Selayang Pandang Penelitian Kualitatif

Setelah sebelumnya dipaparkan sejarah ringkas penelitian kuantitatif dengan akar-akar filosofisnya, sajian  pendek ini akan membahas sejarah penelitian kualitatif agar para mahasiswa, peneliti, dosen, dan para peminat penelitian semakin dapat memahami kedua jenis metode penelitian; yakni  penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Diharapkan tulisan ini dapat menyempurnakan tulisan sebelumnya dengan menambah bagian-bagian yang belum ada. Apapun minat yang ditekuni untuk kepentingan akademik, memahami akar-akar filosofis sejarah kedua jenis metode penelitian sangat penting. Seorang peneliti kuantitatif, misalnya, akan dapat menghasilkan karya penelitian yang sangat baik jika dia juga memahami landasan filosofis penelitian kualitatif dengan kelebihan dan kekurangannya, dan sebaliknya.

 

Sebagaimana diketahui penelitian kualitatif  lahir sebagai konsekwensi metodologis dari pemikiran yang lebih idealistik dan humanistik dalam memandang manusia. Dalam pemikiran yang lebih idealistik dan humanistik itu, manusia dipandang sebagai makhluk yang berkesadaran dan bersifat intensional untuk bertindak (Faisal, ..: 1). Sementara penelitian kuantitatif yang berasal dari akar pemikiran Aristotelian memandang manusia sebagai makhluk yang bersifat otomatis dan mekanis, yang bertindak jika ada rangsangan atau stimulus. Manusia bertindak karena dianggap ada sebab yang mendorongnya.

Tidak saja itu, penelitian kualitatif hadir sebagai sebuah alternatif metodologis untuk melihat realitas secara lebih holistik, tidak hanya terpusat pada sesuatu yang tampak tetapi juga menggali makna di balik yang tampak. Untuk dapat menggali makna mendalam itu diperlukan interaksi antara peneliti dengan subjek secara intensif, baik melalui wawancara, observasi, keterlibatan aktif dalam kegiatan subjek maupun melalui Forum Group Discussion (FGD).

Menurut Creswell (2008: 49-50) penelitian kuantitatif dianggap terlalu menggantungkan pada pandangan peneliti sendiri ketimbang subjek. Subjek penelitian  berada di luar konteks dan ditempatkan dalam situasi eksperimental jauh dari pengalaman pribadinya. Itu sebabnya para ahli, khususnya para filsuf pendidikan pada akhir 1960-an, mencari alternatif pendekatan lain yang lebih humanis, yang menekankan pentingnya pandangan subjek, dan konteks di mana subjek menyampaikan pandangan-pandangan mereka. Metode alternatif itu mereka sebut dengan naturalistic inquiry atau constructivism.

Seperti penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif juga memiliki akar sejarah yang panjang secara keilmuan. Di bidang sosiologi para ilmuwan aliran Chicago pada kurun waktu 1920-an hingga 1930-an mengusulkan pentingnya penelitian kualitatif untuk meneliti kehidupan kelompok masyarakat. Pada periode yang sama sejumlah ilmuwan seperti Boas, Mead, Benedict, Bateson, Evans-Pritchard, Radeliffe-Brown dan Malinowski menyusun rancangan studi lapangan, di mana peneliti mengunjungi daerah lain untuk melakukan studi tentang adat istiadat dan kebiasaan masyarakat lain dan budayanya. Setelah itu penelitian kualitatif mulai digunakan di ilmu-ilmu sosial yang lain, termasuk pendidikan, pekerjaan sosial dan komunikasi (Denzin dan Lincoln, 1994: 1).

Penelitian kualitatif sesungguhnya merupakan sebuah  disiplin yang sangat kompleks; lintas disiplin, bidang, dan pokok bahasan. Istilah ‘kualitatif’ itu sendiri mengandung makna yang tidak tunggal. Denzin dan Lincoln membagi penelitian kualitatif melalui bentangan lima momen sejarah, yakni periode tradisional (1900-1950), periode modernis atau masa keemasan (1950-1970), masa kelabu (1970-1986), periode krisis representasi (1986-1990) dan periode postmodernisme (1990 – sekarang).

Gelombang pemikiran juga menyertai masing-masing momen sejarah tersebut. Periode pertama (tradisional) dikaitkan dengan paradigma positivistik, periode kedua (modernis) atau masa keemasan dan masa kelabu dengan munculnya pemikiran post-positivistik. Pada saat yang sama muncul berbagai perspektif kualitatif dan interpretif baru seperti hermeneutika, strukturalisme, semiotika, fenomenologi, studi budaya, dan feminisme. Pada periode ini ilmu-ilmu humaniora menjadi pusat perhatian utama teori interpretif, kritis. Periode berikutnya (krisis representasi) di mana peneliti berjuang bagaimana menempatkan diri mereka dan subjek penelitian dengan penuh daya reflektif. Sedangkan periode kelima yakni post-modernisme ditandai dengan kepekaan baru oleh para peneliti yang mulai meragukan semua paradigma sebelumnya yang telah ada.

Menurut Denzin dan Lincoln apapun penjelasannya untuk menentukan penelitian kualitatif harus berada pada kerangka sejarah pemikiran panjang ini. Penelitian kualitatif berarti sesutau yang berbeda dalam momen berbeda. Namun demikian, definisi generik berikut bisa dipakai: penelitian kualitatif itu multi-metode dalam fokus, meliputi pendekatan naturalistik interpretif terhadap pokok masalah, Artinya, peneliti kualitatif meneliti sesuatu dalam latar alami, berusaha menggali makna, atau menginterpretasi fenomena dari sudut pandang subjek yang diteliti.

Mengapa memilih penelitian kualitatif?

Atas dasar uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif dipilih dengan alasan sebagai berikut:

  1. Berpegang pada pandangan bahwa realitas sosial itu bersifat maknawi, tak terlepas dari sudut pandangan, frame, definisi, dan atau makna yang terdapat pada diri manusia yang memandangnya.
  2. Bertitik tolak dari pemikiran bahwa yang tampak bukan realitas yang sebenarnya, sehingga perlu digali makna yang tersembunyi di balik realitas tersebut. Sebab, yang tampak tidak lain hanya pantulan dari yang sesuatu yang tersembunyi.
  3. Peneliti ingin memahami (to undertand) suatu tindakan atau peristiwa dari sudut pandang pelakunya (bukan dari sudut pandang peneliti sebagaimana penelitian kuantitatif).
  4. Manusia dipahami bahwa mereka hidup dalam aneka ragam situasi yang ditandai oleh indikator-indikator seperti pendapatan, pendidikan, profesi, usia, tempat tinggal dan sebagainya. Semuanya secara bersamaan membentuk perilaku  seseorang.
  5. Berpedoman bahwa realitas itu terbentuk secara interaktif dan menjadi bermakna secara subjektif.
  6. Penelitian dilakukan dalam latar alami, bukan pada situasi buatan atau laboratoris. Laboratoriumnya ialah kehidupan nyata subjek yang berlangsung dalam kegiatan sehari-hari.
  7. Peneliti lebih mementingkan kedalaman pemahaman daripada keluasan cakupan/wilayah penelitian. Untuk itu diperlukan interaksi peneliti dengan subjek secara intensif. Sebab, memahami makna suatu tindakan seseorang atau suatu fenomena tidak mungkin dilakukan dari jarak jauh, misalnya melalui kuesioner.

 

 

 

Apa saja jenis-jenis  penelitian kualitatif?

Seperti halnya penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif juga memiliki aneka ragam jenis, sebagai berikut:

  1. Etnografi
  2. Fenomenologi
  3. Heuristik
  4. Etnometodologi
  5. Interaksionisme Simbolik
  6. Studi Kasus
  7. 7. Grounded Theory
  8. Hermeneutika
  9. Studi Teks
  10. Psikologi ekologik
  11. Studi Life History
  12. Teori Sistem.

 

Berikut tabel akar-akar keilmuan masing-masing jenis penelitian kualitatif dan pertanyaan inti yang diajukan.

No

Jenis Penelitian

Akar Keilmuan

Pertanyaan Inti

1

Etnografi

 

Antropologi

Filsafat

Apa budaya yang berkembang di sebuah kelompok masyarakat?

2

Fenomenologi

Filsafat

Apa struktur dan esensi pengalaman dari sebuah fenomena atau peristiwa  bagi seseorang?

3

Heuristik

Psikologi Humanistik

Apa pengalaman saya tentang suatu fenomena dan pengalaman penting orang lain yang juga  mengalami hal yang sama dengan saya?

4

Etnometodologi

Sosiologi

Bagaimana orang memaknai kegiatan mereka sehari-hari sehingga mereka bertindak dengan cara yang dapat diterima oleh masyarakat sekitarnya?

5

Interaksionisme simbolik

Psikologi Sosial

Simbol-simbol dan pemahaman seperti apa yang muncul untuk memaknai interaksi seseorang?

6

Studi Kasus

Interdisiplin

Pengetahuan apa yang bisa dipetik dari sebuah kasus/fenomena  unik dan menarik yang diteliti?

7

Grounded Theory

Sosiologi, Antropologi

Teori apa yang dapat dikembangkan berdasarkan  data yang dihimpun dari lapangan?

8

Hermeneutika

Teologi, Filsafat, Kritik Sastra

Bagaimana konteks historis  terjadinya sebuah peristiwa di luar makna gramatika linguistik?

9

Studi Teks/wacana

Linguistik, Komunikasi

Studi Budaya

Tema dan muatan apa yang terkandung dalam pesan yang tersebar pada suati teks atau narasi?

10

Psikologi Ekologik

Ekologi, Psikologi

Bagaimana orang berusaha mencapai tujuannya melalui perilaku khusus di lingkungan tertentu?

11

Studi Life History

Antropologi, Sosiologi, Sejarah

Bagaimana platform kehidupan seseorang atau suatu kelompok yang mewarnai liku-liku perjalanan  hidupnya?

12

Teori Sistem

Interdisipliner

Bagaimana caranya dan mengapa sebuah sistem dapat berfungsi secara keseluruhan?

 

Sumber:  Patton (1990: 88)

Daftar Bacaan:

Creswell, John W. 2008. Educational Research: Planning, Conducting, and

Evaluating Quantitative and Qualitative Research. New Jersey: Pearson Education Ltd.

Denzin, Norman K. & Lincoln, Yvonna S. (eds.). Handbook of Qualitative

Research. Thousand Oaks, London, New Delhi: SAGE Publications.

Faisal, Sanapiah. “Karakteristik dan Jenis Penelitian Kualitatif”, Makalah lepas,

tanpa tahun.

Patton, Michael Quinn. 1990. Qualitative Evaluation and Research Methods.

Newbury Park, London, New Delhi: Sage Publications.

Visits: 179
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *