ialah 1). contoh kejadian sesuatu, 2). kondisi aktual dari keadaan atau situasi, dan 3). lingkungan atau kondisi tertentu tentang orang atau sesuatu.

Dari penjabaran definisi tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa Studi Kasus ialah suatu serangkaian kegiatan ilmiah yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam tentang suatu program, peristiwa, dan aktivitas, baik pada tingkat perorangan, sekelompok orang, lembaga, atau organisasi untuk memperoleh pengetahuan mendalam tentang peristiwa tersebut. Biasanya, peristiwa yang dipilih yang selanjutnya disebut kasus adalah hal yang aktual (real-life events), bukan sesuatu yang sudah basi.

Masalahnya ialah kasus (case) sendiri itu apa? Yang dimaksud kasus ialah kejadian atau peristiwa, bisa sangat sederhana bisa pula kompleks. Peristiwanya itu sendiri tergolong “unik”. Unik artinya hanya terjadi di situs atau lokus tertentu. Untuk menentukan tingkat keunikan sebuah kasus atau peristiwa, Stake membuat rambu-rambu untuk dijadikan pertimbangan peneliti yang meliputi:

  1. hakikat kasus itu sendiri
  2. latar belakang historis
  3. seting fisiknya seperti apa
  4. kasus lain di sekitar kasus yang dipelajari, meliputi ekonomi, politik, hukum dan estetika
  5. kasus-kasus lain yang dapat menjelaskan kasus yang diteliti
  6. informan yang dapat diwawancarai untuk menggali kasus yang diangkat.

Secara lebih teknis, meminjam Louis Smith, Stake menjelaskan kasus (case) yang dimaksudkan sebagai a“ bounded system”, sebuah sistem yang tidak berdiri sendiri. Ada bagian-bagian lain yang bekerja untuk sistem tersebut secara integratif dan terpola. Karena tidak berdiri sendiri, maka sebuah kasus hanya bisa dipahami ketika peneliti juga memahami kasus lain yang menjadi bagiannya.

Karena hendak memahami fenomena secara mendalam, pertanyaan yang lazim diajukan dalam Studi Kasus, sebagaimana disarankan oleh Yin (1994: 9) ialah pertanyaan “apa” (what) dan “mengapa” (why), bukan “bagaimana” (how). Karena kurangnya pemahaman mengenai Studi Kasus, saya sering menemukan mahasiswa menggunakan  pertanyaan “apa” dan “bagaimana”, sehingga jawaban atau temuan penelitian kurang mendalam.

Ada yang beranggapan jawaban terhadap pertanyaan “mengapa” (why) sudah tercakup dalam jawaban pertanyaan “bagaimana” (how), yang tentu saja tidak benar. Sebab, pertanyaan “bagaimana” menanyakan proses terjadinya suatu peristiwa, sedangkan pertanyaan “mengapa” (why) mencari alasan (reasons) mengapa peristiwa tertentu bisa terjadi. Untuk memperoleh alasan (reasons) mengapa sebuah tindakan dilakukan oleh subjek, peneliti harus menggalinya dari dalam diri subjek. Perlu diketahui bahwa peneliti Studi Kasus ingin memahami tindakan subjek dari sisi subjek penelitian.

Pada tahap ini diperlukan kerja peneliti secara komprehensif dan holistik. Semakin peneliti dapat memilih objek kajian atau topik secara spesifik dan unik, dan diyakini sebagai sebuah sistem yang tidak berdiri sendiri, maka semakin besar pula manfaat Studi Kasus bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Diakui bahwa ada tiga persoalan yang tidak mudah dalam melakukan Studi Kasus, yaitu; 1). bagaimana cara menentukan kasus yang akan diangkat sehingga dianggap berbobot secara akademik, 2). bagaimana menentukan data yang relevan untuk dikumpulkan, dan 3). apa yang harus dilakukan begitu data terkumpul.

Berikut adalah contoh pertanyaan penelitian untuk beberapa jenis dan strategi penelitian menurut Yin,  (1994: 6):

Jenis penelitian

Bentuk pertanyaan penelitian

Memerlukan kontrol terhadap perisiwa yang diteliti?

Fokus pada peristiwa kontemporer ?

Eksperimen

bagaimana, mengapa

ya

Ya

Survei

siapa, apa, di mana, berapa banyak

tdak

Ya

Analisis arsif

siapa, apa, di mana, berpa banyak

tidak

ya/tidak

Sejarah

bagaimana, mengapa

tidak

tidak

Studi Kasus

apa, mengapa

tidak

Ya

 

Berikut adalah beberapa-beberapa contoh peristiwa yang bisa diangkat menjadi objek Penelitian Studi Kasus.

a). Misalnya, sebuah sekolah memperoleh banyak prestasi, di bidang akademik, olah raga, kebersihan dan lingkungan sekolah, baik di tingkat lokal, provinsi bahkan nasional. Prestasi-prestasi itu diraih ketika sekolah dipimpin oleh seorang ibu yang diangkat dari salah seorang guru di sekolah tersebut. Selama menjadi guru, prestasi ibu itu biasa-biasa saja dan praktis tidak ada yang menonjol. Tetapi semua warga sekolah mengenal ibu itu sebagai sosok yang tekun dan tidak suka menonjolkan diri. Model kepemimpinan ibu kepala sekolah itu pantas dijadikan “kasus” untuk diteliti mengapa itu bisa terjadi. Jika peneliti bisa menggali model kepemimpinan ibu kepala sekolah, akan bisa diperoleh banyak pelajaran yang bermanfaat, tidak saja bagi peneliti itu sendiri, tetapi juga  masyarakat luas. Contoh kasus di atas bisa diteliti oleh mahasiswa bidang Manajemen Pendidikan.

b). Di sebuah kantor perusahaan swasta sering terjadi keributan karena uang dan barang-barang milik karyawan sering hilang. Berkali-kali manajer perusahaan memberi pengarahan dan mengingatkan jika tertangkap pelakunya  akan diberi sanksi, mulai dari sanksi ringan hingga berat, sampai pemecatan. Bahkan pernah mengundang polisi untuk memberi pengarahan serupa. Peringatan berkali-kali dari pimpinan perusahaan dan kepolisian tidak ada efeknya sama sekali. Buktinya pencurian masih saja terus terjadi. Nah, suatu kali perusahaan mengundang seorang da’i untuk berceramah di hari peringatan keagamaan. Karena sebagian besar karyawan senang, sang da’i itu diundang lagi beberapa kali. Dalam ceramahnya, da’i itu tidak lupa menyelipkan makna kejujuran dalam hidup dan apa konsekwensinya di hadapan Tuhan jika seseorang tidak jujur. Sejak itu pencurian mereda, bahkan  akhirnya tidak ada sama sekali.  Jelas sekali bahwa sentuhan spiritualitas jauh lebih efektif daripada peringatan atau ancaman dari pimpinan perusahaan. Peristiwa tersebut bisa diangkat menjadi “kasus” untuk objek penelitian Studi  Kasus.

c). Sebuah sekolah memiliki masukan (input) yang sangat baik, yang umumnya dari anak-anak keluarga kelas menengah ke atas. Prestssi demi prestasi pun diraih oleh para siswa hampir di semua bidang. Di sekolah lain yang tidak jauh lokasinya dari sekolah pertama masukannya biasa-biasa saja, dan dari siswa-siswa kalangan masyarakat menengah ke bawah. Prestasi siswa di sekolah kedua tersebut tidak kalah hebatnya dengan yang pertama. Bahkan di beberapa cabang olah raga prestasinya melebihi sekolah pertama. Prestasi sekolah kedua bisa diangkat sebagai “kasus” untuk dikaji lebih mendalam melalui Studi Kasus.

d). Mahasiswa Jurusan Bahasa bisa meneliti kasus yang terjadi pada mahasiswa internasional di sebuah perguruan tinggi dengan fenomena seperti berikut. Mahasiswa dari negara Timur Tengah yang bahasa ibunya bahasa Arab jauh lebih cepat belajar  bahasa Indonesia dibanding mahasiswa yang bahasa ibunya bahasa Inggris. Begitu juga mahasiswa yang berasal negara-negara bekas Uni Soviet mengalami kesulitan luar biasa belajar bahasa Indonesia. Mahasiswa dari Cina yang menguasai bahasa Arab dapat belajar dan menguasai bahasa Indonesia lebih cepat daripada mahasiswa Cina yang tidak bisa bahasa Arab. Fenomena pembelajaran bahasa Indonesia untuk mahasiswa asing bisa diangkat menjadi “kasus” penelitian Studi Kasus.

(bersambung)

Visits: 74
Today: 3

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *