Metode Campuran (Mixed Methods) dalam Penelitian Sosial

  1. A. Pengantar

Banyak pertanyaan diajukan kepada saya, baik dari kalangan mahasiswa maupun kolega dosen, mengenai metode penelitian campuran atau yang dikenal sebagai mixed method, baik ketika sedang mengajar matakuliah metodologi penelitian di kelas maupun di luar perkuliahan. Pertanyaan biasanya diajukan setelah mahasiswa mengetahui kelebihan dan kelemahan metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif. Ada juga mahasiswa yang sangat bersemangat tidak mau memilih baik metode penelitian kuantitatif maupun metode penelitian kualitatif, tetapi langsung ingin menggunakan metode penelitian campuran.

 

Kepada semua yang bertanya itu saya memberikan apresiasi atas rasa ingin tahu mereka tentang metode penelitian campuran. Tetapi masalahnya itu tidak sesederhana itu. Sebagaimana dinyatakan Tashakkori dan Teddlie (ed.) (2003: xiii) di kalangan para ahli metodologi penelitian ilmu-ilmu sosial dan perilaku masih terjadi silang pendapat dan kontroversi mengenai metode campuran, mulai dari definisi dasar apa yang disebut metode campuran, bagaimana penggunaannya, kapan digunakan, bagaimana landasan paradigmatiknya, desain penelitiannya, bagaimana mengambil kesimpulan, hingga apa saja bahan yang dipersiapkan untuk memulai penelitian metode campuran serta bagaimana menganalisis datanya.

Sebagai sebuah pendekatan, sangat wajar jika metode campuran masih terjadi kontroversi atau ada isu-isu yang belum terselesaikan oleh para penggagasnya sendiri. Metode campuran bukan sekadar menggabungkan data kuantitatif dan data kualitatif. Bagian ini mencoba menjelaskan mengenai metode campuran, khususnya dalam penelitian ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan.

B. Asal usul-usul kelahiran metode campuran

Selama lebih dari 30 tahun terakhir, metodologi penelitian ilmu sosial dan perilaku (social and behavioral research) mengalami perubahan sangat dramatis. Perubahan itu berdampak pada paradigma, tujuan, dan metode bagaimana mengkaji perilaku manusia, program dan interaksi sosial mereka. Sulit disangkal bahwa hampir sepanjang abad ke-20 penelitian sosial dan perilaku didominasi oleh ‘metode kuantitatif’ dengan paradigma positivistiknya (dengan seluruh variannya). Netralitas nilai sangat diharapkan dari peneliti dan metode untuk mengkaji perilaku dan interaksi sosial sangat tergantung sepenuhnya pada ukuran-ukuran ‘objektif’ dengan menggunakan angka sebagai data penelitian. Begitulah lazimnya cara kerja metode penelitian kuantitatif.  Implikasinya, realitas sosial yang biasanya kompleks pun diangkakan untuk menjadi data nomotetik yang lebih sederhana.

Di tengah-tengah pesat dan dominannya metode kuantitatif selama beberapa dekade dan digunakan untuk sebagian besar bidang ilmu pengetahuan, muncul metode penelitian kualitatif sebagai reaksi terhadap metode kuantitatif dengan basis paradigmanya sendiri yang dikaitkan dengan aliran/madhab pemikiran konstruktivisme. Ada yang menganggap metode penelitian kualitatif bukan sebagai counter metode penelitian sebelumnya, tetapi sebuah kelanjutan sehingga disebut post-positivistic paradigm. Apapun status yang disandang, metode penelitian kualitatif  cepat populer dan berkembang di kalangan peneliti yang sejak awal tidak begitu puas dengan hasil penelitian kuantitatif. Di Indonesia penelitian kualitatif juga mulai berkembang sejak awal 1970’an. Hingga saat ini para ahli metodologi penelitian kualitatif dengan berbagai karyanya juga sudah sangat banyak. Tentu ini sebuah trend yang sangat menggembirakan bagi pengembangan khasanah disiplin metodologi penelitian. Jika awalnya metode penelitian kualitatif hanya digunakan untuk ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, antropologi dan pendidikan, kini penggunaannya sudah semakin meluas dalam lingkup ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Ketidakpuasan di kalangan ahli metodologi penelitian kualitatif terhadap metode penelitian kuantitatif menjadi titik tolak perubahan pemikiran dalam penelitian sosial dan perilaku, yakni  gerakan menuju pendekatan yang lebih sensitif secara kultural dan sosial terhadap subjek penelitian dan lebih menekankan pada penelitian terapan ketimbang penelitian dasar.  Penelitian kualitatif dianggap lebih emansipatif, sensitif secara kultural dan subjektif dalam memahami perilaku individu dan fenomena sosial.

Sebagai suatu metode ilmiah, baik metode penelitian kuantitatif maupun  kualitatif, ternyata tak luput dari beberapa kelebihan dan kelemahan masing-masing. Menyadari kelemahan  pada masing-masing metode, para ahli mencoba mencari alternatatif dengan  menawarkan metode baru yang menggabungkan keduanya, yang dikenal dengan metode campuran (mixed methods). Muncul beberapa pertanyaan apa yang disebut dengan ‘menggabungkan’ itu dan bagaimana pula caranya. Bisakah kedua metode tersebut digabungkan? Yang digabungkan itu apanya; datanya, analisisnya, cara perolehan datanya, atau teorinya. Ada pertanyaan lain, apakah yang dimaksud metode campuran itu setelah selesai melakukan penelitian kuantitatif kemudian dilanjutkan dengan penelitian kualitatif, atau sebaliknya, sehingga terjadi dua kali kegiatan penelitian. Lepas dari pertanyaan yang menyertainya, bagi penganutnya, metode campuran dianggap memiliki kekuatan atau kelebihan dibanding dengan dua metode penelitian yang sudah ada sebelumnya dan dianggap dapat menjawab  persoalan sosial dan kemanusiaan yang semakin kompleks.

Sebagaimana diketahui metode penelitian kuantitatif memiliki beberapa beberapa kelebihan, sebagai berikut: 1). bias interpretasi personal yang cenderung subjektif relatif kecil, 2). mampu memotret permasalahan berskala makro, mulai tingkat lembaga, organisasi, masyarakat, bahkan hingga negara,  3). mampu mencari jawaban  persoalan dalam waktu cepat, 4). mampu menarik kesimpulan dari pertanyaan penelitian dalam bentuk generalisasi untuk selanjutnya dipakai sebagai dasar mengambil kebijakan, seperti, misalnya, survei, sensus, dan polling pendapat,  5). waktu yang diperlukan relatif pendek dengan proses yang tidak berbelit-belit, 6) proses penelitian berlangsung secara linier sehingga mudah dilakukan,  7). hasil penelitian sangat tergantung pada instrumen yang dipakai, bukan pada penelitinya dan 8). hasil penelitian bersifat final (closed ended).

Namun, tak dapat dipungkiri penelitian kuantitatif juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain; 1). tidak mampu memahami konteks atau setting di mana sebuah peristiwa terjadi secara mendalam, 2). tidak mampu menggali apa yang ada di balik peristiwa atau fenomena karena berdasarkan pada hal-hal yang empirik, 3). dianggap terlalu menyederhanakan atau simplifikasi persoalan karena memandang masalah sebatas pada hubungan kausalitas (sebab akibat). Padahal, persoalan sosial jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan hubungan sebab akibat. Dan, 4) memandang manusia sebagai aktor pasif yang bertindak hanya jika ada dorongan atau stimulus. Sementara, manusia adalah makhluk berkehendak yang sangat kreatif.

Sebaliknya, metode penelitian kualitatif juga memiliki beberapa kelebihan, sebagai berikut; 1). mampu memahami akar persoalan secara mendalam dengan keterlibatan peneliti di lapangan secara intensif, karena lingkupya berskala kecil (mikro) 2). mampu menangkap setiap gejala yang muncul untuk selanjutnya dipahami secara utuh. Asumsinya, setiap gejala atau persoalan apa saja tidak pernah berdiri tunggal, selalu ada saling keterkaitan dengan hal-hal lain di luar persoalan itu sendiri. Dengan kata lain, persoalan tidak terjadi dalam hubungan sebab akibat, melainkan dalam interaksi timbal balik secara simultan (state of mutual simultaneous interaction).   3). analisis dilakukan tidak hanya mendasarkan hal-hal yang yang empirik sebagai dasar mengambil kesimpulan, sehingga bisa diperoleh kesimpulan yang komprehensif. 4). selain berjalan secara siklus, proses penelitian kualitatif sangat fleksibel, sehingga peneliti bisa memperbaiki rumusan masalah yang sudah dibuat sejak awal ketika di lapangan menemukan hal-hal yang lebih menarik untuk diteliti. Selain itu, peneliti juga bisa sewaktu-waktu kembali ke lapangan untuk melengkapi data yang belum cukup. Bahkan dalam metode grounded, peneliti bersama subjek atau partisipan merumuskan masalah secara bersama-sama berdasarkan data di lapangan.

Sedangkan kelemahan metode penelitian kualitatif ialah sebagai berikut: 1). subjektivitas peneliti dianggap sangat tinggi, sehingga hasilnya dianggap tidak lebih dari sekadar rekaan peneliti sendiri secara personal, 2). tidak mampu mengungkap persoalan berskala makro, 3). tidak bisa menghasilkan generalisasi sebagai temuan akhir penelitian yang bisa dipakai sebagai dasar mengambil kebijakan lebih lanjut, karena kecilnya cakupan partisipan penelitian, 4). membutuhkan waktu yang relatif panjang dengan proses penelitian bersifat siklus, sehingga peneliti bisa sampai titik jenuh, dan 5). hasil penelitian sangat tergantung pada kemampuan peneliti sendiri sebagai instrumen utama. Karena itu, kualitas hasil penelitian sangat tergantung pada kualitas penelitinya. Perhatikan matrik di bawah ini yang menggambarkan dikotomi antara metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif sebagai berikut:

QUANTITATIVE METHOD

QUALITATIVE METHOD

Positivistic Paradigm/Traditional Paradigm

Interpretive-constructivistic/ Phenomenology/

Naturalistic/

Social Definition/

Post -positivistic Paradigm

Confirmity

Exploratory

Deductive

Inductive

Structured

Un-structured

Closed-ended

Open-ended

Controlled

Naturalistic

Linier research

Free-flowing research

 

Johson and Turner in (Tashakkori and Teddlie. ed., 2003: 297)

 

Menyadari kelebihan dan kekurangan masing-masing metode penelitian sebagaimana di atas, maka kehadiran metode campuran, sebagaimana ditawarkan para ahli seperti Creswell (2003), Creswell dan Clark (2007), dianggap sebagai solusi metodologis. Lepas dari bagaimana bentuk dan alasan penggabungan, metode campuran dianggap akan memberikan  pemahaman yang jauh lebih lengkap tentang persoalan atau isu yang diangkat dibanding melalui penelitian sendiri-sendiri.

Persoalannya, untuk  bisa diterima secara akademik Mixed Methods harus memiliki landasan filosofis, metode  dan  premis yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Sebagai metodologi, Mixed Methods memiliki landasan filosofis yang memandu bagaimana data dikumpulkan, dianalisis dan campuran pendekatan kuantitatif dan kualitatif pada tahapan-tahapan proses penelitian. Sebagai metode, Mixed Methods fokus pada pengumpulan, analisis, dan penggabungan data kuantitatif dan kualitatif sekaligus di dalam sebuah penelitian atau beberapa penelitian. Premis utamanya adalah penggabungan pendekatan kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan akan memberikan pemahaman lebih baik atas pertanyaan penelitian yang diajukan daripada sendiri-sendiri sebagaimana selama ini berlangsung.

Ide penggabungan kedua metode penelitian kuantitatif dan kualitatif sebenarnya sudah lama, sejak sekitar 50 tahun lalu. Semula disebut sebagai metode ‘multitrait/multimethod research’ (Campbell & Fiske, 1959)  yang mencoba mengumpulkan beberapa metode kuantitatif dalam satu rangkaian kegiatan penelitian. Fielding & Fielding (1986) menyebutnya sebagai kombinasi dua metode. Ragin, Nagel, & White (2004) menyebutnya sebagai metode ‘hybrids’. Morse (1991) menyebutnya sebagai triangulasi metodologis, dan Creswell (1994) sebagai metode campuran (mixed methods) yang menggabungkan tidak saja metode pengumpulan dan analisis datanya saja, melainkan juga pandangan filosofisnya.

Kini istilah mixed methods sudah begitu dikenal di kalangan para peneliti dan ilmuwan di berbagai bidang ilmu. Dengan menggabungkan kelebihan dari masing-masing metode kuantitatif dan kualitatif, metode campuran telah menarik minat banyak kalangan selama 25 tahun terakhir, dan jumlahnya terus meningkat. Lebih-lebih ketika Tashakkori dan Tedlie (2003) menerbitkan buku “Handbook of Mixed Methods in the Social and Behavior Sciences”, yang diikuti dengan penerbitan sejumlah jurnal khusus tentang metode campuran, seperti Journal of Mixed Methods Research; Quality and Quantity, Field Methods dan International Journal of Multiple Research Approaches, International Journal of Social Research Methodology; Qualitative Health Research, Annals of Family Medicine, maka metode campuran memiliki landasan akademik yang semakin kokoh, (Creswell, 2016: 289-290).

C. Definisi, Konsep, dan Desain  Metode Campuran

Creswell (dalam Given, ed., 2008: 526) mendefinisikan metode campuran atau gabungan sebagai sebuah penelitian di mana peneliti mengumpulkan dan menganalisis data, menggabungkan temuan, dan mengambil kesimpulan dengan menggunakan dua metode kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan untuk menjawab masalah  dalam satu kegiatan penelitian. Secara implisit definisi tersebut menyiratkan makna bahwa metode campuran juga mencakup pengumpulan dan analisis data, juga menyangkut proses penelitian dari landasan filosofis hingga interpretasi data, filsafat penelitian, dan seperangkat prosedur yang digunakan dalam desain penelitian.

Ketika seorang peneliti memilih metode campuran, berarti dia akan melakukan pengumpulan dan analisis data baik secara kuantitatif maupun kualitatif pada saat bersamaan. Artinya, dua kegiatan itu dilakukan bersamaan, sehingga peneliti metode campuran dituntut memiliki dua ketrampilan atau kompetensi yang memadai baik dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif. Pendekatan semacam ini bisa disebut sebagai penelitian multi-metode. Ada tiga cara yang lazim digunakan dalam penelitian campuran, khususnya pada tahap penggabungan data kuantitatif dan kualitatif, yakni dengan cara menggabungkan atau mengintegrasikan data, dengan saling menghubungkan data yang diperoleh dari tahap pertama pengumpulan data dengan data yang diperoleh pada tahap kedua, sehingga keduanya saling mendukung, dan menempelkan data pendukung ke data utama untuk memberikan informasi tambahan dalam penelitian.

 

D.  Alasan Pemilihan Metode Campuran

Tujuan akhir suatu metode penelitian ialah untuk menjawab pertanyaan penelitian yang diajukan pada awal kegiatan. Jawaban itu merupakan temuan penelitian berupa dalil, rumus, pola, keteraturan suatu fenomena.  Begitu juga dengan metode campuran. Menurut Tashakkori dan Teddlie (ed.) (2003: 14-15) metode campuran dipilih setidaknya karena tiga alasan berikut:

  1. Metode campuran dapat menjawab pertanyaan penelitian yang tidak dapat dijawab oleh metode yang lain.
  2. Metode campuran dianggap memiliki kesimpulan sebagai hasil akhir penelitian yang lebih kuat.
  3. Metode campuran memberikan kesempatan kepada peneliti untuk menyajikan  beberapa perspektif atau pandangan terhadap sebuah persoalan.

Sebagaimana diketahui satu dimensi konkret yang membedakan penelitian kuantitatif dan kualitatif selama ini ialah pertanyaan penelitian yang diajukan oleh masing-masing metode dan menjadi kesepatan umum para penggiat  penelitian. Sebagian ahli menyarankan bahwa pertanyaan penelitian kualitatif bersifat eksploratif (explorative), sedangkan pertanyaan penelitian kuantitatif bersifat konfirmatif  (confirmative). Erzberger dan Prein (1997) dan Tashakkori dan Teddlie (1998) sangat tidak setuju dengan dikotomi semacam itu, karena dianggap membatasi gerak pencarian pengetahuan. Upaya pencarian pengetahuan seharusnya diberi ruang yang lebih luas ketimbang dengan cara pemilahan secara dikotomik.

Anggapan itu diperkuat Punch (1998) dalam Tashakkori dan Teddlie (2003: 15) bahwa selama ini telah menjadi dalil bahwa penelitian kuantitatif lebih diarahkan untuk membuktikan atau verifikasi teori (theory verification) sebagai tujuan akhir, sedangkan penelitian kualitatif untuk pengembangan teori (theory generation). Menurut Punch, tidak ada korelasi atau hubungan antara tujuan dan pendekatan. Menurutnya, penelitian kuantitatif dapat digunakan untuk pengembangan teori (dan juga pembuktian teori), dan penelitian kualitatif dapat digunakan untuk pembuktian (sekaligus pengembangan teori).

Apa salahnya jika seorang peneliti ingin melakukan keduanya sekaligus.  Salah satu keuntungan utama metode campuran ialah dapat menjawab pertanyaan konfirmatif dan eksploratif secara simultan, dan karena itu dapat membuktikan dan mengembangkan teori pada saat yang sama.

 

Metode campuran dianggap dapat mengimbangi kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh masing-masing metode, sehingga penggunaan metode campuran dapat saling mengisi kekurangan masing-masing. Sebagaimana diketahui, selain memiliki kelebihan, baik metode kuantitatif maupun kualitatif masing-masing memiliki kelemahan.  Terkait paradigmanya, Mertens (dalam Tashakkori dan Teddlie, 2003: 135) mengusulkan “transformative-emancipatory paradigm” sebagai payung paradigmanya.

Yang menjadi masalah ialah jika temuan penelitian metode campuran tidak saling mendukung, bahkan bertolak belakang. Di satu sisi, menurut Deacon, Bryman dan Fenton (dalam Tashakkori dan Teddlie, 2003: 17) perbedaan temuan dalam metode campuran dapat diterima karena merupakan perspektif lain atau pandangan lain terhadap sebuah fenomena. Tetapi di sisi lain peneliti perlu melakukan kajian ulang terhadap kerangka kerja masing-masing komponen metode (KUAN dan KUAL). Pilihan terhadap metode campuran tetap harus berprinsip untuk menjelaskan aspek-aspek yang berbeda dari fenomena yang diteliti.

  1. Contoh Penelitian dengan Metode Campuran

Sebagai contoh sebuah penelitian  bertujuan untuk mencapai dua tujuan sekaligus, yakni (a). membuktikan bahwa sebuah variabel tertentu diduga memiliki hubungan dengan variabel lain, dan (b). menjawab pertanyaan eksploratif bagaimana hubungan antar variabel yang dimaksud pada poin (a) dapat terjadi.

Tashakkori dan Teddlie (2003) memberikan contoh menarik dari penelitian campuran untuk sebuah disertasi oleh Stevens (2002) . Dalam penelitian itu, Stevens ingin meneliti dan mendeskripsikan  perubahan yang terjadi di beberapa sekolah akibat kebijakan baru yang diberlakukan di sekolah-sekolah negeri. Hipotesisnya ialah guru-guru di sekolah yang diberlakukan kebijakan baru tersebut memiliki kinerja yang lebih baik dalam hal efektivitas mengajar dibanding guru-guru di sekolah lain yang tidak diberlakukan program baru. Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain eksperimen secara kuantitatif.

Hasilnya, hipotesisnya terbukti. Guru-guru di sekolah dengan program baru secara signifikan memiliki nilai lebih tinggi dalam hal efektivitas mengajar dibanding guru-guru di sekolah yang tidak diberlakukan program baru. Karena hasilnya dianggap penting, peneliti ingin mengetahui lebih jauh bagaimana hal itu bisa terjadi. Tentu saja untuk dapat mengetahui bagaimana bisa terjadi, peneliti menggunakan penelitian kualitatif. Secara simultan, dengan mengumpulkan data kuantitatif peneliti melakukan penelitian dengan pendekatan studi kasus (case study) di masing-masing sekolah dengan menggunakan metode kualitatif melalui observasi, interviu, dan analisis dokumen.

Penelitian sangat menarik untuk penulisan disertasi menggunakan metode campuran juga dilakukan oleh Heri Pratikto (2009) dengan judul “Pengaruh Motivasi Spiritual,  Budaya Organisasi, Etos Kerja, dan Kinerja Profesional terhadap Perilaku Konsumsi Guru-Guru Mata Pelajaran Ekonomi/Akuntasi SMA/MA/SMK di W ilayah Malang Raya (Dengan Pendekatan Metode Campuran). Yang dilakukan peneliti ialah hal-hal yang bersifat fenoumena (yang tampak) didekati dengan metode kuantitatif, Tentu saja instrumen utamanya ialah kuesioner yang dibagikan kepada para responden. Sedangkan yang bersifat noumena (sesuatu yang ada dalam pikiran subjek) didekati dengan metode kualitatif, dengan instrumen utama wawancara.

Untuk metode kuantitatif, peneliti menggunakan rancangan survei korelasional keorganisasian melalui cross-sectional studies. Maksudnya ialah memberikan kuesioner kepada responden untuk memperoleh data yang menanyakan aspek organisasional terkait motivasi spritual, budaya organisasi, serta etos kerja, kinerja profesional dan perilaku konsumsi sebagai variabel penelitian.

Untuk metode kualitatif digunakan rancangan penelitian deskriptif-kualitatif, dan model rancangan investigation on the focus of inquiry. Desain deskriptif-kualitatif digunakan  untuk meneliti masalah-masalah yang yang membutuhkan studi mendalam, seperti perilaku konsumen.  Melalui rancangan penelitian ini, peneliti ingin mendeskrispsikan peran budaya sekolah dalam proses internalisasi nilai-nilai spiritual dan budaya yang membentuk kinerja profesional dan perilaku konsumsi subjek penelitian.

Model rancangan metode campuran yang digunakan  dalam penelitian ini adalah Explanatory Design: Follow up Explanation Model (QUAN Emphasized) (Creswell, 2007: 73) dengan “model Qualitative methods to explain  quantitative finding”. Melalui metode kualitatif, peneliti ingin memperoleh pemahaman yang lebih dalam dari hasil atau temuan kuantitatif.  Fokus penelitian dipilih berdasar temuan kuantitatif. Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh peneliti merupakan salah satu varian dalam metode campuran, yakni melakukan penelitian dengan menggunakan metode kuantitatif terlebih dahulu, kemudian hasil kuantitatif diperdalam melalui metode kualitatif.

Sebagai contoh pertanyaan yang dijadikan fokus penelitian adalah sebagai berikut:

  1. Nilai-nilai spiritual dan budaya organisasi manakah yang menjadi landasan kinerja profesional, dan perilaku konsumsi guru-guru Ekonomi/Akuntansi/ SMTA di wilayah Malang Raya?
  2. Bagaimanakah proses internalisasi nilai-nilai budaya sekolah yang membentuk kinerja profesional dan perilaku konsumsi guru-guru Ekonomi/Akuntansi/ SMTA di wilayah Malang Raya?

Pertanyaan pertama merupakan pertanyaan yang bersifat konfirmatif yang dijawab melalui pendekatan kuantitatif dengan menyebarkan angket kepada responden. Sedangkan pertanyaan kedua merupakan pertanyaan eksploratif yang dijawab dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara terhadap informan.

Dari hasil analisis data, ditemukan bahwa terdapat pengaruh tidak langsung budaya organisasi terhadap kinerja profesional guru dan diperoleh proposisi bahwa semakin positif persepsi dan sikap guru atas budaya sekolah, maka akan semakin baik kinerja profesional guru tersebut.

Terkait dengan budaya internalisasi melalui bahasa tulis, lisan dan perilaku keteladanan membentuk persepsi dan sikap positif guru atas kerja yang berpengaruh terhadap etos kerja. Nilai-nilai budaya sekolah mendorong tumbuhnya etos kerja tinggi, yang selanjutnya etos kerja mendorong kinerja profesional yang baik.

E. Penutup

Sebagai varian baru dalam dunia penelitian, metode campuran dianggap sebagai metode baru yang dapat menutup kelemahan metode kuantitatif dan metode kualitatif. Tetapi kehadirannya masih mengundang kontroversi di kalangan para ahli dan penggiat penelitian. Ada yang menganggap metode campuran adalah hal yang tidak mungkin dilakukan, tetapi ada pula yang menganggap sebaliknya.

Secara lebih dalam, kontroversi masih terjadi mulai dari definisi apa yang disebut metode campuran atau gabungan, bagaimana penggunaannya, bagaimana perolehan data, apa landasan paradigmanya, desain penelitiannya, bagaimana mengambil kesimpulan, hingga apa saja bahan yang dipersiapkan untuk memulai penelitian metode campuran. Hingga saat ini para ahli sepakat bahwa di antara mereka terdapat perbedaan (they agree in disagreement).

Lepas dari kontroversi yang ada, kehadiran metode campuran perlu disikapi secara positif sebagai khazanah baru dalam dunia penelitian. Apalagi sudah banyak peneliti yang menggunakannya, sehingga bisa dijadikan contoh oleh peneliti-peneliti selanjutnya.

____________

 

Daftar Pustaka

Creswell, John W. 2016. Research Design: Pendekatan

Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran. (terjemahan Penerbit Pustaka Pelajar). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

 

Given, Lisa  M. (ed). 2008. The Sage Encyclopedia of

Qualitative Research Methods. Volume 1&2. Los Angeles: A Sage Reference Publication

Pratikto, Heri. 2009. “Pengaruh Motivasi Spiritual,  Budaya

Organisasi, Etos Kerja, dan Kinerja Profesional terhadap Perilaku Konsumsi Guru-Guru Mata Pelajaran Ekonomi/Akuntasi SMA/MA/SMK di Wilayah Malang Raya (Dengan Pendekatan Metode Campuran)”,. Disertasi Program Doktor Pendidikan Ekonomi Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, September 2009.

Tashakkori, Abbas dan Teddlie, Charles (eds.). 2003.

Handbook of Mixed Methods in Social and Behavioral Research. Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publications.

Visits: 2202
Today: 9

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *