Studi Kasus dalam Penelitian Kualitatif: Konsep dan Prosedurnya (Tulisan ke-3 Selesai)

D. Mengapa Memilih Metode Studi Kasus?

Menggunakan istilah “Studi Kasus”  artinya ialah peneliti ingin menggali informasi apa yang akhirnya bisa dipelajari atau ditarik dari sebuah kasus, baik  kasus tunggal maupun jamak.  Stake (dalam Denzin dan Lincoln, eds. 1994; 236) menyebutnya “what can be learned from a single case?. Agar sebuah kasus bisa digali maknanya peneliti harus pandai-pandai memilah dan memilih kasus macam apa yang layak diangkat menjadi tema penelitian. Bobot kualitas kasus harus menjadi pertimbangan utama. Dengan demikian, tidak semua persoalan atau kasus baik pada tingkat perorangan, kelompok  atau lembaga bisa dijadikan bahan kajian Studi Kasus. Begitu juga tidak setiap pertanyaan bisa diangkat menjadi pertanyaan penelitian (research questions).  Ada syarat-syarat tertentu, sebagaimana dijelaskan di muka, agar sebuah peristiwa layak diangkat menjadi “kasus” penelitian Studi Kasus. Begitu juga ada syarat-syarat tertentu  agar sebuah pertanyaan bisa diangkat menjadi pertanyaan penelitian.

Salah satu hal penting untuk dipertimbangkan dalam memilih kasus ialah peneliti yakin  bahwa dari kasus tersebut akan dapat diperoleh pengetahuan lebih lanjut dan  mendalam secara ilmiah. Dalam hal ini Studi Kasus disebut sebagai Instrumental Case Study. Selain itu, Studi Kasus bisa dipakai untuk memenuhi minat pribadi karena ketertarikannya pada suatu persoalan tertentu, dan tidak untuk membangun teori tertentu. Misalnya, tentang kenakalan remaja, penyalahgunaan obat, fenomena single parents, dan sebagainya. Studi semacam ini disebut sebagai Studi Kasus Intrinsik (Intrinsic Case Study). Di negara maju, Studi Kasus Intrinsik lazim digunakan oleh para profesional atau anggota masyarakat biasa karena rasa ingin tahunya terhadap suatu persoalan yang mereka hadapi secara lebih mendalam, lebih-lebih jika persoalan tersebut menjadi isu hangat di masyarakat.

E. Beberapa Manfaat Penelitian Studi Kasus

Menurut Lincoln dan Guba, sebagaimana dikutip Mulyana (2013: 201-202), keistimewaan Studi Kasus meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Studi Kasus merupakan sarana utama bagi penelitian emik, yakni menyajikan pandangan subjek yang diteliti,

2. Studi Kasus menyajikan uraian menyeluruh yang mirip dengan apa yang dialami pembaca dalam kehidupan sehari-hari (everyday real-life),

3. Studi Kasus merupakan sarana efektif untuk menunjukkan antara peneliti dengan subjek atau informan,

4. Studi Kasus memungkinkan pembaca untuk menemukan konsistensi internal yang tidak hanya merupakan konsistensi gaya dan konsistensi faktual tetapi juga keterpercayaan (trustworthiness),

5. Studi Kasus memberikan “uraian tebal” yang diperlukan bagi penilaian atas tranferabilitas,

6. Studi Kasus terbuka  bagi penilaian atas konteks yang turut berperan bagi pemaknaan atas fenomena dalam konteks tersebut.

F. Langkah-Langkah Penelitian Studi Kasus

1. Pemilihan Tema, Topik dan Kasus. Pada tahap pertama ini peneliti harus yakin bahwa dia akan memilih kasus tertentu yang merupakan bagian dari “body of knowledge”nya bidang yang dipelajari. Misalnya, mahasiswa Jurusan atau Program Studi Manajemen Pendidikan wajib memilih kasus yang memang menjadi wilayah kajian bidang tersebut. Begitu juga mahasiswa Jurusan atau Program Studi Kurikulum akan memilih kasus yang merupakan bagian dari wilayah kajian ilmu kurikulum. Logikanya ialah seorang peneliti hanya akan bisa menghasilkan penelitian yang baik pada bidang yang diminati dan dikuasainya. Karena itu, memilih kasus pada bidang yang diminati sangat penting. Kasus bisa diperoleh dari hasil pengamatan peneliti sendiri, pengalamannya selama ini, hasil membaca buku,  majalah ilmiah, koran, mengikuti  pertemuan-pertemuan ilmiah (seperti seminar, lokakarya,  konferensi),  diskusi dengan teman sejawat, tutor, dosen pembimbing, membaca hasil penelitian orang lain. Setelah sumber-sumber bacaan diperoleh, peneliti membacanya untuk menentukan tema besar penelitian.  Dari tema besar disempitkan lagi menjadi topik. Agar  bisa fokus, dari topik peneliti dapat memberikan tekanan pada objek kajian, yang selanjutnya menjadi kasus.  Dari tema, topik, dan  objek kajian, peneliti merumuskan judul penelitian. Dengan demikian, judul penelitian dibuat setelah tema, topik, objek/kasus ditentukan. Prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:

TEMA —- TOPIK —- OBJEK KAJIAN/KASUS/UNIT ANALISIS —- JUDUL

2. Pembacaan Literatur. Setelah kasus diperoleh, peneliti mengumpulkan literatur atau bahan bacaan sebanyak-banyaknya berupa jurnal, majalah ilmiah, hasil-hasil penelitian terdahulu, buku, majalah, surat kabar yang terkait dengan kasus tersebut. Menurut Yin (1994: 9) pembacaan literatur sangat penting untuk memperluas wawasan peneliti di bidang yang akan diteliti dan mempertajam rumusan masalah yang akan diajukan. Secara lebih lengkap, meminjam Cooper, (1984), Yin menyatakan:

“To determine the questions that are most significant for a topic, and to gain some precision in formulating these questions, requires much preparation. One way is to review the literature on the topic. Note that such a literature review is therefore a means to an end, and not – as most students think – an end in itself. Budding investigators think that the purpose of a literature review is to determine the answers about what is known on a topic; in contrast, experienced investigators review previous research to develop sharper and more insightful questions about the topic”.

Namun demikian, dalam upaya pengumpulan bahan bacaan peneliti perlu mempertimbangkan dua aspek penting, yakni relevansi (relevance) bahan bacaan/literatur tersebut dengan topik bahasan (kasus) yang diangkat dan kemutakhiran (novelty). Semakin mutakhir bahan bacaan, semakin baik, sehingga peneliti dapat mengikuti perkembangan keilmuan paling up date atau  “state of the arts” bidang yang digeluti. Sebab, ilmu pengetahuan senantiasa mensyaratkan hal-hal baru. (Tentang pentingnya “state of the arts” dalam penelitian telah dibahas dalam tulisan tersendiri). Terkait dengan bahan bacaan,  sering pula  ditemukan peneliti mengumpulkan bahan bacaan yang sangat banyak, tetapi tidak relevan dengan objek kajian yang diangkat, sehingga laporan penelitian menjadi sangat tebal. Padahal, kualitas  penelitian tidak ditentukan oleh tebalnya atau banyaknya halaman  hasil/laporan penelitian, tetapi oleh  ketepatan metode penelitian, keluasan perspektif teoretik, keandalan dan kecukupan data, kedalaman analisis, kebaruan temuan dan sumbangannya bagi ilmu pengetahuan.

3. Perumusan Fokus dan Masalah Penelitian. Langkah sangat penting dalam setiap penelitian ialah merumuskan fokus dan masalah. Fokus penelitian perlu dibuat agar peneliti bisa berkonsentrasi pada satu titik yang menjadi pusat perhatian. Di  muka telah dibahas bagaimana rumusan masalah penelitian  dibuat. Satu hal penting lainnya terkait dengan  rumusan masalah ialah dari rumusan tersebut dapat digali informasi penting  dan mendalam untuk menjadi pengetahuan yang berharga bagi kemanusiaan, bukan sembarang informasi yang tidak bernilai ilmiah.

4. Pengumpulan Data. Sebagaimana telah ditulis di muka, data penelitian Studi Kasus dapat diperoleh dari beberapa teknik, seperti wawancara, observasi pelibatan (participant observation), dan dokumentasi. Peneliti sendiri merupakan instrumen kunci, sehingga dia sendiri yang dapat mengukur ketepatan dan ketercukupan data serta kapan pengumpulan data harus berakhir. Dia sendiri pula yang menentukan informan yang tepat untuk diwawancarai, kapan dan di mana wawancara dilakukan.

5. Penyempurnaan Data. Data yang telah terkumpul perlu disempurnakan. Bagaimana caranya peneliti mengetahui datanya kurang atau belum sempurna? Caranya ialah dengan membaca keseluruhan data dengan merujuk ke rumusan masalah yang diajukan. Jika rumusan masalah diyakini dapat dijawab dengan data yang tersedia, maka data dianggap sempurna. Sebaliknya, jika belum cukup untuk menjawab rumusan masalah, data dianggap belum lengkap, sehingga peneliti wajib kembali ke lapangan untuk melengkapi data dengan bertemu informan lagi. Itu sebabnya penelitian kualitatif berproses secara siklus.

6. Pengolahan  Data. Setelah data dianggap sempurna, peneliti melakukan pengolahan data, yakni melakukan pengecekan kebenaran data, menyusun data, melaksanakan penyandian (coding), mengklasifikasi data, mengoreksi jawaban wawancara yang kurang jelas. Tahap ini dilakukan untuk memudahkan tahap analisis.

7. Analisis Data. Setelah data berupa transkrip hasil wawancara dan observasi, maupun gambar, foto, catatan harian subjek dan sebagainya dianggap lengkap dan sempurna, peneliti melakukan analisis data. Analsis data Studi Kasus dan penelitian kualitatif pada umumnya  hanya bisa dilakukan oleh peneliti sendiri, bukan oleh pembimbing, teman, atau melalui jasa orang lain. Sebab, sebagai instrumen kunci,  hanya peneliti sendiri yang tahu secara mendalam semua masalah yang diteliti. Analisis data merupakan tahap paling penting di setiap penelitian dan sekaligus paling sulit. Sebab, dari tahap ini akan diperoleh informasi penting berupa temuan penelitian. Kegagalan analisis data berarti kegagalan penelitian secara keseluruhan. Kemampuan analisis data sangat ditentukan oleh keluasan wawasan teoretik peneliti pada bidang yang diteliti, pengalaman penelitian, bimbingan dosen, dan minat yang kuat peneliti untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas.

8. Proses Analisis Data. Pada hakikatnya analisis data adalah sebuah kegiatan untuk memberikan makna atau memaknai data dengan mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberi kode atau tanda, dan mengkategorikannya menjadi bagian-bagian berdasarkan pengelompokan tertentu sehingga diperoleh suatu temuan terhadap rumusan masalah yang diajukan. Melalui serangkaian aktivitas tersebut, data kualitatif yang biasanya berserakan dan bertumpuk-tumpuk dapat disederhanakan  sehingga dapat  dipahami dengan lebih mudah. Tidak ada prosedur atau teknik analisis data yang baku dalam penelitian kualitatif, tetapi langkah-langkah berikut bisa digunakan sebagai pedoman;

a. Peneliti membaca keseluruhan transkrip untuk memperoleh informasi-informasi secara umum (general) dari masing-masing transkrip,

b. Pesan-pesan umum tersebut dikompilasi untuk diambil pesan khususnya (spesific messages),

c. Dari pesan-pesan khusus tersebut akan diketahui pola umum data. Selanjutnya, data tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan urutan kejadian, kategori, dan tipologinya. Sebagaimana lazimnya dalam penelitian kualitatif, analisis data Studi Kasus dimulai sejak peneliti di lapangan, ketika mengumpulkan data dan ketika data sudah terkumpul semua.

 

9. Dialog Teoretik. Untuk melahirkan temuan konseptual berupa “thesis statement, setelah pertanyaan penelitian terjawab, peneliti Studi Kasus, khususnya calon magister dan lebih-lebih doktor, melakukan langkah selanjutnya, yaitu melakukan dialog  temuan tersebut dengan teori yang telah dibahas di bagian kajian pustaka, sehingga bagian kajian pustaka bulan sekadar ornamen belaka. Tahap ini disebut Dialog Teoretik. Sering kali terjadi ketika pertanyaan penelitian sudah terjawab, peneliti mengira tugasnya sudah selesai. Ini kesalahan umum yang terjadi pada peneliti Studi Kasus.

Umumnya untuk  karya ilmiah setingkat S1 (skripsi), temuan penelitian cukup berupa  fact finding secara deskriptif atas dasar teori yang telah dipelajar selama kuliah. Untuk karya ilmiah setingkat magisister (tesis), temuan penelitian harus  sudah pada tahap pengembangan teori (theoretical development). Sedangkan untuk karya setingkat S3 (disertasi), temuan harus sampai pada menemukan sesuatu yang baru (new findings), walaupun belum berupa teori.

 

10. Triangulasi Temuan (Konfirmabilitas). Agar temuan tidak dianggap bias, peneliti perlu melakukan triangulasi temuan, atau yang sering disebut sebagai konfirmabilitas, yakni dengan melaporkan temuan penelitian kepada informan yang diwawancarai. Hal ini juga jarang dilakukan peneliti Studi Kasus, mungkin karena takut hasilnya berbeda dengan yang telah dia temukan. Seorang peneliti harus jujur, sehingga temuannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah di masyarakat akademik atau masyarakat umum. Karena akan menjadi ilmuwan, seorang peneliti harus memiliki kejujuran, bertindak secara objektif, bertanggung jawab, dan profesional.

11. Simpulan Hasil Penelitian.  Kesalahan umum yang sering terjadi pada  bagain ini ialah peneliti mengulang atau meringkas apa yang telah dikemukakan pada bagian-bagian sebelumnya, tetapi  membuat sintesis dari  semua yang telah dikemukakan sebelumnya. Pada bagian ini peneliti mencantumkan implikasi teoretik. Tetapi untuk masing-masing jenjang pendidikan  perlu dirumuskan temuan yang berbeda.     Untuk penelitian mahasiswa jenjang S1 (skripsi) peneliti menemukan fakta-fakta di lapangan secara deskriptif sesuai pertanyaan penelitian (data description). Untuk penelitian jenjang S2 (tesis), selain menyajikan fakta-fakta sesuai pertanyaan penelitian, peneliti wajib mengembangkan teori yang terkait dengan pertanyaan penelitian (theoretical development). Sedangkan untuk jenjang S3 (disertasi), selain dua hal tersebut peneliti wajib mengemukakan temuan baru (new findings) baik berupa konsep, formula, model, atau teori. Proses penelitian hingga sampai teori ialah sebagai berikut:

DATA —- FACT —- CONCEPT —- PROPOSITION —- THEORY

 

12. Laporan Penelitian. Langkah paling akhir kegiatan penelitian ialah membuat laporan penelitian. Laporan penelitian merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban kegiatan penelitian yang dituangkan dalam bahasa tulis untuk kepentingan umum. Menurut Yunus (2010: 417) ada beberapa versi mengenai  laporan penelitian, tetapi secara umum terdapat 3 syarat agar laporan penelitian dapat dikategorikan sebagai karya ilmiah, yaitu (1). Objektif, (2). Sistematik, (3). Mengikuti metode ilmiah. Objektif artinya data yang diperoleh benar-benar dari subjek yang diteliti, bukan dari peneliti dan pandangan peneliti. Sistematik artinya urut, yakni pembahasan  harus mengikuti alur penalaran yang runtut di mana sejak bagian awal pembahasan hingga akhir menunjukkan keterkaitan logis dan merupakan satu kesinambungan. Secara garis besar batang tubuh karya ilmiah terdiri atas tiga bagian utama, yaitu bagian awal (prologue), bagian pembahasan (dialogue), dan bagian akhir (epilogue). Bagian prologue merupakan  bagian awal penelitian yang menjelaskan latar belakang mengapa suatu penelitian dilaksanakan. Bagian ini memuat latar belakang/konteks, fokus/rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, lingkup penelitian, originalitas penelitian dan definisi operasional istilah-istilah kunci. Bagian dialogue merupakan batang tubuh utama penelitian karena merupakan proses penalaran yang dibangun atas dasar kaidah-kaidah ilmiah. Secara umum bagian ini mengemukakan tiga hal, yakni (1) hal-hal yang dibutuhkan dalam pembahasan, (2) proses pembahasan dan (3) produk pembahasan. Hal-hal yang dibutuhkan dalam penelitian terdiri atas tinjauan pustaka, metode penelitian, dan deskripsi atau gambaran tentang lokus penelitian di mana penelitian dilakukan.

Sedangkan mengikuti metode ilmiah yang dimaksudkan ialah kegiatan penelitian mengikuti langkah-langkah memperoleh pengetahuan ilmiah sesuai yang telah disepakati oleh para ilmuwan. Memang juga terdapat beberapa versi tentang langkah memperoleh pengetahuan ilmiah.  Untuk penelitian Stui Kasus, langkah-langkah berikut dapat digunakan sebagai pedoman, yakni  (1) penentuan pumpun kajian (focus of study), yang mencakup kegiatan memilih masalah yang memenuhi syarat kelayakan dan kebermaknaan, (2) pengembangan kepekaan teoretik dengan menelaah bahan pustaka yang relevan dan hasil kajian sebelumnya, (3) penentuan kasus atau bahan telaah, yang meliputi kegiatan memilih dari mana dan dari siapa data diperoleh, (4) pengembangan protokol pemerolehan dan pengolahan data, yang mencakup kegiatan menetapkan piranti, langkah dan teknik pemerolehan dan pengolahan data yang digunakan, (5) pelaksanaan kegiatan pemerolehan data, yang terdiri atas kegiatan mengumpulkan data lapangan atau melakukan pembacaan naskah yang dikaji, (6) pengolahan data perolehan, yang meliputi kegiatan penyandian (coding), pengkategorian (categorizing), pembandingan (comparing), dan pembahasan (discussing), (7) negosiasi hasil kajian dengan subjek kajian, dan (8) perumusan simpulan kajian, yang meliputi kegiatan penafsiran dan penyatu-paduan (interpreting and integrating) temuan ke dalam bangunan pengetahuan sebelumnya, serta saran bagi kajian berikutnya.

Karena sifat dasar bahan yang dikaji serta tujuan yang ingin dicapai, bisa saja langkah-langkah tersebut diubah menurut dinamika lapangan. Rumpun kajian, misalnya, mungkin mengalami penajaman dan perumusan ulang setelah peneliti melakukan penjajakan lapangan. Tentu saja, penajaman ulang perlu dilakukan berdasarkan ketersediaan data, serta dimaksudkan untuk meningkatkan kebermaknaan kajian.

III. PENUTUP

Penelitian merupakan serangkaian kegiatan atau aktivitas ilmiah untuk menemukan kebenaran yang hanya bisa dilakukan oleh makhluk ciptaan Tuhan yang bernama manusia. Itupun tidak oleh setiap manusia, tetapi hanya manusia terdidik (educated people). Berbekal nalar yang merupakan anugerah Tuhan yang luar biasa, melalui kegiatan ilmiah (penelitian) manusia dapat mengungkap misteri ciptaan Tuhan. Dengan penemuan-penemuan baru di bidang sains dan teknologi, manusia dapat meningkatkan tarap dan harkat martabat kehidupannya. Lewat penelitian, ilmu pengetahuan berkembang bahkan hingga begitu pesat seperti saat ini. Karena itu, kemampuan melakukan penelitian sangat penting untuk peningkatan kualitas hidup manusia itu sendiri.

Bagi umat Islam, kegiatan penelitian dapat ditafsirkan sebagai  terjemahan operasional dari perintah membaca (iqra’), yang merupakan ayat pertama yang diturunkan untuk umat Islam. Perintah membaca tersebut tentu tidak hanya dimaksudkan untuk membaca ayat-ayat qauliyyah berupa ayat yang tertulis dalam mushaf al Quran, tetapi juga lebih dari itu ialah membaca ayat-ayat qauniyyah berupa semua fenomena kehidupan, baik fenomena alam semesta (melalui ilmu-ilmu alam), fenomena sosial (melalui ilmu-ilmu sosial), maupun kemanusiaan (melalui ilmu-ilmu humaniora).

Sebagai hasil ijtihad manusia, metode penelitian merupakan salah satu cara untuk memperoleh dan mencarai kebenaran yang bersifat tentatif, bukan kebenaran absolut. Sebab, hanya kebenaran dari Allah swt saja yang bersifat absolut.  Hasilnya berupa kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang terbuka untuk terus diuji, dikritik bahkan direvisi. Karena itu tidak ada metode terbaik untuk mencari kebenaran, tetapi yang ada adalah metode yang tepat sesuai fenomena yang ada.

Studi Kasus merupakan salah satu dari sekian banyak metode pencarian kebenaran yang tentu saja hasilnya juga berupa kebenaran tentatif, yang tidak lepas dari kelemahan dan kekurangan.  Dari karya pendek ini, saya berharap para mahasiswa dapat lebih memahami tentang konsep atau pengertian, ciri-ciri, manfaat, dan langkah serta prosedur penelitian Studi Kasus untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Semoga bermanfaat!

 

__________

 

Datar Pustaka

Horby, A S. 1989. OXFORD ADVANCED LEARNER’S DICTIONARY., Fourth Edition. Oxford University Press.

Mulyana, Dedy. 2013. METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF: PARADIGMA BARU ILMU KOMUNIKASI DAN ILMU SOSIAL LAINNYA. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.

Stake, Robert E.  1994. “Case Studies” in Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln (eds.). “Handbook of Qualitative Research”, Thousand Oaks, California:   SAGE Publications, Inc.

Yin, Robert K. 1994. CASE STUDY RESEARCH.  Thousand Oaks, London, New Delhi: SAGE Publications.

Yunus, Hadi Sabari. 2010. Metode Penelitian Wilayah Kontemporer. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.

Visits: 85
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *