Apakah Metode Studi Kasus Ilmiah? (Tulisan ke 2)

Istilah generalisasi (generalization) tidak dikenal dalam penelitian kualitatif. Sebagai padanannya dikenal istilah transferabilitas (transferability) dalam penelitian kualitatif, walau tidak sama persis. Tetapi maknanya sangat berbeda. Jika generalisasi merupakan rumusan atau temuan penelitian yang dapat berlaku dan diperlakukan secara umum untuk semua populasi yang diteliti, maka transferabilitas artinya adalah hasil penelitian kualitatif bisa berlaku dan diberlakukan di tempat lain manakala tempat lain yang dimaksudkan itu memiliki ciri-ciri yang mirip atau kurang lebih sama dengan tempat atau subjek penelitian diteliti. Secara lebih spesifik dapat ditambahkan bahwa  menurut Jensen (dalam Given, 2008: 886), transferabilitas diartikan sebagai proses menghubungkan temuan yang ada dengan praktik kehidupan dan perilaku nyata dalam konteks yang lebih luas.

 

Dalam penelitian kuantitatif yang jumlah populasi atau partisipannya  besar biasanya peneliti menggunakan sampel. Karena itu, sampel yang dipilih harus memenuhi syarat keterwakilan agar hasil penelitian dapat digeneralisasikan. Semakin sampelnya representatif, maka semakin tinggi peluang generalisasi yang dihasilkan, dan sebaliknya. Dengan demikian, pertanyaan berapa jumlah populasi dan sampel yang diteliti sangat wajar dan seharusnya memang begitu.

Sebaliknya, transferabilitas dapat diperoleh jika peneliti dapat menggali kedalaman informasi dan mampu mengabstraksikan temuan substantif menjadi temuan formal berupa thesis statement. Sebagaimana pernah dikupas dalam tulisan-tulisan sebelumnya, yang dimaksudkan dengan temuan substantif  adalah rumusan yang diperoleh peneliti sebagai jawaban atas fokus penelitian yang diajukan di awal. Dengan demikian, ketika peneliti kualitatif sudah berhasil merumuskan temuan sebenarnya penelitian belum bisa dikatakan selesai. Sebab, ia masih harus menyelesaikan satu tahapan — yang justru  sangat penting —, yakni merumuskan temuan substantif menjadi temuan formal. Bagi penelitian untuk kepentingan penulisan disertasi, rumusan temuan formal wajib dilakukan.

Ada dua hal yang mesti diperhatikan oleh peneliti kualitatif untuk meningkatkan transferabilitas, yaitu: (1) seberapa dekat subjek yang diteliti atau informan yang diwawancarai dengan konteks atau tema  yang diteliti, dan (2) batasan kontekstual (contextual boundaries) dari temuan. Menurut Jensen (dalam Given, 2008: 886), ada dua strategi yang bisa dipakai peneliti untuk meningkatkan derajad transferabilitas, yakni: (1) ketersediaan data yang memadai (thick description of data), dan (2) pemilihan subjek atau partisipan yang dipilih secara purposif. Yang dimaksud dengan deskripsi data yang memadai (thick) jika peneliti bisa menyediakan informasi yang lengkap mengenai konteks, partisipan (subjek dan informan), dan desain penelitian yang jelas sehingga pembaca bisa membuat kesimpulan mengenai transferabilitas yang dihasilkan. Untuk memenuhi harapan itu, pilihlah informan yang menguasai tema yang diteliti. Dengan demikian, pertanyaan  berapa banyak subjek dan informan dalam penelitian kualitatif — sebagaimana saya alami — sama sekali  tidak relevan. Yang menjadi persoalan bukan jumlah subjek dan informan penelitiannya, melainkan kedalaman informasi yang diperoleh.

Terkait dengan  persoalan generalisasi temuan penelitian, saya teringat  Ujian Terbuka disertasi  saya beberapa tahun lalu. Saat itu saya ditanya salah seorang penguji mengapa saya hanya meneliti empat orang sebagai subjek penelitian, yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Amien Rais, Akbar Tandjung, dan Megawati Soekarnoputri, dan apakah hasilnya bisa digeneralisasikan? Lalu  apakah penelitian semacam itu ilmiah?’.

Pertanyaan semacam itu sudah saya duga sebelumnya. Saya memulai menjawabnya dengan memberikan argumen tentang nalar dasar metode penelitian kualitatif  bahwa metode penelitian kualitatif tidak menekankan jumlah subjek yang diteliti, melainkan kedalaman kajian terhadap feonomena yang diteliti. Dalam kasus saya fenomena yang dimaksudkan ialah fenomena bahasa politik elite politik, sehingga boleh meneliti empat orang yang dijadikan subjek penelitian, bahkan bisa satu orang seperti pada studi tokoh.

Lazimnya penelitian kaulitatif berada di bawah paradigma interpretif (bukan interpretatif – sebagaimana yang sering saya dengar dari para mahasiswa dan dosen). Interpretif dan interpretatif merupakan dua istilah yang maknanya jauh berbeda. Interpretif artinya memproduksi makna (meaning production) oleh peneliti. Sedangkan interpretatif, menurut  Given (2008: 458), merupakan proses memberi makna temuan penelitian menjadi bahasa yang mudah dipahami masyarakat umum.

Sepertinya tidak puas dengan jawaban yang saya sampaikan, penguji melanjutkan dengan pertanyaan ‘bukankah analisis data anda sebenarnya hanya hasil pikiran anda yang subjektif, sehingga sulit disebut ilmiah?’. Lagi-lagi saya menjawabnya juga dengan berpedoman pada nalar dasar penelitian kualitatif, bahwa sebagai peneliti  saya adalah instrumen utama penelitian. Sebagai instrumen utama, saya sendiri yang mencari tema, menyusun desain, membaca teori yang relevan, merumuskan fokus dan tujuan, mengumpulkan data, menganalisis data hingga membuat kesimpulan/temuan. Bahkan saya sendiri pula yang menentukan bahwa datanya sudah cukup dan penelitiannya sudah selesai atau belum. Tetapi perlu disadari bahwa melakukan semua tahapan dan proses penelitian secara sendiri tidak berarti saya melakukan sesuatu dengan semau dan sendirinya. Ada rambu-rambu dan pedoman yang saya jadikan pegangan/pedoman.

Rambu dan pedoman itu sudah dikembangkan oleh para penggagas metode penelitian kualitatif sejak awal metode tersebut dipakai oleh para pakar di lingkungan aliran Chicago (school of Chicago) — sekarang menjadi Universitas Chicago. Semula metode ini hanya dipakai dalam bidang antropologi dan sosiologi. Rambu-rambu yang dimaksud meliputi cara pandang (paradigm), hakikat, tujuan dan proses serta prosedur yang dilalui. Kesemuanya memang berbeda sangat tajam dengan metode penelitian kuantitatif yang sudah ada jauh sebelumnya. Saya sadar penanya itu tidak salah, karena berasal dari disiplin ilmu yang tidak sama dengan saya, yakni dari bidang kedokteran yang nota bene bermadhab positivistik.

Selanjutnya  jika yang dimaksudkan ilmiah adalah ketersediaan data yang konkret atau empirik dan dapat diukur melalui  statistik, jelas metode penelitian kualitatif tidak ilmiah. Sejak awal kelahirannya, metode penelitian kualitatif dimaksudkan untuk menangkap arti secara mendalam dari suatu peristiwa, gejala, fakta, realitas dan masalah tertentu. Justru untuk memperoleh arti yang mendalam itu tidak mungkin dilalui hanya dengan melihat hal-hal  yang tampak (empirik) lewat kuesioner dan uji laboratorium dan analisis statistik. Kedalaman makna hanya bisa dilalui dengan wawancara mendalam dan obervasi menyeluruh pada peristiwa yang diteliti.

Berikutnya lagi terkait dengan teori. Jika yang dimaksud ilmiah ialah ketiadaan pembuktian teori, maka metode penelitian kualitatif jelas tidak ilmiah. Sebab, metode kualitatif memang tidak dimaksudkan untuk membuktikan atau  menguji teori, melainkan mengembangkan teori. Mengembangkan tidak berarti  membuat teori yang baru sama sekali. Menghaluskan teori atau konsep yang sudah ada sebelumnya oleh peneliti terdahulu bisa disebut sebagai pengembangan teori.

Setelah teori pertanyaan lainnya menyangkut hipotesis. Jika yang dimaksudkan ilmiah ialah ketersediaan hipotesis, maka metode penelitian kualitatif tidak ilmiah. Berbeda dengan metode penelitian kuantitatif yang  dilengkapi dengan hipotesis untuk selanjutnya dibuktikan, maka metode penelitian kualitatif sebagaimana dinyatakan Devis (dalam Given, 2008: 408)  tidak memerlukan hipotesis. Kalaupun ada, hipotesis itu bukan untuk dibuktikan, melainkan sebagai  panduan agar penelitian bisa fokus ke tema atau isu tertentu. Semakin peneliti bisa terfokus pada isu tertentu, semakin dia memperoleh pemahaman yang mendalam. Sekadar mengingatkan, hipotesis adalah dugaan sementara atau atau pernyataan tentatif mengenai hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat.

Terakhir ialah menyangkut kebakuan  standar proses dan prosedur penelitian. Kebakuan standar sering dijadikan ukuran keilmiahan karya ilmiah. Metode penelitian kualitatif tidak memiliki standar baku.  Jika yang dimaksud ilmiah adalah proses penelitian harus berlangsung secara linier, maka penelitian kualitatif tidak bisa disebut ilmiah. Sebab, proses penelitian kualitatif berlangsung secara siklus. Siklus artinya tahapan-tahapan penelitian mulai identifikasi masalah, pengumpulan data, hingga analisis dan penyimpulan data bisa berlangsung tidak berurutan. Misalnya, ketika peneliti sampai pada tahap analisis data dan ternyata informasi terkait data tersebut tidak lengkap, atau lengkap tetapi tidak jelas, maka peneliti bisa melakukan pengumpulan  data kembali. Fokus penelitian pun bisa diubah ketika di lapangan peneliti menemukan isu yang lebih penting dan menarik untuk diangkat. Bahkan saya teringat ada judul penelitian disempurnakan setelah semua selesai untuk disesuaikan dengan hasil akhir penelitian dan untuk kepentingan publikasi yang lebih luas.

 

C. Penutup

Mengukur keilmiahan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan tolok ukur sebagaimana metode penelitian kuantitatif tentu tidak tepat. Masing-masing memiliki standar ukuran sendiri-sendiri. Berdasarkan uraian di atas, maka tidak ada alasan  untuk menyatakan bahwa metode penelitian kualitatif dengan seluruh jenisnya, termasuk Studi Kasus, tidak ilmiah. Alasan tersebut sesuai dengan pendapat Wilhelm Wundt (Mulyana, 2007: 12),  seorang pendiri psikologi eksperimental, bersama  para instrospeksionis lainnya abad ke-20 yang menyatakan metode kualitatif seabsah pendekatan kuantitatif, dan lebih layak dalam banyak segi, sebagai cara mengembangkan pemahaman ilmiah atas perilaku manusia. Karena itu, tidak perlu ada yang diragukan tentang keilmiahan metode kualitatif, sepanjang semua ketentuan metodologis dilalui dengan benar.

Sebenarnya mengkontraskan metode penelitian kualitatif dengan kuantitatif tidak selalu tepat, kecuali untuk keperluan memahami ciri-ciri masing-masing.  Sebab, masing-masing metode memiliki kelebihan dan tujuan sendiri-sendiri. Sebagaimana dinyatakan Kelle dan Erzberger (Flick, et al, 2004:  172) lebih tepat dikatakan keduanya saling melengkapi. Dengan demikian, menilai satu jenis metode penelitian lebih baik daripada yang lain tentu tidak tepat. Pilihan metodologis sangat tergantung pada banyak hal, mulai dari tujuan, lingkup, jenis data, hingga jenis objek kajian. Dengan demikian, sebuah metode ilmiah hakikatnya hanya tepat untuk jenis data, tujuan dan lingkup tertentu. Sebagai contoh, metode penelitian kuantitatif, yang bercorak empirik-positivistik, betapapun akurat dalam mengukur validitas data dan membuat kesimpulan tidak akan dapat memberi jawaban yang memuaskan terhadap pertanyaan “Apa makna agama bagi masyarakat modern yang sekuler?”.

Metodologi penelitian adalah sebuah ijtihad manusia (baca: ilmuwan). Seheb at atau secanggih apapun sebuah metode ilmiah tidak akan pernah menemukan kebenaran hakiki. Yang dapat ditemukan oleh metode ilmiah ialah sesuatu yang dianggap benar menurut ukuran ilmiah. Meminjam ungkapan Abdullah (2004: x) tradisi ilmiah tidak berakhir dengan kepastian dan tidak pula dapat mendakwakan diri sebagai penemu kebenaran. Tradisi ilmiah hanya berusaha menemukan apa yang dianggap benar. Sebegitu jauh, kendati  memiliki kelemahan, tradisi ilmiah tetap berkontribusi besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Tanpa tradisi ilmiah, ilmu pengetahuan tidak akan berkembang sebagaimana kita saksikan hari ini.

_________

Daftar Pustaka

Abdullah, Taufik dan  Karim, M. Rusli (ed.). 2004. METODOLOGI

PENELITIAN AGAMA. Suatu Pengantar. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Flick, Uwe. 2004. “Triangulation in Qualitative Research”, in  Flick,  Uwe, von

Kardorff, Ernst and Steinke, Ines (eds.)  “A Companion to QUALITATIVE RESEARCH”.   London: SAGE Publications Ltd.

Given, Lisa M. (ed.). 2008. The SAGE Encyclopedia of QUALITATIVE

RESEARCH METHODS. VOLUME 1 & 2.  Los Angeles, London, New Delhi. Singapore: A SAGE Reference Publication.

Mulyana, Dedy dan Solatun. 2007. METODE PENELITIAN KOMUNIKASI.

Contoh-Contoh Penelitian Kualitatif Dengan Pendekatan Praktis. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA .

Kelle, Udo and Erzberger, Christian. 2004. “Qualitative and Quantitative

Methods: Not in Opposition”, in  Flick,  Uwe, von Kardorff, Ernst and Steinke, Ines (eds.)  “A Companion to QUALITATIVE RESEARCH”.   London: SAGE Publications Ltd.

Visits: 52
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *