Studi Kasus dalam Penelitian Kualitatif: Konsep dan Prosedurnya (revised edition)

A. Pengantar

Ketika membimbing dan menguji tesis atau disertasi, saya sering menemukan  banyak  mahasiswa  menggunakan penelitian studi kasus dengan berbagai jenisnya. Rupanya penelitian studi kasus sangat populer di kalangan  mahasiswa yang melakukan penelitian kualitatif,  walau ada juga yang menggunakan studi kasus dalam penelitian kuantitatif. Biasanya istilah studi kasus ditulis sebagai sub-judul, seperti  “Manajemen Sumber Daya Manusia sebagai Upaya Peningkatan Kinerja Lembaga: Studi Kasus di Sekolah X”. Ada juga yang menggunakan pendekatan studi multi-kasus atau multi-situs, jika kasus dan situs penelitiannya lebih dari satu.

Sayangnya ketika ditanya apa alasannya memilih studi kasus dan apa yang membedakannya dengan studi-studi lainnya, jawaban mahasiswa sering kurang memuaskan. Lebih-lebih jika pertanyaan diperlebar menjadi kapan sebuah penelitian disebut  studi kasus dan apa pula ciri-cirinya, banyak yang tidak dapat menjawab pertanyaan dengan baik. Ada kesan  mereka mengikuti teman-teman lain, tanpa pemahaman secara mendalam.

 

Umumnya jawaban mahasiswa memilih studi kasus ialah karena ingin menggali persoalan atau kasus secara lebih mendalam dan komprehensif. Ada juga yang menjawab karena ingin mengembangkan sebuah teori. Jawaban itu tidak sepenuhnya salah,  tetapi kurang sempurna.  Sebab,  semua jenis penelitian kualitatif memang bertujuan untuk menggali masalah yang diteliti secara mendalam dan komprehensif. Sedangkan terkait dengan teori, semua jenis penelitian kualitatif bertujuan untuk mengembangkan teori.

Sajian ini  memaparkan konsep dan strategi melakukan penelitian studi kasus agar penelitian dapat dilakukan secara efektif, sekaligus untuk membantu mahasiswa atau para peniliti memahami lebih dalam tentang studi kasus dengan tepat. Tulisan ini juga  merupakan revisi atau penyempurnaan tulisan-tulisan sebelumnya yang telah diunggah di website atau blog pribadi penulis.

 

B. Konsep Dasar Studi Kasus

Hingga saat ini di antara para pakar belum ada konsensus bulat tentang  batasan  studi kasus, walau jenis pendekatan ini sudah sangat dominan pada awal kelahiran ilmu-ilmu sosial modern. Secara etimologis studi kasus berasal dari terjemahan dalam bahasa Inggris ‘a case study’ atau ‘case studies’. Kata ‘kasus’ diambil dari kata ‘case’ yang  menurut Kamus  Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (1989; 173), diartikan sebagai 1). ‘instance or example of the occurance of sth., 2) ‘actual state of affairs; situation’,  dan 3). ‘circumstances or special conditions relating to a person or thing’. Secara berurutan artinya ialah 1). contoh kejadian sesuatu, 2). kondisi aktual dari keadaan atau situasi, dan 3). lingkungan atau kondisi tertentu tentang orang atau sesuatu.

Bodgan dan Biklin (1982) membuat batasan bahwa studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar ( a detailed examination of one setting) atau satu orang subjek (one single subject) atau satu tempat penyimpanan dokumen (one single depository of documents) atau satu peristiwa tertentu (one particular event). Sedangkan Surachmad (1982) membatasi studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. Oleh Stake (dalam Denzin dan Lincoln, eds., 1994: 236) ditambah bahwa studi kasus dilakukan secara fenomenologis, kultural, holistik, dan alamiah.

Pakar lain, Yin, sebagaimana dikutip Arifin (1996: 56)  memberikan batasan yang lebih bersifat teknis dengan penekanan pada ciri-cirinya. Studi kasus merupakan sebuah inkuiri secara empiris yang menginvestigasi fenomena sementara dalam konteks kehidupan nyata (real life context); ketika batas di antara fenomena dan konteks tidak tampak secara jelas; dan sumber-sumber fakta ganda yang digunakan.

Dari paparan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa studi kasus ialah suatu serangkaian kegiatan ilmiah yang dilakukan secara intensif, terinci, holistik, mendalam dan alamiah tentang suatu program, peristiwa, dan aktivitas, baik pada tingkat perorangan, sekelompok orang, lembaga, organisasi, atau situasi sosial tertentu  untuk memperoleh pengetahuan mendalam tentang sebuah peristiwa.  Biasanya, peristiwa yang dipilih yang selanjutnya disebut kasus adalah hal yang aktual (real-life events), bukan sesuatu yang dibuat-buat.  Dengan mempelajari semaksimal mungkin seorang individu, suatu kelompok, atau suatu kejadian, peneliti studi kasus bertujuan  memberikan pandangan yang lengkap dan mendalam mengenai subjek yang diteliti dan dapat memetik pelajaran berharga dari peristiwa tersebut.

Perlu diketahui bahwa studi kasus bukan pilihan metodologik, tetapi pilihan objek yang akan diteliti. Artinya, dalam pendekatan studi kasus peneliti akan memilih sebuah kasus untuk dikaji secara mendalam. Sayangnya, tidak saja batasannya yang belum ada konsensus di antara para pakar hingga saat ini, tetapi juga ciri-ciri dasar tentang studi kasus berbeda-beda. Sebabnya ialah studi kasus tidak hanya terbatas digunakan di lingkungan ilmu-ilmu sosial, tetapi juga ilmu dalam rumpun positivistik, termasuk bidang-bidang seperti pendidikan, kebijakan publik, manajemen, psikologi masyarakat, sosiologi, perencanaan kota, studi organisasi, administrasi busines dan pekerjaan sosial (Given, ed. 2008: 68; Yin, 1994: 1). Karena secara ontologik, masing-masing ilmu memiliki perbedaannya sendiri-sendiri, maka untuk merumuskan ciri-ciri studi kasus yang berlaku untuk semua rumpun ilmu mengalami kesulitan.

Selanjutnya  apa yang dimaksud dengan kasus (case) dalam studi kasus? Yang dimaksud kasus ialah kejadian atau peristiwa, bisa sangat sederhana bisa pula kompleks. Peristiwanya itu sendiri tergolong ‘unik’. Unik artinya hanya terjadi di situs atau lokus tertentu. Untuk menentukan tingkat keunikan sebuah kasus atau peristiwa, Stake (dalam Denzin dan Lincoln, eds.1994: 238) membuat rambu-rambu sebagai pertimbangan peneliti yang meliputi:

  1. hakikat kasus itu sendiri
  2. latar belakang historis
  3. setting fisiknya seperti apa
  4. kasus lain di sekitar kasus yang dipelajari, meliputi ekonomi, politik, hukum dan estetika
  5. kasus-kasus lain yang dapat menjelaskan kasus yang diteliti
  6. informan yang dapat diwawancarai untuk menggali kasus yang diangkat.

Secara lebih teknis, meminjam Louis Smith, Stake menjelaskan kasus (case) yang dimaksudkan sebagai a’bounded system’, sebuah sistem yang tidak berdiri sendiri. Ada bagian-bagian lain yang bekerja untuk sistem tersebut secara integratif dan terpola. Karena tidak berdiri sendiri, maka sebuah kasus hanya bisa dipahami ketika peneliti juga memahami kasus lain yang menjadi bagiannya.

Studi kasus dalam penelitian kualitatif menurut Yin (1987) dibagi menjadi tiga jenis, yaitu studi kasus eksploratoris, deskriptif, dan eksplanatoris. Secara lebih operasional, studi kasus eksploratoris dan deskriptif digunakan untuk menjawab pertanyaan ‘apa’. Misalnya, pertanyaan ‘Apa saja cara yang dapat digunakan untuk membuat sekolah berhasil meningkatkan mutunya?’. Studi kasus eksplanatoris digunakan untuk menjawab pertanyaan ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’. Disebut ekplanatoris karena untuk menjawab pertanyaan ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’ secara komprehensif diperlukan waktu cukup lama bagi peneliti untuk benar-benar mengetahui peristiwa atau gejala yang diteliti secara holistik. Misalnya, jika seseorang ingin mengetahui sikap warga masyarakat terhadap keberadaan sebuah proyek, tentu tidak cukup hanya bersandar pada data dokumen atau survei. Pendekatan yang tepat ialah dengan studi kasus.

Contoh lain, misalnya, pertanyaan ‘siapa saja yang terlibat dalam peristiwa kerusuhan di sebuah sekolah dan berapa banyak kerusakan yang terjadi’ dapat dijawab dengan survei langsung ke lapangan. Tetapi untuk menjawab pertanyaan ‘bagaimana dan mengapa kerusuhan itu terjadi’ diperlukan  data melalui wawancara mendalam kepada para pelaku atau orang yang tahu banyak tentang peristiwa tersebut melalui studi kasus. Jika ingin mengetahui kejadian sejenis itu di banyak tempat, maka jenis pendekatannya disebut ‘studi multi kasus’ atau (multiple-case study) yang dijelaskan di bagian akhir tulisan ini.

Kendati pertanyaan ‘apa’ dapat diajukan dalam studi kasus, tetapi karena hendak memahami sebuah gejala atau peristiwa secara mendalam, pertanyaan yang lazim diajukan dalam pendekatan studi kasus, sebagaimana disarankan oleh Yin (1994: 9) ialah pertanyaan ‘bagaimana’ (how) dan  ‘mengapa’ (why), bukan ‘apa’ (what) sebagaimana tabel di bawah.

Ada yang beranggapan jawaban terhadap pertanyaan ‘mengapa’ (why) sudah tercakup dalam jawaban pertanyaan ‘bagaimana’ (how) dan sebaliknya, yang tentu saja tidak benar. Sebab, pertanyaan ‘bagaimana’ menanyakan proses terjadinya suatu peristiwa, sedangkan pertanyaan ‘mengapa’ (why) mencari alasan (reasons) mengapa peristiwa tertentu bisa terjadi. Untuk memperoleh alasan (reasons) mengapa sebuah tindakan dilakukan oleh subjek, peneliti harus menggalinya dari dalam diri subjek. Perlu diketahui, sebagaimana penelitian kualitatif pada umumnya,  penelitian studi kasus ingin memahami tindakan subjek dari sisi subjek penelitian.

Pada tahap ini diperlukan kerja peneliti secara komprehensif dan holistik. Semakin peneliti dapat memilih objek kajian atau topik secara spesifik dan unik, dan diyakini sebagai sebuah sistem yang tidak berdiri sendiri, maka semakin besar pula manfaat studi kasus bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Diakui bahwa ada tiga persoalan yang tidak mudah dalam melakukan studi kasus, yaitu; 1). bagaimana cara menentukan kasus yang akan diangkat sehingga dianggap berbobot secara akademik, 2). bagaimana menentukan data yang relevan untuk dikumpulkan, dan 3). apa yang harus dilakukan setelah data terkumpul.

Tabel di bawah ini memuat contoh pertanyaan penelitian untuk beberapa strategi penelitian menurut Yin,  (1994: 6):

Strategi

Bentuk pertanyaan penelitian

Memerlukan kontrol terhadap perisiwa yang diteliti?

Fokus pada peristiwa kontemporer

Eksperimen

bagaimana, mengapa

Ya

Ya

Survei

siapa, apa, di mana, berapa banyak

tdak

Ya

Analisis arsif

siapa, apa, di mana, berapa banyak

tidak

ya/tidak

Sejarah

bagaimana, mengapa

tidak

Tidak

Studi Kasus

bagaimana, mengapa

tidak

Ya

 

Berikut adalah beberapa-beberapa contoh peristiwa yang bisa diangkat menjadi objek penelitian studi kasus.

a). Misalnya, sebuah sekolah memperoleh banyak prestasi, di bidang akademik, olah raga, kebersihan dan lingkungan sekolah, baik di tingkat lokal, provinsi bahkan nasional. Prestasi-prestasi itu diraih ketika sekolah dipimpin oleh seorang ibu yang diangkat dari salah seorang guru di sekolah tersebut. Selama menjadi guru, prestasi ibu itu biasa-biasa saja dan praktis tidak ada yang menonjol. Tetapi semua warga sekolah mengenal ibu itu sebagai sosok yang tekun dan tidak suka menonjolkan diri. Model kepemimpinan ibu kepala sekolah itu pantas dijadikan ‘kasus’ untuk diteliti mengapa itu bisa terjadi. Jika peneliti bisa menggali model kepemimpinan ibu kepala sekolah, akan bisa diperoleh banyak pelajaran yang bermanfaat, tidak saja bagi peneliti itu sendiri, tetapi juga  masyarakat luas. Contoh kasus di atas bisa diteliti oleh mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan.

b). Di sebuah kantor perusahaan swasta sering terjadi keributan karena uang dan barang-barang milik karyawan sering hilang. Berkali-kali manajer perusahaan memberi pengarahan dan mengingatkan jika tertangkap pelakunya  akan diberi sanksi, mulai dari sanksi ringan hingga berat, sampai pemecatan. Bahkan pernah mengundang polisi untuk memberi pengarahan serupa. Peringatan berkali-kali dari pimpinan perusahaan dan kepolisian tidak ada efeknya sama sekali. Buktinya pencurian masih saja terus terjadi. Nah, suatu kali perusahaan mengundang seorang da’i untuk berceramah di hari peringatan keagamaan. Karena sebagian besar karyawan senang, sang da’i itu diundang lagi beberapa kali. Dalam ceramahnya, da’i itu tidak lupa menyelipkan makna kejujuran dalam hidup dan apa konsekwensinya di hadapan Tuhan jika seseorang tidak jujur. Sejak itu pencurian mereda, bahkan  akhirnya tidak ada sama sekali.  Jelas sekali bahwa sentuhan spiritualitas jauh lebih efektif daripada peringatan atau ancaman dari pimpinan perusahaan. Peristiwa tersebut bisa diangkat menjadi ‘kasus’ untuk objek penelitian studi  kasus.

c). Sebuah sekolah memiliki masukan (input) yang sangat baik, yang umumnya dari anak-anak keluarga kelas menengah ke atas. Prestssi demi prestasi pun diraih oleh para siswa hampir di semua bidang. Di sekolah lain yang tidak jauh lokasinya dari sekolah pertama masukannya biasa-biasa saja, dan dari siswa-siswa kalangan masyarakat menengah ke bawah. Prestasi siswa di sekolah kedua tersebut tidak kalah hebatnya dengan yang pertama. Bahkan di beberapa cabang olah raga prestasinya melebihi sekolah pertama. Prestasi sekolah kedua bisa diangkat sebagai ‘kasus’ untuk dikaji lebih mendalam melalui studi kasus.

d). Mahasiswa Jurusan Bahasa bisa meneliti kasus yang terjadi pada mahasiswa internasional di sebuah perguruan tinggi dengan fenomena seperti berikut. Mahasiswa dari negara Timur Tengah yang bahasa ibunya bahasa Arab jauh lebih cepat belajar  bahasa Indonesia dibanding mahasiswa yang bahasa ibunya bahasa Inggris. Begitu juga mahasiswa yang berasal negara-negara bekas Uni Soviet mengalami kesulitan luar biasa belajar bahasa Indonesia. Mahasiswa dari Cina yang menguasai bahasa Arab dapat belajar dan menguasai bahasa Indonesia lebih cepat daripada mahasiswa Cina yang tidak bisa bahasa Arab. Fenomena pembelajaran bahasa Indonesia untuk mahasiswa asing bisa diangkat menjadi ‘kasus’ penelitian studi kasus yang menarik.

Lebih rinci dari Yin yang membagi studi kasus menjadi tiga, Bogdan dan Biklen (dalam Arifin, 1996: 57- 59) membagi studi kasus menjadi enam jenis sebagai berikut:

(1). Studi kasus kesejarahan mengenai organisasi memusatkan perhatian pada organisasi tertentu dan dalam kurun waktu tertentu pula, dengan menelusuri perkembangan organisasinya. Peneliti yang hendak melakukan studi kasus jenis ini hendaknya memastikan terlebih dulu akan kecukupan bahan yang akan digali dan orang-orang yang akan dilibatkan dalam penelitian. Sebuah organisasi bisa dikaji mengenai alasan pendirian, visi dan misinya, keadaan di masa-masa awal berdirinya, keadaan saat ini, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi selama organisasi berdiri. Untuk menjawab pertanyaan itu diperlukan data yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi.

(2). Studi kasus observasi digunakan untuk meneliti lembaga, sekolah, kantor atau organisasi tertentu dengan teknik pengumpulan data melalui observasi peran serta atau pelibatan (participant observation). Fokus studinya ialah bagian-bagian dari organisasi, bisa orangnya, manajemen, dan kegiatannya.

(3).Studi kasus sejarah hidup yang mencoba untuk menggali pengalaman hidup seseorang. Biasanya dipilih orang-orang atau tokoh yang dinilai berhasil dalam karier dan profesinya. Peneliti dapat menggali perjalanan hidup seseorang, mulai lahir hingga mencapai sukses dalam kariernya, visi hidupnya, perjuangannya, termasuk pernik-pernik dalam hidupnya. Dari pengalaman keberhasilan diharapkan dapat dipetik pelajaran untuk dimanfaatkan orang lain.

Sebagai gambaran penulis pernah beberapa kali membimbing disertasi yang menggali pengalaman hidup tokoh-tokoh pendidikan Islam, seperti Prof.Dr. KH. Tolkhah Hasan, Dr. KH. Salahuddin Wahid, Bupati Bojonegoro yang mengembangkan manajemen fatihah dalam mengelola pemerintahan, dan KH. Abdullah Zarkasyi, pimpinan pondok pesantren modern Gontor dalam pengembangan bahasa Arab. Dari para tokoh tersebut peneliti dapat menggali pengalaman hidup, visi dan misi hidup, perjalanan perjuangan, termasuk persoalan-persoalan yang mereka temukan dan bagaimana menyelesaikannya. Semua dimaksudkan untuk dapat dipetik pelajaran berharga bagi generasi selanjutnya.

(4). Studi kasus kemasyarakatan merupakan studi tentang kasus kemasyarakatan (community study) yang dipusatkan pada lingkungan tetangga atau masyarakat sekitar (komunitas). Beberapa masalah kemasyarakatan bisa dipilih untuk dijadikan ‘kasus’. Misalnya, kepadatan penduduk, perpindahan penduduk, ledakan penduduk, sistem kekerabatan, lapangan kerja, pengangguran, kehidupan agama, interaksi sosial, perubahan sosial dan lain-lain.

(5). Studi kasus analisis isi merupakan jenis studi kasus untuk menganalisis situasi (situational analysis) terhadap peristiwa atau kejadian tertentu. Misalnya, kasus pemutusan hubungan kerja karyawan kantor dikaji dari banyak pihak yang terlibat, mulai dari sisi karyawan yang bersangkutan, teman-temannya, atasannya, lingkungan kerja, dan tokoh kunci di balik peristiwa pemutusan hubungan kerja.

(6). Mikroetnografi merupakan jenis studi kasus yang dilakukan pada unit orgaisasi yang sangat kecil, seperti suatu bagian sebuah ruang kelas atau suatu kegiatan organisasi yang sangat spesifik pada anak-anak yang sedang belajar bermain.

Jenis-jenis studi kasus sebagaimana dipaparkan di atas merupakan studi kasus tunggal (single-case study). Ada pula peneliti yang  ingin meneliti dua atau lebih subjek, latar, atau tempat penyimpanan data yang dikenal sebagai studi multi kasus (multi- case studies). Di samping itu masih ada lagi jenis studi kasus yang disebut studi kasus perbandingan (comparative-case studies) yang berusaha membandingkan dan mempertentangkan dua studi kasus atau lebih.

 

C. Antara Studi Multi-Kasus dan Multi-Situs

Selain studi multi kasus sebagai pengembangan dari studi kasus (tunggal), dikenal pula studi multi situs. Pada dasarnya antara studi multi-situs dan studi multi-kasus ada kesamaan. Bedanya hanya terletak pada pendekatan. Studi multi-kasus berangkat dari pengamatan satu kasus atau kasus tunggal ke dua atau lebih kasus di satu tempat atau lebih. Oleh sebagian ahli studi multi-kasus juga disebut sebagai studi multi-subjek, Yang dipentingkan adalah adanya lebih dari satu kasus.

Sebaliknya, studi multi-situs  digunakan untuk meneliti sebuah kasus di lebih dari satu tempat. Penelitian studi multi-situs menggunakan logika yang berlainan dengan penelitian studi multi-kasus. Karena studi multi-situs bertujuan untuk mengembangkan teori, maka lebih baik menggunakan lebih banyak situs  daripada dua atau tiga situs.

Menurut Bogdan dan Biklen (dalam Arifin, 1996: 60) pendekatan studi multi situs memiliki dua jenis studi, yaitu induksi analisis termodifikasi (modifed analytic induction) dan metode komparatif konstan (the constant comparative method) sebagai berikut;

1). Induksi Analitik Termodifiksi.

Jenis studi ini masuk studi kasus deskriptif. Secara ringkas langkah-langkah  induksi analitik  menurut Robinson, sebagaimana dikutip Arifin (1996: 60) adalah sebagai berikut: (1). pada tahap awal peneliti membuat definisi kasar dan penjelasan tentang fenomena atau gejala yang akan diteliti; (2). definisi dan penjelasan kasar itu dibiarkan sampai data baru terkumpul; (3). peneliti melakukan modifikasi atau penjelasan baru jika ditemukan data yang tidak sesuai dengan definisi atau penjelasan pada tahap pertama; (4). peneliti terus berupaya mencari kasus yang tidak sesuai dengan rumusan awal; (5). peneliti melakukan redefinisi tentang kasus yang diteliti dan membuat penjelasan baru sampai diperoleh satu hubungan yang sifatnya umum, dengan menggunakan kasus negatif untuk membuat definisi ulang atau rumusan ulang.

Menurut Bogdan, sebuah kasus yang diteliti dengan model induksi analitik akan semakin luas cakupannya jika ditemukan kasus-kasus baru yang baik yang terkait langsung maupun tidak. Penemuan kasus-kasus baru akan memperkuat teori atau setidaknya proposisi yang dirumuskan pada tahap-tahap awal.

Sebagai ilustrasi model kerja induksi analitik, Arifin (1996: 61) memaparkan pengalaman yang dilakukan seorang peneliti studi kasus bernama Jonath Glenn yang meneliti tentang kefeektifan seorang guru. Langkah-langkah yang dilakukan Glenn dalam penelitiannya ialah sebagai berikut: (1). atas rekomendasi beberapa orang, Glenn menemui seorang guru yang dianggap sangat efektif dalam mengajar; (2). Glenn melakukan wawancara terhadap guru tersebut tentang kariernya, keefektifan mengajar, dan ide-ide tentang pengajaran yang ia lakukan; (3). dari hasil wawancara, Glenn menyusun teori dalam bentuk proposisi tentang keefektifan mengajar menurut guru dan membandingkannya dengan teori-teori tentang keefektifan mengajar secara umum; (4). Glenn melanjutkan wawncara dengan guru lain yang juga dianggap efektif dalam mengajar untuk memodifikasi teori baru, dengan mengambil contoh-contoh kasus negatif; (5). Glenn melakukan hal serupa secara ‘snow balling’ terhadap guru-guru lain yang juga dianggap efektif, sampai tidak lagi dijumpai kasus yang tidak cocok dengan teorinya;  (6). setelah tidak lagi ditemukan kasus yang tidak sesuai dengan teorinya, pada akhirnya Glenn menemukan teori baru tentang apa yang disebut sebagai ‘keefektifan’ mengajar oleh seorang guru.

 

 

 

 

2). Metode komparatif konstan

Berbeda dengan kebanyakan studi kasus lainya di mana tema yang muncul dijadikan panduan  untuk mengumpulkan data, metode komparatif konstan tidak berangkat dari tema, apalagi judul. Namun demikian ada tahapan-tahapan yang  dilalui, sebagaimana disarankan Glaser (dalam Arifin, 1996: 61) sebagai berikut: (1). peneliti mengumpulkan data; (2) mencari kunci isu, yakni peristiwa yang selalu berulang, atau yang masuk kategori fokus; (3) mengumpulkan data yang banyak memberikan kejadian (incident) tentang kategori fokus dengan melihat keragaman dimensi di bawah kategori-kategori; (4). menulis kategori-kategori yang sedang diteliti dengan maksud untuk mendeskripsikan dan menjelaskan semua kejadian yang ada pada data sambil terus mencari kejadian-kejadian baru; (5). Cermati data yang teekumpul itu untuk dicari hubungan antar-kategori; (6). Melakukan sampling, pengkodean, dan menulis sebagai fokus analisis pada kategori-kategori inti.

Kendati ada rekomendasi tahapan-tahapan proses penelitian sebagaimanja disarankan Glaser di atas, sejatinya proses penelitian komparatif konstan tidak berlangsung secara linier. Kendati sudah sampai tahap akhir, seorang peneliti studi kasus jenis ini bisa mengulangi tahap sebelumnya jika dirasa ada hal-hal atau data yang belum cukup untuk memastikan data yang terkumpul cukup untuk membuat rumusan teori atau proposisi.

Seperti pada induksi analitik, di bawah dipaparkan pengalaman Mary Schriver dalam melakukan metode komparatif konstan sebagaimana dikutip Arifin (1996: 62). Dalam memulai penelitiannya, Mary Schriver tidak berangkat dari sebuah judul atau tema penelitian, tetapi ia tertarik pada seorang guru dan melakukan pengamatan di ruang guru. Beberapa tahapan yang dilakukan Mary Schriver adalah sebagai berikut:

  1. Pada hari pertama datang ke sekolah dia mengenalkan diri sambil melihat-melihat apa saja yang ada di ruang guru,
  2. Hari berikutnya secara tiba-tiba Schriver mendengar ada banyak percakapan di kalangan para guru tentang guru lain, murid, pegawai administrasi sambil berkelakar, ada hal-hal yang bersifat umum dan rahasia,
  3. Pada hari ketiga, dia masuk ruang yang sama dan mengamati hal yang sama dan memilih sebuah isu ‘gosip’ untuk dijadikan fokus perhatian,
  4. Dia mulai mengumpulkan data tentang ‘gosip’tersebut, baik di ruang guru maupun di luar ruang, dan di tempat-tempat lain guru melakukan ‘gosip’ dan mulai mempelajari bagaimana orang saling mempercakapakan orang lain dan didapati bahwa ‘gosip’ hanya merupakan satu tipe dari kategori yang lebih besar, yang ia sebut sebagai “omongan orang” (people talk). Jenis omongan orang yang ‘dekat’ ia sebut sebagai ‘omongan orang persahabatan’, sedangkan  yang dikelompokkan campuran ia sebut sebagai “omongan orang kelompok campuran’. Ada juga kategori yang ia sebut sebagai “omongan kabar buruk” dan “omongan kabar baik”, tergantung isi pembicaraan.
  5. Setelah memperoleh kategori-kategori, ia mempelajari data, memberi sandi, dan melihat hubungan antara pembicara dan yang dibicarakan untuk dipelajari dimensinya.
  6. Ia menulis kategori dan mengembangkan model, sehingga berkembang teori tentang “omongan orang” dalam satu latar.
  7. Merasa jenuh dengan satu latar (situs), Schriver pergi ke sekolah lain

yang  memiliki karakteristik berbeda dari sekolah sebelumnya dan melakukan kegiatan yang sama.

  1. Schriver berpindah ke situs yang lain dengan memusatkan perhatian pada isu yang sama , yaitu  “people talk”, hingga ditemukan teori baru tentang ‘omongan orang’ (people talk). Ia berhenti ketika tidak ditemukan lagi kategori-kategori baru mengenai “people talk”. Saat itu Schriver sampai pada titik jenuh yang lazim disebut sebagai ‘kejenuhan teoretik’ (theoretical saturation),              .   .
  2. Pada tahap itu Schriver berhasil mengembangkan teori tentang “people talk”.

 

 

 

 

D. Kapan Studi Kasus Mulai Digunakan?

Hingga saat ini  studi kasus sudah berusia lebih dari 60 tahun. Sejak kemunculannya, jenis penelitian ini memperoleh banyak kritik karena dianggap analisisnya lemah, tidak objektif dan penuh bias, tidak seperti  penelitian kuantitatif  yang menggunakan statistik sebagai alat analisis sehingga hasilnya lebih objektif.  Kritik semacam itu berlaku untuk semua jenis penelitian kualitatif. Anehnya, walaupun memperoleh banyak kritik, studi kasus tetap digunakan bahkan semakin  meluas, khususnya untuk  studi ilmu-ilmu sosial — mulai dari psikologi, sosiologi, ilmu politik, antropologi, sejarah, dan ekonomi hingga ilmu-ilmu terapan seperti perencanaan kota, ilmu manajemen, pekerjaan sosial, dan pendidikan sebagaimana telah dipaparkan di atas.

Selain itu, metodenya juga semakin diminati banyak peneliti untuk kepentingan penyusunan karya ilmiah seperti tesis dan disertasi karena dapat mengeksplorasi dan mengelaborasi objek kajian secara mendalam dan komprehensif.

Dari sisi cakupan wilayah kajiannya, studi kasus terbatas pada wilayah yang sempit (mikro), karena mengkaji perilaku pada tingkat individu, kelompok, lembaga dan organisasi. Kasusnya pun dibatasi pada pada jenis kasus tertentu, di tempat atau lokus tertentu, dan dalam waktu tertentu. Karena wilayah cakupannya sempit, penelitian studi kasus tidak dimaksudkan untuk mengambil kesimpulan secara umum atau memperoleh generalisasi, karena itu tidak memerlukan populasi dan sampel. Namun demikian, untuk kepentingan disertasi penelitian studi kasus diharapkan dapat menghasilkan temuan yang dapat berlaku di tempat lain jika ciri-ciri dan kondisinya sama atau mirip dengan tempat di mana penelitian dilakukan, yang lazim disebut sebagai transferabilitas.  Tentu saja untuk dapat melakukan transferabilitas, temuan penelitian harus diabstraksikan menjadi konsep, proposisi, bahkan teori.

Walaupun cakupan atau wilayah kajiannya sempit, secara substantif  penelitian studi kasus sangat mendalam, dan diharapkan dari pemahaman yang mendalam itu dapat diperoleh sebuah konsep atau teori tertentu untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, unit analisis studi kasus ialah perorangan, kelompok, lembaga atau organisasi, bukan masyarakat secara luas. Adalah obsesi setiap peneliti untuk dapat menemukan hal-hal baru dan dapat berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tidak terkecuali peneliti studi kasus. Hal-hal yang dapat disumbangkan untuk ilmu pengetahuan berupa konsep, proposisi, definisi, model, rumus, dalil, paradigma, teori dan lain-lain. Menurut  Yunus (2010: 419), makna penting hasil penelitian untuk ilmu pengetahuan  dapat dilihat dari kebaruan temuan (novelty), dan makna penting untuk pembangunan dapat dilihat dari kebaruan sumbangan pemikiran untuk menyukseskan program pembangunan.

 

 

 

E. Bagaimana Studi Kasus Dilakukan?

Seperti halnya jenis penelitian kualitatif lainnya, yakni fenomenologi, etnografi, etnometodologi, grounded research dan studi teks, studi kasus juga dilakukan dalam latar alamiah, holistik dan mendalam. Alamiah artinya kegiatan pemerolehan data dilakukan dalam konteks kehidupan nyata (real-life events). Tidak perlu ada perlakuan-perlakuan tertentu baik terhadap subjek penelitian maupun konteks di mana penelitian dilakukan. Biarkan semuanya berlangsung secara alamiah.

Holistik artinya peneliti harus bisa memperoleh informasi yang akan menjadi data secara komprehensif sehingga tidak meninggalkan informasi yang tersisa. Agar memperoleh informasi yang komprehensif, peneliti tidak saja menggali informasi dari partisipan dan informan utama melalui wawancara mendalam, tetapi juga orang-orang di sekitar subjek penelitian, catatan-catatan harian mengenai kegiatan subjek atau rekam jejak subjek.

Terkait itu,  Yunus (2010: 264) menggambarkan objek yang diteliti dalam penelitian studi kasus hanya mencitrakan dirinya sendiri secara mendalam/detail/lengkap untuk memperoleh gambaran yang utuh dari objek (wholeness) dalam artian bahwa data yang dikumpulkan dalam studi dipelajari sebagai suatu keseluruhan, utuh yang terintegrasi. Itu sebabnya penelitian Studi Kasus bersifat eksploratif. Sifat objek kajian yang sangat khusus menjadi bahan pertimbangan utama peneliti untuk mengelaborasinya dengan cara mengeksplorasi secara mendalam. Peneliti tidak hanya memahami objek dari luarnya saja, tetapi juga dari dalam sebagai entitas yang utuh dan detail. Itu sebabnya salah satu teknik pengumpulan datanya melalui wawancara mendalam.

Selain wawancara mendalam, ada lima teknik pengumpulan data penelitian studi kasus, yakni dokumentasi, observasi langsung, observasi terlibat (participant observation), dan artifak fisik. Masing-masing untuk saling melengkapi. Inilah kekuatan studi kasus dibanding metode lain dalam penelitian kualitatif. Selama ini saya melihat mahasiswa yang menggunakan studi kasus  hanya mengandalkan wawancara saja sebagai cara untuk mengumpulkan data, sehingga data kurang cukup atau kurang melimpah.

Sedangkan mendalam artinya peneliti tidak saja menangkap makna dari sesuatu yang tersurat, tetapi juga yang tersirat. Dengan kata lain, peneliti studi kasus diharapkan dapat mengungkap hal-hal mendalam yang tidak dapat diungkap oleh orang biasa.  Di sini peneliti dituntut untuk memiliki kepekaan teoretik mengenai topik atau tema yang diteliti. Misalnya, mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan sedang melakukan penelitian untuk kepentingan penyusunan tesis/disertasi mengenai kepemimpinan seorang kepala sekolah. Melalui wawancara mendalam, peneliti tidak begitu saja menerima informasi dari kepala sekolah sebagai subjek penelitian, tetapi juga memaknai ucapan-ucapannya. Peneliti harus bisa menangkap hal-hal yang tersirat dari setiap ujaran yang tersurat.

Dengan menggunakan payung paradigma fenomenologi, studi kasus memusatkan perhatian pada satu objek tertentu yang diangkat sebagai sebuah kasus untuk dikaji secara mendalam sehingga mampu membongkar realitas di balik fenomena. Dalam pandangan paradigma fenomenologi, yang tampak atau kasat mata pada hakikatnya bukan sesuatu yang riel (realitas). Itu hanya pantulan dari yang ada di dalam. Tugas peneliti studi kasus ialah menggali sesuatu yang tidak tampak tersebut untuk menjadi pengetahuan yang tampak. Karena itu dapat pula diartikan studi kasus sebagai proses mengkaji atau memahami sebuah kasus dan sekaligus mencari hasilnya.

Sejauh pengamatan saya selama ini, dari tesis dan disertasi yang saya uji, para mahasiswa masih gagal menangkap makna yang mendalam dari setiap kasus yang diangkat.  Padahal, justru itu inti dari penelitian Studi Kasus. Ketika ujian, umumnya mahasiswa  hanya bercerita panjang lebar tentang peristiwa yang diangkat menjadi kasus, dan tidak mengambil intisari secara konseptual. Kegagalan tersebut terjadi karena beberapa hal. Pertama, kurang memiliki kepekaan teoretik karena kurangnya bacaan atau literatur terkait tema yang diangkat. Kedua, karena sedikitnya pengalaman melakukan penelitian. Ketiga, karena alasan pragmatis, mahasiswa ingin cepat-cepat menyelesaikan studinya.

 

 

 

 

 

F. Mengapa Memilih Studi Kasus?

Menggunakan istilah “studi kasus”  artinya ialah peneliti ingin menggali informasi apa yang akhirnya bisa dipelajari atau ditarik dari sebuah kasus, baik  kasus tunggal maupun jamak.  Stake (dalam Denzin dan Lincoln, eds. 1994; 236) menyebutnya “what can be learned from a single case?. Agar sebuah kasus bisa digali maknanya peneliti harus pandai-pandai memilah dan memilih kasus macam apa yang layak diangkat menjadi tema penelitian. Bobot kualitas kasus harus menjadi pertimbangan utama. Dengan demikian, tidak semua persoalan atau kasus baik pada tingkat perorangan, kelompok  atau lembaga bisa dijadikan bahan kajian studi kasus. Begitu juga tidak setiap pertanyaan bisa diangkat menjadi pertanyaan penelitian (research questions).  Ada syarat-syarat tertentu, sebagaimana dijelaskan di muka, agar sebuah peristiwa layak diangkat menjadi “kasus” penelitian studi kasus. Begitu juga ada syarat-syarat tertentu  agar sebuah pertanyaan bisa diangkat menjadi pertanyaan penelitian.

Salah satu hal penting untuk dipertimbangkan dalam memilih kasus ialah peneliti yakin  bahwa dari kasus tersebut akan dapat diperoleh pengetahuan lebih lanjut dan  mendalam secara ilmiah. Dalam hal ini studi kasus disebut sebagai Instrumental Case Study. Selain itu, Studi Kasus bisa dipakai untuk memenuhi minat pribadi karena ketertarikannya pada suatu persoalan tertentu, dan tidak untuk membangun teori tertentu. Misalnya, tentang kenakalan remaja, penyalahgunaan obat, fenomena single parents, dan sebagainya. Studi semacam ini disebut sebagai Studi Kasus Intrinsik (Intrinsic Case Study). Di negara maju, Studi Kasus Intrinsik lazim digunakan oleh para profesional atau anggota masyarakat biasa karena rasa ingin tahunya terhadap suatu persoalan yang mereka hadapi secara lebih mendalam, lebih-lebih jika persoalan tersebut menjadi isu hangat di masyarakat.

Secara lebih konkrit, Yin (1994: 13) memberi batasan kapan studi kasus dipilih sebagai pendekatan. Setidaknya ada 4 alasan sebagai berikut:

  1. Melakukan penyelidikan secara empirik
  2. Peristiwa atau gejala yang diselidiki ialah fenomena sekarang (bukan sesuatu yang sudah basi)
  3. Peristiwa itu terjadi dalam kehidupan nyata, dan
  4. Apabila batas antara gejala dan konteksnya tidak begitu jelas.

 

Apa  yang dimaksudkan oleh Yin dalam batasannya tersebut ialah ketika seseorang melakukan penelitian studi kasus artinya ia sedang mengkaji kasus sebagai objek kajian di tempat atau lokasi di mana kasus itu terjadi. Implikasinya ialah tidak hanya terkait dengan data yang dikumpulkan, tetapi juga proses interpretasi terhadap data tersebut. Seorang peneliti studi kasus hanya dapat memahami setiap gejala yang ditemukan di lapangan ketika dia memahami bagaimana konteks terjadinya peristiwa tersebut. Tanpa pemahaman terhadap konteks secara utuh, peneliti studi kasus akan gagal memahami gejala yang ia teliti.

Itu sebabnya, peneliti studi kasus harus mengkaji semua hal yang terdapat di sekeliling objek, baik yang berkaitan langsung maupun yang tidak, sehingga peneliti memperoleh informasi yang sangat lengkap mengenai sebuah kasus.  Peneliti studi kasus hendak mengungkap segala sesuatu yang berkaitan dengan kasus sebagai objek kajian dalam kondisi yang sebenarnya.

 

G. Beberapa Manfaat Studi Kasus

Menurut Lincoln dan Guba, sebagaimana dikutip Mulyana (2013: 201-202), keistimewaan studi kasus meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Studi kasus merupakan sarana utama bagi penelitian emik, yakni menyajikan pandangan subjek yang diteliti,
  2. Studi kasus menyajikan uraian menyeluruh yang mirip dengan apa yang dialami pembaca dalam kehidupan sehari-hari (everyday real-life),
  3. Studi kasus merupakan sarana efektif untuk menunjukkan antara peneliti dengan subjek atau informan,
  4. Studi kasus memungkinkan pembaca untuk menemukan konsistensi internal yang tidak hanya merupakan konsistensi gaya dan konsistensi faktual tetapi juga keterpercayaan (trustworthiness),
  5. Studi kasus memberikan “uraian tebal” yang diperlukan bagi penilaian atas transferabilitas,
  6. Studi kasus terbuka  bagi penilaian atas konteks yang turut berperan bagi pemaknaan atas fenomena dalam konteks tersebut.

H. Langkah-Langkah Studi Kasus

  1. Pemilihan Tema, Topik dan Kasus. Pada tahap pertama ini peneliti harus yakin bahwa dia akan memilih kasus tertentu yang merupakan bagian dari “body of knowledge”nya bidang yang dipelajari. Misalnya, mahasiswa Jurusan atau Program Studi Manajemen Pendidikan wajib memilih kasus yang memang menjadi wilayah kajian bidang tersebut. Begitu juga mahasiswa Jurusan atau Program Studi Kurikulum akan memilih kasus yang merupakan bagian dari wilayah kajian ilmu kurikulum. Logikanya ialah seorang peneliti hanya akan bisa menghasilkan penelitian yang baik pada bidang yang diminati dan dikuasainya. Karena itu, memilih kasus pada bidang yang diminati sangat penting. Kasus bisa diperoleh dari hasil pengamatan peneliti sendiri, pengalamannya selama ini, hasil membaca buku,  majalah ilmiah, koran, mengikuti  pertemuan-pertemuan ilmiah (seperti seminar, lokakarya,  konferensi),  diskusi dengan teman sejawat, tutor, dosen pembimbing, membaca hasil penelitian orang lain. Setelah sumber-sumber bacaan diperoleh, peneliti membacanya untuk menentukan tema besar penelitian.  Dari tema besar disempitkan lagi menjadi topik. Agar  bisa fokus, dari topik peneliti dapat memberikan tekanan pada objek kajian, yang selanjutnya menjadi kasus.  Dari tema, topik, dan  objek kajian, peneliti merumuskan judul penelitian. Dengan demikian, judul penelitian dibuat setelah tema, topik, objek/kasus ditentukan. Prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:

 

TEMA —- TOPIK —- OBJEK KAJIAN/KASUS/UNIT ANALISIS —- JUDUL

 

 

  1. Pembacaan Literatur. Setelah kasus diperoleh, peneliti mengumpulkan literatur atau bahan bacaan sebanyak-banyaknya berupa jurnal, majalah ilmiah, hasil-hasil penelitian terdahulu, buku, majalah, surat kabar yang terkait dengan kasus tersebut. Menurut Yin (1994: 9) pembacaan literatur sangat penting untuk memperluas wawasan peneliti di bidang yang akan diteliti dan mempertajam rumusan masalah yang akan diajukan. Secara lebih lengkap, meminjam Cooper, (1984), Yin menyatakan:

“To determine the questions that are most significant for a topic, and to gain some precision in formulating these questions, requires much preparation. One way is to review the literature on the topic. Note that such a literature review is therefore a means to an end, and not – as most students think – an end in itself. Budding investigators think that the purpose of a literature review is to determine the answers about what is known on a topic; in contrast, experienced investigators review previous research to develop sharper and more insightful questions about the topic”.

 

Namun demikian, dalam upaya pengumpulan bahan bacaan peneliti perlu mempertimbangkan dua aspek penting, yakni relevansi (relevance) bahan bacaan/literatur tersebut dengan topik bahasan (kasus) yang diangkat dan kemutakhiran (novelty). Semakin mutakhir bahan bacaan, semakin baik, sehingga peneliti dapat mengikuti perkembangan keilmuan paling up date atau  “state of the arts” bidang yang digeluti. Sebab, ilmu pengetahuan senantiasa mensyaratkan hal-hal baru. (Tentang pentingnya “state of the arts” dalam penelitian telah dibahas dalam tulisan tersendiri). Terkait dengan bahan bacaan,  sering pula  ditemukan peneliti mengumpulkan bahan bacaan yang sangat banyak, tetapi tidak relevan dengan objek kajian yang diangkat, sehingga laporan penelitian menjadi sangat tebal. Padahal, kualitas  penelitian tidak ditentukan oleh tebalnya atau banyaknya halaman  hasil/laporan penelitian, tetapi oleh  ketepatan metode penelitian, keluasan perspektif teoretik, keandalan dan kecukupan data, kedalaman analisis, kebaruan temuan dan sumbangannya bagi ilmu pengetahuan.

  1. Perumusan Fokus dan Masalah Penelitian. Langkah sangat penting dalam setiap penelitian ialah merumuskan fokus dan masalah. Fokus penelitian perlu dibuat agar peneliti bisa berkonsentrasi pada satu titik yang menjadi pusat perhatian. Di  muka telah dibahas bagaimana rumusan masalah penelitian  dibuat. Satu hal penting lainnya terkait dengan  rumusan masalah ialah dari rumusan tersebut dapat digali informasi penting  dan mendalam untuk menjadi pengetahuan yang berharga bagi kemanusiaan, bukan sembarang informasi yang tidak bernilai ilmiah.
  2. Pengumpulan Data. Sebagaimana telah ditulis di muka, data penelitian studi kasus dapat diperoleh dari beberapa teknik, seperti wawancara, observasi pelibatan (participant observation), dan dokumentasi. Peneliti sendiri merupakan instrumen kunci, sehingga dia sendiri yang dapat mengukur ketepatan dan ketercukupan data serta kapan pengumpulan data harus berakhir. Dia sendiri pula yang menentukan informan yang tepat untuk diwawancarai, kapan dan di mana wawancara dilakukan.
  3. Penyempurnaan Data. Data yang telah terkumpul perlu disempurnakan. Bagaimana caranya peneliti mengetahui datanya kurang atau belum sempurna? Caranya ialah dengan membaca keseluruhan data dengan merujuk ke rumusan masalah yang diajukan. Jika rumusan masalah diyakini dapat dijawab dengan data yang tersedia, maka data dianggap sempurna. Sebaliknya, jika belum cukup untuk menjawab rumusan masalah, data dianggap belum lengkap, sehingga peneliti wajib kembali ke lapangan untuk melengkapi data dengan bertemu informan lagi. Itu sebabnya penelitian kualitatif berproses secara siklus.
    1. Pengolahan  Data. Setelah data dianggap sempurna, peneliti melakukan pengolahan data, yakni melakukan pengecekan kebenaran data, menyusun data, melaksanakan penyandian (coding), mengklasifikasi data, mengoreksi jawaban wawancara yang kurang jelas. Tahap ini dilakukan untuk memudahkan tahap analisis.
    2. Analisis Data. Setelah data berupa transkrip hasil wawancara dan observasi, maupun gambar, foto, catatan harian subjek dan sebagainya dianggap lengkap dan sempurna, peneliti melakukan analisis data. Analsis data studi kasus dan penelitian kualitatif pada umumnya  hanya bisa dilakukan oleh peneliti sendiri, bukan oleh pembimbing, teman, atau melalui jasa orang lain. Sebab, sebagai instrumen kunci,  hanya peneliti sendiri yang tahu secara mendalam semua masalah yang diteliti. Analisis data merupakan tahap paling penting di setiap penelitian dan sekaligus paling sulit. Sebab, dari tahap ini akan diperoleh informasi penting berupa temuan penelitian. Kegagalan analisis data berarti kegagalan penelitian secara keseluruhan. Kemampuan analisis data sangat ditentukan oleh keluasan wawasan teoretik peneliti pada bidang yang diteliti, pengalaman penelitian, bimbingan dosen, dan minat yang kuat peneliti untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas.
    3. Proses Analisis Data. Pada hakikatnya analisis data adalah sebuah kegiatan untuk memberikan makna atau memaknai data dengan mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberi kode atau tanda, dan mengkategorikannya menjadi bagian-bagian berdasarkan pengelompokan tertentu sehingga diperoleh suatu temuan terhadap rumusan masalah yang diajukan. Melalui serangkaian aktivitas tersebut, data kualitatif yang biasanya berserakan dan bertumpuk-tumpuk dapat disederhanakan  sehingga dapat  dipahami dengan lebih mudah. Tidak ada prosedur atau teknik analisis data yang baku dalam penelitian kualitatif, tetapi langkah-langkah berikut bisa digunakan sebagai pedoman;
      1. Peneliti membaca keseluruhan transkrip untuk memperoleh informasi-informasi secara umum (general) dari masing-masing transkrip,
      2. Pesan-pesan umum tersebut dikompilasi untuk diambil pesan khususnya (spesific messages),
      3. Dari pesan-pesan khusus tersebut akan diketahui pola umum data. Selanjutnya, data tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan urutan kejadian, kategori, dan tipologinya. Sebagaimana lazimnya dalam penelitian kualitatif, analisis data studi kasus dimulai sejak peneliti di lapangan, ketika mengumpulkan data dan ketika data sudah terkumpul semua.
    4. Dialog Teoretik. Untuk melahirkan temuan konseptual berupa “thesis statement, setelah pertanyaan penelitian terjawab, peneliti Studi Kasus, khususnya calon magister dan lebih-lebih doktor, melakukan langkah selanjutnya, yaitu melakukan dialog  temuan tersebut dengan teori yang telah dibahas di bagian kajian pustaka, sehingga bagian kajian pustaka bulan sekadar ornamen belaka. Tahap ini disebut dialog teoretik. Sering kali terjadi ketika pertanyaan penelitian sudah terjawab, peneliti mengira tugasnya sudah selesai. Ini kesalahan umum yang terjadi pada peneliti studi kasus.

Umumnya untuk  karya ilmiah setingkat S1 (skripsi), temuan penelitian cukup berupa  fact finding secara deskriptif atas dasar teori yang telah dipelajar selama kuliah. Untuk karya ilmiah setingkat magister (tesis), temuan penelitian harus  sudah pada tahap pengembangan teori (theoretical development). Sedangkan untuk karya setingkat S3 (disertasi), temuan harus sampai pada menemukan sesuatu yang baru (new findings), walaupun belum berupa teori.

  1. Triangulasi Temuan (Konfirmabilitas). Agar temuan tidak dianggap bias, peneliti perlu melakukan triangulasi temuan, atau yang sering disebut sebagai konfirmabilitas, yakni dengan melaporkan temuan penelitian kepada informan yang diwawancarai. Hal ini juga jarang dilakukan peneliti studi kasus, mungkin karena takut hasilnya berbeda dengan yang telah dia temukan. Seorang peneliti harus jujur, sehingga temuannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah di masyarakat akademik atau masyarakat umum. Karena akan menjadi ilmuwan, seorang peneliti harus memiliki kejujuran, bertindak secara objektif, bertanggung jawab, dan profesional.
  2. Simpulan Hasil Penelitian.  Kesalahan umum yang sering terjadi pada  bagian ini ialah peneliti mengulang atau meringkas apa yang telah dikemukakan pada bagian-bagian sebelumnya, tetapi  membuat sintesis dari  semua yang telah dikemukakan sebelumnya. Pada bagian ini peneliti mencantumkan implikasi teoretik. Tetapi untuk masing-masing jenjang pendidikan  perlu dirumuskan temuan yang berbeda.     Untuk penelitian mahasiswa jenjang S1 (skripsi) peneliti menemukan fakta-fakta di lapangan secara deskriptif sesuai pertanyaan penelitian (data description). Untuk penelitian jenjang S2 (tesis), selain menyajikan fakta-fakta sesuai pertanyaan penelitian, peneliti wajib mengembangkan teori yang terkait dengan pertanyaan penelitian (theoretical development). Sedangkan untuk jenjang S3 (disertasi), selain dua hal tersebut peneliti wajib mengemukakan temuan baru (new findings) baik berupa konsep, formula, model, atau teori. Proses penelitian hingga sampai teori ialah sebagai berikut:

 

Data  — Fact — Concept — Proposition — Theory

 

  1. Laporan Penelitian. Langkah paling akhir kegiatan penelitian ialah membuat laporan penelitian. Laporan penelitian merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban kegiatan penelitian yang dituangkan dalam bahasa tulis untuk kepentingan umum. Menurut Yunus (2010: 417) ada beberapa versi mengenai  laporan penelitian, tetapi secara umum terdapat 3 syarat agar laporan penelitian dapat dikategorikan sebagai karya ilmiah, yaitu (1). Objektif, (2). Sistematik, (3). Mengikuti metode ilmiah. Objektif artinya data yang diperoleh benar-benar dari subjek yang diteliti, bukan dari peneliti dan pandangan peneliti. Sistematik artinya urut, yakni pembahasan  harus mengikuti alur penalaran yang runtut di mana sejak bagian awal pembahasan hingga akhir menunjukkan keterkaitan logis dan merupakan satu kesinambungan. Secara garis besar batang tubuh karya ilmiah terdiri atas tiga bagian utama, yaitu bagian awal (prologue), bagian pembahasan (dialogue), dan bagian akhir (epilogue). Bagian prologue merupakan  bagian awal penelitian yang menjelaskan latar belakang mengapa suatu penelitian dilaksanakan. Bagian ini memuat latar belakang/konteks, fokus/rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, lingkup penelitian, originalitas penelitian dan definisi operasional istilah-istilah kunci. Bagian dialogue merupakan batang tubuh utama penelitian karena merupakan proses penalaran yang dibangun atas dasar kaidah-kaidah ilmiah. Secara umum bagian ini mengemukakan tiga hal, yakni (1) hal-hal yang dibutuhkan dalam pembahasan, (2) proses pembahasan dan (3) produk pembahasan. Hal-hal yang dibutuhkan dalam penelitian terdiri atas tinjauan pustaka, metode penelitian, dan deskripsi atau gambaran tentang lokus penelitian di mana penelitian dilakukan.

Sedangkan mengikuti metode ilmiah yang dimaksudkan ialah kegiatan penelitian mengikuti langkah-langkah memperoleh pengetahuan ilmiah sesuai yang telah disepakati oleh para ilmuwan. Memang juga terdapat beberapa versi tentang langkah memperoleh pengetahuan ilmiah.  Untuk penelitian studi kasus, langkah-langkah berikut dapat digunakan sebagai pedoman, yakni  (1) penentuan pumpun kajian (focus of study), yang mencakup kegiatan memilih masalah yang memenuhi syarat kelayakan dan kebermaknaan, (2) pengembangan kepekaan teoretik dengan menelaah bahan pustaka yang relevan dan hasil kajian sebelumnya, (3) penentuan kasus atau bahan telaah, yang meliputi kegiatan memilih dari mana dan dari siapa data diperoleh, (4) pengembangan protokol pemerolehan dan pengolahan data, yang mencakup kegiatan menetapkan piranti, langkah dan teknik pemerolehan dan pengolahan data yang digunakan, (5) pelaksanaan kegiatan pemerolehan data, yang terdiri atas kegiatan mengumpulkan data lapangan atau melakukan pembacaan naskah yang dikaji, (6) pengolahan data perolehan, yang meliputi kegiatan penyandian (coding), pengkategorian (categorizing), pembandingan (comparing), dan pembahasan (discussing), (7) negosiasi hasil kajian dengan subjek kajian, dan (8) perumusan simpulan kajian, yang meliputi kegiatan penafsiran dan penyatu-paduan (interpreting and integrating) temuan ke dalam bangunan pengetahuan sebelumnya, serta saran bagi kajian berikutnya.

Karena sifat dasar bahan yang dikaji serta tujuan yang ingin dicapai, bisa saja langkah-langkah tersebut diubah menurut dinamika lapangan. Rumpun kajian, misalnya, mungkin mengalami penajaman dan perumusan ulang setelah peneliti melakukan penjajakan lapangan. Tentu saja, penajaman ulang perlu dilakukan berdasarkan ketersediaan data, serta dimaksudkan untuk meningkatkan kebermaknaan kajian.

 

I. Penutup

Studi kasus bukan pilihan metodologis, tetapi pilihan terhadap objek kajian yang selanjutnya disebut  sebagai kasus dan dilakukan secara intensif, terinci, holistik, mendalam dan alamiah tentang suatu program, peristiwa, dan aktivitas, baik pada tingkat perorangan, sekelompok orang, lembaga, organisasi, atau situasi sosial tertentu  untuk memperoleh pengetahuan mendalam tentang  sebuah peristiwa/kasus. Karena hendak memperoleh jawaban secara mendalam dan holistik, maka lazimnya studi kasus bertanya dengan pertanyaan ‘bagaimana’ (how) dan ‘mengapa’ (why).  Pertanyaan ‘bagaimana’ untuk memperoleh jawaban eksploratif, sedangkan pertanyaan ‘mengapa’ untuk memperoleh jawaban eskplanatif.

Peristiwa yang dipilih  dalam studi kasus yang selanjutnya disebut kasus adalah hal yang aktual (real-life events) dan kontemporer, bukan sesuatu yang dibuat-buat dan sudah basi. Diharapkan dari penyelidikan itu diperoleh manfaat besar bagi masyarakat. Kasus yang diangkat bisa tunggal atau jamak (multi-case study). Begitu juga situs atau lokus penelitian bisa tunggal atau jamak, sehingga menjadi (multi-site case study).

Ciri-ciri studi kasus ialah (1) penyelidikan fenomena secara empirik, (2) peristiwa atau gejala yang diselidiki ialah fenomena sekarang (bukan sesuatu yang sudah basi), (3) peristiwa itu terjadi dalam kehidupan nyata, dan (4) apabila batas antara gejala dan konteksnya tidak begitu jelas.

Implikasi dari ciri-ciri tersebut  ialah tidak hanya terkait dengan data yang dikumpulkan, tetapi juga proses interpretasi terhadap data. Dengan demikian, seorang peneliti studi kasus hanya dapat memahami setiap gejala yang ditemukan di lapangan ketika dia memahami bagaimana konteks terjadinya peristiwa tersebut. Tanpa pemahaman terhadap konteks secara utuh, peneliti studi kasus akan gagal memahami gejala yang ia teliti.

Itu sebabnya, peneliti studi kasus harus mengkaji semua hal yang terdapat di sekeliling objek, baik yang berkaitan langsung maupun yang tidak, sehingga peneliti memperoleh informasi yang sangat lengkap mengenai sebuah kasus.  Peneliti studi kasus hendak mengungkap segala sesuatu yang berkaitan dengan kasus sebagai objek kajian dalam kondisi yang sebenarnya.

Sebagai metode ilmiah, studi kasus tidak lepas dari kelebihan dan kekurangan sebagaimana diuraikan di atas. Lepas dari kekurangan yang ada, studi kasus telah berkontribusi besar dalam  pengembangan metodologi penelitian, khususnya penelitian kualitatif, walaupun pada awal kemunculannya banyak yang meremehkannya.  Semoga sajian pendek ini bermanfaat bagi para mahasiswa dan peminat penelitian.

__________

Malang, 8 Juli 2018

 

J. Daftar Pustaka:

 

Arifin, Mike S. 1996. “Orientasi Teroretik dan Memilih Pokok Studi: Jenis

Studi Kasus dalam Penelitian Kualitatif”, dalam Imron Arifin (ed.). “Penelitian Kualitatif dalam Ilmu-ilmu Sosial dan Keagamaan”, Malang: Kalimasahada Press.

 

Bodgan, R. C., & Biklen, S.K. 1982. Qualitative research for education: An

introduction to theory and methods. Boston: Allyn and Bacon, Inc.

 

Given, Lisa M. 2008. The SAGE Encyclopedia of Qualitative Research

Methods. Los Angeles: A SAGE Reference Publication.

 

Horby, A S. 1989. OXFORD ADVANCED LEARNER’S DICTIONARY.,

Fourth Edition. Oxford University Press.

Mulyana, Dedy. 2013. METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF:

PARADIGMA BARU ILMU KOMUNIKASI DAN ILMU SOSIAL LAINNYA. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.

Stake, Robert E.  1994. “Case Studies” in Norman K. Denzin and Yvonna S.

Lincoln (eds.). “Handbook of Qualitative Research”, Thousand Oaks, California:   SAGE Publications, Inc.

Surachmad, W. 1982. Dasar dan teknik research. Bandung: Tarsito.

Yin, Robert K. 1994. CASE STUDY RESEARCH: Design and Methods.

Thousand Oaks, London, New Delhi: SAGE Publications.

Yunus, Hadi Sabari. 2010. Metode Penelitian Wilayah Kontemporer.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Visits: 1342
Today: 3

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *