Studi Kasus dalam Penelitian Kualitatif: Konsep dan Prosedurnya (Edisi Lengkap)

I. Pendahuluan

Akhir-akhir ini saya banyak terlibat dalam ujian disertasi baik pada tingkat Ujian Tertutup maupun Ujian Terbuka di beberapa perguruan tinggi. Dari pengalaman menguji tersebut, saya menemukan mahasiswa calon doktor meneliti dengan menggunakan jenis penelitian Studi Kasus, yang biasanya dijadikan nama anak atau sub-judul. Misalnya, “Manajemen Sumber Daya Manusia sebagai Upaya Peningkatan Kinerja Lembaga (Studi Kasus di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) I Malang, Jawa Timur)”. Ada juga yang menggunakan pendekatan Studi Multi-Kasus atau Multi-Situs, jika kasus dan situs penelitiannya lebih dari satu. Sayangnya ketika ditanya apa alasannya memilih Studi Kasus dan apa yang membedakannya dengan studi-studi lainnya, mahasiswa sering tidak bisa menjawab dengan memuaskan.

 

Lebih-lebih jika pertanyaan diperlebar menjadi kapan sebuah penelitian disebut sebagai Studi Kasus dan apa pula ciri-cirinya, mahasiswa tampak semakin kebingungan, sehingga terkesan memilih Studi Kasus sebagai strategi penelitian hanya karena mengikuti teman-teman lain, tanpa pemahaman yang cukup.  Akibatnya tujuan akhir Studi Kasus untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang tema atau topik yang dikaji tidak tercapai, sehingga pekerjaan penelitian itu sia-sia. Padahal, waktu, tenaga, pikiran, dan uang telah banyak dikeluarkan untuk kegiatan tersebut. Tulisan ini akan membahas tentang konsep dan strategi melakukan penelitian Studi Kasus, agar penelitian dapat dilakukan secara efektif.

 

II. PEMBAHASAN

A. Apa Arti Studi Kasus?

Studi Kasus berasal dari terjemahan dalam bahasa Inggris “A Case Study” atau “Case Studies”. Kata “Kasus” diambil dari kata “Case” yang  menurut Kamus  Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (1989; 173), diartikan sebagai 1). “instance or example of the occurance of sth., 2). “actual state of affairs; situation”,  dan 3). “circumstances or special conditions relating to a person or thing”. Secara berurutan artinya ialah 1). contoh kejadian sesuatu, 2). kondisi aktual dari keadaan atau situasi, dan 3). lingkungan atau kondisi tertentu tentang orang atau sesuatu.

Dari penjabaran definisi tersebut  dapat ditarik kesimpulan bahwa Studi Kasus ialah suatu serangkaian kegiatan ilmiah yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam tentang suatu program, peristiwa, dan aktivitas, baik pada tingkat perorangan, sekelompok orang, lembaga, atau organisasi untuk memperoleh pengetahuan mendalam tentang peristiwa tersebut. Biasanya, peristiwa yang dipilih yang selanjutnya disebut kasus adalah hal yang aktual (real-life events), yang sedang berlangsung, bukan sesuatu yang sudah lewat.

Masalahnya ialah kasus (case) sendiri itu apa? Yang dimaksud kasus ialah kejadian atau peristiwa, bisa sangat sederhana bisa pula kompleks. Karenanya, peneliti memilih salah satu saja yang benar-benar spesifik.   Peristiwanya itu sendiri tergolong “unik”. “Unik” artinya hanya terjadi di situs atau lokus tertentu. Untuk menentukan “keunikan” sebuah kasus atau peristiwa, Stake membuat rambu-rambu untuk menjadi pertimbangan peneliti yang meliputi:

  1. hakikat atau sifat kasus itu sendiri,
  2. latar belakang terjadinya kasus,
  3. seting fisik kasus tersebut,
  4. konteks yang mengitarinya, meliputi faktor  ekonomi, politik, hukum dan   seni,
  5. kasus-kasus lain yang dapat menjelaskan kasus tersebut,
  6. informan yang menguasai  kasus yang diteliti.

 

Secara lebih teknis, meminjam Louis Smith, Stake menjelaskan kasus (case) yang dimaksudkan sebagai a“bounded system”, sebuah sistem yang tidak berdiri sendiri. Sebab, hakikatnya karena sulit memahami sebuah kasus tanpa memperhatikan kasus yang lain. Ada bagian-bagian lain yang bekerja untuk sistem tersebut secara integratif dan terpola. Karena tidak berdiri sendiri, maka sebuah kasus hanya bisa dipahami ketika peneliti juga memahami kasus lain.  Jika ada beberapa kasus di suatu lembaga atau organisasi, peneliti Studi Kasus sebaiknya memilih satu kasus terpilih saja atas dasar prioritas. Tetapi jika ada lebih dari satu kasus yang sama-sama menariknya sehingga penelitiannya menjadi Studi Multi-Kasus, maka peneliti harus menguasai kesemuanya dengan baik untuk selanjutnya membandingkannya satu dengan yang lain.

Menurut Endraswara (2012: 78), yang terakhir ini bisa disebut sebagai Studi Kasus Kolektif (Collective Case Study). Walau kasus yang diteliti lebih dari satu (multi-kasus), prosedurnya sama dengan studi kasus tunggal. Sebab, baik Studi Multi-Kasus maupun Multi-Situs merupakan  pengembangan dari metode Studi Kasus. Terkait dengan pertanyaan yang lazim diajukan dalam metode Studi Kasus, karena hendak memahami fenomena secara mendalam, bahkan mengeksplorasi dan mengelaborasinya, menurut Yin (1994: 21) tidak cukup jika pertanyaan Studi Kasus hanya menanyakan  “apa”, (what),  tetapi juga “bagaimana” (how) dan “mengapa” (why). Pertanyaan “apa” dimaksudkan untuk memperoleh pengetahuan deskriptif (descriptive knowledge), “bagaimana” (how) untuk memperoleh pengetahuan eksplanatif (explanative knowledge), dan “mengapa” (why) untuk memperoleh pengetahuan eksploratif (explorative knowledge). Yin menekankan penggunaan pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa”, karena kedua pertanyaan tersebut dipandang sangat tepat untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang gejala yang dikaji. Selain itu, bentuk pertanyaan akan menentukan strategi yang digunakan untuk memperoleh data.

Karena kurangnya pemahaman mengenai Studi Kasus, saya sering menemukan mahasiswa menggunakan  pertanyaan “apa” dan “bagaimana” saja, sehingga jawaban atau temuan penelitian kurang mendalam. Ada yang beranggapan bahwa jawaban terhadap pertanyaan “mengapa” (why) sudah tercakup dalam jawaban pertanyaan “bagaimana”  (how), yang tentu saja tidak benar. Sebab, pertanyaan “bagaimana” menanyakan proses terjadinya suatu peristiwa, sedangkan pertanyaan “mengapa” (why) mencari alasan (reasons) mengapa peristiwa tertentu bisa terjadi. Untuk memperoleh alasan (reasons) mengapa sebuah tindakan dilakukan oleh subjek, peneliti harus menggalinya dari dalam diri subjek. Perlu diketahui bahwa peneliti Studi Kasus ingin memahami tindakan subjek dari sisi subjek penelitian, bukan dari sisi peneliti.

Pada tahap ini diperlukan kerja peneliti secara komprehensif dan holistik. Semakin peneliti dapat memilih kasus  atau bahan kajian secara spesifik dan unik, dan diyakini sebagai sebuah sistem yang tidak berdiri sendiri, maka semakin besar pula manfaat Studi Kasus bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Lewat Studi Kasus sebuah peristiwa akan terangkat ke permukaan hingga akhirnya menjadi pengetahuan publik. Diakui bahwa ada tiga persoalan yang memang tidak mudah dalam melakukan Studi Kasus, yaitu;

 

  1. Bagaimana cara menentukan kasus yang akan diangkat sehingga dianggap berbobot secara akademik,
  2. Bagaimana menentukan data yang relevan untuk dikumpulkan,
  3. Apa yang harus dilakukan setelah data terkumpul.

 

Berikut adalah contoh pertanyaan penelitian untuk beberapa jenis dan strategi penelitian menurut Yin,  (1994: 6):

Jenis penelitian

Bentuk pertanyaan penelitian

Memerlukan kontrol terhadap peristiwa yang diteliti?

Fokus pada peristiwa kontemporer ?

Eksperimen

bagaimana, mengapa

Iya

Iya

Survei

siapa, apa, di mana, berapa banyak

Tidak

Iya

Analisis arsif

siapa, apa, di mana, berapa banyak

Tidak

iya/tidak

Sejarah

bagaimana, mengapa

Tidak

Tidak

Studi Kasus

Bagaimana, mengapa

Tidak

Iya

 

Dilihat dari kasus yang diteliti, menurut Endraswara (2012: 78), Studi Kasus dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu Studi Kasus berupa penyimpangan dari kewajaran dan Studi Kasus ke arah perkembangan  yang positif. Studi Kasus pertama bersifat kuratif, dan disebut Studi Kasus Retrospektif  (Retrospective Case Study), yang memungkinkan ada tindak lanjut penyembuhan atau perbaikan dari suatu kasus (treatment). Tindak penyembuhan tidak harus dilakukan oleh peneliti, tetapi oleh orang lain yang kompeten. Peneliti hanya memberikan masukan dari hasil penelitian.

Sedangkan yang kedua disebut Studi Kasus Prospektif (Prospective Case Study). Jenis Studi Kasus ini diperlukan untuk menemukan kecenderungan dan arah perkembangan suatu kasus. Tindak lanjutnya berupa Penelitian Tindakan (Action Research) yang dilakukan juga oleh pihak lain yang berkompeten.

Berikut adalah beberapa-beberapa contoh peristiwa yang bisa diangkat menjadi objek Penelitian Studi Kasus.

 

a). Misalnya, sebuah sekolah memperoleh banyak prestasi, di bidang akademik, olah raga, kebersihan dan lingkungan sekolah, baik di tingkat lokal, provinsi bahkan nasional. Prestasi-prestasi itu diraih ketika sekolah dipimpin oleh seorang ibu yang diangkat dari salah seorang guru di sekolah tersebut. Selama menjadi guru, prestasi ibu itu biasa-biasa saja dan praktis tidak ada yang menonjol. Tetapi semua warga sekolah mengenal ibu itu sebagai sosok yang tekun dan tidak suka menonjolkan diri. Model kepemimpinan ibu kepala sekolah itu pantas dijadikan “kasus” untuk diteliti mengapa itu bisa terjadi. Jika peneliti bisa menggali model kepemimpinan ibu kepala sekolah, akan bisa diperoleh banyak pelajaran yang bermanfaat, tidak saja bagi peneliti itu sendiri dan sekolah tetapi juga  masyarakat luas. Contoh kasus di atas bisa diteliti oleh mahasiswa bidang Manajemen Pendidikan.

 

b). Di sebuah kantor perusahaan swasta sering terjadi keributan karena uang dan barang-barang milik karyawan sering hilang. Berkali-kali manajer perusahaan memberi pengarahan dan mengingatkan jika tertangkap pelakunya  akan diberi sanksi, mulai dari sanksi ringan hingga berat, sampai pemecatan. Bahkan pernah mengundang polisi untuk memberi pengarahan serupa. Peringatan berkali-kali dari pimpinan perusahaan dan kepolisian tidak ada efeknya sama sekali. Buktinya pencurian masih saja terus terjadi. Nah, suatu kali perusahaan mengundang seorang da’i untuk berceramah di hari peringatan keagamaan. Karena sebagian besar karyawan senang, sang da’i itu diundang lagi beberapa kali. Dalam ceramahnya, da’i itu tidak lupa menyelipkan makna kejujuran dalam hidup dan apa konsekwensinya di hadapan Tuhan jika seseorang tidak jujur. Sejak itu pencurian mereda, bahkan  akhirnya tidak ada sama sekali.  Jelas sekali bahwa sentuhan spiritualitas jauh lebih efektif daripada peringatan atau ancaman dari pimpinan.  Peristiwa tersebut bisa diangkat menjadi “kasus” penelitian Studi  Kasus.

 

c). Sebuah sekolah memiliki masukan (input) siswa yang sangat baik,  umumnya dari anak-anak keluarga kelas menengah ke atas. Prestasi demi prestasi pun diraih oleh para siswa hampir di semua bidang. Di sekolah lain yang tidak jauh lokasinya dari sekolah pertama masukannya biasa-biasa saja, dan dari siswa-siswa kalangan masyarakat menengah ke bawah. Prestasi siswa di sekolah kedua tersebut tidak kalah hebatnya dari yang pertama. Bahkan di beberapa cabang olah raga prestasinya melebihi sekolah pertama. Prestasi sekolah kedua bisa diangkat sebagai “kasus” untuk dikaji lebih mendalam melalui Studi Kasus.

 

d). Mahasiswa Jurusan Bahasa bisa meneliti kasus yang terjadi pada mahasiswa internasional di sebuah perguruan tinggi dengan fenomena seperti berikut. Mahasiswa dari negara Timur Tengah yang bahasa ibunya bahasa Arab jauh lebih cepat belajar  bahasa Indonesia dibanding mahasiswa yang bahasa ibunya bahasa Inggris. Begitu juga mahasiswa yang berasal negara-negara bekas Uni Soviet mengalami kesulitan luar biasa belajar bahasa Indonesia. Mahasiswa dari Cina yang menguasai bahasa Arab dapat belajar dan menguasai bahasa Indonesia lebih cepat daripada mahasiswa Cina yang tidak bisa bahasa Arab. Fenomena pembelajaran bahasa Indonesia untuk mahasiswa asing bisa diangkat menjadi “kasus” penelitian Studi Kasus.

 

B. Kapan Studi Kasus Mulai Digunakan?

Hingga saat ini  Studi Kasus sudah berusia lebih dari 70 tahun. Sejak kemunculannya, jenis penelitian ini memperoleh banyak kritik karena dianggap analisisnya lemah, tidak objektif dan penuh bias, tidak seperti  penelitian kuantitatif  yang menggunakan statistik sebagai alat analisis.  Kritik semacam itu berlaku untuk semua jenis penelitian kualitatif. Anehnya, walaupun memperoleh banyak kritik, Studi Kasus tetap digunakan bahkan semakin meluas, khususnya untuk  studi ilmu-ilmu sosial — mulai dari psikologi, sosiologi, ilmu politik, antropologi, sejarah, dan ekonomi hingga ilmu-ilmu terapan seperti perencanaan kota, ilmu manajemen, pekerjaan sosial, dan pendidikan.

Selain itu, metodenya juga semakin diminati banyak peneliti untuk kepentingan penyusunan karya ilmiah seperti tesis dan disertasi karena dapat mengeksplorasi dan mengelaborasi suatu kasus secara mendalam dan komprehensif. Tulisan ini secara khusus hanya membahas Studi Kasus yang digunakan dalam metode penelitian kualitatif. Sebab, realitanya Studi Kasus juga dapat digunakan dalam metode penelitian kuantitatif, yakni Ex Post Facto Research. Misalnya, peneliti Studi Kasus meneliti seorang tokoh atau pemimpin yang jatuh dari kekuasaannya. Dia dipaksa mundur oleh rakyatnya, karena dinilai gagal menjalankan amanah. Dari penelitian ini diharapkan  dapat diambil pelajaran atau hikmah untuk generasi yang akan datang agar tidak terulang. Karena peristiwanya sudah selesai, maka penelitiannya disebut Ex Post Facto Research. Sebagaimana diketahui, Ex Post Facto Research merupakan salah satu jenis penelitian Kuantitatif selain Penelitian Korelasional, Survei, Polling Pendapat, dan Sensus.

Dari sisi cakupan wilayah kajiannya, Studi Kasus terbatas pada wilayah yang sempit (mikro), karena mengkaji perilaku pada tingkat individu, kelompok, lembaga dan organisasi. Kasusnya pun dibatasi pada pada jenis kasus tertentu, di tempat atau lokus tertentu, dan dalam waktu tertentu. Karena wilayah cakupannya sempit, penelitian Studi Kasus tidak dimaksudkan untuk mengambil kesimpulan secara umum atau memperoleh generalisasi, karena itu tidak memerlukan populasi dan sampel. Namun demikian, untuk kepentingan disertasi penelitian Studi Kasus diharapkan dapat menghasilkan temuan yang dapat berlaku di tempat lain jika ciri-ciri dan kondisinya sama atau mirip dengan tempat di mana penelitian dilakukan, yang lazim disebut sebagai transferabilitas.

Tentu saja untuk dapat melakukan transferabilitas, temuan penelitian harus diabstraksikan untuk menjadi konsep. Di sini peneliti perlu melakukan kontemplasi secara serius dengan membaca kembali teori, hasil-hasil penelitian terdahulu, pendapat  atau pandangan  para ahli sebagaimana ditulis pada bab kajian pustaka.

Walaupun cakupan atau wilayah kajiannya sempit, secara substantif  penelitian Studi Kasus sangat mendalam, dan diharapkan dari pemahaman yang mendalam itu dapat diperoleh sebuah konsep atau teori tertentu untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, unit analisis Studi Kasus ialah perorangan, kelompok, lembaga atau organisasi, bukan masyarakat secara luas. Adalah obsesi setiap peneliti untuk dapat menemukan hal-hal baru dan dapat berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tidak terkecuali peneliti Studi Kasus. Hal-hal yang dapat disumbangkan untuk ilmu pengetahuan berupa konsep, proposisi, definisi, model, rumus, dalil, paradigma, teori dan lain-lain.

C. Bagaimana Studi Kasus Dilakukan?

Seperti halnya jenis penelitian kualitatif lainnya, yakni fenomenologi, etnografi, etnometodologi, grounded research dan studi teks, Studi Kasus juga dilakukan dalam latar alamiah, holistik dan mendalam. Alamiah artinya kegiatan pemerolehan data dilakukan dalam konteks kehidupan nyata (real-life events). Tidak perlu ada perlakuan-perlakuan tertentu baik terhadap subjek    penelitian maupun konteks di mana penelitian dilakukan. Biarkan semuanya berlangsung secara alamiah.

Holistik artinya peneliti harus bisa memperoleh informasi yang akan menjadi data secara komprehensif sehingga tidak meninggalkan informasi yang tersisa. Dari data akan diperoleh fakta atau realitas.  Agar memperoleh informasi yang komprehensif, peneliti tidak saja menggali informasi dari partisipan dan informan utama melalui wawancara mendalam, tetapi juga orang-orang di sekitar subjek penelitian, catatan-catatan harian mengenai kegiatan subjek atau rekam jejak subjek.

Terkait itu,  Yunus (2010: 264) menggambarkan objek yang diteliti dalam penelitian Studi Kasus hanya mencitrakan dirinya sendiri secara mendalam/detail/lengkap untuk memperoleh gambaran yang utuh dari objek (wholeness) dalam artian bahwa data yang dikumpulkan dalam studi dipelajari sebagai suatu keseluruhan, utuh yang terintegrasi. Itu sebabnya penelitian Studi Kasus bersifat eksploratif. Sifat objek kajian yang sangat khusus menjadi bahan pertimbangan utama peneliti untuk mengelaborasinya dengan cara mengeksplorasi secara mendalam. Peneliti tidak hanya memahami kasus dari luarnya saja, tetapi juga dari dalam sebagai entitas yang utuh dan detail. Itu sebabnya salah satu teknik pengumpulan datanya melalui wawancara mendalam. Untuk memahami lebih jauh tentang subjek, peneliti Studi Kasus juga dapat memperoleh data melalui riwayat hidupnya.

Selain wawancara mendalam, ada lima teknik pengumpulan data penelitian Studi Kasus, yakni dokumentasi, observasi langsung, observasi terlibat (participant observation), dan artifak fisik. Masing-masing untuk saling melengkapi. Inilah kekuatan Studi Kasus dibanding metode lain dalam penelitian kualitatif. Selama ini saya melihat mahasiswa yang menggunakan Studi Kasus  hanya mengandalkan wawancara saja sebagai cara untuk mengumpulkan data, sehingga data kurang cukup atau kurang melimpah.

Sedangkan mendalam artinya peneliti tidak saja menangkap makna dari sesuatu yang tersurat, tetapi juga yang tersirat. Dengan kata lain, peneliti Studi Kasus diharapkan dapat mengungkap hal-hal mendalam yang tidak dapat diungkap oleh orang biasa.  Di sini peneliti dituntut untuk memiliki kepekaan teoretik mengenai topik atau tema yang diteliti. Misalnya, mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan sedang melakukan penelitian untuk kepentingan penyusunan tesis/disertasi mengenai kepemimpinan seorang kepala sekolah. Melalui wawancara mendalam, peneliti tidak begitu saja menerima informasi dari kepala sekolah sebagai subjek penelitian, tetapi juga memaknai ucapan-ucapannya. Peneliti harus bisa menangkap hal-hal yang tersirat dari setiap ujaran yang tersurat.

Dengan menggunakan payung paradigma fenomenologi, Studi Kasus memusatkan perhatian pada satu objek tertentu yang diangkat sebagai sebuah kasus untuk dikaji secara mendalam sehingga mampu membongkar realitas di balik fenomena. Dalam pandangan paradigma fenomenologi, yang tampak atau kasat mata pada hakikatnya bukan sesuatu yang riel (realitas). Itu hanya pantulan dari yang ada di dalam. Tugas peneliti Studi Kasus ialah menggali sesuatu yang tidak tampak tersebut untuk menjadi pengetahuan yang tampak. Karena itu dapat pula diartikan Studi Kasus sebagai proses mengkaji atau memahami sebuah kasus dan sekaligus mencari hasilnya.

Sejauh pengamatan saya selama ini, dari tesis dan disertasi yang saya uji, para mahasiswa masih gagal menangkap makna yang mendalam dari setiap kasus yang diangkat.  Padahal, justru itu inti dari penelitian Studi Kasus. Ketika ujian, umumnya mahasiswa  hanya bercerita panjang lebar tentang peristiwa yang diangkat menjadi kasus, dan tidak mengambil intisari secara konseptual. Kegagalan tersebut terjadi karena beberapa hal. Pertama, kurang memiliki kepekaan teoretik karena kurangnya bacaan atau literatur terkait tema yang diangkat. Kedua, karena sedikitnya pengalaman melakukan penelitian. Ketiga, karena alasan pragmatis, mahasiswa ingin cepat-cepat menyelesaikan studinya.

D. Mengapa Memilih Metode Studi Kasus?

Menggunakan istilah “Studi Kasus”  artinya ialah peneliti ingin menggali informasi apa yang akhirnya bisa dipelajari atau ditarik dari sebuah kasus, baik  kasus tunggal maupun jamak.  Stake (dalam Denzin dan Lincoln, eds. 1994; 236) menyebutnya “what can be learned from a single case?. Agar sebuah kasus bisa digali maknanya peneliti harus pandai-pandai memilah dan memilih kasus macam apa yang layak diangkat menjadi tema penelitian. Bobot kualitas kasus harus menjadi pertimbangan utama. Dengan demikian, tidak semua persoalan atau kasus baik pada tingkat perorangan, kelompok  atau lembaga bisa dijadikan bahan kajian Studi Kasus. Begitu juga tidak setiap pertanyaan bisa diangkat menjadi pertanyaan penelitian (research questions).  Ada syarat-syarat tertentu, sebagaimana dijelaskan di muka, agar sebuah peristiwa layak diangkat menjadi “kasus” penelitian Studi Kasus. Begitu juga ada syarat-syarat tertentu  agar sebuah pertanyaan bisa diangkat menjadi pertanyaan penelitian.

Salah satu hal penting untuk dipertimbangkan dalam memilih kasus ialah peneliti yakin  bahwa dari kasus tersebut akan dapat diperoleh pengetahuan lebih lanjut dan  mendalam secara ilmiah. Dalam hal ini Studi Kasus disebut sebagai Instrumental Case Study. Selain itu, Studi Kasus bisa dipakai untuk memenuhi minat pribadi karena ketertarikannya pada suatu persoalan tertentu, dan tidak untuk membangun teori tertentu. Misalnya, tentang kenakalan remaja, penyalahgunaan obat, fenomena single parents, dan sebagainya. Studi semacam ini disebut sebagai Studi Kasus Intrinsik (Intrinsic Case Study). Di negara maju, Studi Kasus Intrinsik lazim digunakan oleh para profesional atau anggota masyarakat biasa karena rasa ingin tahunya terhadap suatu persoalan yang mereka hadapi secara lebih mendalam, lebih-lebih jika persoalan tersebut menjadi isu hangat di masyarakat.

E. Beberapa Manfaat Penelitian Studi Kasus

Menurut Lincoln dan Guba, sebagaimana dikutip Mulyana (2013: 201-202), keistimewaan Studi Kasus meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Studi Kasus merupakan sarana utama bagi penelitian emik, yakni menyajikan pandangan subjek yang diteliti,

2. Studi Kasus menyajikan uraian menyeluruh yang mirip dengan apa yang dialami pembaca dalam kehidupan sehari-hari (everyday real-life),

3. Studi Kasus merupakan sarana efektif untuk menunjukkan hubungan antara peneliti dengan subjek atau informan,

4. Studi Kasus memungkinkan pembaca untuk menemukan konsistensi internal yang tidak hanya merupakan konsistensi gaya dan konsistensi faktual tetapi juga keterpercayaan (trustworthiness),

5. Studi Kasus memberikan “uraian tebal” yang diperlukan bagi penilaian atas transferabilitas,

6. Studi Kasus terbuka  bagi penilaian atas konteks yang turut berperan bagi pemaknaan atas fenomena dalam konteks tersebut.

Sekadar mengingatkan istilah “emik” dan “etik” pertama kali dikenalkan oleh Kenneth Pike, seorang linguis yang kemudian mengembangkannya dalam bidang ilmu budaya (Endraswara, 2012: 34). Emik ialah jenis atau kategori data menurut subjek penelitian. Sedangkan etik  ialah kategori data menurut peneliti dengan mengacu pada konsep-konsep sebelumnya. Seiring dengan perkembangan metode penelitian kualitatif, kedua istilah “emik” dan “etik” lazim dipakai untuk menggambarkan kategori data.

 

F. Langkah-Langkah Penelitian Studi Kasus

 

1. Pemilihan Tema, Topik dan Kasus. Pada tahap pertama ini peneliti harus yakin bahwa dia akan memilih kasus tertentu yang merupakan bagian dari “body of knowledge”nya bidang yang dipelajari. Misalnya, mahasiswa Jurusan atau Program Studi Manajemen Pendidikan wajib memilih kasus yang memang menjadi wilayah kajian bidang tersebut. Begitu juga mahasiswa Jurusan atau Program Studi Kurikulum akan memilih kasus yang merupakan bagian dari wilayah kajian ilmu kurikulum. Logikanya ialah seorang peneliti hanya akan bisa menghasilkan penelitian yang baik pada bidang yang diminati dan dikuasainya. Karena itu, memilih kasus pada bidang yang diminati sangat penting. Kasus bisa diperoleh dari hasil pengamatan peneliti sendiri, pengalamannya selama ini, hasil membaca buku,  majalah ilmiah, koran, mengikuti  pertemuan-pertemuan ilmiah (seperti seminar, lokakarya,  konferensi),  diskusi dengan teman sejawat, tutor, dosen pembimbing, membaca hasil penelitian orang lain. Setelah sumber-sumber bacaan diperoleh, peneliti membacanya untuk menentukan tema besar penelitian.  Dari tema besar disempitkan lagi menjadi topik. Agar  bisa fokus, dari topik peneliti dapat memberikan tekanan pada objek kajian, yang selanjutnya menjadi kasus.  Dari tema, topik, dan  objek kajian, peneliti merumuskan judul penelitian. Dengan demikian, judul penelitian dibuat setelah tema, topik, objek/kasus ditentukan. Prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:

 

TEMA —- TOPIK —- OBJEK KAJIAN/KASUS/UNIT ANALISIS —- JUDUL

 

2. Pembacaan Literatur. Setelah kasus diperoleh, peneliti mengumpulkan literatur atau bahan bacaan sebanyak-banyaknya berupa jurnal, majalah ilmiah, hasil-hasil penelitian terdahulu, buku, majalah, surat kabar yang terkait dengan kasus tersebut. Menurut Yin (1994: 9) pembacaan literatur sangat penting untuk memperluas wawasan peneliti di bidang yang akan diteliti dan mempertajam rumusan masalah yang akan diajukan. Secara lebih lengkap, meminjam Cooper, (1984), Yin menyatakan:

“To determine the questions that are most significant for a topic, and to gain some precision in formulating these questions, requires much preparation. One way is to review the literature on the topic. Note that such a literature review is therefore a means to an end, and not – as most students think – an end in itself. Budding investigators think that the purpose of a literature review is to determine the answers about what is known on a topic; in contrast, experienced investigators review previous research to develop sharper and more insightful questions about the topic”.

 

Namun demikian, dalam upaya pengumpulan bahan bacaan peneliti perlu mempertimbangkan dua aspek penting, yakni relevansi (relevance) bahan bacaan/literatur tersebut dengan topik bahasan (kasus) yang diangkat dan kemutakhiran (novelty). Semakin mutakhir bahan bacaan, semakin baik, sehingga peneliti dapat mengikuti perkembangan keilmuan paling up date atau  “state of the arts” bidang yang digeluti. Sebab, ilmu pengetahuan senantiasa mensyaratkan hal-hal baru. (Tentang pentingnya “state of the arts” dalam penelitian telah dibahas dalam tulisan tersendiri). Terkait dengan bahan bacaan,  sering pula  ditemukan peneliti mengumpulkan bahan bacaan yang sangat banyak, tetapi tidak relevan dengan objek kajian yang diangkat, sehingga laporan penelitian menjadi sangat tebal. Padahal, kualitas  penelitian tidak ditentukan oleh tebalnya atau banyaknya halaman  hasil/laporan penelitian, tetapi oleh  ketepatan metode penelitian, keluasan perspektif teoretik peneliti, keandalan dan kecukupan data, kedalaman analisis, kebaruan temuan dan sumbangannya bagi ilmu pengetahuan.

 

3. Perumusan Fokus dan Masalah Penelitian. Langkah sangat penting dalam setiap penelitian ialah merumuskan fokus dan masalah. Fokus penelitian perlu dibuat agar peneliti bisa berkonsentrasi pada satu titik yang menjadi pusat perhatian. Di  muka telah dibahas bagaimana rumusan masalah penelitian  dibuat. Satu hal penting lainnya terkait dengan  rumusan masalah ialah dari rumusan tersebut dapat digali informasi penting  dan mendalam untuk menjadi pengetahuan yang berharga bagi kemanusiaan, bukan sembarang informasi yang tidak bernilai ilmiah.

 

4. Pengumpulan Data. Sebagaimana telah ditulis di muka, data penelitian Studi Kasus dapat diperoleh dari beberapa teknik, seperti wawancara, observasi pelibatan (participant observation), dan dokumentasi. Peneliti sendiri merupakan instrumen kunci, sehingga dia sendiri yang dapat mengukur ketepatan dan ketercukupan data serta kapan pengumpulan data harus berakhir. Dia sendiri pula yang menentukan informan yang tepat untuk diwawancarai, kapan dan di mana wawancara dilakukan.

 

5. Penyempurnaan Data. Data yang telah terkumpul perlu disempurnakan. Bagaimana caranya peneliti mengetahui datanya kurang atau belum sempurna? Caranya ialah dengan membaca keseluruhan data dengan merujuk ke rumusan masalah yang diajukan. Jika rumusan masalah diyakini dapat dijawab dengan data yang tersedia, maka data dianggap sempurna. Sebaliknya, jika belum cukup untuk menjawab rumusan masalah, data dianggap belum lengkap, sehingga peneliti wajib kembali ke lapangan untuk melengkapi data dengan bertemu informan lagi. Itu sebabnya penelitian kualitatif berproses secara siklus.

 

6. Pengolahan  Data. Setelah data dianggap sempurna, peneliti melakukan pengolahan data, yakni melakukan pengecekan kebenaran data, menyusun data, melaksanakan penyandian (coding), mengklasifikasi data, mengoreksi jawaban wawancara yang kurang jelas. Tahap ini dilakukan untuk memudahkan tahap analisis.

 

7. Analisis Data. Setelah data berupa transkrip hasil wawancara dan observasi, maupun gambar, foto, catatan harian subjek dan sebagainya dianggap lengkap dan sempurna, peneliti melakukan analisis data. Analsis data Studi Kasus dan penelitian kualitatif pada umumnya  hanya bisa dilakukan oleh peneliti sendiri, bukan oleh pembimbing, teman, atau melalui jasa orang lain. Sebab, sebagai instrumen kunci,  hanya peneliti sendiri yang tahu secara mendalam semua masalah yang diteliti. Analisis data merupakan tahap paling penting di setiap penelitian dan sekaligus paling sulit. Sebab, dari tahap ini akan diperoleh informasi penting berupa temuan penelitian. Kegagalan analisis data berarti kegagalan penelitian secara keseluruhan. Kemampuan analisis data sangat ditentukan oleh keluasan wawasan teoretik peneliti pada bidang yang diteliti, pengalaman penelitian, bimbingan dosen, dan minat yang kuat peneliti untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas.

 

8. Proses Analisis Data. Pada hakikatnya analisis data adalah sebuah kegiatan untuk memberikan makna atau memaknai data dengan mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberi kode atau tanda, dan mengkategorikannya menjadi bagian-bagian berdasarkan pengelompokan tertentu sehingga diperoleh suatu temuan terhadap rumusan masalah yang diajukan. Melalui serangkaian aktivitas tersebut, data kualitatif yang biasanya berserakan dan bertumpuk-tumpuk dapat disederhanakan  sehingga dapat  dipahami dengan lebih mudah. Tidak ada prosedur atau teknik analisis data yang baku dalam penelitian kualitatif, tetapi langkah-langkah berikut bisa digunakan sebagai pedoman;

a. Peneliti membaca keseluruhan transkrip untuk memperoleh informasi-informasi secara umum (general) dari masing-masing transkrip,

b. Pesan-pesan umum tersebut dikompilasi untuk diambil pesan khususnya (spesific messages),

c. Dari pesan-pesan khusus tersebut akan diketahui pola umum data. Selanjutnya, data tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan urutan kejadian, kategori, dan tipologinya. Sebagaimana lazimnya dalam penelitian kualitatif, analisis data Studi Kasus dimulai sejak peneliti di lapangan, ketika mengumpulkan data dan ketika data sudah terkumpul semua.

 

9. Dialog Teoretik. Untuk melahirkan temuan konseptual berupa “thesis statement, setelah pertanyaan penelitian terjawab, peneliti Studi Kasus, khususnya calon magister dan lebih-lebih doktor, melakukan langkah selanjutnya, yaitu melakukan dialog  temuan tersebut dengan teori yang telah dibahas di bagian kajian pustaka, sehingga bagian kajian pustaka bulan sekadar ornamen belaka. Tahap ini disebut Dialog Teoretik. Sering kali terjadi ketika pertanyaan penelitian sudah terjawab, peneliti mengira tugasnya sudah selesai. Ini kesalahan umum yang terjadi pada peneliti Studi Kasus.

Umumnya untuk  karya ilmiah setingkat S1 (skripsi), temuan penelitian cukup berupa  fact finding secara deskriptif atas dasar teori yang telah dipelajari selama kuliah. Untuk karya ilmiah setingkat magister (tesis), temuan penelitian harus  sudah pada tahap pengembangan teori (theoretical development). Sedangkan untuk karya setingkat S3 (disertasi), temuan harus sampai pada  tahap menemukan sesuatu yang baru (new findings), walaupun tidak harus berupa teori.

 

10. Triangulasi Temuan (Konfirmabilitas). Agar temuan tidak dianggap bias, peneliti perlu melakukan triangulasi temuan, atau yang sering disebut sebagai konfirmabilitas, yakni dengan melaporkan temuan penelitian kepada informan yang diwawancarai. Hal ini juga jarang dilakukan peneliti Studi Kasus, mungkin karena takut hasilnya berbeda dengan yang telah dia temukan. Seorang peneliti harus jujur, sehingga temuannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah di masyarakat akademik atau masyarakat umum. Karena akan menjadi ilmuwan, seorang peneliti harus memiliki kejujuran, bertindak secara objektif, bertanggung jawab, dan profesional.

 

11. Simpulan Hasil Penelitian.  Kesalahan umum yang sering terjadi pada  bagain ini ialah peneliti mengulang atau meringkas apa yang telah dikemukakan pada bagian-bagian sebelumnya, tetapi  membuat sintesis dari  semua yang telah dikemukakan sebelumnya. Pada bagian ini peneliti mencantumkan implikasi teoretik. Tetapi untuk masing-masing jenjang pendidikan  perlu dirumuskan temuan yang berbeda.  Untuk penelitian mahasiswa jenjang S1 (skripsi) peneliti menemukan fakta-fakta di lapangan secara deskriptif sesuai pertanyaan penelitian (data description). Untuk penelitian jenjang S2 (tesis), selain menyajikan fakta-fakta sesuai pertanyaan penelitian, peneliti wajib mengembangkan teori yang terkait dengan pertanyaan penelitian (theoretical development). Sedangkan untuk jenjang S3 (disertasi), selain dua hal tersebut peneliti wajib mengemukakan temuan baru (new findings) baik berupa konsep, formula, model, atau teori. Proses penelitian hingga sampai teori ialah sebagai berikut:

 

DATA —- FACT —- CONCEPT —- PROPOSITION —- THEORY

 

12. Laporan Penelitian. Langkah paling akhir kegiatan penelitian ialah membuat laporan penelitian. Laporan penelitian merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban kegiatan penelitian yang dituangkan dalam bahasa tulis untuk kepentingan umum. Menurut Yunus (2010: 417) ada beberapa versi mengenai  laporan penelitian, tetapi secara umum terdapat 3 syarat agar laporan penelitian dapat dikategorikan sebagai karya ilmiah, yaitu:

(1). Objektif,

(2). Sistematik, dan

(3). Mengikuti metode ilmiah.

Objektif  artinya data yang diperoleh benar-benar dari subjek yang diteliti, bukan dari peneliti dan pandangan peneliti. Sistematik artinya urut, yakni pembahasan  harus mengikuti alur penalaran yang runtut di mana sejak bagian awal pembahasan hingga akhir menunjukkan keterkaitan logis dan merupakan satu kesinambungan. Secara garis besar batang tubuh karya ilmiah terdiri atas tiga bagian utama, yaitu bagian awal (prologue), bagian pembahasan (dialogue), dan bagian akhir (epilogue). Bagian prologue merupakan  bagian awal penelitian yang menjelaskan latar belakang mengapa suatu penelitian dilaksanakan. Bagian ini memuat latar belakang/konteks, fokus/rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, lingkup penelitian, originalitas penelitian dan definisi operasional istilah-istilah kunci. Bagian dialogue merupakan batang tubuh utama penelitian karena merupakan proses penalaran yang dibangun atas dasar kaidah-kaidah ilmiah. Secara umum bagian ini mengemukakan tiga hal, yakni:

(1). Hal-hal yang dibutuhkan dalam pembahasan,

(2). Proses pembahasan dan

(3). Produk pembahasan.

Hal-hal yang dibutuhkan dalam penelitian terdiri atas tinjauan pustaka, metode penelitian, dan deskripsi atau gambaran tentang lokus penelitian di mana penelitian dilakukan.

Sedangkan mengikuti metode ilmiah yang dimaksudkan ialah kegiatan penelitian mengikuti langkah-langkah memperoleh pengetahuan ilmiah sesuai yang telah disepakati oleh para ilmuwan. Memang juga terdapat beberapa versi tentang langkah memperoleh pengetahuan ilmiah.  Untuk penelitian Studi Kasus, langkah-langkah berikut dapat digunakan sebagai pedoman, yakni:

(1) penentuan fokus kajian (focus of study), yang mencakup kegiatan    memilih masalah yang memenuhi syarat kelayakan dan kebermaknaan,

(2) pengembangan kepekaan teoretik dengan menelaah bahan pustaka yang relevan dan hasil kajian sebelumnya,

(3) penentuan kasus atau bahan telaah, yang meliputi kegiatan memilih dari mana dan dari siapa data diperoleh,

(4) pengembangan protokol pemerolehan dan pengolahan data, yang mencakup kegiatan menetapkan piranti, langkah dan teknik pemerolehan dan pengolahan data yang digunakan,

(5) pelaksanaan kegiatan pemerolehan data, yang terdiri atas kegiatan mengumpulkan data lapangan atau melakukan pembacaan naskah yang dikaji,

(6) pengolahan data perolehan, yang meliputi kegiatan penyandian (coding), pengkategorian (categorizing), pembandingan (comparing), dan pembahasan (discussing),

(7) negosiasi hasil kajian dengan subjek kajian, dan

(8) perumusan simpulan kajian, yang meliputi kegiatan penafsiran dan penyatu-paduan (interpreting and integrating) temuan ke dalam bangunan pengetahuan sebelumnya, serta saran bagi kajian berikutnya.

Karena sifat dasar bahan yang dikaji serta tujuan yang ingin dicapai, bisa saja langkah-langkah tersebut diubah menurut dinamika lapangan. Rumpun kajian, misalnya, mungkin mengalami penajaman dan perumusan ulang setelah peneliti melakukan penjajakan lapangan. Tentu saja, penajaman ulang perlu dilakukan berdasarkan ketersediaan data, serta dimaksudkan untuk meningkatkan kebermaknaan kajian.

 

III. PENUTUP

Penelitian merupakan serangkaian kegiatan atau aktivitas ilmiah untuk menemukan kebenaran yang hanya bisa dilakukan oleh makhluk ciptaan Tuhan yang bernama manusia. Itupun tidak oleh semua manusia, tetapi hanya mereka yang terdidik (educated people). Berbekal nalar yang merupakan anugerah Tuhan yang luar biasa, melalui kegiatan ilmiah (penelitian) manusia dapat mengungkap misteri ciptaan Tuhan. Dengan penemuan-penemuan baru di bidang sains dan teknologi, manusia dapat meningkatkan tarap hidup, harkat dan  martabatnya sehingga berbeda dengan semua makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Selain itu, lewat penelitian ilmu pengetahuan berkembang bahkan hingga begitu pesat seperti yang kita saksikan dan rasakan saat ini. Karena itu, kemampuan melakukan penelitian sangat penting untuk peningkatan kualitas hidup manusia itu sendiri.

Bagi umat Islam, kegiatan penelitian dapat ditafsirkan sebagai  terjemahan operasional dari perintah membaca (iqra’), yang merupakan ayat pertama yang diturunkan untuk umatnya.  Perintah membaca tersebut tentu tidak hanya dimaksudkan untuk membaca ayat-ayat qauliyyah berupa ayat yang tertulis dalam mushaf al Quran, tetapi lebih dari itu ialah membaca ayat-ayat qauniyyah berupa semua fenomena kehidupan, baik fenomena alam semesta (melalui ilmu-ilmu alam), fenomena sosial (melalui ilmu-ilmu sosial), maupun kemanusiaan (melalui ilmu-ilmu humaniora) yang berserakan yang tidak terhitung jumlahnya.

Sebagai hasil ijtihad manusia, metode penelitian merupakan salah satu cara untuk memperoleh dan mencarai kebenaran yang bersifat tentatif, bukan kebenaran absolut. Sebab, hanya kebenaran dari Allah swt saja yang bersifat absolut.  Hasilnya berupa kebenaran ilmiah. Kebenaran ilmiah merupakan kebenaran yang terbuka untuk terus diuji, dikritik bahkan direvisi. Karena itu tidak ada metode terbaik untuk mencari kebenaran, tetapi yang ada adalah metode yang tepat untuk tujuan tertentu sesuai fenomena yang ada.

Studi Kasus merupakan salah satu dari sekian banyak metode pencarian kebenaran yang tentu saja hasilnya juga berupa kebenaran tentatif, yang tidak lepas dari kelemahan dan kekurangan. Terlepas dari kekurangannya, Studi Kasus dianggap sebagai metode penelitian yang cukup menantang dan sangat tepat untuk mengungkap hal-hal yang tersembunyi dalam fenomena sosial dan budaya untuk selanjutnya diangkat ke permukaan sehingga menjadi pengetahuan publik.

Dari uraian awal tulisan ini beberapa kali saya mengutarakan tidak ada standar yang baku dalam metode penelitian kualitatif, termasuk Studi Kasus, mulai dari langkah-langkah penelitian, proses pengumpulan data, analisis data, hingga penyusunan format laporan penelitian. Banyak varian bisa digunakan dan dipilih oleh mahasiswa. Istilah-istilah teknis yang digunakan para ahli juga berbeda-beda. Ada sebagian peneliti menggunakan istilah “konteks” penelitian, alih-alih “latar belakang” di bagian awal laporan penelitian,  sekadar untuk membedakannya dengan metode penelitian kuantitatif.

Ada juga yang menggunakan kata ganti pertama tunggal “saya” alih-alih “peneliti” yang biasanya digunakan dalam penelitian kuantitatif untuk menunjukkan bahwa anda menjaga jarak dengan orang/subjek atau fenomena yang diteliti. Bagaimana menyikapi semua itu? Peneliti bisa memilih yang mana yang disukai. Tetapi yang penting ialah sikap konsisten terhadap pilihan yang telah dijatuhkan.  Pun tidak ada ukuran baku berapa banyak halaman yang diperlukan untuk menulis laporan penelitian. Semua tergantung pada peneliti sendiri yang dapat mengukurnya.  Tetapi lepas dari semua varian itu, ada satu hal yang  sama untuk semua jenis penelitian kualitatif, yakni untuk memahami tindakan subjek dari sisi subjek itu sendiri, walau peneliti sebenarnya tidak mungkin dapat menggali makna dari semua tindakan subjek. Inilah sulitnya  metode penelitian kualitatif.  Wal hasil metode Studi Kasus telah hadir dan mewarnai metodologi penelitian sebagai disiplin yang terus berkembang, tetapi sekaligus hal yang menantang. Sebab, peneliti ditantang untuk bekerja keras menggali, membongkar, dan mengeksplorasi semua tindakan subjek dan mengangkat hal-hal yang samar-samar menjadi terang benderang untuk kepentingan publik . Usaha menggali makna sebuah tindakan merupakan kerja serius

Dari karya pendek ini, saya berharap para mahasiswa dapat lebih memahami tentang konsep atau pengertian, ciri-ciri, manfaat, dan langkah serta prosedur penelitian Studi Kasus untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, ketika menulis karya ilmiah menggunakan metode Studi Kasus para mahasiswa memahami betul semua konsep, prosedur, dan langkah-langkahnya secara tepat. Semoga bermanfaat!

_____________

Datar Pustaka

Endraswara, Suwardi. 2012. METODOLOGI PENELITIAN KEBUDAYAAN.

Yogyakarta: GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS.

Horby, A S. 1989. OXFORD ADVANCED LEARNER’S DICTIONARY., Fourth Edition. Oxford: Oxford University Press.

Mulyana, Dedy, dan Solatun. 2007. METODE PENELITIAN KOMUNIKASI. BANDUNG: PT REMAJA ROSDAKARYA.

Mulyana, Dedy. 2013. METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF: PARADIGMA BARU ILMU KOMUNIKASI DAN ILMU SOSIAL LAINNYA. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.

Stake, Robert E.  1994. “Case Studies” in Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln (eds.). “Handbook of Qualitative Research”, Thousand Oaks, California:   SAGE Publications, Inc.

Yin, Robert K. 1994. CASE STUDY RESEARCH.  Thousand Oaks, London, New Delhi: SAGE Publications.

Yunus, Hadi Sabari. 2010. Metode Penelitian Wilayah Kontemporer. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.

Visits: 85
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *