Antara Konsep, Proposisi, Teori, Variabel dan Hipotesis dalam Penelitian

Sebagai aktivitas ilmiah yang sistematis dan terencana dengan tujuan untuk memperoleh kebenaran ilmiah, penelitian melibatkan dua proses penting yang saling terkait, yakni proses teoretisasi dan proses empirisasi pengetahuan. Agar dapat melakukan proses-proses tersebut, penting bagi peneliti untuk memiliki pengetahuan yang cukup tentang unsur-unsur penelitian. Pada proses teoretisasi dikenal unsur-unsur seperti konsep, proposisi dan teori. Sedangkan pada proses empirisasi dikenal unsur-unsur seperti hipotesis dan variabel. Sayang sekali para mahasiswa sebagai calon ilmuwan, baik program sarjana, magister maupun doktor, belum banyak yang paham makna unsur-unsur penting dalam penelitian tersebut, sehingga ketika ditanya apa arti masing-masing unsur tersebut saat ujian banyak yang tidak dapat menjawab dengan memuaskan. Berikut disajikan arti masing-masing unsur sebagai berikut:

 

 

  1. Apa itu Konsep?

Berteoretisasi merupakan bagian sangat penting dalam penelitian. Pada tahap ini peneliti menggunakan istilah “konsep” dan “proposisi” untuk menggambarkan fenomena atau peristiwa yang diamati dari yang kompleks menjadi sederhana. Konsep sendiri itu apa? Singarimbun dan Effendi (1987: 33) mendefinisikan konsep sebagai istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak suatu kejadian, keadaan, kelompok, atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial. Melalui konsep, peneliti diharapkan dapat menyederhanakan pemikirannya dengan menggunakan satu istilah untuk beberapa kejadian (events) yang berkaitan satu dengan lainnya. Istilah tersebut digunakan untuk mewakili realitas yang kompleks.

Dalam penelitian dikenal dua jenis konsep, yaitu pertama konsep-konsep yang jelas hubungannya dengan fakta atau realitas yang mereka wakili, dan kedua ialah konsep-konsep yang lebih abstrak atau tidak jelas hubungannya dengan fakta atau realitas. Kursi adalah sebagai konsep jenis pertama. Dengan menggunakan istilah “kursi”, kita dengan mudah dapat menangkap makna yang dimaksud, yakni menunjuk pada barang (perabot) tertentu dengan ciri-ciri yang dimiliki, seperti kaki dan permukaan yang dapat digunakan sebagai tempat duduk. Kendati jenis dan bentuknya bermacam-macam, konsep “kursi” dapat digunakan untuk mewakili semua jenis kursi dengan berbagai ciri-cirinya. Proses demikian disebut “abstraksi”, yakni mengabstraksikan  berbagai realitas dengan menggunakan istilah yang dapat diukur dan diamati. Selain kursi, istilah-istilah lain seperti “meja”, “dipan”, “almari” “pintu” bisa disebut sebagai konsep.  Dalam bidang pendidikan istilah-istilah seperti “kurikulum”, “semester”, “kecerdasan”, “prestasi”, “buku ajar”, “skripsi”, “makalah”, dan sebagainya adalah juga konsep.

Jenis konsep kedua ialah yang lebih abstrak dari fakta atau realitas yang diwakili, misalnya dalam bidang sosiologi dikenal istilah-istilah “interaksi sosial”, “dominasi”, “hegemoni”, “koersi”,  “kooptasi” dan “kompetisi”  adalah konsep yang lebih abstrak untuk menggambarkan atau mengilustrasikan realitas sosial. Dalam bidang kependudukan dikenal konsep seperti “mobilitas”, “fertilitas”, “mortalitas”, “harapan hidup”, “keluarga inti”, “produktivitas” dan sebagainya.

Konsep-konsep abstrak tersebut, menurut Singarimbun dan Effendi (1995: 33) disebut sebagai inferensi, yakni tingkat abstraksi yang lebih tinggi dari kejadian-kejadian yang konkrit, sehingga tidak mudah menghubungkannya dengan kejadian, obyek atau individu tertentu. Selanjutnya konsep yang abstrak tersebut disebut konstruk (construct), karena dikonstruksikan dari konsep yang lebih rendah tingkatan abstraksinya. Semakin besar jarak antara konsep atau konstruk ini dengan fakta empirik  atau aktivitas yang ingin digambarkannya, semakin besar pula kemungkinan terjadinya salah pengertian dan salah penggunaan.

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam arti yang lebih luas konsep adalah abstraksi mengenai suatu feno- mena atau peristiwa yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karakterisktik kejadian, keadaan, kelompok, atau individu tertentu. Migrasi, misalnya adalah sebuah konsep yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari perilaku mobilitas tertentu manusia. Perilaku ini berkaitan dengan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain  pada waktu tertentu untuk tujuan tertentu pula.

Peranan  konsep sangat penting dalam penelitian karena dia menghubungkan dunia teori dan dunia observasi, antara abstraksi dan realitas, baik  realitas konkrit  maupun abstrak.

  1. Proposisi itu apa?

Hubungan yang logis antara dua konsep disebut proposisi. Biasanya proposisi dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan yang menunjukkan hubungan antara dua konsep. Misalnya, proposisi Hariis dan Todaro, yang banyak digunakan dalam studi kependudukan berbunyi “proses migrasi tenaga kerja ditentukan oleh perbedaan upah”. ‘Karakteristik individu menentukan integrasi sosial seseorang di masyarakat” merupakan contoh proposisi dalam sosiologi.

Menurut Singarimbun dan Effendi (1995: 36) dalam penelitian sosial biasanya dikenal dua tipe proposisi, yakni aksioma atau postulat dan teorem. Aksioma atau postulat ialah proposisi yang kebenarannya tidak dipertanyakan lagi oleh peneliti, sehingga tidak perlu diuji dalam penelitian. Misalnya, “perilaku manusia selalu terikat dengan norma sosial” ialah contoh sebuah proposisi yang kebenarannya tidak dipertanyakan. Sedangkan teorem ialah proposisi yang dideduksikan dari aksioma. Sebagai contoh “perilaku seseorang dipengaruhi oleh niatnya untuk melakukan perilaku tersebut”.

  1. Variabel itu apa?

Agar konsep dapat diteliti secara empiris ia harus dirumuskan secara operasional dengan mengubahnya  menjadi variabel. Caranya adalah dengan memilih dimensi tertentu konsep yang memiliki variasi nilai. Misalnya, konsep badan. Untuk menjadi variabel … yang dapat diukur ialah tinggi, berat, dan bentuknya.

 

  1. Teori itu apa?

Unsur penelitian yang paling besar peranannya ialah teori, karena dengan unsur ini penelitian mencoba menerangkan fenomena sosial atau alam yang menjadi pusat perhatiannya agar lebih mudah dipahami masyarakat awam. Teori diartikan sebagai serangkaian asumsi, konsep, konstruk, definisi, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep. (uraian tentang teori telah dipaparkan pada tulisan sebelumnya).

 

  1. Hipotesis itu apa? Suatu pernyataan yang menghubungkan antara dua variabel atau lebih secara operasional yang siap diuji secara empiris. Menurut Yunus (2010: 241) kata hipotesis berasal dari dua kata, yakni “hipo” dan “tesis”. Hipo artinya bersifat meragukan, sedangkan tesis berarti kebenaran. Maka secara harfiah, hipotesis artinya ialah “suatu kebenaran yang masih bersifat meragukan”. Bagaimana mungkin sebuah kebenaran bersifat meragukan?  Kebenaran yang dimaksudkan dapat dibedakan atas dua hal, yaitu kebenaran secara teoretik, penalaran bersifat konseptual, dan kebenaran secara faktual. Misalnya, pernyataan “pekerja yang lebih rajin akan memperoleh pendapatan lebih banyak daripada pekerja yang malas”, merupakan sebuah hipotesis. Secara teoretik hal tersebut benar bahwa orang yang lebih rajin bekerja akan memperoleh pendapatan yang lebih besar daripada mereka yang malas. Tetapi pernyataan tersebut masih perlu diuji, yang hasilnya bisa terbukti benar atau sebaliknya.

_____________

Daftar Bacaan

Singarimbun, Masri dan Effendi, Sofian (eds.). 1995. METODE

PENELITIAN SURVAI. Jakarta: LP3ES

Yunus, Hadi Sabari. 2010. METODOLOGI PENELITIAN: Wilayah

Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Visits: 270
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *