Ciri Khas Bahasa Manusia (Bagian 3)

Bahasa yang kita pakai sebenarnya sama atau setidaknya mirip dengan suara binatang. Misalnya, ketika seekor kucing mengeong, dia sedang berkomunikasi dengan teman-temannya atau lingkungannya. Begitu juga ketika seorang siswa berteriak di depan kelas, dia sedang menyampaikan sesuatu kepada temannya  atau orang-orang di sekitarnya. Karena itu, sebenarnya suara kucing dan teriakan siswa adalah bentuk komunikasi, karena keduanya mengandung pesan yang hendak  disampaikan. Tetapi suara kucing tidak bisa disebut sebagai bahasa. Sedangkan teriakan siswa disebut bahasa. Karena itu, bisa dikatakan seekor kucing bersuara, sedangkan seorang siswa berbahasa.

 

Benar bahwa sebagian hewan memiliki kemampuan membentuk simbol untuk menyampaikan pesan atau makna, bahkan pemikiran dan emosi. Seperti simpanse oleh para peneliti disebut sebagai hewan dengan kecerdasan tinggi, tetapi ia tetap tidak bisa berbicara, dan karena itu peradabannya tidak pernah berkembang sejak keberadaannya puluhan juta tahun lalu hingga sekarang.  Menurut Slamet Iman Santoso (dalam Suriasumantri, 1983: 226) kemajuan peradaban manusia terjadi karena pemikiran konseptual yang dinyatakan dalam bahasa kemudian pelaksanaan konsep-konsep yang telah dinyatakan dalam bahasa. Pelaksanaan menjadi suatu hasil ini dinilai. Rangkaian inilah yang mendasari kemajuan manusia.

Ada banyak cerita tentang makhluk yang bisa berbicara. Kita menganggapnya sebagai fantasi atau fiksi belaka. Sebab pada hakikatnya binatang atau hewan itu sekadar meniru suara yang diucapkan manusia di sekitarnya. Bahkan ada burung (beo) yang dapat bersuara hampir sama suara manusia. Tetapi memang benar bahwa semua makhluk, termasuk hewan, berkomunikasi dengan kelompok atau temannya, terutama dengan mereka dari spesis yang sama. Memperhatikan bagaimana hewan berkomunikasi dengan lainnya, kita dapat mengajukan pertanyaan tentang ‘bahasa’ binatang. Apakah hewan atau makhluk di luar manusia dapat berkomunikasi dengan bahasa manusia? Atau, dengan pertanyaan lain apakah bahasa manusia memiliki ciri sebagai sistem komunikasi yang begitu unik sehingga tidak memungkinkan makhluk lain mempelajarinya? Untuk menjawabnya kita perlu mengkaji ciri-ciri khusus  bahasa manusia, kemudian melihat kembali beberapa penelitian terkait komunikasi manusia dan hewan.

Yule (2010: 11) membedakan antara tanda atau simbol-simbol yang bersifat komunikatif dan informatif. Misalnya, seseorang yang sedang mendengarkan temannya berbicara maka dia akan memperoleh informasi dari pembicaraan itu tentang dia melalui sejumlah simbol atau tanda yang dia tidak menyadarinya. Misalnya, ketika temannya itu bersin atau batuk-batuk, maka dapat disimpulkan (diperoleh informasi)  bahwa dia sedang kedinginan. Atau ketika diketahui dia pindah tempat duduk berarti dia sedang tidak nyaman dengan duduknya. Atau seseorang dapat diketahui dari mana asalnya dari aksen bicaranya. Begitu juga , misalnya, sekelompok  orang berpakaian merah datang ke sebuah pertemuan, maka warna merah yang mereka kenakan mengandung makna tertentu. Tetapi ketika seseorang mengatakan “Saya  besuk sore akan mengunjungi teman yang sedang sakit di rumah sakit”, maka dia dianggap sedang mengomunikasikan sesuatu kepada orang lain secara sengaja. Seekor burung hitam sedang duduk di dahan pohon tidak dianggap menyampaikan pesan apa-apa dengan bulu hitamnya. Tetapi ketika dia bersuara keras ketika melihat di bawah ada kucing, maka dia sedang menyampaikan sesuatu (berkomunikasi).

Diyakini bahwa semua makhluk berkomunikasi dengan caranya masing-masing. Tetapi, makhluk lain diragukan dapat berpikir ketika menyampaikan pesan atau memikirkan ulang apa yang telah mereka lakukan. Seekor anjing yang menggonggong tentu tidak sedang menasihati temannya  tentang sesuatu. Tetapi manusia dapat dengan jelas memikirkan sesuatu dengan bahasa dan penggunaannya. Manusia dapat menggunakan bahasa untuk berpikir dan bercakap dengan bahasa tersebut, menjadikan ciri pembeda dari ‘bahasa’ hewan.

Begitu khasnya bahasa manusia, Yule mengindentifikasi 5 ciri pembeda di dalamnya, yaitu; displacement, arbitrariness, productivity, cultural transmission, dan duality.

Displacement artinya bebasnya ialah “penggantian”. Misalnya, seekor kucing sambil mengeong duduk di pangkuan dengan manjanya. Lalu kita tanya baru dari mana. Dia tetap akan mengeluarkan suara “ngeong”.  Tampaknya komunikasi binatang tidak mampu menjangkau waktu yang sudah lewat dan tempat yang jauh dari keberadaannya. Sebaliknya, bahasa manusia dapat menjangkau peristiwa masa lalu dan masa depan. Misalnya, karena ciri displacement, bahasa manusia dapat berbicara tentang malaikat, surga, neraka, setan, dewa dan lain-lain yang keberadaannya sebagian manusia tidak meyakininya. Komunikasi binatang sama sekali tidak mampu menjangkau hal tersebut.

Ciri bahasa manusia yang kedua ialah Arbitrariness, yakni tidak ada hubungan antara  bentuk  bahasa (tanda) dengan makna (yang ditandai). Tentu kita bisa membuat mainan kata yang cocok ketika diucapkan dengan maknanya. Dalam bahasa Inggris ada sejumlah kata yang ketika diucapkan sama dengan artinya, misalnya cuckoo, crash, slrup, squelch, dan whirr. Kata-kata demikian disebut anomatopoeia, yakni kata-kata yang merangsang indera pendengaranuntuk memberikan gambaran obyek yang dipresentasikannya. Sebab, kata memiliki keterbatasan dalam menyampaikan detail indrawi. Dibantu oleh suara, penerima pesan bisa lebih memahaminya.

Karena sifat arbitrernya, maka setiap kelompok masyarakat bisa membuat kata atau simbol sendiri sesuai kesepatakan mereka masing-masing. Itu pula sebabnya setiap kelompok masyarakat, suku atau bangsa memiliki bahasa mereka sendiri sehingga kehidupan ini menjadi demikian indah.  Suku Jawa dengan bahasa Jawanya, suku Bali dengan bahasa Balinya, demikian pula bangsa Arab dengan bahasa Arabnya, bangsa Inggris dengan bahasa Inggrisnya, dan seterusnya. Bisa dibayangkan apa yang terjadi andai saja semua manusia di muka bumi hanya memiliki satu bahasa. Keanekaragaman bahasa ternyata telah memperkaya khasanah kehidupan manusia.

Ketiga ialah Productivity, yakni kemampuan manusia untuk menciptakan ungkapan baru  atau kata baru secara terus menerus untuk menggambarkan obyek atau siatuasi baru. Sifat ini  disebut productivity (atau kreativitas atau sifat terbuka), dan jumlah ungkapan manusia dalam semua bahasa manusia tidak terbatas. Sistem komunikasi makhluk lain tidak seperti itu. Jangkrik, misalnya, memiliki empat sinyal untuk dipilih, monyet memiliki 36 jenis panggilan suara. Keterbatasan komunikasi binatang ditemukan oleh Frisch pada lebah madu bahwa ternyata lebah tidak punya kemampuan menyampaikan keberadaan sari bunga yang ada di atas (jarak vertikal). Kemampuan lebah hanya menyampaikan keberadaan sumber makanan pada tempat yang berjarak horisontal, tidak vertikal.

Ciri ketiga bahasa manusia ialah Cultural transmission (transmisi kultural), artinya walaupun kita secara fisik mewarisi bentuk tubuh  dari kedua orangtua kita seperti  mata, warna kulit, warna rambut dan sebagainya kita tidak mewarisi bahasa mereka. Kita memperoleh bahasa dalam budaya dengan penutur bahasa yang lain dan bukan dari  gen orangtua. Seorang anak yang lahir di Korea dari pasangan Korea kemudian diadopsi dan dibesarkan di keluarga berbahasa Inggris di Amerika, secara fisik dia mewarisi gen orangtuanya, tetapi dia tidak mewarisi bahasa orangtuanya, melainkan berbahasa orangtua angkatnya, yakni berbahasa Inggris. Proses demikian disebut transmisi kultural.

Komunikasi binantang tidak berlangsung melalui transmisi kultural, melainkan naluriah belaka. Binatang terlahir dengan seperangkat simbol yang diproduksi secara naluriah. Misalnya, burung yang dilahirkan selama tujuh minggu tidak mendengar suara burung lain, secara naluriah dia akan mengeluarkan suara yang kedengarannya tidak normal.

Ciri keempat bahasa ialah Duality (dualitas), artinya ialah bahasa manusia terbentuk pada dua tingkatan strukur secara simultan. Ini disebut dualitas (artikulasi ganda). Pada tingkatan pertama ialah unsur-unsur yang tidak punya makna sama sekali, tetapi ketika unsur-unsur itu digabung baru menimbulkan makna (Widdowson, 2009: 6). Misalnya, kita dapat mengucapkan bunyi n, b, dan i. Secara individual bunyi itu sama sekali tidak punya makna. Tetapi ketika bunyi-bunyi itu digabung menjadi ‘bin’ atau ‘nib’ baru punya arti. Karena itu, manusia itu pada suatu tingkatan memiliki bunyi yang berbeda, dan pada tingkatan yang lain makna yang berbeda pula. Binatang sama sekali tidak memiliki kemampuan memproduksi atau menggabungkan bunyi berbeda dengan makna berbeda. Gerak komunikasi binatang sejatinya bersifat naluriah semata.

Visits: 162
Today: 2

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *