PARADIGMA INTERPRETIF

Sebagai kegiatan ilmiah yang sistematik, sistemik dan terencana, penelitian tidak dapat dilakukan tanpa  pijakan filosofis yang mendasarinya, mulai dari makna, hakikat, tujuan, hingga metodenya. Pijakan atau landasan filosofis itu berupa paradigma. Paradigma itu apa? Menurut Denzin dan Lincoln (eds.) (1994: 99) paradigma ialah  “ a basic set of beliefs that guide action. Paradigms deal with first principles, or ultimates ”. Sedangkan Given (ed. 1990: 591) mengartikan paradigma sebagai “a set of assumptions and perceptual orientations shared by members of a research community”.  Sedangkan Guba (dalam Cresweel, 2007: 19) mengartikan paradigma sebagai ‘a basic set of beliefs that guide action’.

 

Banyak definisi tentang paradigma. Masing-masing dengan konsepnya sendiri-sendiri. Tetapi dari semua itu dapat ditarik kesimpulan secara umum bahwa adalah suatu cara pandang tentang sesuatu yang di dalamnya mengandung sejumlah asumsi, teori, model dan solusi tertentu  mengenai pokok persoalan, tujuan, dan sifat dasar bahan kajian.

Mengapa paradigma menjadi sangat penting? Karena di dalam  paradigma terkandung sejumlah pendekatan, dalam suatu pendekatan terkandung sejumlah metode, dalam suatu metode terkandung sejumlah teknik, sedangkan dalam suatu teknik terkandung sejumlah cara dan piranti.

Selaras dengan tinjauan aksiologik, dalam khasanah metodologi penelitian atau kajian dikenal, menurut Newman (1997: 62) dikenal ada  tiga paradigma penelitian, yaitu: (1) paradigma positivistik (positivistic paradigm), (2) paradigma interpretif (interpretive paradigm), dan (3) paradigma refleksif (reflexive paradigm). Lazimnya, paradigma positivistik disepadankan dengan pendekatan kuantitatif (quantitative approach), yang umumnya digunakan oleh ilmu-ilmu alam (natural sciences), walau belakangan beberapa ilmu sosial juga menggunakan paradigma positivistik. Paradigma interpretif disepadankan dengan pendekatan kualitatif (qualitative approach), yang umumnya digunakan oleh ilmu-ilmu sosial (social sciences) dan humaniora. Secara bergantian, menurut Patton (1990: 68) paradigma interpretif juga disebut paradigma fenomenologi atau naturalistik, walau diakui ini sering membingungkan. Sedangkan paradigma refleksif disepadankan dengan pendekatan kritik (critical approach), yang lazim digunakan dalam kajian budaya, media, komunikasi, feminisme, wacana, dan sastra, dan politik.  Sajian pendek ini secara khusus akan membahas paradigma interpretif yang menjadi payung utama penelitian kualitatif.

Paradigma interpretif lahir sebagai reaksi terhadap paradigma positivistik yang dianggap kurang komprehensif untuk menjelaskan realitas. Menurut Creswell (2008: 49-50) penelitian kuantitatif dianggap terlalu menggantungkan pada pandangan peneliti sendiri ketimbang subjek dan membendakan manusia.  Subjek penelitian  berada di luar konteks dan ditempatkan dalam situasi eksperimental jauh dari pengalaman pribadinya. Itu sebabnya para ahli, khususnya para filsuf pendidikan pada akhir 1960-an, mencari alternatif pendekatan lain yang lebih humanis, yang menekankan pentingnya pandangan subjek, dan konteks di mana subjek menyampaikan pandangan-pandangan mereka.

Paradigma interpretif memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang holistik, tidak terpisah-pisah satu dengan lainnya, kompleks, dinamis, penuh makna, dan hubungan antar gejala bersifat timbal balik (reciprocal), bukan kausalitas.  Paradigma interpretif  juga memandang realitas sosial itu sesuatu yang dinamis, berproses dan penuh makna subjektif.  Realitas sosial tidak lain adalah konstruksi sosial. Terkait posisi manusia, paradigma interpretif memandang manusia sebagai makhluk yang berkesadaran dan bersifat intensional dalam bertindak (intentional human being). Manusia adalah makhluk pencipta dunia, memberikan arti pada dunia, tidak dibatasi hukum di luar diri, dan pencipta rangkaian makna.

Atas dasar pandangan tersebut, semua tindakan atau perilaku manusia bukan sesuatu yang otomatis dan mekanis, atau tiba-tiba terjadi, melainkan suatu pilihan yang di dalamnya terkandung suatu interpretasi dan pemaknaan.  Karenanya setiap tindakan dan hasil karya manusia (dianggap) senantiasa sarat dan diilhami oleh corak kesadaran tertentu yang terbenam dalam sanubari atau dunia makna pelakunya.

Untuk memahami dunia kehidupan dan tindakan manusia tentu berurusan dengan upaya menyingkap tabir dunia makna yang tersembunyi di balik yang tampak atau yang terekspresi di permukaan. Bagi paradigma interpretif yang tampak itu belum tentu yang sesungguhnya. Yang terbenam di balik yang tampak itulah yang menjadi pencarian peneliti paradigma interpretif. Menurut Faisal kehidupan seseorang atau kelompok yang terpola dalam dunia nyata sehari-hari (pattern of life) sesungguhnya merupakan  pancaran dari pattern of life yang terbenam dalam dunia makna mereka. Dengan kata lain, yang tampak adalah pantulan dari yang tersebunyi.

Sejalan dengan pandangan itu, studi terhadap dunia kehidupan dan perilaku manusia haruslah berpangkal  dan bermuara kepada upaya pemahaman  (understanding) terhadap apa yang terpola dalam dunia makna (reasons) atas manusia yang diteliti.  Itulah yang menjadi akar filosofis lahirnya tradisi penelitian kualitatif, yang secara ringkas dapat diartikan sebagai upaya memahami suatu pemahaman (understanding of understanding). Itu sebabnya penelitian kualitatif dengan semua ragamnya berada di bawah payung paradigma interpretif, yang kadang-kadang disebut juga paradigma fenomenologi atau paradigma definisi sosial.

Dikaitkan dengan peran ilmu sosial, menurut Hendrarti (2010: 4),  paradigma interpretif memandang bahwa ilmu sosial sebagai analisis sistematis atas ‘socially meaningful action’ melalui pengamatan langsung terhadap aktor sosial dalam  latar alamiah agar dapat memahami  dan menafsirkan bagaimana para aktor sosial menciptakan dan memelihara dunia sosial mereka.

Dikaitkan dengan hakikat realitas, paradigma interpretif memandang realitas itu bersifat jamak dan holistik. Peneliti berinteraksi langsung dengan subjek di lapangan dalam hubungan yang saling mengikat (value-bound), proses penelitian berlangsung secara siklus (tidak linier), bertujuan untuk mengembangkan teori, dan hasil akhir atau temuan bersifat open-ended, artinya temuan penelitian masih terbuka untuk dikritik, direvisi, bahkan hingga disalahkan (being falsified). Wal hasil, paradigma interpretif melahirkan penelitian kualitatif yang sangat kompleks dengan jenisnya yang begitu beragam dan masing-masing dengan corak metodenya sendiri.

 

_________

Malang, 23 Maret 2018

Daftar Bacaan:

Denzin, Norman K. & Lincoln, Yvonna S. (eds.). Handbook of Qualitative

Research. Thousand Oaks, London, New Delhi: SAGE Publications.

Faisal, Sanapiah. ____ “Karakteristik dan Jenis Penelitian Kualitatif”, Makalah

lepas, tanpa tahun.

Given, Lis M. (ed.). 2008.  The Sage Encyclopedia of Qualittaive Research

Methods. Los Angeles, London, New Delhi, Singapore: SAGE Publications.

Hendrarti, Dwi Windyastuti Budi. 2010. “Konsep Dasar dan Isu Penelitian

Kualitatif”, Makalah pada Pelatihan Metodologi Penelitian Kualitatif (Teori & Praktek), oleh Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Surabaya, 9- 11 Februari 2010.

Visits: 693
Today: 4

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *