Memahami Hermeneutika (tulisan ke 1)

  1. A. Pengantar

Sebagaimana diketahui dengan semakin pesatnya perkembangan metodologi  penelitian kualitatif di bawah  paradigma interpretivisme, penelitian kualitatif tidak saja  meliputi penelitian lapangan (field research) dengan berbagai variannya seperti etnografi, fenomenologi, etnometodologi, grounded research, studi kasus dan sejenisnya, tetapi juga studi atau kajian teks. Selain  Analisis Isi atau Content Analysis (CA), Analisis Wacana atau Discourse Analysis (DA), dan Analisis Wacana Kritis atau  Critical Discourse Analysis (CDA), hermeneutika merupakan salah satu metode untuk menafsir teks yang sangat  menarik untuk dipelajari oleh para mahasiswa, akademisi atau peminat penelitian kualitatif.

 

Sajian pendek ini dimaksudkan untuk  mengenalkan konsep-konsep dasar hermeneutika dengan harapan dapat meningkatkan wawasan para peminat penelitian, khususnya dalam ilmu tafsir teks.

  1. B. Perkembangan Konseptualisasi

Istilah ‘hermeneutika’ itu sendiri terdengar asing di telinga kita. Menurut Kamus “Oxford English Dictionary”, istilah “hermeneutics” masuk menjadi kotakata bahasa Inggris pada tahun 1773. Secara epistemologis, hemeneutika berasal dari bahasa Yunani, hermeneuein, yang berarti mengungkapkan pikiran seseorang dalam kata-kata. Kata kerja itu juga berarti ‘menerjemahkan’ dan bertindak sebagai ‘penafsir’. Ketiga pengertian itu sebenarnya hendak mengungkapkan bahwa hermeneutika merupakan usaha untuk beralih  dari sesuatu yang gelap ke sesuatu yang lebih terang.

Dalam arti yang sangat umum, hermeneutika sebagai kerja penafsiran sudah ada sejak manusia mulai bisa berbicara. Ketika bahasa manusia berkembang, interpretasi juga semakin diperlukan. Sejak zaman kuno, teori interpretasi berkembang dalam disiplin-disiplin tertentu. Misalnya, hermeneutika hukum terkait dengan interpretasi hukum secara benar. Hermeneutika Bible mengembangkan aturan atau pedoman bagaimana menafsirkan Bible dengan benar.

Istilah hermeneutika memiliki asosiasi etimologis dengan nama dewa dalam mitologi Yunani, Hermes, yang bertugas menyampaikan dan menerjemahkan pesan-pesan Tuhan kepada manusia melalui bahasa yang dapat dimengerti manusia (Gadamer, 1977: 98-99) dengan bantuan kata-kata manusia. Hermes menjalankan fungsi sangat penting, karena jika terjadi kesalah-pahaman tentang pesan dewa akan berakibat fatal bagi seluruh kehidupan manusia. Karena itu Hermes harus mampu menafsirkan pesan Tuhan ke dalam bahasa pendengarnya.  Hermes, selanjutnya, dirujuk sebagai simbol seorang duta yang mengemban misi khusus. Berhasil tidaknya misi tersebut sangat tergantung pada cara bagaimana Hermes menyampaikannya dalam bahasa manusia (Bleicher, 1980: 11).

Evolusi gagasan hermeneutika tercermin dari tema-tema garapannya. Pada awal perkembangannya, sekitar awal abad pertengahan, hermeneutiika digagas sebagai praksis murni yang menggarap tema keagamaan. Hermeneutika, pada tahapan ini, lebih merupakan piranti penafsir ayat suci (eksegesis), khususnya Bible. Perkembangan tahap kedua dari gagasan hermeneutika tampak dari semakin  dibutuhkannya metodologi, tidak hanya untuk menggarap tema-tema keagamaan, tetapi juga tema-tema sosial dan kemanusiaan (humaniora). Pertanyaan hermeneutika yang diangkat juga bergeser menjadi bagaimana menangkap realitas yang terkandung dalam kitab suci seperti Bible dan bagaimana pula menerjemahkan realitas tersebut ke dalam bahasa yang dipahami oleh manusia modern.

Hermeneutikia pada tahapan ini juga menggarap persoalan-persoalan estetika, termasuk pengalaman ‘memahami’ karya seni. Perkembangan ketiga berupa peninjauan kembali (theoretical re-evaluation) yang lebih banyak menggarap tema-tema filsafat. Pada tahapan ini, hermeneutika lebih dipandang sebagai metodologi filosofis. Persoalan epistemologi menjadi pokok masalah yang banyak dibahas. Belakangan, hermeneutika yang semula merupakan praksis murni untuk menggarap tema-tema keagamaan (eksegesis), telah menarik perhatian kalangan di luar agama dan filsafat. Tahap ini sering disebut sebagai praksis ilmiah dengan tema garapan sangat luas, yang mencakup masalah agama, filsafat, sosiologi, dan humaniora.

Dalam perkembangan terakhir ini, hermeneutika dipahami sebagai sebuah teori, metodologi dan praksis penafsiran, yang digerakkan ke arah penangkapan makna dari sebuah teks atau sebuah analog teks, yang secara temporal atau secara kultural berjarak jauh, atau dikaburkan oleh ideologi dan kesadaran palsu (Mauludin, 2003: 6). Apa pun definisi yang digunakan, upaya hermeneutika bermuara pada pemerolehan makna suatu teks atau analog teks.

Dengan semakin luasnya  penggunaan metode hermeneutika dalam kajian ilmiah yang melibatkan penafsiran, Palmer (1969) mengklasifikasi cabang-cabang hermeneutika sebagai berikut; (1) interpretasi terhadap Bible disebut exegesis, (2) interpretasi terhadap teks kesusastraan lama disebut philology,  (3) interpretasi terhadap penggunaan dan pengembangan aturan-aturan bahasa disebut technical hermeneutics, (4) suatu studi tentang proses  pemahamannya itu sendiri disebut philosophical hermeneutics, (5) pehaman di balik makna-makna dari setiap sistem simbol disebut dream analysis, (6) interpretasi terhadap pribadi manusia beserta tindakan-tindakan sosialnya disebut social hermeneutics. Berdasarkan pengelompokan tersebut, studi ini menurut Grondin (1994: 2) termasuk philosophical hermeneutics.

 

  1. C. Beberapa Varian Hermeneutika

Sejak hermeneutika mengalami re-evaluasi teoretik, hingga sekarang telah berkembang beberapa varian hermeneutika, mulai hermeneutika romantisis Schleiermacher, hermeneutika metodis Wilhem Dilthey, hermeneutika fenomeneologis Husserl,  hermeneutika dialektis Heidegger, hermeneutika dialogis Gadamer, hermeneutika kritis Habermas dan Ricoeur, hingga hermeneutika dekonstruksi  Derrida. Kendati tujuan sama, yakni untuk menggali isi teks, masing-masing varian memiliki metode sendiri-sendiri untuk menggali isi dan makna teks. Berikut uraian pokok-pokok pikiran masing-masing varian.

Pertama, hermeneutika romantisis dengan eskemplar Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher (1768-1834), seorang filosof, teolog, filolog, dan tokoh sekaligus pendiri Protestantisme Liberal. Dia dianggap sebagai Bapak hermeneutika modern, karena di milieu pemikiranya makna hermeneutika berubah dari sekadar kajian teologi menjadi metode pemikiran dalam pengertian filsafat.

Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher lahir 21 November 1768 di Breslau Jerman dan berasal dari keluarga Protestan yang sangat taat, dianggap sebagai “pemrakarsa Hermeneutika modern” —meminjam istilah Haidar Bagir (2003: 32)— karena telah menghidupkan kembali tradisi hermeneutika sebagai seni menafsir teks dalam tradisi gereja. Didorong keinginannya yang mendalam untuk mencari pengalaman iman Kristiani, Schleiermacher sejak muda memang sangat tertarik pada filsafat, terutama filsafat Kant, bahasa Latin dan tentu saja teologi.

Menurut Schleirmacher, hermeneutik itu seni memahami bahasa, baik lisan maupun tulis (Schmidt, 2006: 6). “For Scheliermacher hermeneutics is the art of understanding spoken and written language”. Filsafat hermeneutika Schleirmacher bermula dari pertanyaan universal sederhana, yakni  bagaimana pemahaman manusia dan bagaimana pula ia terjadi. Dalam hal ini ia mengajukan dua teori pemahaman hermeneutikanya. Pertama, pemahaman ketata-bahasaan (grammatical understanding) terhadap semua ekspresi, yang mencakup  aturan ketata-bahasaan dan semantik.

Kedua, pemahaman psikologis terhadap pengarang, yang mencakup pikiran pengarang, dan bagaimana pengarang mengembangkan pikirannya, Interpretasi secara gramatika dan psikologis bertugas untuk saling melengkapai satu dengan lainnya. Tujuan akhirnya ialah untuk merekonstruksi proses kreatif pengarang, menemukan maksud pengarang yang tersembunyi, dan memahami pengarang lebih baik daripada dia memahami dirinya sendiri.

Dari bentuk kedua ini Schleiermacher lalu mengembangkan apa yang ia sebut sebagai intuitive understanding yang operasionalnya merupakan suatu kerja rekonstruksi. Artinya, hermeneutika bertugas untuk merekonstruksi pikiran pengarang.  Karena itu, seseorang dikatakan  paham terhadap teks ketika dia mampu merekonstruksi pikiran pengarangnya.

Performansi perkembangan intelektual Schleiermacher semakin menonjol di Universitas Halle ketika ia bertemu dengan t iga serangkai pemikir yang lain seperti F.A. Wolf sebagai filologis klasik, Reil sebagai profesor kedokteran, dan Steffens sebagai seorang filsuf. Dalam berbagai kesempatan ceramahnya, Schleiermacher  banyak  sekali   memberikan evaluasi dan interpretasi tentang dogma Kristiani. Selain itu, ia juga mengembangkan etika filsafati sebagai filsafat tentang hidup dan ilmu pengetahuan sejarah.

Bagi Schleiermacher, hermeneutika adalah sebuah teori tentang penjabaran dan interpretasi teks mengenai konsep-konsep tradisional kitab suci dan dogma. Schleiermacher menggunakan metode filologi untuk membahas tulisan-tulisan kitab suci dan menggunakan metode hermeneutik teologis untuk teks-teks yang tidak berhubungan dengan kitab suci. Penggunaan filologi dimaksudkan oleh Schleiermacher untuk mencapai pemahaman yang tepat atas makna teks.

Selain konsepnya tentang paham, sumbangan Schleiermacher yang sangat penting bagi perkembangan hermeneutika adalah gagasannya bahwa bicara kita berkembang seiring dengan buah pikiran kita. Di sini ada jurang pemisah antara berbicara atau berpikir yang sifatnya internal dengan ucapan yang aktual. Menurutnya, dalam setiap kalimat yang diucapkan terdapat dua momen pembahasan, yaitu apa yang dikatakan dalam konteks bahasa dan apa yang dipikirkan oleh pembicara. Bisa saja terjadi apa yang dikatakan oleh seorang penutur bahasa tidak sama dengan apa yang sedang dia pikirkan. Selain itu, setiap pembicara mempunyai tempat dan waktu, dan bahasa dimodifikasikan menurut kedua hal tersebut. Menurutnya, pemahaman hanya terdapat di dalam kedua momen tersebut yang saling berpautan. Karena itu, baik pembicara maupun bahasanya harus dipahami sebagaimana seharusnya.

Implikasinya, teks harus dilihat baik dari aspek luar maupun dari dalam untuk memeroleh makna utuh. Makna bukan sekadar isyarat yang dibawa oleh bahasa. Bahasa memang dapat mengungkap sebuah realitas dengan sangat jelas, tetapi pada saat yang sama juga dapat menyembunyikannya rapat-rapat sehingga sesuatu yang sudah jelas bisa kabur atau dikaburkan. Semua tergantung  pada pemakainya. Bahasa dapat sekaligus memantulkan dan membiaskan sebuah makna. Oleh karena itu di masyarakat tertentu (baca: masyarakat Jawa) kata “tidak” tidak selalu berarti pengingkaran. Sebaliknya, kata “ya” tidak selalu berarti penerimaan, sehingga makna kata “tidak” dan “ya” sangat tergantung pada konteksnya.  Jika demikian, bagaimana orang yang bukan Jawa memahami dua kata tersebut? Di sini diperlukan pemahaman konteks; kapan, di mana dan dalam keadaan apa serta kepada atau oleh siapa kata tersebut dipakai. Meminjam Gadamer, John (2000)  menyatakan:

Language does two things in the interpretaive process: (a) it limits our interpretative powers and keeps us from gaining an absolute access to any textual meaning, even the meaning of our own text, and (b) it enables some access to textual meaning. This enabling power can be defined in terms of a dialogical conversation, a “fusion of horisons,” a creative communication between reader and text. As interpreters, however, we never achieve a complete or objective interpretation since we are limited by our own historical circumstances and by the particularities of our own language.

Pada dataran praksis memahami teks, Schleiermacher menawarkan sebuah metode rekonstruksi historis, objektif dan subjektif terhadap sebuah pernyataan. Dengan rekonstruksi objektif-historis, ia bermaksud membahas sebuah pernyataan dalam hubungan dengan bahasa sebagai keseluruhan. Dengan rekonstruksi subjektif-historis, ia bermaksud membahas awal mula sebuah pernyataan masuk dalam pikiran seseorang.  Menurutnya, tugas utama hermeneutika adalah memahami teks sebaik atau bahkan lebih baik daripada pengarangnya sendiri dan memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri.

Secara ringkas model kerja hermeneutika Schleiermacher meliputi dua hal. Pertama, pemahaman teks melalui penguasaan  terhadap aturan-aturan sintaksis bahasa pengarang, sehingga menggunakan pendekatan linguistik. Kedua,  penangkapan muatan emosional dan batiniah pengarang secara intuitif dengan menempatkan diri penafsir ke dalam dunia batin pengarang teks. Langkah ini diperlukan untuk memandu langkah pertama agar penafsiran tidak melenceng jauh dari makna yang dikehendaki pengarang teks. Dengan demikian, Schleiermacher menginginkan adanya makna otentik atau tujuan sebuah teks. Sebuah teks, menurut Bagir (2003: 33), tidak mungkin tidak bertujuan (telos). Dengan ungkapan lain, sebuah teks berpartisipasi dalam sifat teleologis-objektif dunia dan bahwa memahami sebuah teks pada hakikatnya memahami makna otentik atau telos tersebut.

(bersambung)

______

Visits: 278
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *