Salah Ucap “al Fatihah” Jokowi dalam Tinjauan Etnolinguistik

Dalam sebuah kesempatan mengakhiri sambutannya, Presiden Jokowi  mengajak hadirin untuk mendoakan para korban gempa di Palu, baik yang selamat maupun yang meninggal, dengan membaca surat al fatihah. Sebuah tindakan yang mulia dilihat dari sisi agama. Sayangnya Jokowi melakukan “slip of the tongue” alias keselio lidah dalam mengucapkan nama surat tersebut. Seharusnya “al fatihah”, tetapi diucapkan “ al fatikah”. Sontak kejadian itu menjadi viral di media sosial. Sikap para netizen beragam; ada yang menghujat, nyinyir, menyayangkan, dan ada pula yang memakluminya.

 

Bagi yang kontra terhadap Jokowi, salah ucap itu dianggap fatal dan merupakan kesempatan untuk menyerang dengan berbagai alasan. Misalnya, Jokowi itu belum lama mengenal agama (Islam), baru belajar sholat, jauh dari lingkungan agamis, sok religius dan dekat ulama dan lain-lain. Bagi mereka, kesalahan itu bukan sekadar ‘slip of the tongue” atau keselio lidah, tetapi mengubah arti kata secara mendasar. ‘Fatihah’, berasal dari kata ‘fataha’, artinya pembukaan (pembuka al qur’an), sering juga disebut ‘umul qur’an. Sedangkan ‘fatikah’ berasal dari kata ‘fataka’ artinya ‘perusak’ atau ‘pembunuh’, Nah, beda jauh kan maknanya antara ‘fatihah’ dan ‘fatikah’?. Karena itu, keberatan dari pihak yang kontra Jokowi dapat  dimengerti.

Bagi yang  menyayangkan, salah ucap itu seharusnya tidak perlu terjadi. Mestinya Jokowi bisa bertanya kepada stafnya bagaimana ucapan yang benar, atau kalau ragu dihindari saja. Sebab, pemimpin itu memang tidak boleh membuat kesalahan sekecil apapun. Apalagi kesalahan  terkait dengan agama. Masyarakat kita sangat sensitif. Tentu masih segar di ingatan kita  bahwa Ahok lengser dari kursi gubernur DKI dan akhirnya masuk penjara karena kesalahan  masuk wilayah agama, yang di luar kapasitasnya.

Ahok pun dianggap sebagai penista agama. Sebuah tuduhan yang sangat berat untuk menangkisnya. Tak terhindarkan berbagai kelompok masyarakat muslim melakukan aksi protes atau demo besar-besaran atas tindakan Ahok. Demo dilakukan oleh kelompok muslim tidak saja di dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Kasus Ahok telah menguras energi bangsa dan nyaris menimbulkan konflik horizontal yang sangat membahayakan kehidupan bangsa.

Bagi yang memakluminya, peristiwa itu dianggap wajar, karena “al fatihah” itu sebuah kata dalam bahasa Arab, sehingga dapat dimaklumi  jika tidak fasih. Beberapa ucapan dalam bahasa Arab memang sulit bagi lidah orang non Arab, apalagi yang tidak pernah belajar bahasa Arab sama sekali. Tidak hanya bunyi ‘ha’ yang sulit bagi orang Indonesia, tetapi bunyi-bunyi lain seperti ‘qof’, ‘dhot’, ‘khoq’, dan lain-lain.

Perlu diketahui bahasa Arab termasuk salah satu dari beberapa bahasa tersulit di dunia, seperti bahasa Mandarin, Jepang, Korea, Rusia, Yunani dan lain-lain. Bahasa Arab memiliki alfabet yang  berbeda dengan alfabet dalam bahasa Indonesia. Bahasa Arab itu unik.  Salah satu keunikannya ialah panjang pendek pengucapan dapat mengubah arti kata. Lebih-lebih jika yang diucapkan itu ayat al qur’an akan menimbulkan kesalahan fatal.  Keunikan lainnya ialah walau bisa sangat fasih mengucapkan atau membaca kata dalam bahasa Arab, belum tentu seseorang bisa berbahasa Arab secara lisan atau tulisan.

Sebaliknya, penutur Arab dan Afrika pada umumnya juga mengalami kesulitan dalam mengucapkan bunyi /e/ , seperti dalam kata ‘Indonesia’. Mereka mengucapkannya ‘Indonosia’. Pada awalnya saya mendengar ucapan itu terasa aneh, tetapi ketika semakin sering mendengar penutur Arab dan  Afrika pada umumya mengucapkan itu saya menganggapnya biasa saja. Selain bunyi /e/, penutur Arab juga mengalami kesulitan mengeja huruf /p/. Kata yang mengandung huruf /p/ akan dibaca /f/ atau /v/, bahkan /b/. Bahasa Arab juga tidak memiliki bunyi /ae/, seperti pada kata  “pendek” , “becek”,  “kerek”, dan lain lain.-

Pertanyaannya mengapa salah ucap Jokowi menjadi viral dan mengundang kontroversi demikian hebat? Setidaknya ada dua  alasan. Pertama Jokowi bukan sembarang orang. Saat ini Jokowi bagaimanapun ialah orang nomor satu di negeri ini. Dia adalah figur publik yang semua tindakannya, termasuk tindakan verbalnya, menjadi perhatian masyarakat luas. Kesukaan Jokowi dengan baju warna putih lengan panjang yang dilipat juga menjadi ‘trend’ masyarakat. Gaya blusukan Jokowi yang dianggap sebagai cara efektif untuk berkomunikasi langsung dengan masyarakat dan melihat berbagai persoalan  ‘on the spot’ sempat ditiru oleh para pemimpin lainnya. Beberapa kali Jokowi mengajak tamu negara melakukan blusukan untuk melihat kehidupan masyarakat yang sesungguhnya.

Kedua, saat ini kita memasuki musim politik menuju Pilpres 2019 dan Jokowi adalah calon petahana berhadapan dengan Prabowo. Dalam masa seperti ini masing-masing calon saling mengintip pihak lawan untuk mencari sekecil apapun kesalahan yang dibuat. Kebetulan Jokowi membuat kesalahan pengucapan nama salah satu surat dalam al qur’an. Tak pelak itu menjadi kesempatan emas bagi lawan politiknya untuk menyerangnya. Andai saja peristiwa itu terjadi di luar musim politik dan yang melakukan bukan Jokowi, saya yakin persoalannya tidak seheboh sekarang ini. Di saat-saat semacam ini apapun bisa dipolitisasi.

Tidak bermaksud membela Jokowi, sekarang kita lepaskan peristiwa salah “al fatikah”  dari panggung politik  dan  kita bawa ke ranah  ilmiah, yakni etnolinguistik untuk melihat persoalan dengan lebih jernih dan tidak emosional. Etnolinguistik ialah sebuah  disiplin/ilmu kebahasaan yang secara khusus mengkaji unsur-unsur bahasa (kosakata, frasa, klausa, wacana, ucapan atau bunyi bahasa) dalam dimensi sosial dan budaya tertentu.  Menurut etnolinguistik, bahasa dan budaya merupakan dua entitas yang tidak terpisahkan satu dengan lainnya. Cara berbahasa seseorang tidak dapat dilepaskan dari budayanya.  Bahasa merupakan wadah kebudayaan, dan di sisi yang lain kebudayaan mencakup sejumlah unsur, salah satunya ialah bahasa. Melalui bahasa seseorang dapat diketahui dunia batin, asal usul, kelas atau strata sosial, ideologi, pendidikan, gagasannya, dan sebagainya.

Karena berhubungan erat dengan budaya, maka setiap bahasa memiliki karakter masing-masing secara generik, atau yang dalam ilmu bahasa (linguistik) disebut sebagai ‘distinctive feature’. Menurut Kompas (16/7/2017), di Indonesia  saat ini terdapat 719  bahasa daerah dari 483 etnik,  maka terdapat juga 719  karakter bahasa. Uniknya, beberapa etnik memiliki lebih dari satu bahasa. Itu sebabnya, jumlah etnik tidak berbanding lurus  dengan jumlah bahasa.

Di antara karakter itu termasuk pengucapan atau pelafalan kata. Perbedaan karakter bahasa itu harus diterima sebagai kekayaan suatu bangsa secara linguistik. Karena itu, memaksakan ucapan dalam sebuah bahasa agar sefasih penutur aslinya adalah sebuah pengkhianatan terhadap ciri khas bahasa.

Sehebat apapun kemahiran berbahasa seseorang, dia tidak akan pernah bisa menyamai penutur aslinya. Orang Minang, misalnya, tidak akan dapat  berbahasa Jawa sefasih orang Jawa walau dia telah tinggal di Jawa bertahun-tahun dan bahkan menikah dengan orang Jawa. Begitu juga orang Jawa,  misalnya, tidak akan dapat  berbahasa Bugis sefasih orang Bugis kendati telah tinggal di Sulawesi Selatan bertahun-tahun,  dan seterusnya. Pada etnik tertentu terdapat ciri-ciri bahasa tertentu yang tidak dimiliki oleh etnik yang lain. Itu sebabnya, melalui ujarannya seseorang dapat diketahui asal usul atau etnisitasnya. Bukankah kita dengan mudah mengidentifikasi seseorang sebagai etnik Bali ketika kita dapati dia mengucapkan /tha/ untuk /ta/, seperti pada kata “kita” yang diucapkan “kitha”?

Contoh lainnya, sebagian orang Jawa mengalami kesulitan membedakan bunyi /ha/ dan /ka/. Perlu waktu lama bagi orang Jawa untuk bisa melafalkan bunyi /ha/ agar tidak menjadi /ka/.  Sungguh dapat dimengerti jika Jokowi yang asli suku Jawa juga mengalami kesulitan mengucapkan kata ‘al fatihah’ menjadi ‘al fatikah’. Karena kesulitan mengucapkan  bunyi /ha/ bagi lidah Jawa, maka tidak hanya “al fatihah” yang diucapkan “al fatikah”, tetapi juga kita sering mendengar kata “alhamdulillah” diucapkan “ alkamdulillah”.

Karena itu, salah ucap Jokowi tidak perlu dibawa ke ranah politik  sehingga melebar ke mana-mana. bawa ke ranah politik yang semakin rumit. Sebuah sikap yang sangat arif  jika kita dapat menempatkan peristiwa salah ucap Jokowi dalam perspektif etnolinguistik sehingga dapat menyejukkan suasana kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah-tengah hiruk politik menjelang Pilpres dan Pileg 2019. Dengan kata lain, dalam perspektif etnolinguistik salah ucap seseorang dalam berbahasa — apalagi bahasa asing —- adalah sebuah kelaziman, bukan kesalahan luar biasa yang tidak dapat dimaafkan. Saya yakin setiap kita dapat berkontribusi terhadap penciptaan suasana sejuk di masyarakat melalui kompetensi kita yang kita miliki.

___________

Malang, 5 November 2018

Visits: 94
Today: 1

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *