Sekilas tentang Studi Etnografi

Sebagaimana diketahui salah satu jenis penelitian kualitatif ialah etnografi. Seiring dengan perkembangan penelitian kualitatif  selama 30 tahun terakhir, etnografi pun semakin menarik minat para ilmuwan berbagai bidang, mulai dari sosiologi, antropologi, sejarah, bahasa,  psikologi dan lain-lain, bahkan hingga agama. Tetapi apa sejatinya konsep studi etnografi? Dengan bahasa yang sederhana, sajian ringkas ini diharapkan dapat menjadi pemandu bagi para mahasiswa, peneliti dan peminat studi etnografi.

 

Seperti halnya  penelitian kualitatif secara umum yang lahir pada akhir abad ke -19 dan awal abad ke-20, studi etnografi juga lahir bersamaan dengan penelitian-penelitian kualitatif lainnya. Etnografi merupakan hasil dari pergeseran pemikiran para antropolog sosial dan budaya untuk memperoleh data dari tangan pertama (firsthand data). Akar keilmuan etnografi ialah antropologi. Karena itu, studi etnografi hakikatnya ialah studi antropologi. Ada beberapa tokoh yang  berkontribusi besar bagi kelahiran etnografi.  Nama-nama seperti Benedict, Mead, dan Geertz adalah beberapa tokoh di balik etnografi. Tak ketinggalan Malinoswski juga berkontribusi besar pada kelahiran etnografi.

Tujuan studi etnografi ialah untuk menjawab pertanyaan: Apa budaya yang berkembang di sebuah kelompok masyarakat? Perolehan data  dilakukan melalui observasi partisipan dan keberadaan peneliti di lapangan secara intensif bersama subjek dan terlibat dalam aktivitas budaya. Menurut Given (2008: 290) idealnya peneliti etnografi berada di lapangan selama minimal 6 bulan hingga  1 tahun atau lebih untuk mempelajari bahasa dan terus memperhatikan dengan cermat tetang pola perilaku masyarakat.

Keberadaan di lapangan dalam kurun waktu cukup lama itu dapat membantu peneliti menginternalisasi kepercayaan-kepercayaan dasar, ketakutan-ketakutan, cita-cita, dan harapan-harapan orang yang diteliti. Bahasa lisan (ujaran) merupakan pintu masuk awal memahami gejala yang diteliti. Dalam bahasa ada totalitas budaya penuturnya. Waktu kurang dari 6 bulan dianggap tidak akan memperoleh data yang memadai bagi studi etnografi.

Ide utama etnografi ialah budaya. Asumsinya ialah setiap kelompok manusia yang hidup bersama-sama dalam suatu kurun  waktu tertentu akan mengembangkan sebuah budaya berupa. Budaya yang dimaksud ialah  sekumpulan pola perilaku dan kepercayaan yang menjadi ukuran dan norma masyarakat tentang apa yang baik dan tidak baik serta bagaimana melakukan sesuatu itu.

Apa yang membedakan etnografi dari studi lainnya? Yang membedakan ialah cara menginterpretasi data dan menggunakan temuan dilakukan dalam perspektif budaya.  Bagaimana ciri-ciri studi etnografi? Menurut Atkinson dan Hammersley (dalam Denzin dan Lincoln, 1994: 248) studi etnografi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Penekanan utama lebih pada penggalian hakikat fenomena sosial tertentu, ketimbang mengukur hipotesisnya. Misalnya, mahasiswa jurusan bahasa dapat meneliti fenomena kebahasaan tertentu yang berlangsung di masyarakat. Untuk selanjutnya digali budaya yang ada di balik fenomena tersebut.
  2. Bekerja dengan data yang tak teratur (unstructured data), bukan seperangkat data yang telah diolah dan sudah tertutup. Data yang dimaksud ialah data mentah yang belum diolah dengan diberi sandi sebagai bagian dari analisis.
  3. Fokus pada  beberapa kasus saja, mungkin malah cukup satu saja, tetapi digali sangat mendalam dan detail. Peneliti mesti cerdik memilih kasus kecil tetapi darinya dapat digali makna yang bernilai akademik tinggi ( a small case  with a high academic weight).
  4. Fokus pada sebuah kasus saja akan diperoleh pemahaman yang lebih mendalam daripada meneliti beberapa kasus yang tidak fokus.
  5. Analisis data dilakukan dengan interpretasi makna secara eksplisit. Namun jika ada analisis statistik dan kuantifikasi yang menggunakan data berupa angka sifatnya hanya pendukung semata.  Sangat dimungkinkan studi etnografi menggunakan data berupa angka  yang tentu saja menggunakan analisis statistik sebagai data pendukung saja.
  6. Ketekunan dan kesabaran peneliti berada di lapangan  minimal 6 bulan hingga 1 tahun  atau lebih untuk berinteraksi dengan subjek menjadi modal utama  memperoleh data yang kaya (rich) dari tangan pertama. Etnografer ingin memperoleh data dari pelaku atau subjek langsung, bukan dari kata orang tentang subjek.

 

_____________

Malang, 14 Maret 2018

Daftar Bacaan:

Denzin, Norman K. & Lincoln, Yvonna S. (eds.). Handbook of Qualitative

Research. Thousand Oaks, London, New Delhi: SAGE Publications.

Given, Lis M. (ed.). 2008.  The Sage Encyclopedia of Qualittaive Research

Methods. Los Angeles, London, New Delhi, Singapore: SAGE Publications.

Patton, Michael Quinn. 1990. Qualitative Evaluation and Research Methods.

Newbury Park, London, New Delhi: Sage Publications.

Visits: 163
Today: 4

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *