Bahasa itu Apa?

Setiap kali mengawali perkuliahan Metodologi Penelitian Bahasa, Sosiolinguistik dan Filsafat bahasa, biasanya saya mengajukan pertanyaan “bahasa itu apa?” (what is a language?). Secara serempak  mahasiswa menjawab bahasa adalah alat komunikasi. Jawaban itu tidak salah, tetapi kurang  sempurna. Mereka segera sadar ketika saya jelaskan bahwa sebagai alat komunikasi itu adalah salah satu guna atau manfaat bahasa. Ketika saya mengulangi lagi pertanyaan bahasa sendiri itu sebenarnya apa, mereka terdiam semua. Anehnya jawaban seperti itu terjadi tidak saja di satu kelas di satu angkatan, tetapi di setiap angkatan. Tampaknya kesalahan pemahaman seperti itu sudah terjadi di sekolah-sekolah sebelumnya. Saya juga ingat guru saya dulu sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas selalu menyampaikan hal yang sama seperti itu.

 

Terdapat banyak definisi yang dibuat oleh para ahli tentang bahasa, tergantung penekanannya. Tetapi dari yang banyak itu dapat dirumuskan  bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran yang arbitrer  yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Ronald  Wardhaugh mendefinisikan bahasa sebagai “a system of arbitrary vocal symbols used for human communication”. Defenisi tersebut menekankan bahwa pada intinya bahasa adalah /ucapan, bukan tulisan, yang menggabungkan antara bunyi dan makna. Tidak ada kaitan antara lambang, bunyi dan makna. Itu yang dimaksud dengan arbitrer, sebagai salah satu sifat bahasa.

Definisi lain tentang bahasa adalah sistem lambang atau simbol bunyi yang berkembang berdasarkan suatu aturan yang disepakati oleh pemakainya. Setiap lambang bahasa memiliki makna atau konsep. Karena setiap lambang bunyi itu memiliki atau menyatakan suatu konsep atau makna, maka dapat disimpulkan bahwa setiap suatu ujaran bahasa memiliki makna. Misalnya, lambang bahasa yang berbunyi “kursi” mengandung konsep atau makna ‘sesuatu yang dipakai sebagai tempat duduk”.  Kata “manusia”  atau “human” wajib disebut dalam definisi bahasa, karena hanya  manusia yang bisa berbahasa.

Karena sifat arbitrernya, maka setiap kelompok masyarakat bisa membuat kata atau simbol sendiri sesuai kesepatakan mereka masing-masing. Itu pula sebabnya setiap kelompok masyarakat, suku atau bangsa memiliki bahasa mereka sendiri sehingga kehidupan ini menjadi demikian indah.  Suku Jawa dengan bahasa Jawanya, suku Bali dengan bahasa Balinya, demikian pula bangsa Arab dengan bahasa Arabnya, bangsa Inggris dengan bahasa Inggrisnya, dan seterusnya. Bisa dibayangkan apa yang terjadi andai saja semua manusia di muka bumi hanya memiliki satu bahasa. Keanekaragaman bahasa ternyata telah memperkaya khasanah kehidupan manusia. Diperkirakan saat ini di dunia terdapat 6912 bahasa. Ada kecenderungan dari waktu ke waktu jumlahnya semakin berkurang, karena banyak bahasa yang mati alias tidak ada penuturnya.

Di Indonesia saja sebagaimana dilaporkan Kompas (21/2/2018) sepanjang 2011-2018 Kementerian Pendidikan dan kebudayaan melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melakukan pengujian vitalitas atau daya tahan terhadap 71 bahasa daerah di seluruh Tanah Air. Hasilnya menunjukkan hanya 19 bahasa daerah yang dinyatakan berstatus aman, sedangkan sisanya sangat memprihatinkan. Dipastikan 11 bahasa daerah di Indonesia dikategorikan sudah punah, 4 bahasa kritis, 19 bahasa terancam punah, 2 bahasa mengalami kemunduran, dan 16 bahasa berada dalam kondisi rentan. Secara keseluruhan di Indonesia terdapat 652 bahasa daerah yang dapat didokumentasikan. Dari jumlah itu baru 71 bahasa daerah yang akhirnya bisa diuji daya tahannya. Fenomena yang kurang lebih sama juga terjadi di negara-negara lain yang multi bahasa.

Bahasa yang kita pakai sebenarnya sama dengan suara yang dihasilkan binatang. Misalnya, ketika seekor kucing mengeong, dia sedang berkomunikasi dengan teman-temannya atau lingkungannya. Begitu juga ketika seorang siswa berteriak di depan kelas, dia sedang menyampaikan sesuatu kepada temannya  atau orang-orang di sekitarnya. Karena itu, sebenarnya suara kucing dan teriakan siswa adalah bentuk komunikasi, karena keduanya mengandung pesan yang hendak  disampaikan. Tetapi suara kucing tidak bisa disebut sebagai bahasa. Sedangkan teriakan siswa disebut bahasa. Karena itu, bisa dikatakan seekor kucing bersuara, sedangkan seorang siswa berbahasa.

Benar bahwa sebagian hewan memiliki kemampuan membentuk simbol untuk menyampaikan pesan atau makna, bahkan pemikiran dan emosi. Seperti simpanse oleh para peneliti disebut sebagai hewan dengan kecerdasan tinggi, tetapi ia tetap tidak bisa berbicara. Bahasa adalah anugerah Tuhan yang hanya diberikan kepada manusia.  Karena itu, pembeda paling nyata antara manusia dan makhluk ciptaan Tuhan lainnya adalah manusia bisa berbahasa, makhluk lain tidak.

Sepanjang sejarah, bahasa selalu menjadi perhatian manusia. Di mana ada manusia, di situ pula ada bahasa. Lebih menariknya lagi, orang membicarakan bahasa melalui bahasa pula. Tidak mungkin terjadi orang membicarakan bahasa melalui matematika. Yang terjadi justru sebaliknya, orang membicarakan matematika melalui bahasa. Itu kehebatan manusia dan bahasa sekaligus. Manusia memang makhluk Tuhan pemilik sah bahasa. Bahasa pun menjadi pusat pemahaman dan kesalahpaham manusia. Maksudnya adalah sesuatu yang tidak jelas bisa menjadi lebih jelas karena bahasa, tetapi sebaliknya sesuatu menjadi tidak jelas juga karena bahasa. Bukankah kesalahpahaman yang akhirnya melahirkan konflik sosial juga berawal dari bahasa? Konflik pun akhirnya mereda setelah ada penjelasan melalui bahasa. Karena itu, tidak berlebihan jika para filosof bahasa mengatakan bahwa ciri keunikan manusia bukan terletak pada fisik dan pola pikirnya, tetapi pada bahasanya. Kecerdasan manusia pun bisa dilihat dari bahasanya. Bahkan peradaban manusia hanya bisa berkembang lewat bahasa.

Di dalam bahasa ada kata. Menurut filosof Herakleitos kata  adalah  realitas kekal,  realitas  pelintas ruang dan waktu. Di dalam kata ada dunia ide yang kekal. Kata mewakili makna dan realitas, walaupun sebenarnya makna dan realitas yang ada jauh lebih kompleks daripada kata atau simbol yang mewakilinya. Karena itu, andai makna dan realitas bisa bicara, mereka bisa protes karena sebagai simbol kata tidak mampu mewakilinya secara penuh.   Menurut filsuf bahasa Wittgenstein selalu ada sesuatu di luar kemampuan manusia untuk dikatakan dan dipahami (there are always things in existence that are beyond our human ability to imagine or conceive). Di balik kelebihannya, bahasa juga memiliki kelemahan, karena tidak mampu mengungkap semua realitas kehidupan yang ada, baik realitas emipirik, abstrak, maupun simbolik. Manusia hidup dengan bergelimang realitas, yang oleh Polanyi disebut sebagai “surplus of knowledge”.

Begitu besarnya peran bahasa bagi kehidupan manusia, sampai-sampai seorang Filsuf China Confucius, misalnya, pernah mendapatkan pertanyaan, apa yang akan dilakukan seandainya  diberi  kesempatan  memimpin  negara. “Membenahi  bahasa”, demikian jawaban  singkat  Confucius. Bahasa, menurut filsuf Cina ini,  bukan  sekedar  cermin keteraturan  berpikir,  tetapi bahkan akan menentukan keteraturan atau  malah  ketidak-teraturan masyarakat.

Kepercayaan  bahwa  ada hubungan timbal-balik antara bahasa  dengan  masyarakat  itu pula  yang  kemudian menjadi pembenar bagi kelahiran  bidang  kajian  sosiolinguistik. Bagi sosiolinguistik konsep bahwa bahasa adalah alat untuk menyampaikan pesan dianggap terlalu sempit, sebab yang dipersoalkan oleh sosiolinguistik adalah “who speaks what language to whom, when and to what end”. Kendati manusia adalah pemilik sah bahasa, tidak berarti dia bisa menggunakan sebebas-bebasnya. Ada saat dan di tempat tertentu seseorang mengucapkan  kata tertentu untuk maksud tertentu pula.

Lebih dari itu, Chaika (1982) memandang bahasa mewakili  gambaran  hakikat  pengetahuan  terdalam   umat   manusia, maka  bahasa  adalah  cermin  masyarakat (language is the social mirror). Ilustrasinya sederhana bahwa masyarakat yang tidak stabil tergambar dengan sangat jelas pada bahasa yang dipakai masyarakat. Sedangkan  Ricoueur (1991) menegaskan bahwa keberadaan  dan kehidupan manusia pun ada di dalam bahasa. Tidak dapat dihindari, pranata bahasa pun menjadi pembentuk utama sosok dan  jati-diri anak manusia. Jadi, kalau menurut perspektif interaksionisme Mead (1934)  masyarakat tidak  lain  adalah pola-pola hubungan antara: (1) aku-subjek (I), (2)  orang-orang  lain, baik  umum  (generalized other) maupun khusus (significant others), dan  (3)  aku-objek (me),  maka  melalui  pranata bahasa, orang lain mempengaruhi  dan  membentuk  aku-objek. Pun melalui lembaga bahasa, aku-subjek (I) berupaya mempengaruhi orang lain.

Sosok  dan  jati-diri manusia, merujuk konstruksionisme Berger dan  Luckman  (1990), tidak  lebih  merupakan  hasil konstruksi sosial melalui  bahasa.  Bahasa,  sejauh  dapat dikesan  dari  kajian  mereka,  adalah salah satu  pranata  masyarakat  paling  berkuasa. Bahasa, karena itu, juga merupakan salah satu sumber kekuasaan. Seiring dengan itu, filsuf bahasa kenamaan, Wittgenstein, secara tegas mengatakan “Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt”. Terjemahan bebasnya adalah batas bahasaku adalah batas duniaku. Maksudnya, penguasaan kita tentang dunia ini dengan berbagai isinya tergantung sejauh mana penguasaan kita tentang bahasa. Maka berbahagialah orang yang menguasai bahasa tertentu, sebut saja misalnya bahasa Inggris, Arab, Perancis, Jerman dan sebagainya. Sebab dengan menguasai bahasa itu seseorang memiliki pengetahuan yang luas yang ditulis dalam bahasa tersebut!.

__________

Malang, 24 Februari 2015

Visits: 96
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *